
Hari itu langit muram, Mario dan Cavin sendiri pun turut merasakan kesedihan Brian.
Dari kaca jendela kamarnya, Brian selalu melihat ke arah rumah kedua orang tua kandungnya. Hingga ia pun tak sadar malam telah begitu larut, ia tertidur di kursi meja belajarnya yang menghadap ke rumah itu.
Pagi harinya Brian yang baru saja hendak berangkat ke sekolah, tiba-tiba melihat ibu kandungnya yang baru saja keluar dari rumah. Brian tertegun, sepertinya wanita itu hendak pergi bekerja. Karena ia berpakaian rapi seperti wanita kantoran.
Ia berjalan begitu saja, namun kemudian tiba-tiba saja ia tersandung. Dengan cepat Brian menangkap tubuhnya agar tak jadi jatuh.
"Maaf ya dek, makasih."
Ibu kandung Brian berterima kasih atas pertolongan anaknya. Sementara Brian hanya diam dan terpaku usai menolong wanita itu. Tak lama kemudian, Mario dan Cavin tiba lalu menepuk bahunya.
"Berangkat, bro." ujar Mario kemudian.
Di sepanjang perjalanan menuju ke sekolah, Brian lebih banyak diam. Wajahnya masih terlihat murung dan juga lesu.
"Bro, lo masih nggak enak hati?" tanya Mario kemudian.
"Ternyata mereka pernah akur dulu."
Suara Brian terdengar berat. Mario dan Cavin saling bersitatap.
"Ya akur, Bri. Makanya lo lahir."
"Tapi kenapa nyokap gue memilih bercerai dan pergi dari rumah?"
"Gue sama Mario nggak tau, tapi kita akan segera tau hal itu."
"Apa bisa gue mencegah mereka bercerai?"
"Mungkin bisa. Tapi kalaupun nggak, lo nggak bisa maksa. Lo nggak akan bisa merubah takdir, bro. Lagipula kita nggak tau ini dimensi nyata atau nggak. Kalau lo berharap banyak, lo akan kecewa nantinya."
Mario berujar panjang lebar, Brian sendiri paham bahwa ia tidak bisa terlalu menggantungkan harapan pada situasi ini. Ketika kita terlalu berharap pada sesuatu yang belum pasti, maka kita akan kecewa. Karena kadang harapan tak sesuai dengan ekspektasi yang kita bayangkan.
"Gimana kalau hari ini kita main dingdong."
Cavin memberikan sebuah ide yang penuh kebangsatan. Mario langsung sumringah, sementara Brian kini memperhatikan kedua teman dedemitnya itu.
"Maksudnya, kita cabut gitu?. Nggak usah sekolah?" tanya Brian.
Cavin menaikkan alisnya lalu tersenyum, Mario pun ikut menyetujui. Detik selanjutnya mereka berlarian dengan bebas, mereka tak pergi ke sekolah. Melainkan pergi ke tempat permainan arcade, yang ada di sekitar daerah tempat tinggal mereka.
Ketiganya bermain sambil tertawa-tawa. Mencoba mengubur segala ketidaknyamanan hidup, yang mereka terima selama ini.
"Sikat, Bri. Buat hidup lo yang brengsek."
Emosi Brian memuncak, ia bermain seolah sedang menghadapi musuh di dunia nyata.
"Mati lo bangsat, mampus."
"Woouu."
Mereka bersorak untuk kemenangan Brian, hari itu menjadi hari mereka. Usai puas bermain, mereka berjalan-jalan mengitari sekitaran kota tempat dimana mereka tinggal. Main ke sebuah pusat perbelanjaan, makan, membeli lotre dan menghabiskan puluhan ribu untuk lotre tersebut.
"Ini anjim nih, kagak dapet-dapet gue dari tadi." gerutu Mario.
"Ini pasti curang nih lotre beginian nih, nomornya kagak ada." timpal Brian.
"Udah, kita makan aja yuk...!" ajak Cavin kemudian.
Mereka pun pergi makan. Usai makan mereka melanjutkan lagi petualangan mereka, kali ini mereka menyambangi pasar dan membeli banyak mainan. Lalu tiba-tiba mereka melihat banyaknya siswa SMA yang terlibat tawuran. Mereka masuk dalam kerumunan dan ikut tawuran.
"Woi sini lo, bangsat...!"
__ADS_1
Mereka berteriak-teriak layaknya siswa SMA yang kesurupan, padahal mereka sedang memakai seragam dan atribut SMP.
Saat polisi datang mereka berlarian sambil tertawa-tawa. Mereka benar-benar lupa pada segala beban, yang bersarang di benak mereka selama ini.
Mereka pulang menjelang sore, saat para siswa sekolahnya pun bahkan sudah pulang beberapa jam sebelum itu.
"Gue balik, bro." ujar Mario pada Cavin dan juga Brian, ketika ia sudah sampai di depan rumahnya.
Brian dan Cavin melambaikan tangan. Mario melangkah dan ia baru menyadari mobil Deddy, yang terparkir di garasi.
Ia kaget karena tak tahu ayahnya itu akan pulang cepat hari ini. Mario membuka pintu, tampak Deddy tengah duduk di ruang tamu sambil menatap kedatangan Mario.
"Dad."
Deddy menatapnya dengan tatapan yang tak begitu mengenakkan.
"Duduk...!"
Deddy memerintahkan Mario untuk duduk di hadapannya.
"Kenapa, dad?" Mario mulai ketakutan.
"Duduk...!"
Mario pun menurut saja, meski perasaannya kini campur aduk.
"Dari mana kamu?"
"Mm, pulang sekolah, Mario main dulu dad. Tapi sama Cavin dan Brian koq."
"Kemana?"
"Ya, muter-muter aja."
"Be, beneran Dad."
Kali ini Deddy menghujamkan tatapan kepada Mario.
"Kamu pikir daddy nggak tau kemana kamu seharian ini?. Apa aja yang kamu kerjakan, sampe kamu ikut-ikutan tawuran. Kamu tau lokasi tawuran tadi dimana?. Di depan kantor daddy."
Mario terdiam, ia sangat syok mengetahui akan hal tersebut. Ia bahkan tidak tahu dimana Deddy bekerja selama ini.
"Dan kamu nggak sekolah seharian ini Mario, mau jadi apa kamu?"
Mario menunduk. Ia tak mungkin juga mengatakan jika Brian saat ini tengah galau, lantaran bertemu kedua orang tua kandungnya. Deddy akan bingung jika dijelaskan mengenai hal tersebut.
"Dad, Maaf."
"Nggak usah ngomong kamu, masuk sana..!"
"Dad, Mario cuma..."
"Masuk...!"
Suara Deddy benar-benar terdengar marah, Mario pun sampai sangat ketakutan. Ia lalu buru-buru masuk ke dalam kamarnya.
Sementara dikediaman Cavin, ia yang tadinya berjalan santai tiba-tiba dihampiri oleh Davin.
"Udah cukup pelampiasannya?"
Davin menatap ke arah Cavin, dengan tatapan yang seolah menghakimi.
"Ke, kenapa kak?" tanya Cavin heran. Ia tidak mengerti apa yang tengah dibicarakan oleh Davin.
__ADS_1
"Kenapa kamu tanya?. Kamu yang kenapa hari ini?"
"Ya kenapa?. Cav nggak ngerti."
"Kamu frustrasi soal apa di rumah ini?. Hah? Apa yang bikin kamu jadi bolos sekolah, bertingkah seenaknya diluar sana?. Kamu frustrasi soal apa, soal aku di rumah ini?"
Suara Davin terdengar meninggi, Cavin sendiri kaget mendengarnya. Sepertinya mungkin Davin telah mengikutinya seharian ini, tanpa ia sadari. Dan Davin mendengar berbagai keluhan yang dikemukakan Cavin kepada kedua orang temannya, yakni tentang sakit hatinya di tolak oleh Davin. Ia ingat saat berkata pada Mario dan juga Brian.
"Gue nggak di jaman manapun selalu ditolak, di jaman ini aja ditolak sama kakak sendiri. Davin tuh kayak anak kecil, egois. Emang dia doang yang boleh lahir ke dunia ini."
"Bukan gitu, Dave."
Kini Cavin menyesali ucapannya. Ia tidak akan berkata apapun, andai saja ia tahu jika ini akan menimbulkan masalah.
"Terus apa?. Kenapa kamu sampai bolos sekolah, dan ngomong soal penolakan aku ke kamu di depan temen-temen kamu?. Aku udah minta maaf soal itu dan udah berusaha mendekati kamu, kamu nggak menghargai sedikitpun. Kamu tau aku butuh bertahun-tahun buat menerima kehadiran kamu. Ini juga sulit buat aku, Cav.”
"Itu, itu cuma buat menghibur Brian aja Dave. Biar dia ngerasa ada temennya.,Brian itu ada masalah sama orang tuanya.”
"Masalah?. Dia aja pergi sekolah masih dipeluk orang tuanya sebelum keluar pagar. Kamu pikir nggak keliatan dari sini?"
"Bukan itu, ini masalah orang tua..."
Tiba-tiba Cavin menghentikan ucapannya, tak mungkin menceritakan hal sesungguhnya pada Davin. Soal orang tua kandung Brian yang kini menghuni rumah di dekat mereka, Davin tidak akan mengerti soal itu.
"Nggak bisa jawab kan kamu?"
Cavin diam.
"Ok, Cav. Kalau emang kamu merasa terganggu dan masih nggak bisa maafin aku soal penolakan itu, aku akan pergi dari rumah ini. Kamu ambil semuanya, itu kan yang kamu mau?"
Davin beranjak menuju kamarnya.
"Dave jangan gitu, Cav udah maafin semuanya. Cuma tadi itu, Cav bener-bener hanya mau membuat Brian merasa nggak sendirian. Merasa kalau orang lain juga punya masalah."
Davin tak menggubris Cavin.
"Dave, jangan pergi."
Cavin mencekal lengan kakaknya, membuat Davin terdiam seketika.
"Cav sayang sama Dave."
Davin masih diam, namun ada perasaan hangat yang kini menjalar dihatinya.
"Jangan pergi Dave, ini rumah kamu juga. Kalaupun ada yang harus pergi dari rumah ini, orang itu adalah Cav. Bertahun-tahun kamu jauh dari papi dan mami, cuma karena Cav. Cav yang nggak seharusnya ada disini."
Cavin menunduk, kali ini Davin membalikkan badannya.
"Jangan kayak gitu lagi, kamu seharusnya sekolah yang bener. Mami dan papi berharap banyak sama anak-anaknya."
"Iya, Cav tau. Cav minta maaf."
"Ya udah, sana ganti baju."
Cavin masih terpaku, ia memang paling cengeng diantara kedua temannya. Karena banyak hal menyakitkan yang ia alami sejak kecil.
"Jangan nangis, Cav...!"
Air mata Cavin keburu jatuh.
"Cav."
Cavin tak menjawab, hanya ada isak tangis yang perlahan menjadi di sana. Davin pun lalu memeluk adiknya itu.
__ADS_1