
Adril dan Ratna akhirnya memutuskan untuk mengumpulkan formulir. Mereka sudah membulatkan tekad dan tak peduli lagi pada apapun. Kini nama mereka telah resmi terdaftar sebagai peserta, dari event yang akan diadakan pihak sekolah.
Sementara itu Mario semakin sibuk belajar, karena olimpiade sebentar lagi akan dilaksanakan. Ia belajar kadang ditemani oleh Brian dan Cavin, kadang pula oleh Deddy ataupun Bulan.
Demi membuat Mario siap secara mental, Brian dan Cavin sampai rela masuk les setiap hari. Semata agar Mario merasa tak sendirian saat belajar dan jadi bersemangat dalam mencapai cita-citanya.
Ia ingin membuktikan pada Michael yang ada di masa depan, bahwa ia juga pintar dan bisa menang olimpiade. Meski Michael yang ada di masa depan itu mungkin tak akan menyadari ataupun melihat. Tetapi kepuasan batin karena telah membuktikan diri, setidaknya tertanam dalam diri Mario.
"Mario, Bulan pulang dulu ya."
Bulan berujar ketika telah sekian kali mereka belajar bersama di rumah Mario.
"Iya Bulan, hati-hati." ujar Mario.
"Maaf ya nggak bisa nganterin sampai depan." tukasnya lagi.
Sebab saat ini kaki remaja itu tengah terkilir, akibat hampir terjatuh dari tangga tadi pagi.
"Iya nggak apa-apa, cepat sembuh ya." ucap Bulan sambil melangkah keluar.
"Iya, makasih." jawab Mario.
Bulan kini keluar, dan hendak masuk ke dalam mobilnya yang baru tiba bersama supir. Sudah menjadi kebiasaan supirnya untuk mendrop Bulan ke tempat Mario, dan menjemputnya kemudian.
Bulan hendak membuka pintu mobil tersebut, namun kemudian Ratna melintas dari suatu arah. Ratna menatap Bulan dan begitupun sebaliknya.
Mereka seperti orang yang tengah bersaing untuk sesuatu. Ratna berlalu, Bulan masuk ke dalam mobil. Tak lama mobil tersebut pun mulai melaju.
***
Waktu kembali berlalu, hari yang dinantikan itu akhirnya tiba. Mario mengikuti tes seleksi, melawan beberapa kandidat yang juga di gadang-gadang mampu mewakili sekolah di ajang olimpiade.
Nama Mario keluar sebagai pemenang, dan ada beberapa nama juga selain namanya yang dinyatakan berhasil.
Mereka kemudian diberangkatkan menuju ke tempat dimana olimpiade tersebut berlangsung.
Sebelum pergi, Deddy sempat berkata pada Mario. Jangan jadikan menang sebagai target utama. Yang harus Mario tekankan adalah menjadi maksimal di dalam proses.
__ADS_1
Artinya ia harus fokus kepada olimpiade itu sendiri, bukan kepada hasil akhirnya. Sebab bila hanya berfokus pada hasil akhir dan mematok diri harus menang. Mario akan terbebani dan akhirnya tak maksimal dalam mengerjakan berbagai soal yang diberikan.
"Sama seperti kamu sedang lomba lari, Mario. Kalau hanya berambisi untuk mencapai garis finish duluan. Kamu nggak akan fokus sama langkah dan berapa kecepatan kamu."
Begitulah kata-kata yang di ucapkan oleh Deddy, di malam sebelum keberangkatan Mario.
"Pokoknya menang ataupun kalah, sebagai teman gue bangga sama lo. Karena lo udah melangkah sejauh ini." Brian berkata pada Mario di pagi harinya.
Cavin turut menepuk bahu sang sahabat dan memberinya kekuatan. Akhirnya Mario pun berangkat. Setelah sebelum itu Bulan mencium pipinya di hadapan Ratna yang mengintip dari suatu sudut. Mario seperti mendapatkan kekuatan baru.
***
Selama Mario dan team pergi. Lomba di sekolah pun akhirnya dilaksanakan. Para siswa yang telah mendaftar kini mengikuti penyaringan tahap pertama, yakni sebuah tes tertulis yang terdiri dari beberapa pelajaran pokok beserta soal pengetahuan umum.
Tes dilanjutkan dengan melihat kecerdasan lain dari mereka semua. Seperti kecerdasan verbal-linguistik, spasi visual, kinestetik jasmani, musikal, interprersonal, intrapersonal, naturalis, dan bakat di bidang seni seperti akting, melukis dan lain sebagainya.
Semua itu telah melalui kesepakatan dan menjadi kategori dalam lomba. Hal tersebut di lakukan untuk menghindari adanya siswa atau siswi yang minder, ketika nanti beberapa diantara mereka akan keluar sebagai pemenang.
Mereka semua harus tau jika kepintaran itu tak hanya terbatas jago di pelajaran saja. Tapi jenis kecerdasan ada banyak. Sehingga nantinya mereka diharapkan bisa mengenali diri mereka sendiri dan mengembangkan bakat serta kecerdasan masing-masing yang mereka miliki.
***
Beberapa pemilik nilai paling bawah dinyatakan gugur. Namun mereka sudah mengikuti tes di berbagai bidang kecerdasan. Dan bisa mengikuti lomba lain di kategori kecerdasan yang mereka miliki.
Bulan tentu saja puas dengan hasil kerja kerasnya, begitupula dengan Martin. Tapi tidak dengan Adril, Ratna, maupun Heru.
Bagi mereka, meski nilai mereka pun juga bagus dan berada di top 10. Tetap saja ada yang mengganjal di hati. Sebab sampai saat ini mereka masih memandang jika nilai tertinggi adalah sebuah goals dan merupakan suatu kebanggaan tersendiri.
Dan lagipula beasiswa full hanya ada untuk pemenang top 3. Sisanya berupa hadiah beasiswa non full maupun hadiah-hadiah lainnya.
Sedang Adril membidik hal tersebut untuk dijadikan target, Heru juga demikian. Ratna sendiri menginginkan dirinya lebih di atas Bulan. Untuk membuktikan jika dirinya lebih pintar dari gadis itu.
Sementara Brian, Cavin, dan Michael tentu saja hanya bisa menyaksikan. Karena mereka sendiri memilih untuk tidak ikut atau ambil bagian dalam event tersebut.
Mereka lebih suka berada di ombak yang tenang, karena tak perlu membuktikan apapun kepada siapapun.
"Mario apa kabar ya?"
__ADS_1
Brian bertanya pada Cavin ketika mereka berada di ruang bermain rumah Cavin, dan baru saja selesai bermain Nintendo.
"Lagi latihan soal mungkin di penginapan." jawab Cavin.
"Semoga dia bisa melewati semuanya dengan baik." ujar Brian lagi.
"Gue juga berharap demikian." timpal Cavin.
Brian lalu menatap ke suatu sudut.
"Apa nantinya, setelah semua hal berhasil kita lewati. Bakal ada portal yang terbuka dan kita bisa pulang?" tanya-nya kemudian.
Cavin menghela nafas panjang.
"Gue nggak tau, Bri. Ini aja udah tahun kedua kita disini. Gue nggak tau di masa depan apakah kita ini hilang atau gimana. Apa mereka semua lagi sibuk mencari kita atau apapun." ujar Cavin.
"Yang jelas gue agak ragu sekarang." lanjutnya lagi.
"Ragu?" Brian menatap sahabatnya itu karena tak mengerti.
"Gue mulai bimbang mau balik atau nggak."
"Lo ngerasa nyaman disini?" tanya Brian.
"Lo sendiri?" Cavin balik bertanya.
"Sebenarnya iya sih." tukas Brian kemudian.
"Apalagi yang kita cari, semuanya ada. Ya walaupun gue nggak bisa manggil papa-mama ke bokap-nyokap kandung gue. Nggak kayak Mario yang posisinya pas. Dia temenan sama Michael dan bisa bebas manggil orang tua kandungnya dengan sebutan itu."
Cavin diam dan menjatuhkan pandangan ke lantai.
"Lo pernah mikir nggak sih, kita balik ke masa depan juga buat apa. Nggak ada hal istimewa yang bisa bikin kita kangen untuk balik. Kecuali cuma internet dan game online doang. Kita nggak punya orang yang bener-bener menginginkan kita untuk pulang." ujar pemuda itu.
Brian mengangguk.
"Bener, Cav." ujarnya kemudian.
__ADS_1
"Tapi kita ikutin aja, nantinya kita akan mentok sampai mana." lanjut pemuda itu.