Terjebak Di Tahun 2001

Terjebak Di Tahun 2001
Bulan


__ADS_3

Gugatan Mario akhirnya dipenuhi. Pihak sekolah mengumumkan pada seluruh siswa, bahwa di sekolah tersebut akan diadakan semacam kompetisi. Untuk menyaring siswa-siswi yang benar-benar berpotensi serta pintar di bidang tertentu.


Tak tanggung-tanggung, hadiah yang disediakan oleh sponsor dan penyelenggara adalah berupa uang tunai, piagam, piala, dan juga beasiswa.


Mulai dari beasiswa setengah hingga 100%. Ada yang bisa di pakai di dalam, maupun untuk sekolah ke luar negri. Bahkan juara utamanya adalah beasiswa full sampai kuliah nanti.


Tentu saja Mario sangat gembira, Dan hal ini disambut baik oleh seluruh siswa. Sebab kompetisi yang akan diadakan nanti boleh diikuti oleh siapapun.


Sebelum semua keputusan itu diambil, sempat terjadi sebuah perdebatan panjang di ruang guru. Antara guru-guru yang pikirannya terbuka, dengan guru-guru yang masih konservatif.


Sebagian dari mereka tidak setuju dan masih saja memuja siswa-siswi yang sudah punya nama di sekolah. Namun sebagian guru lain menginginkan sebuah perubahan dan setuju atas ide yang diberikan Mario.


Setelah melalui diskusi panjang, diwarnai pertengkaran yang bahkan nyaris menjurus kepada adu fisik. Kepala sekolah memutuskan untuk memenuhi aspirasi Mario.


Kini seluruh siswa-siswi yang merasa terintimidasi oleh para siswa-siswi populer selama ini, merasa memiliki jalan untuk melebarkan sayap.


"Mario."


Beberapa orang siswi mendadak menghampiri Mario, ketika remaja itu tengah berjalan disepanjang koridor menuju kelas.


"Gue, Bulan." ujar salah satu dari mereka.


"Dan ini temen-temen gue." lanjutnya lagi.


"Oh hai." ujar Mario kepada gadis itu dan yang lainnya.


Dari sebuah sudut Ratna tanpa sengaja memperhatikan Mario. Dan entah mengapa gadis itu tak begitu menyukai, saat Mario berbicara dengan Bulan.


"Bulan anak kelas 2B. Dan Bulan mau berterima kasih, karena lo udah mau membuka jalan buat Bulan."


Mario menghela nafas lalu tersenyum tipis.


"Di kelas Bulan, ada yang juara terus. Tapi Bulan yakin dia juara karena orang tuanya salah satu anggota yayasan disini. Jadi guru lain pun nggak enak ngasih nilai kecil. Dia nggak punya kemampuan yang lebih, tapi selalu di elu-elukan." Lanjut Bulan lagi.


Mario kembali menghela nafas dan mengangguk-anggukan kepalanya.


"Gue harap lo bisa menunjukkan kemampuan lo. Tapi supaya lo menang, lo harus melupakan apa yang udah sekitar lo perbuat terhadap elo. Lo harus menyingkirkan terlebih dahulu dendam lo kepada anak itu. Biar lo maksimal." ujar Mario.


Bulan tersenyum, lalu secara serta merta ia mencium pipi Mario. Dihadapan teman-temanya, bahkan di hadapan Ratna yang saat ini tengah mengintip ke arah mereka. Mario terkejut, dan seketika remaja itu terdiam.


"Makasih ya Mario."


Bulan berlalu bersama teman-temannya, sementara Mario masih berdiri kaku.

__ADS_1


****


"Adril."


Ratna memanggil Adril, ketika remaja itu buru-buru untuk pulang ke rumah. Bel tanda pulang sudah dibunyikan sejak mereka menit yang lalu.


Para siswa pun kini masih terlihat memenuhi halaman sekolah, meski ada sebagian yang sudah keluar dan berjalan ke arah rumah masing-masing.


"Kenapa Rat?" tanya Adril padanya.


Remaja itu berjalan sebab sepedanya rusak, sedang kini Ratna menuntun sepeda di sisi Adril.


"Lo nggak ikut daftar kompetisi yang di adakan sekolah?" tanya Ratna.


"Nggak." jawab Adril dengan pasti.


Ia sejatinya sangat ingin mengikuti ajang tersebut, namun ia memiliki dendam dan juga kekesalan tersendiri terhadap Mario. Meski semuanya bukanlah salah Mario, tapi Adril hanya seorang remaja belasan tahun yang belum bisa bersikap bijaksana.


Malah kadang ia cenderung mengikuti ego dan kemarahan yang ia miliki. Ia tau ini adalah sebuah kesempatan besar. Namun kesempatan ini dibuka oleh Mario, orang yang saat ini ia benci.


"Sama, gue juga nggak." timpal Ratna.


Remaja perempuan itu sejatinya tak memiliki masalah apa-apa dengan Mario. Namun dalam masalah kandidat olimpiade itu, ia lebih mendukung Adril. Dan lagi tadi entah mengapa ia merasa sakit hati sekali, saat Mario di cium oleh Bulan.


"Kenapa lo nggak ikut?" tanya Adril.


"Lo lagi berantem sama Mario?" Adril kembali bertanya.


"Nggak, tapi gue sebel aja." ujar Ratna.


"Itu anak emang nyebelin, liat aja gue akan ikut kompetisi itu." Tiba-tiba seseorang berujar seraya melintas di dekat Ratna dan juga Adril.


"Orang tersebut adalah Martin, yang kini berkata pada anggota gengnya.


"Gue akan buktikan kalau gue emang pinter dan pantes populer di sekolah ini. Enak aja si Mario nyindir gue sebagai siswa yang cuma populer doang, tapi nggak lebih pinter dari siswa lainnya." ujar Martin lagi.


"Lo tenang aja, Mar. Kita juga pada ikut." Celetuk salah seorang teman Martin.


"Iya pasti kita ikut. Siapa sih yang sok pinter di sekolah ini, yang berani melawan kita?. Siapa?" timpal yang lainnya lagi.


Mereka berkata dengan sombongnya. Membuat emosi Adril dan juga Ratna naik ke ubun-ubun.


Martin dan teman-temannya kemudian berlalu, sedang Adril dan juga Ratna masih berjalan di tengah-tengah kerumunan siswa.

__ADS_1


"Bareng aja yuk!" ajak Ratna pada Adril.


Adril pun lalu mengambil alih sepeda Ratna dan membonceng gadis itu.


***


Masih di tempat yang sama..


"Mario, ayo diantar aja sama Bulan. Sekalian sama Cavin, dan Brian juga."


Sebuah suara terdengar dari sebuah mobil yang kini berhenti didekat Mario, Brian, serta Cavin yang baru keluar dari gerbang.


"Siapa, bro?" tanya Brian dan juga Cavin di waktu yang nyaris bersamaan.


Namun suara mereka terdengar pelan, sebab takut didengar oleh perempuan itu. Perempuan itu sendiri menongolkan kepalanya dari kaca mobil yang terbuka.


"Namanya Bulan. Anak kelas 2B apa C tadi, lupa gue." jawab Mario juga dengan suara pelan.


"Koq tau nama gue sama Cav?" tanya Brian diikuti tatapan Cavin.


"Nggak tau, famous kali lo berdua. Karena ketepaan nama gue." ujar Mario sotoy.


Brian dan Cavin kompak menoyor kepala Mario. Lalu Mario pun nyengir bajing.


"Bulan, nggak usah deh. Gue sama mereka jalan aja." jawab Mario.


"Ih nggak apa-apa, ayok Bulan anterin!" ujar Bulan lagi.


"Jangan deh, kita nggak enak." Mario bersikeras.


Bulan lalu turun dari dalam mobil dan membukakan pintu tengah.


"Ayo, Bulan anterin aja. Ayo Cav, Bri."


Brian dan Cavin saling pandang. Mereka benar-benar tak kenal dengan gadis cantik tersebut, meski sudah cukup lama berada di sekolah ini.


"Ayo?" ajak Bulan lagi.


Mario, Brian, dan Cavin saling menatap kembali. Namun akhirnya mereka sepakat untuk masuk ke dalam mobil tersebut.


"Kalian pulang kemana?" tanya Bulan pada ketiganya.


Mario lalu memberitahu dimana dirinya, Brian, serta Cavin tinggal. Tak lama mobil yang dikemudikan oleh supir pribadi Bulan itu pun, bergerak ke arah sana.

__ADS_1


"Lo kenal dia dimana?" bisik Cavin pada Mario ketika mobil telah melaju.


"Ntar gue ceritain di rumah." jawab Mario.


__ADS_2