
"Ad."
Mario memanggil dan menyapa Adril ketika jam istirahat tiba. Namun tak seperti biasanya, Adril hanya tersenyum tipis dan tampak tidak bersemangat.
Ia juga tak menghampiri Mario, Brian, dan Cavin yang saat ini tengah berdiri didepan kelas. Ia malah pergi entah kemana setelah itu.
Biasanya Adril merupakan sosok pribadi ramah yang selalu berada di sekitar Mario, Brian, dan Cavin. Mereka juga sering ke kantin bersama. Namun pasca sakit tempo hari, entah mengapa Adril jadi berubah. Pagi ini saja, remaja itu memilih berangkat sendiri dan tak menjemput Cavin ataupun Brian.
"Rat, Ratna."
Cavin memanggil Ratna, ketika gadis itu baru saja hendak menuju keruang perpustakaan.
"Iya kenapa, Cav?" tanya Ratna kemudian.
"Si Adril kenapa dah?" tanya Cavin heran.
"Mmm, Adril. Kenapa emangnya?" Ratna balik bertanya.
Namun Cavin menangkap ada nada lain dalam pertanyaan yang dilontarkan gadis itu. Disini mereka boleh saja seumuran. Tapi dimasa depan Cavin adalah seorang anak SMA, yang tidak mudah begitu saja di bohongi oleh anak SMP seperti Ratna.
"Jangan bohong sama gue, Adril kenapa?. Apa gue, Mario, dan Brian punya salah sama dia?" tanya Cavin lagi.
"Ya, lo tanya aja langsung ke orangnya." ujar Ratna dengan wajah seperti menyimpan ketakutan.
"Udah, dan dia bilang nggak apa-apa."
"Ya, berarti nggak apa-apa dong." ujar Ratna kemudian.
"Lo jangan ikut-ikutan bohong kayak Adril. Gue tau Adril bohong dan gue tau kalau lo, tau tentang apa yang sekarang disimpan oleh Adril."
Cavin mencecar Ratna, hinga gadis itu tak berani berkutik bahkan menatap mata Cavin.
"Gue nggak bisa ceritain sama lo, gue nggak enak sama Adril." ujarnya kemudian.
"Tapi Rat."
"Nggak bisa Cav, sorry."
Ratna pun berlalu, namun Cavin masih berusaha.
"Rat."
"Jangan paksa gue, Cav." ujar Ratna menghentikan Cavin.
Remaja itupun akhirnya tak lagi mengejar Ratna. Ia lalu berbalik arah, untuk mencari dimana Mario dan juga Brian berada.
"Lo dari mana, bro?" tanya Mario ketika Cavin akhirnya menyambangi kedua anak itu di kantin.
__ADS_1
"Gue dari nanya sama Ratna." ujar Cavin seraya mereguk es teh manis milik Mario.
"Nanya apaan?" tanya Brian.
"Soal Adril."
"Adril kenapa?" tanya Mario
"Nggak tau, lo ngerasa aneh nggak sih tadi?"
Mario dan Brian diam seolah berfikir dan mengingat.
"Iya sih, dia kayak males-malesan gitu negur kita." ujar Brian.
"Masih ada masalah dirumah kali." timpal Mario.
"Ya, semoga dia baik-baik aja sih. Soalnya tadi gue tanyain, jawabnya nggak apa-apa."
"Ya, semoga deh." ujar Mario dan Brian diwaktu yang nyaris bersamaan.
Siang harinya, Mario berjalan terlebih dahulu menuju gerbang sekolah. Cavin dan Brian tengah buang air kecil di toilet. Ia berjalan dengan tatapan mata tertuju ke depan, tak lama Adril melintas dihadapannya. Namun pemuda itu hanya melengos saja, meski matanya bertemu dengan mata Mario.
"Degh."
Hati Mario bergemuruh.
Sejak hari itu, sikap Adril kian menjadi aneh. Ketika tengah berkumpul pun, ia lebih banyak diam. Kalaupun harus berbicara, ia lebih banyak berbicara kepada Ratna maupun Heru. Ketimbang berinteraksi bersama Mario, Brian dan juga Cavin.
Mario dan kedua temannya menduga, pastilah terjadi suatu masalah pada diri Adril. Kemungkinan besar disebabkan orang tuanya yang kasar itu, ataupun masalah lainnya.
Esok harinya pun sama saja, Adril kembali bersikap tak begitu ramah. Ia bahkan menghilang di jam istirahat. Saat pulang juga ia tak menampakkan batang hidung di muka teman-temannya. Ia sudah buru-buru keluar dari sekolah saat lonceng dibunyikan.
Hari berganti bulan berlalu, Mario makin gila dengan ambisinya. Tiap hari, jam, menit, detik adalah waktu belajar baginya. Ia bahkan sangat sulit untuk diajak bermain, baik oleh Cavin maupun Brian sekalipun.
Pada tes penyaringan pertama dan kedua, ia berhasil lolos. Namanya bahkan bertengger diurutan pertama, disusul oleh dua anggota f4 lainnya beserta Martin.
Saat ini hanya tersisa beberapa kandidat saja, yang akan disaring kembali dalam waktu dekat. Saking gilanya Mario belajar, ia kadang sampai lupa makan. Deddy pun seringkali marah, karena kebiasaan buruknya itu.
Seperti hari ini saja, ia mengurung diri sambil belajar didalam kamar. Bahkan ia tak mengikuti kegiatan ekstrakurikuler seperti biasanya. Berkali-kali Deddy mencoba mengetuk pintu kamar tersebut, namun tak ada jawaban.
Mario memasang earphone dan menyambungkannya pada CD player portable yang pernah diberikan oleh Michael. Saat ia berangkat study tour tahun lalu.
"Mario, makan."
"Tok, tok, tok."
Deddy mencoba sekali lagi.
__ADS_1
"Mario."
"Braaak."
Akhinya Mario membuka pintu kamar. Deddy pun menghela nafas lega, karena mengira Mario sudah menjadi fosil.
"Kenapa, dad?" tanyanya kemudian.
"Makan." ujar Deddy seraya menatap anaknya itu.
"Oh, iya dad. Bentar lagi Mario turun."
"Daddy tunggu."
"Ok."
Deddy pun berlalu dan menuju ke ruang makan. Beberapa saat kemudian Mario tiba di ruangan tersebut, namun kali ini ia membawa sebuah buku. Ia terus fokus pada bukunya itu, bahkan sampai ketika acara makan pun telah dimulai.
Ia memakan makanannya sambil membaca buku. Sementara Deddy memperhatikan tingkah anaknya itu.
"Haaap."
"Haaah, pedeees." teriak Mario mebahana. Sementara kini Deddy tertawa terpingkal-pingkal.
"Daddy sengaja ya, narok banyak sambel di piring Mario?" ujar Mario sewot, sambil meminum air putih. Sementara Deddy masih tertawa-tawa.
"Makanya makan tuh fokus, makan dulu baru belajar." ujar Deddy makin tertawa-tawa.
Mario mengambil gelas dan sejumlah uang receh yang ada di atas televisi.
"Mau kemana kamu?" tanya Deddy kemudian
"Mau beli es limun di warung depan, pedes."
Mario beranjak, lagi dan lagi Deddy terkekeh.
***
"Kamu itu memang anak nggak berguna. Percuma kamu itu ada, tau nggak. Nyusahin aja kerjaannya."
"Plaaaak."
Sebuah pukulan diterima Adril, hal itu terjadi di depan rumahnya. Tepat disaat Cavin dan Brian baru tiba dari tempat main dingdong. Sedangkan Mario baru kembali dari membeli es limun.
Adril terpaku di depan kedua orang tuanya, kepala remaja itu tertunduk. Wajahnya sakit karena dipukul, namun didalam sana ada yang lebih sakit yakni hatinya.
Tak lama kemudian, remaja itu pun pergi menggunakan sepedanya. Ia melintas dihadapan Cavin, Mario, dan Brian dengan kecepatan tinggi. Mario menatap ke arah Adril, begitu pula dengan Cavin dan juga Brian. Tak lama setelah Adril berlalu, ketiganya lalu saling bersitatap. Mereka sangat iba pada Adril.
__ADS_1