
Deddy dan Mario makan malam bersama, di sebuah restoran. Dan itu masih menjadi salah satu hal yang paling menyenangkan bagi Mario saat ini.
Meskipun Deddy hanyalah seorang ayah lintas jaman dan bukan ayah kandungnya sendiri. Tapi bagi Mario, ini lebih dari sekedar anugerah.
Deddy adalah energi baginya, untuk tetap bisa tegar menjalani hidup di jaman ini. Sebab ini sudah tahun ke dua dan belum ada tanda-tanda portal ke masa depan telah terbuka. Dimana letak portal itu pun masih abu-abu.
"Hmm, uhuk."
Mario batuk ketika dirinya terlalu cepat menelan sambal, sehingga menyebabkan tenggorokannya terasa begitu pedas hingga ke rongga telinga.
"Nih minum dulu!"
Deddy memberikan minum pada Mario. Tak terhitung berapa kali jumlahnya, Mario telah terharu oleh perlakuan manis pria itu. Mario mengambil minuman tersebut dan meminumnya hingga hampir habis.
Ia merasa sedikit lega, meski sesekali masih batuk. Sebab tenggorokannya masih gatal dan juga panas.
"Pelan-pelan makanya." ujar Deddy kemudian.
Mario hanya tertawa dan melanjutkan makan.
***
Pada waktu yang bersamaan, Brian tiba-tiba merasa lapar. Sedang Luna hanya sibuk membaca majalah dan tidak memasak apa-apa hari ini. Lantaran orang tua lintas jaman Brian pun tengah pergi ke luar kota.
Ingin rasanya Brian memprotes, namun suara Luna kadang membahana sampai ke luar angkasa. Maka dari itu sebagai makhluk fana dengan tingkat kewarasan yang tinggi. Brian memilih untuk mengalah dan mengambil dompet.
Ia kini melangkah keluar dan bermaksud mencari makanan, dimana pun ketemu. Semisal ia bertemu pedagang sate atau nasi goreng yang tengah melintas. Maka ia akan membelinya.
Namun entah mengapa malam itu kompleks perumahan sangatlah sepi. Tak ada satupun pedagang yang lalu lalang. Mungkin sedang beredar di area lain.
Terpaksa Brian pun pergi ke luar kompleks dan mencari pedagang di pinggir jalan raya. Beruntung ia menemukan beberapa pedagang. Ia sempat agak bingung awalnya. Ingin memilih sate, pecel lele, atau nasi goreng.
Setelah menimbang-nimbang, ia memutuskan untuk membeli sate ayam. Ia mendekat ke pedagang sate tersebut, kemudian memesan tiga porsi.
Satu untuk dirinya dan dimakan di tempat. Dua lagi untuk Luna dan asisten rumah tangga yang satunya. Kebetulan asisten rumah tangga yang satunya lagi tengah libur dan pulang kampung.
Usai memesan Brian mencari tempat duduk, namun ternyata semua area sudah penuh. Padahal ia sangat ingin makan di tempat, sebab dirinya sudah sangat lapar.
"Eh, Brian."
Tiba-tiba seseorang menyapanya, Brian kemudian menoleh. Ternyata itu adalah suara sang ayah kandung, yang kebetulan juga tengah berada di sana.
Seketika batin Brian pun bergemuruh, ditambah lagi ia melihat sang ibu yang turut tersenyum kepadanya. Brian membalas senyuman tersebut dan ingin menangis rasanya. Namun hal tersebut berusaha keras ia tahan, sebab takut dikira aneh.
"Sini, duduk sini aja." sang ayah memanggil.
Brian masih terdiam dan terpaku ditempatnya berdiri.
__ADS_1
"Ayo Brian sini!"
Ibunya turut memanggil. Sekujur tubuh Brian merinding, lalu entah dorongan dari mana tiba-tiba ia melangkah ke arah sana.
"Sini duduk sini!"
Sang ayah mempersilahkan. Brian duduk di antara kedua orang tuanya itu dengan perasaan yang campur aduk.
"Jam segini disini emang selalu penuh" ucap sang ayah lagi.
"Udah pesan tadi?" Sang ibu bertanya padanya.
"Udah koq tante." jawab Brian kemudian.
"Brian sendirian?" Ayah kandungnya turut melempar pertanyaan.
"Iya om, mama sama papa kan pergi keluar kota." jawabnya lagi.
"Iya, om ada lihat kemarin sih. Kamu sering ditinggal?" tanya ayahnya itu lagi.
"Sering." Lagi-lagi Brian menjawab.
"Kalau ada apa-apa atau butuh bantuan, kamu ke depan aja. Om dan tante siap membantu koq."
"Iya om, makasih." jawab Brian sambil coba tersenyum.
***
"Wah ini kalau ada Mozarella enak nih, Dave."
Cavin mengomentari roti bakar yang ia dan Davin buat di atas sana.
"Mozarella?" Davin mengerutkan dahi.
Cavin seketika teringat, jika penggunaan keju meleleh itu populer di jamannya. Meski keju tersebut telah ditemukan pada sekitar abad ke 12 di kota Naples, Italia.
Tetapi mungkin di tahun ini hanya sedikit orang yang mengetahui. Peran sosial media memang telah merubah banyak tata cara dan gaya hidup seseorang.
"Hmm, maksud Cav keju." ujar Cavin lagi.
"Kan ada di dapur, mau aku ambil?" tanya Davin.
"Cheddar ya?" tanya Cavin.
"Iyalah mau keju apalagi. Kan dirumah ini papa sama mama itu nggak suka keju. Sedangkan aku emang sukanya cheddar doang. Ricotta aku kurang suka."
"Oh ya udah." ujar Cavin.
__ADS_1
"Mau?" tanya Davin lagi.
"Mau dong." jawab Cavin.
Maka Davin beranjak dan mengambil keju tersebut.
***
Selang beberapa saat, sate yang dipesan kedua orang tua Brian jadi dan sampai di meja. Namun mereka tak langsung makan. Mereka menunggu pesanan Brian tiba dulu, baru akhirnya mereka makan bersama.
Pada gigitan pertama, Brian ingin menangis rasanya. Sebab untuk pertama kali dalam hidup, ia makan dengan ditemani kedua orang tua kandungnya. Meski ia berada di posisi sebagai orang lain, tapi itu tak mengurangi kebahagiaan yang membuncah dalam hatinya.
"Brian kelas berapa sih?" tanya sang ibu di sela-sela acara makan mereka.
"Kelas dua SMP, ma."
Ayah dan ibu Brian menatap remaja itu, seketika ia tersadar jika sudah salah bicara.
"Ma, maaf, maaf. Brian terbiasa ngobrol sama mama, tante. Maaf ya."
Brian begitu takut, namun ibu dan ayah kandungnya itu malah tertawa.
"Nggak apa-apa." ujar mereka kemudian.
"Kamu Deket banget ya pasti sama ibu kamu." tanya sang ayah.
"Iya om, sekarang dekat banget."
Brian berujar begitu saja, sambil menatap ayahnya tersebut. Posisi mereka memang sangat dekat, sesuai dengan apa yang ia katakan barusan.
***
"Dad, itu enak nggak?"
Mario menilik ke piring Deddy dan memperhatikan makanan yang dipesan oleh pria itu. Maka dengan tangannya Deddy pun lalu menyuapi Mario.
"Nih cobain." ujarnya kemudian.
"Have I told you lately, that I love you."
Sebuah lagu yang Mario tak kenali siapa penyanyinya terdengar di seantero restoran.
"Have I told you there's no one above you."
Mendadak hati Mario terasa hangat Sedang Deddy masih fokus ke piring dan menyuapi Mario.
"Fill my heart with gladness."
__ADS_1
"Take away all my sadness."
Tubuh Mario gemetar rasanya. Perasaan dari lagu itu seolah tersampaikan dengan sikap Deddy yang begitu manis. Ia terus menatap ayah lintas jamannya itu dengan tatapan yang mendalam.