Terjebak Di Tahun 2001

Terjebak Di Tahun 2001
Pulang


__ADS_3

Hampir dua minggu berlalu. Dalam kurun waktu itu pulalah, Mario banyak menghabiskan waktu dengan keluarganya. Bahkan hanya sedikit sekali ia menghubungi Deddy.


Sebagai ayah yang telah disetting oleh waktu,  tentu saja Deddy merasa sangat khawatir. Ia cemas kalau-kalau penyakit mental Mario kambuh dan anak itu lupa meminum obatnya. Ia takut Mario lupa akan rumah, atau lupa dirinya sendiri.


Namun hari ini, ia menyempatkan diri menelpon Deddy. Dan Mario berkata jika ia akan segera pulang, tentu saja Deddy sangat senang. Ia mengatakan pada Mario jika ia akan menjemput anak itu di Bandara, jika ia telah sampai.


"Briaaaan, ini apaaa?"


Ibu lintas jaman Brian berteriak, ketika menemukan banyak anak kecil yang bermain gameboy di depan pintu pagar rumahnya. Ditempat itu pula bergelantungan berbagai jenis jualan rakyat jelata, seperti lotere-lotere an dan juga cabut benang. Lengkap dengan mainan action figure ala-ala yang terbuat dari plastik beserta beberapa snack. Ada mie lidi, coklat koin, coklat payung, dan masih banyak lagi.


Brian yang saat itu baru kembali dari toilet pun terkejut. Ia tak menyangka jika kedua orang tua lintas jamannya akan pulang secepat itu. Karena ibu dan ayahnya mengatakan, kemungkinan mereka pergi selama 2-3 bulan. Baru dua minggu, mereka sudah muncul di depan rumah.


"Apa-apaan ini?" tanya ibunya ketika Brian akhirnya mendekat. Sementara sang ayah, menatapnya dengan heran.


"Mi, pi?" Brian terlihat panik.


"Mami sama papi udah pulang?" ujarnya lagi.


"Ini apa, Brian?" tanya ayahnya kemudian.


"Anu, pi, mi, ini...."


Brian menggaruk kepalanya, ia tau pastilah orang tua lintas jamannya akan malu. Karena Brian sendiri merupakan anak orang kaya, yang tak seharusnya berjualan hal-hal receh seperti itu.


Kedua orang tua lintas jamannya ini saja, tampaknya berbisnis hal yang berbau kemewahan. Terlihat jelas dari penampilan mereka, meskipun Brian sendiri tak pernah bertanya.


"Anu, apa?" tanya ibunya lagi.


"Ini, mmm..." Brian berfikir keras.


"Brian mau belajar bisnis, mi, pi." ujar Brian seraya menundukkan pandangan. Ia tipikal anak yang sulit mencari alasan. Apa yang terlintas di benaknya, itulah yang ia kemukakan.


"Kalau kamu mau bisnis, harusnya buat tampilannya yang lebih baik."


Brian yang mengira jika kedua orang tua lintas jamannya akan marah tersebut pun, akhirnya mengangkat kepala. Ia menatap kedua orang itu.


"Nih, liat."


Ayahnya memperlihatkan lotere yang di jual Brian. Isi lotere tersebut hanya berupa makanan atau snack dan mainan anak-anak. Ia juga membuatnya sendiri pada sehelai karton besar yang diberi gantungan tali.

__ADS_1


"Kenapa, pi?" tanya Brian heran.


"Ini terlalu sederhana, Brian. Tidak sesuai dengan lingkungan kita, yang tinggal di kompleks perumahan mewah."


Brian tak mengerti. Entah mengapa ia merasa ada kesan sedikit congkak pada nada bicara ayahnya tersebut.


"Maksud, papi?" tanya Brian kemudian.


"Isi dan tampilan lotere ini terlalu sederhana. Anak-anak di lingkungan ini, punya hal yang bahkan lebih baik dari ini. Harusnya, kamu isi dengan barang yang minimal setara dengan segmen mereka."


"Kalau isinya lebih mahal, terpaksa Brian harus naikin harga dong?" ujar Brian kemudian.


"Profit kamu akan lebih tinggi. Penampilan dan isi serta kualitas barang itu, mempengaruhi harga."


"Tapi kan, kalau mahal, nanti yang beli sedikit. Karena nggak semua anak mampu."


"Justru itu. Dalam berbisnis, kalau kamu menyasar pada golongan menengah ke atas. Kamu akan memiliki sedikit pembeli, tapi profit kamu jauh lebih baik. Ketimbang kamu jual murah pada segmen menengah kebawah."


"Loh, bukannya sama aja ya pi?. Jual 1 ke segmen menengah keatas, jual 10 ke segmen menengah ke bawah, untungnya sama aja. Menurut Brian, lebih baik banyak yang beli ketimbang maksa kepada segmen menengah ke atas tapi yang beli sedikit."


"Kamu yakin, segmen menengah ke bawah punya uang setiap saat, untuk membeli dagangan kamu?"


Meskipun ini semua hanyalah hal receh yang aneh untuk diperdebatkan. Namun nyatanya banyak ilmu yang bisa dipetik.


"Mulai besok, ganti hadiah dan tampilannya."


Ayah Brian menepuk pundak Brian, lalu ibunya gantian mengelus kepala serta rambut anak itu. Mereka pun lalu masuk kedalam.


"Kak budek, tadi ngomongin apaan sih?" tanya salah seorang anak, yang tengah menyewa gamboy miliknya.


"Please deh, mereka lagi ngomongin bisnis." Salah seorang anak lain yang juga tengah menyewa gameboy, tampak berkata dengan nada sok dewasa.


"Emang kamu ngerti, bisnis?"


"Aku mah nggak kayak kamu." ujar anak tersebut.


"Aku udah berbisnis sejak kelas 2 SD."


Brian mengerutkan kening, demi mendengar percakapan itu.

__ADS_1


"Bisnis apaan?" tanya temannya yang satu lagi.


"Aku gambar, dan aku jual ke temen sekolah ku. Biar kalau pelajaran menggambar, mereka bisa ngumpulin gambar ke guru dan dapat nilai bagus."


Brian tercengang mendengar ucapan anak perempuan tersebut.


"Emangnya kamu dapet banyak uang?" tanya temannya lagi.


"Ya, cukuplah buat jajan. Tapi yang paling penting, nggak ada lagi yang berani nakal sama aku."


"Loh kenapa?" tanya temannya lagi.


"Karena kalau mereka nakal, aku kasih tau kalau gambar mereka itu palsu. Bukan mereka buat sendiri."


"Emangnya kamu punya bukti?"


"Setiap habis gambar, gambarnya aku foto pake kamera papa ku, sambil aku pegang. Terus aku cetak deh buat bukti."


Brian terlolong bengong. Ia bahkan tak pernah terpikirkan, mengenai bisnis yang berisi kelicikan di jamannya. Ingin rasanya ia menjitak kepala anak itu. Namun kemudian,


"Jelita, kata kamu mau sewain game boy?" beberapa anak berteriak, pada anak perempuan yang baru saja membeberkan perihal bisnisnya tesebut. Ia lalu mengeluarkan sejumlah uang dan memberikannya pada Brian.


"Kak budek, aku sewa gameboy tiga. Untuk dua hari. Sisanya aku bayar pas pengembalian, aku mau sewain ke mereka. Rumah aku yang itu."


Jelita mengambil tiga gameboy milik Brian lalu membawanya pulang. Sementara Brian kini terlolong bengong, persis sapi ompong.


***


Bandara Schiphol, Selatan Amsterdam.


Mario menoleh sekali lagi ke arah sekitaran bandara. Hari ini ia memutuskan untuk kembali ke Indonesia, bersama dengan keluarganya.


Meskipun singkat, tetapi tempat ini memberi banyak kenangan baginya. Hari-hari yang ia jalani bersama keluarganya sungguh berarti. Entah kapan, ini akan terulang lagi.


Meskipun di Indonesia, mereka tinggal berdekatan. Namun belum tentu bisa bersama dan bersuka cita seperti di tempat ini. Hati Mario pilu, namun ia sudah cukup berterima kasih. Diberi kesempatan untuk merasakan hal, yang tak pernah ia rasakan sepanjang hidupnya.


"Mario, ayo...!"


Ibunya memanggil Mario, perlahan remaja itupun menarik kopernya dan berjalan memasuki kawasan bandara.

__ADS_1


__ADS_2