
"Bri, lo harus konsentrasi."
Heru berbicara pada Brian, ketika pukulan Brian mulai kacau dan membuat bola terlempar jauh. Melenceng dari area sekitar permainan.
Brian sudah banyak kemajuan dalam beberapa hari ini. Ia sudah mampu memberikan pukulan bagus terhadap bola yang dilempar kepadanya.
Tapi kali ini fokusnya buyar, karena baru saja melihat orang tua kandungnya yang melintas.
"Bri, lo denger gue?" tanya Heru kemudian.
Brian pun mengangguk pasti, ia tak ingin hal semacam ini kembali mengganggunya. Ia harus bisa memisahkan antara urusan pribadi dan urusan yang menyangkut sekolah.
Harga diri sekolah dipertaruhkan dalam pertandingan ini nanti. Maka Brian pun menepis segala perasaan tak enak yang tengah menyelimuti hatinya.
"Ready?" tanya Heru sekali lagi. Brian kembali mengangguk, namun kini matanya fokus menatap ke arah pelempar bola.
"Buuuk."
Brian berhasil memberikan pukulan yang bagus, tak lama ia pun berlari. Diantara suara teman-temannya yang kompak menyemangatinya. Mereka pun akhirnya bersorak-sorai, ketika Brian mencapai garis akhir dan tak terkena lemparan bola.
***
"Braaak."
Cavin berhasil menjatuhkan pelatihnya sendiri, setelah bersusah payah untuk memberikan perlawanan. Ia pun lalu mengulurkan tangan dan membangunkan gurunya tersebut.
"Saya rasa hari ini cukup, Cav." ujar pelatihnya kemudian, Cavin lalu menyudahi latihannya. Setelah mengobrol beberapa saat sambil meminum air mineral, pelatihnya pun pamit.
Cavin baru saja hendak berganti baju, ketika Davin masuk ke ruangan latihan dengan mengenakan baju karate lengkap. Seketika Cavin sedikit terdiam.
"Dave?"
Davin mendekat, dan tanpa aba-aba ia pun mulai melancarkan serangan terhadap adiknya itu.
“Hiaaaa, hap, hooop, haaaa, hiaaa."
Sebuah pertunjukan seru pun terjadi disana. Cavin tak menyangka jika kakaknya juga jago karate.
"Kenapa nggak bilang sama mami-papi kalau jago karate."
Cavin bertanya pada Davin disela-sela pertandingan mereka.
"Nggak mau, mami nggak bakal mau bayar kalau aku ngaku. Yang ada disuruh ngajarin kamu, gratis lagi."
Davin berujar sambil tertawa.
"Pelit lo." Seloroh Cavin seraya ikut tertawa. Ia terus saja menghindari serangan kakaknya itu.
"Hooop, hiaaa, haaa, hiaaaa."
"Buuuk."
Davin berhasil menumbangkan adiknya. Cavin terkapar dengan kondisi penuh keringat dan tubuh yang sangat lesu. Karena sebelumnya tadi, ia sudah menghabiskan banyak energi ketika berlatih bersama pelatihnya.
"Dave."
Cavin berbicara pada Davin, dengan nafas yang masih tersengal-sengal.
__ADS_1
"Apa?" tanya Davin yang masih berada tepat disisinya.
"Bakso kayaknya, enak deh."
"Yang di ujung blok D, Cluster sebelah?"
Cavin tersenyum, Davin mengulurkan tangannya. Cavin meraih uluran tangan tersebut, lalu beranjak.
***
"Kenapa gue nggak diajak?"
Tiba-tiba Galih muncul di kediaman Mario. Membuat semua orang yang ada disitu mendadak bungkam.
Pada saat yang bersamaan Brian dan teamnya baru saja bubar latihan, mereka melihat kejadian itu. Begitupula halnya dengan Cavin, yang bersiap pergi makan bakso bersama kakaknya Davin.
"Galih, gue..."
Mario tampak gelagapan. Karena tidak seperti Martin dan Christopher yang sering mengintimidasi Cavin serta Brian, Galih sendiri tak memiliki masalah apapun pada Mario.
Kecuali rasa cemburunya saja soal Ratna. Dan itupun harusnya jangan dijadikan sebuah alasan untuk tidak bekerjasama. Mengingat pertandingan nanti adalah kepentingan untuk memajukan nama sekolah.
"Sorry, Gal. Gue nggak ngajak lo, karena lo lawan yang terlalu hebat buat gue."
"Bukan soal lain?"
Kali ini Galih melirik ke arah Ratna, membuat Ratna seketika menundukkan pandangannya.
"Gu, gue nggak ada masalah sama lo." ujar Mario lagi.
Mario menatap Ratna, lalu menatap teman-temannya yang lain. Namun mereka semua hanya diam.
"O, ok." jawabnya kemudian.
Galih pun masuk ke dalam rumah Mario. Sementara Brian tetap mengantar teman-teman satu teamnya hingga ke pintu pagar.
"Kayaknya nggak ada masalah yang serius, Cav." ujar Davin pada adiknya, yang semula tampak khawatir pada Mario.
"Iya, yuk ah cabut." ujar Cavin kemudian.
Mereka pun lalu berangkat, guna menyelesaikan tujuan mereka.
***
Beberapa hari setelah itu.
"Lo gimana sih, udah mepet waktunya gini baru ngabarin kalau bogu gue rusak, Hakama gue robek. Dimana coba gue bisa dapetin itu barang kalau dadakan kayak gini."
Mario mengoceh pada salah seorang rekan sekolahnya, yang juga sesama anggota klub kendo. Temannya itu baru saja mengatakan jika bogu atau penutup wajah dan kepala milik Mario, telah mengalami kerusakan dan juga bajunya robek. Ia tak tau siapa pelakunya, karena anak itu sendiri sudah menyimpan semua seragam dan perlengkapan anggota club tepat pada tempatnya masing-masing.
"Gue takut lo marah, Mario."
"Mending gue marah jauh-jauh hari ketimbang hari ini. Seenggaknya abis marah, gue masih bisa nyari barangnya atau bisa gue pesen. Kalo hari ini gimana coba?. Besok udah pertandingan."
"Gue mana tau pertandingannya dipercepat. Bahkan mendahului olahraga cabang lain. Gue pikir kita masih ada beberapa hari ke depan."
"Ya udalah, gue coba cari dulu deh."
__ADS_1
Mario masuk ke sebuah toko yang menjual perlengkapan olahraga lengkap. Usai memutus sambungan telpon, ia pun mulai melihat-lihat di sekitaran toko tersebut.
"Duh, gimana coba ini gue. Iya kalau disini ada, kalau kagak ada?. Mesti nyari kemana gue?. Mana di jaman ini belum ada Tokopedia sama Shopee lagi."
"Ada, mas."
Sesosok lelaki penjaga toko tiba-tiba nyeletuk, membuat Mario sedikit terperanjat.
"Apanya yang ada, pak?" tanya Mario kemudian.
"Tokopedia sama Shopee nya."
"Hah?"
Mario terperangah sambil mengucek-ngucek daun telinganya. Ia khawatir jika ia telah salah dengar.
"Tokopedia?. Shopee?"
"Iya, tuh."
Si penjaga toko menunjuk ke luar, Mario menoleh. Dari kaca toko tersebut Mario dapat melihat dua buah toko yang saling berdampingan.
"Toko Fedya"
"Shopie"
Mario pun menepuk dahinya, ketika menyadari apa yang dimaksud oleh si penjaga toko adalah dua nama toko tersebut.
"Itu punya cici Fedya, jualan alat-alat listrik. Sebelahnya lagi, punya saudaranya cici Shopie. Jualan elektronik."
Mario berusaha keras menahan tawa. Pasalnya yang ia inginkan saat ini adalah platform jual beli online, seperti yang marak di jaman ketika ia tumbuh besar. Karena platform tersebut sangat memudahkan dalam hal mencari kebutuhan mendesak. Seperti perlengkapan kendo sekarang ini.
"Saya lagi nggak nyari alat listrik ataupun elektronik pak." ujar Mario kemudian.
"Lah tadi katanya nyariin toko Fedya sama Shopie."
"Hehe, nggak jadi pak." jawab Mario sambil nyengir.
"Lah, terus nyari nya apa?"
"Perlengkapan kendo, pak. Kendogu."
Si penjaga toko itupun mengerutkan kening.
"Apa itu kendogu?. Sejenis dawet tah?"
"Bu, bukan pak. Itu cendolgu, cendol gula. Hehehe."
"Oh."
"Iya, sementara yang saya cari adalah perlengkapan kendo."
"Apa itu kendo?"
Mario menghela nafas, ia mengerti jika si penjaga toko itu tak mengenal apa itu kendo. Di masa depan saja, beladiri kendo di negri ini tak sepopuler olahraga beladiri lainnya. Meskipun di negri asalnya sendiri dan di beberapa negara lain, beladiri ini banyak dikenal dan diminati.
Daripada lelah menjelaskan, Mario memilih pamitan saja kepada si penjaga toko. Hatinya kini begitu kesal. Bukan kepada penjaga toko tadi, melainkan pada orang lain.
__ADS_1