
"Davin, ini ruangan kamu."
Seorang kepala divisi menempatkan Davin pada sebuah ruangan yang cukup besar. Ruangan itu sangat nyaman. Dilengkapi sofa untuk menerima tamu atau klien, serta viewnya menghadap ke arah gedung bertingkat yang ada disekitar.
Meski ia adalah anak dari pemilik perusahaan, namun ayahnya tak langsung menempatkan Davin pada posisi dan jabatan yang terlalu tinggi. Ia saja masih dibawahi oleh seorang kepala di sebuah divisi. Ayahnya ingin agar Davin belajar dan bertumbuh bersama yang lainnya.
Agar ia tahu bahwa untuk mencapai posisi yang tinggi, dibutuhkan kerja keras dan sikap tahan banting. Lagipula tak adil jika ayahnya langsung memberikan Davin posisi yang tinggi. Sementara karyawan lain banyak yang berjuang dari bawah, dan dalam waktu bertahun-tahun belum tentu naik jabatan.
"Agiska."
Kepala divisi tersebut memanggil nama seseorang. Lalu seseorang itu pun muncul dari balik pintu. Sesosok wanita cantik berpakaian rapi kini berdiri dihadapan Davin, ditangannya tergenggam beberapa file.
"Ini sekretaris kamu, namanya Agiska." Kepala divisi tersebut menjelaskan.
"Selamat pagi, pak."
Agiska mengulurkan tangan seraya melempar senyuman. Davin balas menjabat tangan wanita itu seraya tersenyum pula.
"Pagi." jawabnya kemudian.
"Agiska, mulai sekarang kamu bekerja untuk pak Davin." ujar sang kepala divisi tersebut.
"Baik, pak." jawab Agiska pasti.
"Davin, selamat datang di divisi ini dan semoga kalian berdua dapat bekerja dengan baik."
Kepala divisi tersebut lalu bersalaman dengan Davin dan tak lama kemudian, ia meninggalkan ruangan itu.
"Pak, ini yang harus bapak kerjakan." Agiska menyerahkan setumpuk file pada Davin.
"Baik, terima kasih."
"Kalau begitu, saya kedepan ya pak."
"Baik, silahkan."
Tak lama kemudian, mereka pun kembali ke posisi masing-masing dan mulai bekerja.
***
Sementara disuatu jalan, tampak seorang gadis sederhana nan cantik tengah tergopoh-gopoh. Ia menyebrang jalan yang padat sambil berlarian. Hampir saja ia tertabrak mobil, karena terlalu terburu-buru.
"Iya tunggu sebentar, bu. Saya masih dijalan." ujarnya di telpon. Entah dengan siapa ia tengah bicara.
"Tolong agak dipercepat, ya."
Suara diseberang mendesaknya. Sementara ia berjuang untuk sampai ke pinggir jalan.
"Iya bu, sebentar lagi saya sampai." lanjutnya kemudian.
Gadis itu terus berlarian, hingga menuju ke sebuah gedung perkantoran. Sesampainya disana, ia langsung bertanya pada receptionist. Mengenai dimana seseorang yang mesti ia temui.
Receptionist menyuruhnya ke sebuah ruangan. Disana ada beberapa juga yang tengah menunggu. Mereka diwawancarai satu-persatu, lalu menerima arahan dari kepala divisi mereka.
"Kalian siap, kerja mulai hari ini?"
"Siap, bu."
"Kalian tau apa tugas kalian?"
__ADS_1
"Tau, bu."
"Baik, saya harap kalian jangan malas-malasan. Jangan melempar pekerjaan pada teman kalian sendiri. Bertanggung jawablah di wilayah masing-masing."
"Baik, bu."
"Anindya."
"Iya, bu."
Gadis yang semula terlambat itu menatap atasannya.
"Ini seragam kamu."
"Baik, bu."
Gadis bernama Anindya itu pun mengambil seragamnya.
"Mulai hari ini, bekerjalah dengan baik."'
"Siap, bu."
***
Sejak menyantap mie Sakura kemarin, Baik Mario, Brian dan Cavin selalu punya alasan untuk pergi ke kantin. Biasanya, mereka selalu nongkrong di basecamp atau kantin belakang sekolah.
Namun kali ini, mereka lebih suka nongkrong di kantin yang ada didalam sekolah saja. Alasannya tentu saja, karena di basecamp belakang tidak ada yang menjual mie instan tersebut. Mie Sakura pun menjadi makanan wajib mereka mulai hari ini.
"Bri, itung yang bener tuh gorengan lo."
ujar Mario seraya menyantap mie yang ada ditangannya.
"Tau nih, dosa tau Bri." ujar Cavin.
"Ngomongin dosa mulu, lo. Kayak tau aja bentuknya dosa kayak apa."
Brian menggerutu seraya masih memakan gorengan.
"Ye, dibilangin. Ntar kena azab ketimpa gorengan loh." ujar Mario.
Brian nyengir.
"Tapi ini tuh, enak banget loh gorengannya." ujar Cavin.
"Niat banget bikinnya." timpal Brian.
"Minggir...!"
Sebuah perintah terdengar disuatu sudut. Mario, Brian, dan Cavin menoleh. Tampak Martin tengah mengusir beberapa orang siswa, baru yang tengah duduk sambil makan.
"Woi, denger nggak omongan senior?" Martin makin menjadi-jadi.
Awalnya Mario dan yang lainnya tak ingin ambil pusing. Toh Martin tidak sedang mengganggu mereka. Namun tak lama kemudian,
"Braaak."
Martin melempar makanan salah satu anak itu hingga berserakan di lantai. Para pengunjung kantin pun terkejut.
"Ini tempat gue dan temen-temen gue." teriak Martin.
__ADS_1
Siswa baru itu tampak ketakutan. Dengan penuh kemarahan, Mario menghentikan makan. Ia menenggak hampir habis air mineralnya, kemudian menghampiri Martin. Brian dan Cavin berjalan dibelakangnya.
"Lo nggak bisa pindah ditempat lain?" tanya Mario dengan tatapan tajam.
Siswa baru itu baru saja hendak pergi, ketika akhirnya Mario mencegat Martin.
"Ini bangku gue, lo nggak usah ikut campur."
Martin menatap Mario penuh dendam. Betapa tidak, Mario adalah orang yang telah merampas posisinya sebagai juara umum. Kebenciannya belum usai, dan kini Mario kembali menjadi penghalang baginya.
"Sejak kapan, bangku ini punya nama?" tanya Mario lagi.
"Lo nggak usah ngatur-ngatur gue. Suka-suka gue?"
"Lo pikir lo siapa, hah?"
Kali ini Mario mendorong bahu Martin, membuat emosi Martin makin meningkat.
"Gue heran ya, sama perempuan-perempuan disekolah ini."
Mario melempar tatapan pada banyaknya siswi yang kini berada di kantin.
"Koq bisa orang kayak gini kalian puja-puja, sampe kayak kesurupan cacing tanah. Udalah kasar sama orang, sok hebat, padahal nggak ganteng-ganteng amat. Plus lo nggak pinter-pinter banget, biasa aja."
"Kurang ajar lo, ya."
Martin melayangkan sebuah tinju ke wajah Mario, namun dengan cepat Mario meninjunya lebih dulu.
"Buuuk."
Martin jatuh terjerembab, para pengunjung kantin terkejut sekaligus syok.
Martin yang terbakar emosi pun bangun, ia bersiap membalas Mario. Namun kemudian pandangan matanya tertuju pada suatu arah.
Ia dan teman-temannya lalu berlalu begitu saja. Mario tak mengerti, sampai kemudian ia menoleh. Ketempat dimana Michael berdiri dengan tatapan datarnya. Ternyata Martin takut pada Michael, mungkin pasca dipukuli Michael hingga babak belur waktu itu.
Suasana kantin pun kembali kondusif, namun kini Martin melampiaskan kekesalannya di tempat lain. Tepatnya di sebuah gudang penyimpanan bangku-bangku serta meja yang telah rusak.
"Brengsek, brengsek. Arrgghh."
"Braaak."
Martin melempar bangku demi bangku tersebut. Ada yang dilempar kedinding maupun ke lantai.
"Brengsek banget, itu bocah." ujarnya kemudian. Teman-teman satu gengnya hanya bisa saling pandang.
"Apa lo semua liat-liatan?. Bukannya mikir gimana caranya itu anak bisa keluar dari sekolah ini." gerutunya kemudian.
***
"Mike, ntar siang ikut gue sama Cavin, sama Brian yuk?"
Mario berujar ketika mereka sudah berada di dalam kelas. Michael menjauhkan wajahnya dari Mario.
"Mulut gue bau mie ya?" tanya Mario kemudian. Tak lama ia pun kembali mendekat ke arah kakak keduanya itu.
"Haaah."
Mario meniupkan aroma nafasnya pada Michael, hingga Michael pun terpaksa menutupi wajahnya dengan buku. Sesekali ia mengibaskan buku tersebut.
__ADS_1
"Pokoknya, lo ikut ya ntar siang. Gue nggak mau tau." ujar Mario memaksa.