
Mereka mengucek mata akibat cahaya flash tersebut, sampai akhirnya pandangan mereka kembali normal.
Namun Mario, Brian, dan Kevin melihat ke arah kaca dan terdiam cukup lama. Sampai akhirnya mereka menoleh dan saling menatap satu sama lain, dengan mulut yang sama-sama menganga.
"Cav, Bri. Lo berdua ngeliat hal yang sama kan?" tanya Mario dengan suara yang mulai gemetaran.
Cavin dan Brian sama-sama mengangguk, wajah keduanya tampak begitu syok. Mereka melihat pakaian mereka kini berubah menjadi seragam SMP, dan toilet bioskop berubah menjadi toilet yang kecil serta terlihat agak tua. Handphone yang semula berada di tangan Cavin, menghilang begitu saja.
"Hp gue nggak ada." ujar Cavin panik. Mario dan Brian refleks merogoh kantong masing-masing.
"Sama, gue juga."
"Gue juga."
Mario dan Brian tercengang dengan tangan yang masih berada di dalam saku celana. Lama mereka terpaku satu sama lain sampai kemudian,
"Tok, tok, tok."
Terdengar suara ketukan pintu yang keras. Mario pun melangkah ke arah sumber suara itu dan membuka pintu yang ternyata terkunci.
"Ngapain lo pada pake ngunci toilet segala?"
Seorang anak laki-laki yang juga berseragam SMP, tampak berbicara dihadapan Mario dan kedua temannya. Dibelakang anak laki-laki itu, ada banyak siswa lain yang mengantri.
"Hombreng lu bertiga ya?" tanya anak itu lagi. Ia kemudian masuk ke dalam toilet setelah menabrak bahu Mario, diikuti dengan masuknya para siswa lain.
Mario, Brian, dan Cavin yang masih bingung itu akhirnya keluar dari dalam toilet tersebut. Mereka menyadari, bahwa kini mereka tengah berada di sebuah sekolah menengah pertama.
Tapi bagaimana bisa seperti ini, mereka masih belum mengerti sama sekali. Mereka terus berjalan sambil menoleh ke kanan dan ke kiri saking bingungnya.
"Mario, kita sebenernya dimana sih ini?" tanya Cavin dengan nada penuh ketakutan.
Sementara mata Mario masih menjelajah sekitar. Perasaannya tak kalah bingung dan takutnya dengan Cavin ataupun Brian.
"Mike?"
Tiba-tiba pandangan Mario tertuju ke suatu arah. Ketempat dimana seorang siswa tampan, tengah berjalan dengan agak terburu-buru.
"Mike, Mike, Mike. Michael."
Mario segera berlari menghampiri anak itu dan menyentuh bahunya. Sehingga anak itu refleks menoleh, dengan tatapan yang penuh keterkejutan.
"Ada apa ya?" tanya anak itu kemudian.
"Mike ini gue, Mike. Gue Mario, adek lo."
"Adek?" Michael mengerutkan keningnya.
"Iya, gue adek lo."
Kali ini Michael tertawa, sebuah hal yang belum pernah dilihat oleh Mario seumur hidupnya.
"Lo gila ya?" ujar Michael kemudian.
"Gue itu anak bungsu, mana punya adek."
Michael akhirnya berlalu, meninggalkan Mario dalam kebingungan yang belum terjawab.
"Mario, itu tadi siapa?" tanya Brian dan Cavin secara serentak.
"Lo pada nggak ngeh?" tanya Mario.
"Nggak." jawab keduanya polos.
"Kalian nggak pernah liat foto Michael waktu SMP?"
Cavin dan Brian menggeleng.
"Itu tadi Michael, Michael waktu SMP."
Tiba-tiba ketiganya menyadari sesuatu. Mereka masuk dalam mode diam dan saling menatap satu sama lain.
__ADS_1
"Kalau itu tadi Michael." Mario berkata dengan nada gemetar dan nafas yang mulai tak teratur.
"Kalau Michael saat ini masih SMP." lanjutnya kemudian.
Mereka kembali bersitatap satu sama lain.
"Kita balik ke tahun 2000 an."
Ketiganya berkata sambil berteriak histeris.
"Oh my god, oh my god." Cavin mengelus dadanya.
"Jangan bilang kita bertiga lagi lucid dream." ujar Brian berspekulasi. Detik berikutnya ia pun memukul Cavin.
"Buuuk."
"Awww." Cavin mengaduh kesakitan.
Merasa tak percaya dengan apa yang mereka lihat, Mario dan Brian pun mencubit lengan mereka sendiri kuat-kuat.
"Aaaah." Keduanya mengeluh kesakitan pada saat yang bersamaan.
"Mario, gue ngerasain sakit." ujar Brian panik.
"Sama gue juga, Bri." ujar Mario tak kalah cemas.
"Itu artinya kita bener-bener balik ke tahun 2000an. Ini 2001, 2002, apa 2003 sih?" tanya Cavin dengan keringat dingin yang sudah banjir.
"Terus kita harus gimana dong, Mario?" tanya Brian penuh kecemasan.
"Mana gue tau, Bri." ujar Mario masih mencoba mengatur nafasnya.
"Ini gara-gara elu sih, Cav. Pake acara ngajakin ke toilet segala, foto-foto segala. Mana tau di toilet itu ada portal yang lagi kebuka." gerutu Brian.
"Ya mana gue tau, Bri. Lagian juga elo kan yang punya ide buat nonton."
"Eh nggak usah nyolot lo, ya." teriak Brian.
"Siapa yang nyolot?" Cavin tak kalah berteriak.
Disaat kayak gini lo pada masih bisa berantem ya, heran gue." lanjutnya kemudian.
"Sorry bro, gue panik." ujar Brian.
"Gue juga sama paniknya kayak elo, Bri. Sabar dulu, biarin gue berfikir."
"Teng, teng, teng."
Tiba-tiba terdengar suara lonceng tanda masuk, para siswa pun berlarian ke kelasnya masing-masing.
"Loh, pada masuk?. Kita gimana nih?" tanya Cavin bingung.
"Iya bro, kita harus kemana sekarang?" tanya Brian pada Mario.
Mario melihat sekitar.
"Duh gue juga bingung. Mau masuk ke kelas juga, kelas yang mana?. Kan kita bukan siswa SMP lagi. Mau keluar juga pagarnya di kunci, ada security nya pula."
"Terus kita gimana dong?" tanya Cavin lagi.
"Kalian nggak masuk?"
Tiba-tiba dua orang siswa datang menghampiri mereka. Entah siapa kedua orang tersebut, namun yang jelas Mario melihat nama yang tertera di dada kiri mereka. Adril Herdian Fauzi dan juga Heru Aksa Firmansyah.
"I, iya." ujar Mario sok akrab, namun dengan nada bicara yang sedikit terbata-bata.
"Ya udah ayo, bentar lagi guru dateng loh."
Adril dan Heru melangkah menuju kelas, Mario dan kedua temannya pun bertatapan. Mario memberi kode kepada mereka untuk ikuti saja langkah Adril.
"Emang di jaman ini kita juga sekolah ya?" tanya Cavin.
__ADS_1
"Di jaman ini kita belum lahir, bego." gerutu Brian.
"Kita kan lahir awal 2005." ujar Cavin lagi.
"Ya tapi nggak tau ini 2000 berapa. 2001 apa 2002 atau 2000 kurang gopek?"
"Udah ikutin aja permainan waktu ini, sampe kita menemukan cara gimana kita bisa balik." ujar Mario kemudian.
Ketiganya lalu sepakat menyusul Adril dan juga Heru. Mereka masuk pada sebuah kelas, di depannya tertulis 1.C.
Setelah sebelumnya Mario sempat melihat kakaknya Michael, masuk ke kelas yang ada disebelah. Dan jika tahun ini Michael masih kelas 1 SMP, itu artinya mereka berada di tahun 2001. Karena Michael sendiri lulus SMP pada tahun 2003.
Mario dan kedua temannya masuk kedalam kelas sambil celingukan, mereka bingung mau duduk dimana. Ketika Adril dan Heru sudah duduk, hanya ada tiga bangku yang masih kosong.
Mereka bertiga pun akhirnya duduk di sembarang tempat, diantara ketiga bangku kosong tersebut. Tak lama kemudian, seorang guru terlihat masuk ke dalam kelas.
"Sikap beri salam."
Salah seorang siswa mengatakan hal tersebut, diikuti siswa lain yang tiba-tiba berdiri. Mario, Brian, dan Cavin terkejut. Mereka belum pernah melihat hal seperti itu sebelumnya. Mau tidak mau mereka pun akhirnya ikut berdiri sambil celingukan.
"Selamat pagi, bu." ujar hampir semua siswa kecuali Mario, Brian, dan Cavin. Hanya mereka yang terdiam.
"Selamat pagi."
Sang guru menyapa dengan ramah, tak lama kemudian mereka semua kembali duduk. Melihat seisi kelas yang kembali duduk, Mario dan kedua temannya itu pun akhirnya ikut duduk juga. Meski masih sedikit celingukan.
"Baik, kita akan mengulang pelajaran minggu lalu. Sebelum kita lanjut ke bab berikutnya."
Guru tersebut terlihat membuka sebuah buku, para siswa juga demikian. Mario dan kedua temannya saling tatap, mereka sendiri bingung mau membuka buku apa. Sedang mereka sendiri tidak membawa apa-apa.
Mario kemudian melihat salah seorang siswa di sampingnya, yang merogoh bawah meja dan mengeluarkan sebuah buku. Ia kemudian menunduk dan mendapati adanya laci di meja tersebut. Ia lalu merogoh laci tersebut dan mendapatkan sebuah buku pelajaran sejarah.
Melihat Mario melakukan hal itu, Brian dan Cavin kemudian mengikutinya. Mereka mendapatkan buku yang sama, dan untuk kesekian kalinya mereka saling menatap.
"Ajaib ya, nih jaman." celetuk Mario.
"Mario ini tahun berapa?" tanya Brian. Cavin yang mendengar ikut melihat ke arah Mario, guna menanti jawaban.
"2001." jawab Mario
Cavin dan Brian tampak terkejut dan syok berat.
"Meghantropus Paleojavanicus pertama kali ditemukan oleh siapa dan dimana?"
Tiba-tiba sang guru kembali berbicara. Kali ini ia melontarkan sebuah pertanyaan, yang membuat hampir seisi kelas mengangkat tangan. Kecuali Mario, Brian, dan juga Cavin. Karena sesuai dengan kebiasaan di masa depan, ia dan kedua sahabatnya itu tak pernah mau menjawab pertanyaan apapun. Mereka banyak tidak tahu serta malas belajar.
"Siapa yang mau menjawab?" tanya guru itu lagi.
"Saya bu, saya bu, saya."
Hampir seisi kelas berebut untuk menjawab. Berbeda dengan di jamannya, hanya satu-dua orang siswa caper saja yang suka menjawab. Sisanya hanya diam, ada yang berpura-pura pulpennya jatuh. Ada yang sok berfikir keras, bahkan sampai pura-pura kesurupan Lucinta si ratu halu.
"Mario."
Tiba-tiba guru tersebut menyebutkan nama Mario, sontak seisi kelas kini menatapnya.
"Anying, gue gimana nih?" gerutu Mario dalam hati, sambil tangannya terus membolak-balik halaman buku tersebut.
Ia sendiri tak pernah membaca buku, di era nya bahkan buku hanya sebagai pajangan atau dijadikan bungkus gorengan. Ia sudah terbantu banyak oleh Google yang tinggal sekali klik, tapi di jaman ini semuanya berbeda.
"Mario.?"
Keringat dingin mulai membanjiri, Mario terus membolak-balik halaman. Sampai kemudian ia menemukan jawaban.
"Ditemukan pertama kali oleh Von Koenigswald di daerah Sangiran, Provinsi Jawa Tengah pada tahun 1936." jawab Mario.
Sang guru pun lalu tersenyum.
"Bagus, Mario. Kita lanjut ke bab berikutnya."
"Huuuh."
__ADS_1
Mario menarik nafas lega sekaligus lemah, baru kali ini ia berjuang keras dalam menjawab pertanyaan yang diberikan gurunya. Brian dan Cavin pun tak kalah bernafas dengan leganya. Mereka tidak tahu apa yang terjadi, andai saja Mario tak dapat menjawab pertanyaan guru tersebut.
Hukuman apa yang akan diterimanya di jaman ini. Karena menurut cerita dari kakak-kakak Mario, era 90 sampai awal 2000 an adalah era paling keras bagi anak sekolah. Dimana guru-guru masih sangat disiplin dan sedikit galak pada siswa.