
Esok hari di sekolah, Mario tengah bermain baseball bersama teman-temanya. Lawan mereka adalah team Martin, yang diketahui selama ini memiliki begitu banyak prestasi di bidang olahraga.
Entah karena mereka memang jago, atau hanya karena diberi kesempatan saja dan yang lain tidak. Hingga mereka terlihat lebih menonjol dari yang lainnya.
"Mario, Mario, Mario."
Kini giliran Mario memukul bola. Mario yang saat ini sudah memiliki cukup banyak fans tersebut mendapat dukungan.
Bulan pun sangat antusias di pinggir lapangan. Sementara Brian, Cavin, dan rekan satu team Mario lain tampak fokus.
"Buuuk."
Bola tersebut dipukul dan melayang tinggi serta jauh. Mario berlari diantara suara-suara yang mendukungnya.
"Come on, Mario." teriak Bulan penuh antusias.
Hingga ketika Mario berhasil melewati semua titik, dan ketika bola yang dilemparkan ke arahnya tidak kena. Maka semua pendukungnya pun bersorak-sorai kegirangan.
"Yeah, Mario."
Bulan merasa puas melihat semua itu, namun kemudian gadis itu menangkap mata Ratna yang melihat ke arahnya.
Ratna lalu membuang pandangan dan melengos begitu saja ke sebuah arah. Bulan yang merasa terusik itu pun segera menarik diri dari pinggir lapangan dan pergi mengikuti Ratna.
Ratna sendiri mulai menyusuri jalan demi jalan di koridor sekolah. Sampai kemudian ketika tiba di suatu titik yang sepi, ia mendapati Bulan yang sudah berdiri dihadapannya. Ratna menatap Bulan dan begitupun sebaliknya.
"Gue tau lo pernah dekat sama Mario."
Bulan berujar pada Ratna seraya mengambil langkah mendekat. Sementara Ratna hanya diam dan terpaku di tempatnya kini berada.
"Tapi gue nggak akan biarkan itu lagi sekarang. Karena Mario sudah dekat sama gue. Jadi lo jangan berusaha mendekatkan diri lagi ke dia, karena gue nggak suka."
Bulan menatap Ratna dalam-dalam, sebelum akhirnya berlalu meninggalkan gadis itu. Ia bahkan tak memberikan Ratna kesempatan untuk menjawab sepatah kata pun.
***
"Kalian ini selalu saja seperti ini. Apa kalian tidak memikirkan perasaan Adril?"
__ADS_1
Suara ibu dari ayahnya tersebut masih terngiang ditelinga Adril hingga pagi ini. Saat yang lain memilih menonton pertandingan antara team Mario dan juga team Martin di lapangan. Adril memilih menyendiri di taman belakang sekolah yang jarang di datangi oleh siswa.
Ia masih mengingat peristiwa semalam. Saat orang tua dari pihak ayahnya jauh-jauh datang dari Semarang, dan melihat kondisi anak beserta menantu mereka yang habis menenggak minuman keras.
"Kalau terus-terusan seperti ini, Andi. Lebih baik kamu bercerai dari Lila. Perempuan macam apa ini. Suaminya mabuk-mabukan malah di dukung dan ikut-ikutan. Kalian itu sudah bukan remaja lagi, lihat anak kalian Adril. Sudah umur berapa dia sekarang, dan harusnya kalian sadar. Punya malu sedikit terhadap anak."
Ibu dari Andi atau ayah Adril berkata panjang lebar. Sementara ayah dan ibu Adril hanya diam menunduk. Mereka mabuk, namun terpaksa harus mendengar ocehan.
"Kalau kayak gini terus, mending Adril tinggal dengan kami di Semarang." Sang ayah yang sejak tadi diam, kini mulai bersuara.
"Ja, jangan pa. Kami nggak bisa hidup tanpa Adril, kami sayang dengan dia."
Ibu dari Adril mengeluarkan sebuah statement yang membuat Adril terkejut. Adril sendiri saat itu tengah berada di dalam kamar dan mendengarkan omongan orang-orang itu.
Ia sempat seolah terbakar hatinya. Saat mendengar sang ibu berkata demikian. Padahal hari-hari biasanya baik sang ayah maupun ibunya sangat cuek. Bahkan selalu bersikap kasar pada Adril, apabila anak itu mencoba berinteraksi.
"Kalau kalian benar-benar sayang terhadap anak kalian, kenapa seperti ini?."
Ayah dari Andi kembali berbicara.
"Atau jangan-jangan kalian bukannya sayang sama orangnya, tapi sayang sama uang yang selalu papa kirim untuk dia. Iya kan?"
Mereka bilang jika mereka harus membanting tulang demi membiayai seluruh hidup Adril, yang sejatinya tak pernah mereka inginkan. Mereka ingin childfree namun Adril tak jua gugur meski telah berulang kali di aborsi.
Kini melalui bibir nenek dan kakeknya, Adril mengetahui perkara lain. Hati remaja itu benar-benar terasa sakit, bahkan sakitnya terasa hingga detik ini.
"Nih."
Seseorang yang tiada lain adalah Michael tiba-tiba datang dan menyodorkan secarik kertas. Kertas tersebut merupakan formulir pendaftaran, ajang kompetisi yang tengah diadakan di sekolah. Adril meraih kertas tersebut tanpa berkata apa-apa.
"Ini pendaftaran terakhir, paling lambat dikumpulkan tiga hari lagi. Kuota sudah terbatas dan ini adalah formulir yang terakhir juga."
Michael berujar seraya menatap Adril. Sementara yang ditatap sama seperti tadi. Bahkan kini ia menjatuhkan pandangan jauh ke depan.
"Keputusan ada di tangan lo. Mau ikut atau nggak, terserah. Jalan hidup lo, lo sutradaranya."
Michael kemudian beranjak dan meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
Sementara di sudut lain, Ratna diam menatap formulir pendaftaran yang ada di dalam genggaman tangannya. Beberapa menit yang lalu ia mengantri untuk mendapatkan hal tersebut.
Kini ia diam sambil mengingat wajah Bulan. Jika Bulan merasa dirinya cukup hebat saat ini. Maka Ratna pun bisa melakukan hal yang sama. Bahkan Ratna bisa lebih baik ketimbang gadis itu.
***
"Mario, makan malam bareng yuk!"
Tiba-tiba Deddy mengirim pesan singkat pada anak lintas jamannya itu, melalui sms. Tentu saja Mario kaget, sebab akhir-akhir ini Deddy memang sangat sibuk dan selalu pulang larut.
"Tumben inget Mario. Udah sadar kalau nggak punya waktu lebih lagi belakangan ini?"
Mario membalas dengan begitu ketusnya. Deddy tertawa, sekaligus sedih membaca hal tersebut. Kesalahan memang terletak di dirinya beberapa waktu belakangan ini. Banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan di kantor.
"Ia daddy minta maaf ya. Akhir-akhir ini jadi jarang berinteraksi sama kamu. Kan daddy cari uang buat Mario."
Mario menarik nafas panjang, tak ada gunanya mendebat laki-laki yang mencari nafkah untuknya di jaman ini.
Jika Deddy tidak bekerja, mungkin saat ini mereka akan hidup dalam kesulitan. Harusnya Mario berterima kasih dan bukan malah mencecar pria itu.
"Oke, dad. Mau ngajak Mario makan dimana?" tanya nya kemudian.
"Hmm, ada deh. Nanti kita pergi bareng aja dari rumah. Soalnya daddy pulang sore hari ini." balas Deddy lagi.
"Oke, Mario tunggu."
"Kamu masih di sekolah?"
"Masih."
"Ya udah, jangan nakal."
"Iya dad."
"Bye."
"Bye."
__ADS_1
Deddy menyudahi sms tersebut dan melanjutkan pekerjaan. Sementara Mario yang kini tengah berada di jam istirahat tersebut, kembali pada Cavin dan juga Brian yang sejak tadi menunggunya.