
"Rumahnya kalian tuh disini?" tanya Bulan ketika ia telah mendarat di hadapan rumah Mario.
"Iya, Bulan mau mampir dulu?" tanya Mario.
"Mmm, boleh deh."
Mereka pun turun, pada saat yang bersamaan Michael terlihat turun dari mobil bersama kedua orang tuanya.
"Loh koq Mike udah pulang, ma?"
Mario bertanya pada ibunya, sebab Michael yang sakit tiba-tiba telah berada di rumah saat ini.
"Mike tuh nggak betah di rumah sakit." tukas ibunya pada Mario.
"Kenapa di turutin ma, pa. Dia masih sakit." ujar Mario lagi.
"Tau kan Mike kayak gimana orangnya?"
Sang ayah nyeletuk sambil tersenyum. Michael sendiri hanya diam lalu berjalan ke arah pintu masuk. Sementara Mario kini dilanda kekhawatiran. Cavin dan Brian kompak menepuk bahunya untuk menenangkan.
"Itu Michael kan?" tanya Bulan pada Mario, Cavin dan Brian.
"Dia abis sakit?" lanjutnya kemudian.
Mario mengangguk.
"Sakit apa?" tanya Bulan lagi.
"Sakit biasa aja, tapi dia harusnya belum boleh pulang." Cavin menengahi.
"Oh gitu."
Bulan masih melihat ke arah Michael yang kini masuk ke dalam rumah.
"Dia itu ganteng banget, tapi sayang kayak es batu." tukas gadis itu kemudian.
Mario, Brian, dan Cavin saling bersitatap. Sebab memang begitulah adanya Michael. Bagaimana pun ia membela Mario, serta bagaimanapun dekatnya mereka saat ini. Michael tetap setia dengan sikap dinginnya itu. Dan Mario sudah tidak masalah. Yang terpenting baginya, ia tau jika Michael tak sejahat yang ia kira di masa depan.
"Yuk, mau ke rumah gue, Cav, atau Brian?" tanya Mario pada Bulan.
"Rumahnya yang mana aja?"
Bulan balik bertanya. Pada saat yang bersamaan Ratna keluar untuk mengambil jemuran. Dan tanpa sengaja ia melihat Bulan yang berdiri di depan rumah Mario persis.
"Ini rumah gue, ini rumah Cav, dan yang itu rumah Brian."
"Mmm, Bulan ke rumah Mario dulu aja deh." ujar Bulan.
Cavin dan Brian saling tatap dan tersenyum satu sama lain. Mereka agaknya menangkap jika Bulan lebih menyukai Mario.
"Ya udah. Tapi kalau Bulan mau mampir ke rumah Cav, minta antar aja sama Mario." ujar Cavin kemudian.
"Di rumah Cav banyak game." lanjutnya lagi.
"Oh ya?"
"Iya." jawab Cavin.
"Dan di rumah gue, ada banyak makanan." Brian berujar sambil tertawa.
__ADS_1
"Ya udah deh, nanti Bulan kesana kalau nggak keburu di suruh mama pulang."
"Ok, kita balik ya." ujar Cavin.
"Ok."
Cavin menuju ke rumahnya, begitu pula dengan Brian. Sedang kini Bulan masuk ke rumah Mario.
"Degh."
Batin Ratna bergemuruh. Entah mengapa gadis itu merasa begitu tak enak hati, demi menyaksikan hal tersebut. Namun kemudian. ia juga turut masuk ke dalam rumah.
***
Adril kepikiran ucapan Martin, yang tadi sempat ia dengar akan mengikuti ajang kompetisi yang di adakan sekolah.
Selama ini Martin adalah saingan beratnya dan ia sempat kesal serta dendam, ketika Martin diikut sertakan dalam olimpiade tahun pertama. Padahal ia merasa jika dirinya lebih pintar dari ketua geng F4 tersebut.
"Lo mau ikut, nggak malu sama Mario?"
Heru bertanya ketika Adril akhirnya curhat, pada teman sekaligus tetangganya tersebut. Hal ini bertepatan setelah beberapa saat Bulan berada di rumah Mario.
"Lo kan udah musuhin dia dan sekarang dia buka jalan buat semua orang."
Adril diam, sejatinya ia gengsi sekali untuk mengikuti ajang tersebut. Namun ini adalah satu-satunya cara untuk membuktikan diri pada semua. Terutama pada pihak sekolah dan juga orang tuanya sendiri.
"Kalau Martin aja nggak malu, kenapa gue harus malu?. Martin beberapa kali berantem sama Mario, bahkan pernah babak belur oleh orang yang membela Mario. Pas kita study tour."
Heru menatap Adril dan mendengarkan.
"Dia aja nggak malu dan nggak gengsi, walau yang babat alas si Mario." ujar Adril lagi.
"Iya sih, tapi kalau Mario jadi besar kepala gimana?. Misalkan kalau lo berhasil nih, terus dia merasa itu adalah berkat jasanya dia gimana?"
Adril diam.
"Gue sih nggak masalah ya, kan gue nggak ada masalah sama Mario. Yang bermasalah kan elo." tukas Heru lagi.
Adril makin terdiam, sementara Heru terus menatapnya.
***
"Bulan mau tambah lagi nggak?" tanya Mario pada Bulan.
Mereka saat ini tengah makan mie instan dan juga minum es jeruk. Mario yang membuatnya.
"Udah cukup, ini aja Bulan udah kenyang banget." jawab Bulan.
"Maaf ya, cuma ada mie instan doang. Soalnya dirumah ini nggak ada ibu, jadi ya seadanya aja." ujar Mario lagi.
"Emang ibunya Mario kemana?" tanya Bulan penasaran.
Mario diam, lalu menggelengkan kepala.
"Nggak tau." jawabnya kemudian.
"Nggak tau maksudnya?" Bulan tak mengerti.
"Ya nggak tau ada dimana."
__ADS_1
"Pergi gitu dari rumah?"
Mario mengangguk.
"Maaf, pisah?" tanya Bulan ragu-ragu.
Lagi-lagi Mario mengangguk.
"Kata daddy sih begitu, tapi nggak tau deh. Nggak jelas juga soalnya."
"Emang lo nggak inget apa-apa?" tanya Bulan lagi.
Dan lagi-lagi Mario menggeleng.
"Kayaknya gue masih terlalu kecil deh saat itu." ujarnya.
"Oh." Bulan mengerti.
"Sorry ya, Mario. Kan Bulan nggak tau."
"Iya, nggak apa-apa koq." jawab Mario lalu tersenyum.
Mereka kemudian melanjutkan makan.
"Oh iya, Mario kan juara umum. Mau nggak ngajarin Bulan beberapa pelajaran yang Bulan tuh sulit buat ngerti."
"Ngajarin?" Mario bertanya sambil tertawa.
"Yakin mau diajarin sama gue?" ujarnya lagi.
"Kenapa emangnya?" Bulan balik bertanya.
"Gue aja ragu, sama kemampuan gue sendiri." tukas Mario.
"Koq bisa gitu?"
Bulan heran.
"Ya gue insecure."
"Insecure?" Bulan mengerutkan kening.
Seketika Mario teringat bahwa saat ini ia tengah berada di tahun berapa, dan bukan sedang berada di daerah Jaksel. Bersama para anak gaul yang mencampur adukan bahasa dengan English.
"Mmm, maksud gue. Gue nggak percaya diri sama kemampuan yang gue miliki. Gimana gue bisa ngajarin orang."
"Ah masa sih, orang pinter kayak kamu insecure. Impossible aja kayaknya. Secara you are smart person gitu loh."
Bulan membuat Mario tercengang. Bagaimana mungkin budaya anak Jaksel sampai terbawa ke jaman ini. Apakah Bulan salah satu pencetus budaya tersebut. Kemudian ia hijrah ke Jaksel dan menulari anak-anak yang ada di sana.
"Mario?"
Bulan memanggil Mario. Seketika remaja tampan itu tersadar dari lamunannya. Which is lamunan tersebut membuatnya seperti mengalami sebuah deja vu.
"Mmm, ya. Ya itulah kekurangan gue yang orang banyak nggak tau." ujar Mario.
"Ok, Bulan paham koq. Tapi boleh ya kalau Bulan mau belajar disini. Kita ubah aja konsepnya, jangan diajarin. Tapi kita belajar bareng, gimana?" Bulan memberi ide.
"Mmm, boleh juga." jawab Mario.
__ADS_1
Lalu keduanya pun sama-sama tersenyum.