
"Dicari tenaga marketing, minimal D3. Memiliki pengalaman lebih dari satu tahun di bidangnya. Berpenampilan menarik, komunikatif dan mampu berkerja di bawah tekanan."
Cavin membaca lowongan pekerjaan, yang ia dapat di koran milik ayah lintas jamannya.
"Serem amat." ujarnya kemudian.
"Udalah dipaksa mesti lulusan sekolah tinggi, harus good looking, di tekan lagi kerjanya. Lo nyari karyawan apa nyari tawanan perang, Bambang?"
Cavin menggerutu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, kemudian ia lanjut membaca kolom lowongan tersebut.
"Dicari sekretaris, minimal pendidikan D3 sekretaris/manajemen/akuntansi. Cantik, berpenampilan menarik, komunikatif, bisa mengetik cepat, pandai mengunakan komputer."
"Ini lagi, nyari sekretaris apa nyari sugar baby. Gamblang banget bilang mesti cantik. Dikira semua orang itu terlahir good looking kali ya. Lowongan macam apa ini?" Lagi-lagi Cavin menggerutu.
"Dicari sales canvassing."
"Canvassing apaan?" tanya Cavin pada dirinya sendiri. Ia lalu meraih handphone dan seketika ia tersadar.
"Ngapain gue ngambil handphone?. Emang di jaman ini udah ada google?. Kebiasaan nih gue nih."
Cavin meletakkan kembali handphonenya ke atas meja belajar. Di masa depan ia terbiasa bertanya pada google, jika ada sebuah bahasa maupun istilah yang tidak ia mengerti.
"Dicari sales canvassing, minimal SMA/SMK sederajat."
"Nah ini minimal SMA nih." Cavin antusias dan lanjut membaca.
"Good looking, wajib memiliki kendaraan sendiri."
"Lah?. Kalo itu orang nggak punya kendaraan, berarti nggak bisa kerja gitu?. Kasian dong orang yang nggak punya. Ngarep bisa dapat kerja, tapi ditolak gara-gara nggak punya kendaraan. Pantes aja banyak penganguran di negri ini, lowongan kerjanya aja banyak syarat yang ngadi-ngadi." Untuk kesekian kalinya Cavin menggerutu.
"Eh tapi, bapak gue kan punya motor ya. Bisalah dia kerja disini."
Cavin terus membaca lowongan tersebut.
"Lokasi Tangerang dan sekitarnya."
"Jauh banget anjay, ini koran juga ngaco. Terbit wilayah mana, iklannya dari wilayah mana. Go to the block dasar."
Cavin terus membaca lowongan demi lowongan, meski ujung-ujungnya ia pasti sewot dan menggerutu. Pada akhirnya ia pun hanya mendapatkan lelah, karena tak ada lowongan yang sesuai kriteria.
***
"Kata bokap gue ada, Cav. Tapi minimal S1."
Brian berujar pada keesokan harinya kepada Cavin. Sesaat setelah mereka berada di jalan menuju sekolah.
"Di kantor daddy lagi nggak buka lowongan." ujar Mario.
Cavin pun menghela nafas.
__ADS_1
"Gue juga tanya ke bokap gue sih, dan sama." ujar Cavin.
"Rata-rata mintanya D3 sama S1. Gue juga udah cari di koran-koran, dan hanya sedikit yang menerima lulusan SMA sederajat. Itupun syaratnya aneh-aneh. Kayak mesti berpengalaman minimal dua tahun, mesti punya kendaraan pribadi, punya pesawat, stasiun luar angkasa, UFO dan lain-lain." lanjutnya kemudian.
Brian dan Mario ngakak.
"Syarat melamar pekerjaan di jaman ini, nggak jauh beda dengan di jaman kita gede anjir." ujar Mario.
"Iya, gue pikir di jaman ini tuh masih aman. Tapi ternyata bobrok juga, sama aja." Cavin menimpali.
"Tapi emang lo udah pastiin kalau bokap dan nyokap lo itu beneran lulusan SMA sederajat?" tanya Brian.
"Iya, siapa tau sarjana." timpal Mario.
"Sarjana mana yang mau jadi OB, pikir aja bro." ujar Cavin setengah sewot.
"Ya, sarjana kepepet misalnya." tukas Mario.
"Sarjana iseng." timpal Brian.
Cavin jadi agak sedikit tertawa.
"Bangsat." ujarnya kemudian.
***
Mario melepaskan tas dan memberikannya pada Brian, ketika mereka baru masuk ke gerbang sekolah.
"Mau kemana lo?" tanya Cavin dan Brian di waktu yang nyaris bersamaan.
"Mau berak gue, nggak tahan."
Mario berlarian ke arah toilet sekolah, sementara kini Cavin dan Brian kompak melebarkan bibir lalu tersenyum. Mereka melangkah menuju kelas.
"Waw para siswa yang tukang nikung kesempatan temannya sendiri, udah datang nih."
Tiba-tiba Martin dan gengnya muncul di hadapan Cavin dan juga Brian.
"Sayang kurang satu." lanjutnya lagi.
"Lo nggak usah nyari masalah pagi-pagi." Cavin berujar dengan nada kesal pada Martin.
"Santai dong, kesel banget keliatannya."
Martin tertawa diikuti teman-temannya, membuat hati Cavin dan Brian seketika menjadi panas.
"Mau lo apa?" tanya Brian kemudian.
"Nggak mau apa-apa." ujar Martin masih dengan nada yang membuat kesal.
__ADS_1
"Cuma pengen menyapa aja sekalian nanya. Gimana perasaan Mario, setelah berhasil merebut kesempatan yang sangat di idam-idamkan sama Adril?"
"Heh, itu bukan salah Mario. Kesempatan yang dia dapat adalah murni hasil kerja kerasnya dia. Adril aja yang usahanya kurang maksimal, terus nyalahin orang."
Cavin berujar dengan nada penuh kemarahan, tanpa ia sadari jika Adril ada di belakangnya.
"Braaak."
Adril menabrak bahu Cavin tanpa sengaja dan berjalan cepat menuju kelas. Di belakangnya ada Heru dan juga Ratna, yang sempat menghujani Cavin serta Brian dengan tatapan penuh kekecewaan. Sesaat sebelum mereka berlalu.
Cavin membeku, begitupula dengan Brian. Sementara Martin kini melenggang maju bersama teman-temannya. Ia telah berhasil menanamkan perpecahan di antara geng musuhnya tersebut.
"Bro, tas gue mana?" tanya Mario ketika ia telah keluar dari toilet.
Saat itu Cavin dan Brian baru bisa mencapai kelas, setelah tadi nyaris mati berdiri lantaran ulah Martin.
Mereka berdua tidak takut sama sekali pada Martin, namun mereka telah menghancurkan hati Adril dengan apa yang tadi di ucapkan oleh Cavin.
"Tas lo udah di sana." ujar Cavin.
"Thank you ya."
Mario kembali ke tempat duduknya. Tinggallah kini Cavin dan Brian saling bersitatap. Mereka terjebak di dalam perasaan yang serba salah.
***
"Cav, Bri. Koq Adril gitu sih. Dia sama sekali nggak negur kita loh tadi. Ratna sama Heru juga. Padahal kan kemaren nggak parah-parah banget."
Mario berujar pada kedua temannya, ketika mereka telah berada di jalan pulang. Cavin diam dan saling menatap dengan Brian. Keduanya tak mungkin mengatakan hal ini pada Mario.
Karena ini juga bisa menghancurkan mimpi Mario dalam sekejap. Meski tak dapat dipungkiri jika Cavin dan Brian sejatinya lebih berat kepada Adril.
Karena mereka sangat khawatir dengan masa depan Adril nanti, jika tidak berhasil menggapai mimpinya di jaman ini.
Tetapi Mario juga adalah bagian dari mereka. Cavin dan Brian sangat menyayangi Mario sebagai teman. Bagaimana pun buruknya seorang Mario di mata kedua kakaknya, Mario tetaplah teman yang baik bagi Cavin maupun Brian.
Rasanya tak tega saja, jika harus memadamkan semangat yang ada di diri sahabat mereka tersebut.
"Apa kita ada salah ya, sama mereka?" tanya Mario lagi.
"Menurut lo?" Brian balik bertanya untuk menetralkan suasana.
"Nggak ada." jawab Mario.
"Ya udah, mungkin mereka lagi bete sama hidup mereka. Makanya berimbas pada sikap mereka ke orang lain." ujar Brian lagi.
"Bisa jadi sih." Mario menyetujui.
Mereka pun kemudian lanjut berjalan.
__ADS_1