
"Lu kenapa dah?" tanya Cavin pada Mario yang kini tengah menunduk terdiam seperti memikirkan sesuatu.
Ini sudah beberapa jam berlalu sejak sidang perkara mereka digelar disekolah dan masing-masing dari mereka mendapat hukuman.
Tak lama kemudian, Brian yang berhasil memasukkan bola basket ke ring, akhirnya duduk mendekat. Tadinya mereka bermain basket dia lapangan milik keluarga Cavin.
"Kenapa lo?" Brian juga bertanya.
"Gue kepikiran soal Mike." ujar Mario lalu membuang pandangan ke suatu arah.
"Lo nggak nyangka kan?. Kalau Mike sampe gebukin si Martin?"
Mario diam, ia membenarkan ucapan Brian.
"Biarin aja kali, biar Martin dan temen satu gengnya itu tau diri. Nggak usah sok hebat disekolah." ujar Cavin.
"Bener tuh. Gedeq banget gue sama mereka, sumpah. Mampus dah tuh babak belur dibikin Michael." timpal Brian.
"Mike kalau sama temen, bisa segitunya ya."
Nada suara Mario terdengar sangat menyayangkan apa yang telah dilakukan, oleh kakak keduanya Michael. Hal tersebut membuat Cavin dan Brian menoleh ke arahnya.
"Wait, koq lo kedengerannya kayak kecewa gitu sih. Dia udah ngebelain elo loh, bro." ujar Cavin sambil menatap Mario.
"Iya, karena saat ini gue adalah orang lain, bukan adeknya. Inget nggak yang gue ngadu, soal gue berantem sama anak kelas sebelah, pas masih di jaman kita. Dia nggak ada sama sekali belain gue, walau gue udah luka semua. Malah gue yang dimarahin, anjir. Padahal waktu itu mereka ngatain Mike, karena Mike pernah kerja di perusahaan yang bermasalah. Gue nggak suka mereka fitnah Mike dengan omongan macem-macem."
Brian dan Cavin saling pandang, mereka tak tau harus bicara apa pada Mario. Semua yang ia katakan mengenai kakak keduanya itu memanglah benar adanya.
Sikap Michael berbanding terbalik dengan yang selama ini mereka kenal. Sampai hari ini mereka masih tidak mengerti, mengapa Michael begitu dingin dan kasar terhadap Mario. Padahal Mario adalah adiknya sendiri.
Sementara untuk orang lain, ia bisa bersikap begitu baik. Di jaman ini, Mario berstatus sebagai orang lain bagi Michael. Meskipun telah berulangkali Mario menyinggung soal kehidupan mereka dimasa depan.
Namun itu tak membuat Michael cukup percaya. Ia hanya menganggap Mario sebagai seorang anak, yang memiliki khayalan tingkat tinggi.
"Mariooo."
Tiba-tiba Deddy berteriak dari halaman rumah. Membuat Mario, Brian, dan Cavin terkejut lalu menoleh.
"Kenapa dad?"
"Makan dulu, udah jam berapa ini?"
"Iyaaa."
"Gue balik yak." ujar Mario pada kedua temannya.
Cavin dan Brian pun tersenyum bahagia, mereka tau selama ini Mario tak pernah merasakan keadaan yang seperti ini. Dimana orang tua mencarinya hanya untuk menyuruhnya makan.
"Ya udah sono, Mike nggak usah lo pikirin banget. Kita nggak tau ini jaman beneran atau cuma mimpi. Ambil yang baik aja, nikmati selagi bisa.” ujar Cavin kemudian.
Mario tersenyum lalu bergegas untuk pulang. Tak lama kemudian, orang tua lintas jaman Brian pun menjemput anaknya.
"Emak gue juga noh." ujar Brian lalu tertawa.
"Gue juga paling bentar lagi." seloroh Cavin, selang beberapa detik kemudian....
"Caviiin." terdengar suara teriakan dari dalam.
"Tuh kan, apa gue bilang."
__ADS_1
"Hahaha nikmati selagi bisa, Cav. Gue cabut yak."
"Yoi."
Brian berlari ke arah orang tua lintas jamannya.
"Makan dulu Brian, baru main lagi nanti."
"Iya mi, ini Brian pulang sama mami."
Brian merangkul ibunya lalu berjalan menuju rumah. Setelah Brian cukup jauh, Cavin berencana masuk kedalam. Namun tak lama kemudian,
"Braaak."
"Aaaaw."
Terdengar suara jatuh diikuti teriakan, Cavin pun menoleh ke arah jalan.
"Ratna?"
Cavin berlari menghampiri Ratna yang baru saja terjatuh dari sepeda. Ia melihat gadis itu merintih sambil memegangi lututnya yang berdarah serta lebam. Siku tangan kirinya pun mengalami hal yang sama.
"Aduh Cav, sakiiit."
Tanpa banyak bertanya Cavin pun mengangkat tubuh gadis itu dan membawanya ke halaman rumah.
"Tunggu disini...!"
Cavin berlari ke dalam rumah, tak lama kemudian ia keluar dengan membawa kotak P3K. Ratna masih merintih kesakitan, sementara Cavin hanya fokus pada lukanya. Ia mulai membersihkan luka tersebut dengan antiseptik.
"Aaaw, sakit."
Sesekali Ratna menepis tangan remaja laki-laki itu, karena rasanya sangat sakit. Ketika antiseptik berbahan dasar alkohol tersebut menyentuh kulitnya yang terluka.
"Lagian nggak ati-ati sih."
"Aku nggak liat ada batu, Cav. Aaww."
"Iya udah, ini dikit lagi."
Cavin lalu memberi obat luka dan membungkusnya dengan kasa serta perban.
"Cavin, sayang. Makan dulu."
Kedua orang tua Cavin yang tampak rapi keluar dari dalam rumah menuju mobil, mereka terkejut melihat ada Ratna disitu.
"Loh, ada Ratna?. Kenapa itu?"
Ibu dan ayahnya lalu mendekat.
"Jatuh, mi." ujar Cavin memberitahu.
"Oalah, hati-hati kamu." ujar sang ibu lagi.
"Iya, tante." jawab Ratna.
"Mami sama papi mau kemana?" tanya Cavin pada kedua orang tua lintas jamannya itu.
"Mau ketemu kliennya papi. Sama sekalian jemput kakak kamu, Davin. Hari ini dia pulang dari Australia."
__ADS_1
"Kakak?"
Cavin tidak tau jika dijaman ini, hidupnya disetting memiliki kakak. Ia hanya tau dirinya anak tunggal.
"Jangan bilang lo amnesia kayak Mario. Yang kadang nggak inget dirinya siapa, temennya siapa, bapaknya siapa."
Kali ini Ratna nyeletuk, namun Cavin masih terdiam tak percaya.
"Hmm, ya udah. Hati-hati, mi, pi." ujar Cavin kemudian.
"Iya kamu makan dulu, ajak Ratna. Mami sama papi pergi dulu ya."
Kedua orang tua lintas jaman Cavin berpamitan padanya dan juga Ratna. Setelah mereka masuk ke dalam mobil, Cavin pun menawari Ratna untuk makan dirumahnya.
"Ayo Rat, makan dirumah gue."
"Rumah gue kan deket, Cav."
"Terus apa hubungannya dengan makan ditempat gue?"
"Kan gue bisa balik kerumah, kalau mau makan."
"Ye, sekali-sekali nggak apa-apa kali. Mau berkali-kali juga nggak apa-apa makan dirumah gue mah. Orang tadi mami juga nyuruh, ayok ah."
Cavin menarik Ratna dan,
"Aaaaw."
Ratna berteriak, karena Cavin lupa jika Ratna saat ini tengah terluka.
"Sorry-sorry, Rat. Gue lupa kalau lo luka beneran."
"Ya udah nggak apa-apa."
"Mau gue gendong aja ke dalem?"
"Nggak usah, lo bantu gue jalan aja."
"Ok-ok."
Cavin pun memapah Ratna dan mereka kini menuju kedalam rumah. Sementara itu di kediaman Michael, ia duduk di hadapan kedua orang tuanya dan juga Marcell. Michael duduk dengan wajah tertunduk menghadapi intimidasi dari ayahnya. Pasalnya sang ayah tak terima dengan sikap anaknya yang begitu mengejutkan.
Michael selama ini tak pernah terlibat masalah apapun, dengan siapapun. Tetap hari ini tiba-tiba saja ia harus menerima hukuman dari pihak sekolah, akibat perlakuannya terhadap Martin.
"Papa bener-bener kecewa sama kamu, Michael. Papa nggak nyangka kamu seanarkis itu orangnya. Papa nggak pernah ngajarin kamu ataupun Marcell untuk bersikap seperti itu."
"Orang papa juga jarang kan punya waktu buat Mike."
"Mike."
Marcell menegur adiknya yang berbicara dengan suara ketus. Pandangan matanya masih ia alihkan ketempat lain, meski tatapan kedua orang tuanya terus tertuju padanya.
"Pokoknya papa nggak mau tau, ini pertama dan terakhir kalinya kamu bersikap seperti ini. Baru SMP aja udah anarkis, gimana jadi anak SMA atau kuliah nanti. Yang ada bukan belajar kamu, malah tawuran atau demo. Contoh tuh kakak kamu Marcell, belum pernah sekalipun dia bikin masalah dan bikin orang tua malu."
Kali ini Michael menarik bibirnya, seperti setengah tersenyum namun sinis. Ia tau persis kelakuan kakaknya itu di luaran.
Marcell adalah anak yang sering terlibat tawuran dan juga seringkali mendapatkan kasus disekolah. Namun bedanya, Marcell pandai menutupi kesalahannya.
Kenakalan pemuda itu tidak pernah sampai di telinga kedua orang tuanya. Dan lagi Marcell adalah anak pintar dan selalu berprestasi. Setiap kali ia membuat kesalahan, prestasinya selalu menjadi penutup dari kesalahannya tersebut.
__ADS_1
Michael sendiri tau apapun yang dilakukan oleh kakaknya itu, karena Marcell selalu terbuka dan bercerita padanya.