Terjebak Di Tahun 2001

Terjebak Di Tahun 2001
Ternyata


__ADS_3

"Cav, Cavin."


"Cav."


Kali ini gantian Ratna yang mencegat Cavin. Setelah beberapa bulan yang lalu, Cavin sempat melakukan hal serupa. Saat ia ingin menanyakan apa yang sesungguhnya telah terjadi pada Adril.


"Kenapa, Rat?" tanya Cavin seraya melirik arloji.


"Gue mau ke kantin, bentar lagi masuk soalnya." ujar remaja tampan itu lagi.


"Gue mau bicara soal Adril, soal yang lo pernah tanyain beberapa bulan yang lalu." jawab Ratna.


Cavin pun teringat pada peristiwa waktu itu.


"Iya, kenapa?. Lo cerita aja...!" ujar Cavin kemudian.


"Adril, dia." Ratna mencoba mengambil nafas lalu menghembuskannya.


"Dia kecewa karena Mario yang terpilih, jadi kandidat untuk olimpiade sains."


Cavin terhenyak mendengar perkataan tersebut.


"Maksud lo?. Adril nggak suka gitu kalau Mario yang maju?" tanya Cavin.


Ratna pun mengangguk.


"Adril udah kecewa, pada saat Mario jadi juara umum. Padahal dia udah belajar keras untuk itu. Dia pengen buktiin ke orang tuanya, kalau dia bisa jadi anak yang membanggakan. Bukan hanya sekedar beban."


Cavin terdiam, hatinya terpukul mendengar semua itu.


"Olimpiade itu harapan Adril satu-satunya, untuk bisa meraih beasiswa prestasi disekolah ini. Supaya dia nggak harus minta uang lagi sama orang tuanya. Dia benar-benar udah capek sama orang tuanya."


"Tapi biaya pendidikan anak itu tanggung jawab orang tua, Rat. Dan orang tuanya Adril itu bukan orang miskin."


"Tapi orang tuanya berbeda dengan orang tua kita, Cav. Lo liat aja kan kemaren perlakuan mereka ke Adril kayak apa, sebelum sebelumnya juga kayak apa. Orang tua Adril tuh kayak bukan manusia, kelakuan mereka lebih mirip setan. Adril setiap kali mau minta uang untuk keperluan sekolah, pasti dia dimarahin dulu sebelum dikasih. Dibilang anak nyusahin lah, apalah. Kayak nggak punya otak gitu loh, emak bapaknya."


Cavin menghela nafas, ia benar-benar berada dalam situasi yang sangat membingungkan saat ini. Jujur ia sangat iba pada Adril dan tak habis pikir soal orang tuanya. Ternyata di dunia ini, ada orang tua yang seperti itu.


"Bilang ke Mario. Kalau bisa, dia mundur sebagai kandidat. Dan bilang juga sama dia, supaya dia mengusulkan Adril untuk ikut."


"Adril yang nyuruh lo ngomong gini?" tanya Cavin


"Nggak, ini inisiatif gue. Karena gue peduli sama Adril. Setidaknya Mario punya orang tua yang lebih baik daripada orang tua Adril. Mario mau berprestasi atau nggak, om Deddy tetap sayang sama Mario. Jadi mau Mario ikut olimpiade atau nggak, itu nggak akan membuat om Deddy berhenti bangga terhadap Mario."


Ratna berlalu meninggalkan Cavin. Sementara Cavin masih terpaku, dalam kebekuan yang begitu besar.

__ADS_1


Cavin lanjut pergi ke kantin, namun kini benaknya disesaki oleh ucapan Ratna barusan. Saking kepikirannya, ia sampai memakan tape goreng dengan cabe.


"Haaah."


Cavin mengambil minum setelah berusaha menelan perpaduan aneh itu. Tadinya ia merasa mengambil gorengan tahu, bukan tape.


"Lo kenapa, Cav?" tanya Brian yang baru tiba dari mengambil mie sakura.


"Nggak apa-apa, Mario mana?"


"Biasa, jadi hantu perpustakaan. Kan dia ambisi banget mau ikut olimpiade itu."


"Hhhh." Cavin menghela nafas, ia terus teringat pada ucapan Ratna.


"Lo kenapa, sih?. Koq kayak nggak suka gitu, gue ngomongin Mario."


"Bukannya nggak suka, Bri. Tapi ada masalah besar."


"Masalah?. Masalah apa?" tanya Brian heran. Ia mulai melahap mie nya secara perlahan.


"Adril." ujar Cavin kemudian.


"Adril?. Kenapa Adril?" tanya Brian sekali lagi.


"Dia nggak suka Mario ikut kompetisi itu."


"Adril ternyata pengen banget ikut olimpiade, dia udah belajar keras bahkan sebelum ujian. Dia berharap bisa menyabet juara umum dan masuk jadi kandidat yang akan diperlombakan."


"Ya itu salah Adril sendiri dong, kalau belum berhasil. Mungkin dia belajarnya nggak maksimal atau apa. Dia nggak bisa nyalahin Mario atas kegagalan yang dia dapat. Mario nggak ada curang, dia belajar bener-bener."


"Iya, gue tau. Mario nggak salah dalam hal ini. Tapi masalahnya Adril berambisi supaya bisa dapat beasiswa full dari sekolah. Kalau dia bisa ikut kompetisi itu, dia akan mendapat beasiswa full di sekolah ini. Dia udah nggak mau minta duit sama orang tuanya, Bri. Orang tuanya Adril itu selalu marah terlebih dahulu, kalau Adril minta uang sama mereka. Lo bayangin dong, anak seumur Adril. Kita aja yang udah SMA di masa depan, masih suka baper. Kasian tau, Bri. Emak bapaknya Adril kayak bocil anjay."


Brian diam, setelah mendengar semua itu kini hatinya seperti diremas. Ia tak habis pikir pada sikap orang tua Adril.


"Ada ya, orang tua model gitu." ujar Brian dengan nada heran.


"Ya ada, itu buktinya."


"Kasian juga sih, Adril nya." ujar Brian lagi.


"Nah itu dia makanya, gue kasian sama Adril. Tapi nggak bisa nyalahin Mario juga. Mario nggak salah dalam hal ini, semua dia raih berkat kerja kerasnya dia."


"Gimana ya kira-kira?" tanya Brian pada Cavin.


"Gue juga bingung, Bri. Kalau kita belain Adril, nggak adil buat Mario. Terus kalau kita biarin Mario, gimana nasib Adril. Siapa tau ini jaman beneran terjadi, bukan halusinasi doang. Kalau misalkan Adril gagal di masa ini, gue takutnya semua itu bakalan berpengaruh sama hidupnya dia dikemudian hari."

__ADS_1


"Iya juga sih."


"Ngomongin apaan sih, serius banget?" tiba-tiba Mario muncul dan langsung duduk didekat mereka. Brian menatap Cavin, namun Cavin menggelengkan kepalanya. Ia tak ingin Brian mengatakan apapun pada Mario. Ia merasa ini bukanlah waktu yang tepat untuk itu.


"Kagak, kagak ngomongin apa-apa." ujar Cavin kemudian.


"Lo udah makan, Cav?" tanya Mario.


"Ya udahlah, lagian lo kemana aja coba?"


"Belajar gue."


"Belajar mulu, makan. Ntar tipes aja lu."


"Hehehe."


Mario nyengir bajing. Ia kemudian melahap gorengan yang ada di meja, ia pun memesan mie sakura meski waktu sudah sangat mepet sekali.


"Teng."


Lonceng tanda masuk pun dibunyikan, sementara mie yang dipesan Mario baru jadi.


"Ah, elah." ujar Mario kemudian. Namun ia lanjut makan.


"Gue bilang juga apa, makan mah makan dulu. Ntar-ntar an aja belajarnya. Cavin dan Brian beranjak.


"Lu pada mau kemana sih?" tanya Mario sewot seraya melahap makanannya.


"Ya mau masuk, Karnadi. Masa mau ngeronda, masih siang." ujar Cavin.


"Tungguin napa."


"Ya udah buruan makanya."


"Iya, ini juga bentar lagi abis koq."


"Ya udah, cepetan. Kita tungguin." ujar Brian.


Mario mempercepat makannya, ada beberapa bagian yang tidak ia kunyah lagi.


"Sluuurp."


"Sluuurp."


"Sluuurp."

__ADS_1


Tak lama kemudian, ia meminum air mineral lalu membayar. Setelah itu mereka sama-sama berlarian dan masuk ke dalam kelas.


__ADS_2