Terjebak Di Tahun 2001

Terjebak Di Tahun 2001
Still Together


__ADS_3

Esok harinya.


Mario menepati janji pada ibunya, bahwa mereka akan berjalan-jalan bersama. Pagi itu ia dijemput oleh ibunya sendiri, yang kebetulan tengah berjalan-jalan di depan hotel tempat dimana Mario menginap.


"Yang lain kemana, ma?" tanya Mario pada ibunya, ketika akhirnya ia mendekat.


"Masih pada molor." jawab ibunya seraya tersenyum.


"Oh ya?"


"Iya, apalagi Marcell. Jagonya kalau molor."


Mario tertawa, di masa depan Marcell pun masih seperti itu. Ia paling tidak bisa menolak kasur atau tempat yang nyaman sedikit, pasti langsung tertidur.


"Kalau mama sih sayang, liburan ke negri orang kalau cuma tiduran. Harus dimanfaatin sebaik mungkin."


"Iya sih." ujar Mario sepakat.


"Ayo...!"


Tiba-tiba ibunya menoleh pada Mario seraya mengulurkan tangan. Mario terdiam, matanya berkaca-kaca menahan tangis. Namun ia berusaha keras menahannya.


Sedari kecil ia selalu berharap, ibunya bisa sekali saja menemuinya. Entah itu didalam mimpi atau sebuah halusinasi. Ia ingin sekali bisa memegang tangan orang yang telah melahirkannya itu.


Kini dihadapannya, sang ibu mengulurkan tangan. Tersenyum dengan tulusnya pada Mario.


"Ayo...!" ujar ibunya sekali lagi.


Wajahnya masih diliputi senyuman. Dengan gemetar Mario pun menyerahkan tangannya, untuk kemudian digenggam oleh ibunya itu.


Mereka berdua berjalan-jalan, layaknya anak dan ibu pada umumnya. Seperti kata yang sering diucapkan Brian dan Cavin,


"Nikmati selagi bisa."


Maka Mario pun memutuskan untuk menikmati segala anugerah tersebut. Ia bisa bersama dengan ibunya begitu dekat. Meskipun ia tidak tahu apakah ini semua hanya halusinasi atau mimpi belaka. Ia tidak mau mempedulikan hal tersebut.


"Mario, kamu berdiri disini. Nanti mama fotokan."


Ibunya menyuruh Mario berdiri disuatu tempat, berlatar belakang sebuah bangunan tua khas eropa. Mario pun menurut saja, ia berdiri di tempat tersebut. Lalu ibunya mengambil gambar. Tak lama kemudian, ibunya gantian berdiri disitu dan Mario mengambil fotonya.


"Ma."


Tiba-tiba Marcell muncul.


"Cell fotoin mama sama Mario, dong." ujar ibunya. Marcell pun meraih kamera pocket yang ada di tangan ibunya. Ia lalu mengambil foto ibunya dan juga Mario.


"Coba situ, kamu sama Mario." Ibunya menyuruh Marcell mendekat ke arah Mario. Marcell hanya menurut saja, lalu foto mereka pun diambil.

__ADS_1


Tak lama ayahnya dan Michael pun tiba. Seperti biasa Michael hanya diam, bahkan wajahnya terlihat sangat mengantuk. Ibunya lalu meminta tolong pada seseorang untuk mengambil foto mereka sekeluarga berikut Mario.


"Cekrek." Foto tersebut pun berhasil diambil.


Mereka mengunjungi banyak tempat, hingga kemudian mereka beristirahat dan makan siang disebuah restauran. Perbincangan mereka pun berlanjut.


Lalu setelah itu, ibunya mengajak berjalan lagi mengitari tempat-tempat yang dirasa bagus untuk mengambil foto. Pada saat Mario tengah mengambil foto ayah dan ibunya, Marcell yang berada agak jauh terlihat menyikut Michael.


"Lo nggak curiga sama tuh anak?" tanya Marcell seraya melihat ke arah Marcell.


"Kenapa?. Lo nggak suka sama dia?" tanya Michael kemudian.


"Nggak sih, gue nggak ada masalah sama orangnya. Cuma gue itu curiga kalau dia..."


"Anaknya papa?" tanya Michael seakan tau isi kepala kakaknya itu.


"Koq lo tau?"


Michael menarik nafas dan memperhatikan Mario.


"Dia punya orang tua, Cell."


"Siapa tau aja tameng, ibunya nikah sama orang lain buat nutupin status."


Michael tertawa tipis, bahkan nyaris tak terlihat.


"Lo liat aja, Mike. Dia itu mirip banget sama papa. Mukanya, hidungnya, bibirnya, cara dia berjalan, senyum, ketawa."


Michael mengeluarkan pernyataan yang membuat Marcell terdiam. Ia baru menyadari jika mata Mario memang mirip sekali dengan ibunya.


"Nggak mungkin anak selingkuhan papa sama cewek lain, tapi mirip mama juga."


Marcell makin terdiam.


"Terus dia anak siapa?" tanya nya kemudian.


Lagi-lagi Michael tersenyum tipis.


"Ya anak bapak-emaknya lah."


"Mike, Marcell, sini...!"


Ibunya memanggil mereka berdua. Marcell dan Michael pun mendekat. Tak lama kemudian, mereka melanjutkan perjalanan.


***


Hari demi hari berlalu, tak sehari pun Mario melewatkan waktu tanpa bersama keluarganya. Kadang formasi lengkap bersama kedua kakaknya. Namun kadang, ia hanya bersama dengan ayah dan ibunya saja. Dikarenakan Marcell dan Michael yang pergi entah kemana.

__ADS_1


Lain waktu, ia diajak oleh Marcell dan Michael berjalan-jalan ketempat yang hits untuk anak muda di jaman itu. Saking sibuknya menghabiskan waktu bersama keluarga, Mario sampai lupa menelpon dan mengabari Deddy.


Hingga Deddy pun bingung dan bertanya-tanya, apa yang sesungguhnya terjadi pada Mario. Berkali-kali ia mencoba menghubungi anak itu. Namun disaat bersamaan, Mario tengah fokus pada keluarganya. Bercengkrama dan bercerita banyak hal dengan mereka.


"Kenapa, Ded?"


Rekan kerja sekaligus sahabat Deddy bertanya padanya sore itu. Mereka tampak tengah menikmati segelas kopi di sebuah kafe.


"Ini Mario, nggak ada hubungin gue. Gue khawatir dia kenapa-kenapa."


"Udah positif thinking aja dulu, mungkin anak lo lagi jalan-jalan disana. Atau bisa jadi dia ketiduran di kamar hotel."


"Iya sih."


Deddy menghela nafas lalu menghirup kopinya.


***


"Uhuk, hoek."


Mata Cavin memerah, ia baru saja muntah di pinggir sebuah jalan. Sementara Davin tampak berlarian ke arahnya. Ia baru saja membelikan adiknya itu air mineral, karena persediaan air mereka telah habis.


"Nih, minum dulu." ujar Davin.


Pemuda itu terlihat agak sedikit khawatir dengan keadaan adiknya.


"Masih kuat nggak?" tanya Davin kemudian. Cavin mengangguk.


"Bentar lagi kita sampe kota berikutnya, terus kita nyari penginapan."


Lagi-lagi Cavin mengangguk, ia pun berdiri dibantu oleh kakaknya. Tak lama kemudian ia kembali ke mobil, Davin mengemudikan mobilnya perlahan.


"Kamu nggak pernah jalan jauh selama ini?" tanya Davin.


Cavin menggeleng, di jamannya bahkan ia sangat jarang berpergian. Bukan tak memiliki waktu, tapi karena uang yang ia miliki sangat terbatas.


Selama ini jika ia bisa berpergian, itu karena ada Brian dan Mario yang rela membayar biaya perjalanannya. Itupun tak semuanya Cavin terima, karena ia sendiri tak ingin terkesan memanfaatkan kedua sahabatnya itu.


Itu bukan tipikal dirinya. Ia tak pernah aji mumpung, meskipun memiliki kedua teman yang ekonomi keluarganya lumayan.


"Mami sama papi nggak pernah ngajakin juga?" tanya Davin lagi, dan lagi-lagi Cavin menggeleng. Jangankan diajak, ia saja baru masuk ke masa ini. Ini bahkan kali pertamanya ia berpergian di jaman ini.


"Masih mual banget ya?" tanya Davin seraya terus fokus menyetir. Ia bertanya karena sedari tadi Cavin terlihat lemas dan malas berbicara.


"Cav."


Davin memanggil adiknya lalu menoleh, ternyata Cavin sudah tertidur. Davin pun menghentikan mobil, ia mengambil selimut yang ada di bagian tengah mobil. Lalu menyelimutkannya pada tubuh adiknya itu.

__ADS_1


Agak lama ia menatap Cavin, tak lama kemudian ia pun tersenyum lalu mengelus kepala adiknya itu dengan penuh haru.


Entah mengapa, tiba-tiba saja hatinya seperti terhubung pada sesuatu. Sebuah energi dan emosional yang terasa asing, namun dekat.


__ADS_2