Terjebak Di Tahun 2001

Terjebak Di Tahun 2001
Sang Juara


__ADS_3

Dua hari kemudian...


"Mario, bangun...!"


Deddy berteriak pada Mario, seketika anak itupun kaget dan terbangun.


"Kenapa dad?" tanyanya panik.


"Kamu tuh ujian hari ini. Ini udah jam berapa?"


"Hah?. Omaigad."


Mario melihat jam yang sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Sementara sekolahnya menetapkan jam masuk ujian tepat pada pukul 07:00.


Buru-buru ia pun mengambil handuk, mandi dan segera berpakaian.


"Kenapa nggak bangunin Mario sih, dad?"


Mario menggerutu seraya mondar-mandir menyiapkan tas, alat tulis, berserta sepatu. Sementara Deddy sibuk menyiapkan keperluan kerjanya.


"Daddy juga kesiangan. Lagian kamu udah tau ujian, bukannya tidur cepet. Siapa suruh semalem kamu main sampe malem di rumah Cavin."


"Ya tapi kan sebagai orang tua daddy harusnya bangun lebih awal lah, biar bisa bangunin anak. Kan Mario tanggung jawab daddy."


"Sekolah itu murni tanggung jawab kamu, bukan tanggung jawab daddy."


"Aduh, udah hampir jam tujuh lagi. Gimana ini?" Mario panik.


"Buruan, Mario...!"


Deddy kembali berteriak, kali ini dari halaman rumah. Buru-buru Mario keluar, ternyata Deddy sudah siap dengan sebuah sepeda motor. Mario terdiam sejenak, tak disangkanya Deddy begitu peduli padanya.


Padahal ini hanyalah hal sederhana, hanya seorang ayah yang mengantar anaknya ke sekolah. Namun disaat seperti ini, ini adalah anugerah terbesar bagi Mario. Yang bahkan di jamannya sendiri tak begitu dipedulikan oleh Michael maupun Marcell. Masalah ia akan terlambat atau tidak ke sekolah.


"Ngapain bengong sih?. Buruan...!" ujar Deddy lagi.


"I, iya dad."


Mario buru-buru naik ke atas motor Deddy. Tak lama kemudian, motor itu pun bergerak keluar dari halaman rumah.


"Mario buruan..!"


Cavin melaju dengan dibonceng oleh Davin, agaknya anak itu juga bangun terlambat. Melewati kediaman Brian, Mario dikejutkan dengan kehadiran Brian yang dibonceng oleh mbak Luna. Sang perempuan setengah siluman, pemimpin asisten rumah tangga dirumahnya.


"Hyaaaaa."


Luna berteriak seraya tancap gas, mereka bertiga berlomba-lomba agar cepat sampai. Untung saja kelakuan Luna sangat barbar, hingga Mario, Brian, dan Cavin bisa cepat sampai ke sekolah.

__ADS_1


Luna membentak pengendara lain yang coba menghalangi mereka. Atau kalau tidak, ia akan berteriak di telinga mereka hingga mereka semua minggir dan memberi jalan.


"Buruan...!"


Deddy, Davin, dan Luna menyuruh ketiga anak itu masuk, ketika mereka akhirnya tiba disekolah tepat waktu. Tak lama berselang bel tanda masuk pun berbunyi. Mario, Brian, dan Cavin berlarian menuju kelas.


"Ad, lo tadi nggak manggil gue ya?" tanya Mario pada Adril, ketika ia sudah berada di kelas.


"Gue sama Heru udah teriak-teriak kayak apaan tau di depan rumah lo pada. Kagak ada yang jawab. Kita kira lo semua udah berangkat duluan."


"Kagak, kesiangan gue. Gue belajar semalem, malah dikira begadang nggak jelas sama bapak gue."


"Ya udah, yang penting kan lo pada tepat waktu."


"Iya sih, kita ujian apa sih hari ini?"


"Matematika."


"Haaah?"


Mario, Brian dan Cavin sontak menatap Adril dengan mulut yang sama menganga. Mereka tak menyangka jika matematika, adalah ujian pertama yang harus mereka hadapi.


"Anjrit." gerutu Mario. Sementara Brian dan Cavin kompak menepuk jidat.


***


Terkadang mereka saling memberi contekan satu sama lain, dengan cara melempar kertas yang berisi jawaban. Terkadang pula mereka membuat contekan sendiri, yang ditulis di sapu tangan atau tissue. Mereka menyelesaikan semua itu layaknya siswa normal pada umumnya.


Hingga kemudian, tibalah hari dimana raport mereka dibagikan. Karena ini kenaikan kelas, maka pengambilan diharuskan membawa orang tua atau wali.


Sedari tadi, Mario, Brian, dan Cavin tampak khawatir. Pasalnya mereka takut menjadi ranking ketiga dari akhir. Karena ujian kali ini, mereka sangat tidak siap.


Jika dimasa depan, mereka selalu dapat peringkat kelas. Itu karena mereka sudah mempersiapkan ujian dari jauh-jauh hari. Mereka belajar dan membuat contekan yang lengkap sehingga tak begitu sulit untuk mengisi lembar jawaban.


Satu persatu juara umum disebutkan. Mulai dari angkatan paling senior mereka, yakni kelas 3, kemudian kelas 2 dan kini kelas satu.


"Juara umum ke tiga, Christopher Robin Hoult."


Seluruh siswa bersorak kegirangan. Tak terkecuali fans F4, mereka menyambut berita tersebut dengan gembira. Apalagi Martin sang ketua geng. Ia sangat percaya diri bahwa juara umum kali ini akan kembali dikuasai oleh anggotanya lagi.


Setelah dua catur wulan berturut-turut, juara umum dipegang oleh kelompoknya. Dengan ia sebagai yang utama.


"Baru tau gue, namanya Christopher Robin." celetuk Brian, diikuti tawa Mario dan juga Cavin.


Mereka membayangkan film Christopher Robbin yang mereka tonton di jaman mereka. sambil membayangkan Christopher yang ada di jaman ini memiliki telinga kelinci.


"Hahaha." Mereka tertawa geli.

__ADS_1


"Juara umum kedua, Ratna Diandra Kirana."


Seluruh siswa terkejut bahkan terdiam untuk beberapa saat. Pasalnya di dua periode sebelumnya, juara umum kedua berturut-turut dipegang oleh Glenn Marvino. Glen sendiri merupakan salah satu anggota F4. Glen terperangah, anggota F4 lainnya terlihat syok. Seisi sekolah masih terdiam.


"Wooouuu."


Mario, Brian, dan Cavin bertepuk tangan. Tak lama kemudian, seluruh siswa pun ikut bersorak-sorai. Menambah kekesalan di wajah Martin dan teman-temannya. Masalahnya reputasi geng mereka kini dipertaruhkan. Namun mereka masih percaya diri jika Martin tetap menjadi yang utama. Karena Martin punya orang dalam yang bisa saja mendongkrak nilainya.


"Ratna parah sih." ujar Mario bangga.


"Lo nggak liat mukanya si Martin." bisik Cavin.


"Kayak udang rebus." celetuk Brian.


Mereka bertiga kembali cekikikan.


"Tadi inget nggak pas di depan gerbang. Dia pede banget bilang kalau juara umum bakalan dikuasai sama geng mereka." ujar Mario lagi.


"Gue sih berharap yang pertama ini bukan dia, Adril kek atau siapa. Biar makin udang rebus." ujar Cavin.


Lagi, lagi, dan lagi mereka cekikikan.


"Juara umum pertama,..."


Guru yang membacakan pengumuman itu diam sejenak. Mendadak ia menjadi seperti pembawa acara kontes yang ingin mengumumkan pemenang. Para siswa pun menunggu dengan tegang, meski sebagian terlihat tak peduli. Karena mereka sudah tau pasti Martin lah yang menjadi juaranya, seperti pada dua periode sebelumnya.


"Andrew Andreas Mario Cahyadi."


"Haaah?"


Waktu seakan berhenti. Mario, Brian, Cavin dan semua orang di sana terperangah tak percaya. Brian dan Cavin kemudian tertawa sambil memukul bahu Mario. Mereka tak menyangka di jaman ini Mario mampu meraih juara umum. Sementara di jamannya paling mentok ranking dua, atau ranking satu dengan nilai paling rendah diantara para peraih ranking satu lainnya. Pernah sekali ia juara umum, namun itu sepertinya dikarenakan guru khilaf. Atau Mario yang membuat contekan terlalu sempurna.


Tepuk tangan meriah pun akhirnya Mario terima. Dari kejauhan, Deddy tampak tersenyum dengan bangga. Sementara kini Martin terlihat sangat marah.


Ketika masuk kelas dan pembagian raport, ternyata Martin hanya meraih peringkat 3. Karena peringkat 2 ternyata diraih oleh Adril. Cavin dan Brian sendiri berada di peringkat 4 dan 5, Heru berada diperingkat 7. Namun mereka sudah cukup bahagia.


"Mario."


Deddy memeluk dan mencium kening Mario. Sesaat setelah pembagian raport usai dan mereka bersiap untuk pulang. Davin sendiri menyatakan pujiannya untuk hasil kerja keras Cavin. Orang tua lintas jaman Brian pun tak masalah anaknya hanya berada di urutan kelima.


Hari itu mereka pulang dengan rasa bahagia, namun tidak dengan Martin. Ia kini terlihat marah sambil meninju tembok belakang sekolah dengan tangannya.


"Brengsek."


"Arrgghh."


"Kenapa si kecoa itu yang juara umum."

__ADS_1


"Arrgghh."


__ADS_2