Terjebak Di Tahun 2001

Terjebak Di Tahun 2001
Tiket Liburan


__ADS_3

"Serius dad, Mario dibeliin tiket buat liburan?"


tanya Mario sesaat setelah pembagian raport dan pengumuman libur di umumkan.


"Serius lah, masa iya daddy bohong." ujar Deddy kemudian.


Mario tersenyum melihat ayah lintas jamannya itu dan begitupun sebaliknya.


"Kemana dad?. Bali?"


"Kan kamu udah ke Bali study Tour kemaren, masa kesana lagi." ujar Deddy.


"Terus sekarang kemana?"


Deddy tersenyum dan memberitahu rencananya.


"Hah?. Belanda, dad?. Nggak salah?"


Deddy mengangguk, sementara Mario masih terlolong bengong.


"Be, Belanda?. Gi, gimana ceritanya dad?" tanyanya lagi.


"Ya, nggak gimana-gimana. Kamu tinggal siap-siap, berangkat, nikmati liburan, dan pulang deh."


"Sama daddy juga kan?"


Deddy tersenyum.


"Nggak, nak. Kamu sendiri."


Mario mengerutkan kening.


"Daddy nggak ikut?" tanya nya kemudian.


Deddy menggelengkan kepalanya.


"Kenapa daddy nggak ikut?" tanya Mario heran.


"Daddy kerja, Mario. Daddy kan bukan anak sekolah, jadi nggak ada libur."


"Emang daddy nggak bisa ambil cuti?"


"Nggak bisa, lagian tiket udah daddy beli. Udah, kamu berangkat aja."


"Mario sendiri dong?"


"Ya nggak apa-apa, udah gede ini." ujar Deddy lagi


***


"Lo ke Belanda?" tanya Cavin dan Brian, ketika akhirnya Mario menceritakan rencana liburannya. Mereka kini tengah duduk di atas genteng rumah Cavin, sambil melihat orang-orang yang tengah bermain layangan.


"Iya, kaget gue. Seumur-umur belum pernah gue ke Eropa. Keluar negri juga paling jauh, Thailand, Singapore. Yang kepleset nyampe."


"Lo pergi bareng om Deddy?" tanya Cavin lagi.


"Kagak, gue sendiri. Makanya gue bingung, kalau gue nyasar gimana?. Udalah nyasar ke tahun ini, nyasar pula lagi negri orang. Mampus lah gue."


Cavin dan Brian tertawa.


"Kan lu bisa bahasa Jerman sama Belanda." Brian mengingatkan.


"Iya juga sih, koq gue lupa ya?" ujar Mario kemudian.


"Bisa sih, tapi dikit." lanjutnya lagi.


"Ya, dikit juga nggak apa-apa. Itu meminimalisir supaya lo nggak nyasar." tukas Brian.


"Orang Belanda itu, banyak yang bisa bahasa Indonesia juga bro. Orang Indonesia asli juga banyak yang tinggal disana." Cavin menambahi.


"Iya sih, tapi gue berharapnya daddy ikut. Biar feel nya dapet gitu, jalan sama keluarga. Kalau dulu, Marcell sama Michael mana mau ngajak gue kemana-mana. Sekalinya gue ada jalan sama mereka, gue disuruh-suruh. Bawa koper lah, nyari hotel lah, beli ini-itu."


Cavin dan Brian tertawa.


"Sama nih, Davin juga. Kan gue rencana ada road trip bareng dia, libur ini."


"Oh ya?" Mario dan Brian bertanya di waktu yang nyaris bersamaan.


"Iya, udah mulai disuruh-suruh tuh gue sama dia. Siapin ini-itu, tapi dia juga ikut bantuin. Cuma kayaknya banyakan gua."


Kali ini Mario dan Brian yang tertawa.


"Mending itu mah. Kalau Michael, hmmm, tuan muda. Lagunya udah kayak anak orang kaya di drama Korea, apa-apa nyuruh gue. Berasa Lee Min Ho kali tuh dia."


"Ada kan yang sampe lo mau pingsan, pas lo jalan ke Jepang. Yang lo ketemu gue waktu itu disana." ujar Brian.


"Emang ada, ya?" tanya Cavin.


"Ada, pas kita kelas 2 itu. Pas banget gue lagi liburan di Jepang, gue ngeliat kan dari jauh. Koq kayak Michael sama Marcell."


"Dimana tuh?" tanya Cavin lagi.


"Disekitaran Tokyo Tower. Gue liat, gue deketin. Beneran Mike sama Acel. Eh di belakangnya, Mario bawa segala apaan tau."


Cavin tertawa.


"Serius?" tanya Cavin.


"Serius."


"Gue belum makan siang tuh disitu." ujar Mario menambahi.


"Udeh disuruh-suruh bawa koper, gara-gara si Mike nggak nyaman di hotel sebelumnya. Dia bilang deket-deket, eh taunya di ujung berung." lanjutnya lagi.


Cavin makin tertawa.


"Semoga aja, Davin nggak kayak gitu. Kalau banyak bacot liat aja, gue tinggalin pulang."


"Lo mau jalan kemana aja?" tanya Mario kemudian.


"Rencana sih pulau Sumatera. Kan kalau jawa, udah kemaren pas study tour. Mungkin lain waktu akan ke daerah timur, kalau kita masih kejebak disini."


"Lo Kemana, Bri?" Mario melontarkan pertanyaan pada Brian.


"Nggak kemana-mana gue."


"Serius?" tanya Cavin.


"Serius, bokap-nyokap gue malah yang mau ke luar negri. Gue nggak ikut."

__ADS_1


"Napa lo nggak ikut?" tanya Cavin.


"Mager gue. Lagian, gue masih pengen lama-lama ngeliatin nyokap kandung gue. Mumpung lagi ada di depan mata."


Seketika Mario pun teringat pada sosok ibu kandungnya.


"Woi kejer, woi."


"Kejer, woi."


Mario, Brian dan Cavin sontak menoleh ke suatu arah. Tempat dimana sumber suara itu berasal.


"Anjir layangan putus." ujar Cavin. Mereka bertiga segera beranjak.


"Bro, kejer bro." ujar Brian seraya memperhatikan layangan tersebut. Mario dan Cavin pun sama mendongak, untuk memperhatikan kemana lajunya benda itu.


Layangan itu bergerak ke arah mereka. Semakin dekat dan semakin dekat.


"Nih, nih, nih. Ambil, bro." Cavin antusias.


Mereka bertiga meloncat. Namun tanpa mereka sadari, jika kini mereka ka telah berada dipinggir atap dengan posisi saling berdekatan. Hingga tak lama kemudian,


"Huaaaaa."


"Bloop, Byuuuur."


Ketiganya terjatuh menghantam air di kolam renang belakang.


"Hahahaha."


"Hahahaha."


Davin yang berada tak jauh dari kolam tersebut pun, tertawa terpingkal-pingkal. Pasalnya di halaman dekat kolam, asisten rumah tangga Mario dan asisten rumah tangga Brian yakni Karin, Anya, dan mbak Luna tengah barbeque an.


Air yang dihantam oleh tubuh Mario, Brian, dan Cavin sukses mengenai bara api panggangan dan memadamkannya. Alhasil, mereka bertiga mendapatkan amukan dari para asisten rumah tangga tersebut.


"Hyaaaaa."


Mbak Luna berteriak sambil membawa panci. Detik berikutnya,


"Tuing, byaaaarrrr."


Mereka bertiga lari pontang-panting.


***


Selang tiga hari kemudian, Deddy mengantar Mario ke Bandara. Hati Mario dipenuhi rasa dag, dig, dug. Karena ini adalah kali pertama perjalanannya ke Eropa.


Ditambah lagi, ini bukan jaman dimana seharusnya ia berada. Ketakutannya pun menjadi double. Ia khawatir bagaimana jika disana nanti, ia masuk ke portal lain lagi dan malah makin sulit untuk kembali.


Namun tiket pesawat ini sudah terlanjur di beli oleh Deddy, dan lagipula harganya cukup mahal. Sangat disayangkan jika perjalanannya dibatalkan. Mengingat di jaman ini tidak ada aplikasi pemesan tiket pesawat yang bisa reschedule kapan saja. Jika batal, masih ada kemungkinan uang kembali. Meski hanya sekian persen dari total bayar keseluruhan.


Jadilah hari ini, Mario memenuhi tuntutan jaman. Jaman dimana ia hidup kini, memaksanya untuk berlibur. Jadi ya sudah, tak ada pilihan lain kecuali menerima dan menikmatinya. Seperti kata tokoh Suidward Tentacles dalam serial kartun Spongebob Squarepants, aku akan bersantai meskipun itu akan membunuhku. Begitulah kira-kira.


"Kalau udah sampe, kabarin daddy. Ok?"


Mario mengangguk lalu memeluk Deddy dengan erat. Ada rasa enggan melepaskan pelukan tersebut. Mario hanyalah remaja yang sepanjang hidupnya jarang merasakan kasih sayang, bahkan nyaris tak pernah mendapat pelukan.


Hatinya begitu damai, rasanya ini saja sudah lebih dari cukup. Tak perlu lah liburan ini sebenarnya. Namun waktu jualah yang memaksa ia untuk segera masuk gate.


"Dad, daddy jangan ngopi mulu. Terus begadangnya dikurangin, walaupun alasannya tentang kerjaan. Jangan karena Mario lagi nggak dirumah, terus daddy bebas melanggar aturan. Mario nggak mau daddy sakit."


"Ok..."


Mario berjalan ke arah gate. Namun kemudian ia kembali ke belakang dan berlarian memeluk Deddy.


"Kalau liburannya udah selesai, Mario akan cepet pulang. Mario sayang daddy."


Deddy mencium kening anak lintas jamannya itu, lalu melepaskan dan membiarkannya menghilang di balik gate.


***


Dirumah Cavin.


"Cav, buruan."


Davin menyuruh adiknya itu untuk segera bersiap. Karena sebentar lagi mereka akan segera menjalani road trip. Menuju ke kota-kota yang telah mereka rencanakan sebelumnya.


"Ntar dulu, tunggu. Ini mami masih ribet."


Cavin tampak tengah berbicara di telpon.


"Mi, Cav tuh perginya sama kak Davin loh. Anak mami juga. Nggak usalah khawatir berlebihan gitu. Papi aja santai tadi, pas Cavin kasih tau."


"Masalahnya kalian itu naik mobil. Kamu nggak tau Davin itu kalau nyetir dijalan jauh, kayak orang kesurupan."


"Caaaav."


"Bentaaaar, mami lagi ngomongin lo nih."


"Ngomongin apaan sih?" Davin lalu menghampiri dan merampas telpon yang masih berada ditangan adiknya. Lalu ia pun berbicara dengan ibunya yang berada dikantor tersebut.


Usai menjelaskan panjang lebar kali tinggi, ia pun menyudahi percakapannya.


"Udeh, buruan." ujarnya kemudian.


"Ntar dulu, Bambang. Ngiket sepatu dulu."


"Bambang?" tanya Davin sambil mengernyitkan dahi. Segera saja, Cavin menyadari kekeliruannya.


"Maksud Cav, bentar. Ini udah nih."


"Ya udah, ayok."


Mereka berdua pergi ke halaman parkir, masuk ke mobil dan tancap gas.


***


"Lo abis dari mana, Ded?"


Salah seorang rekan kerja Deddy yang kebetulan hari ini berangkat bersamanya, bertanya pada pria itu.


"Dari nganter anak gue ke Bandara." jawab Deddy, sambil terus fokus menyetir.


"Kemana anak lo?. Ke ibunya?" tanya temannya lagi.


"Mantan bini gue aja nggak jelas ada dimana sekarang." ujar Deddy.


"Terus, anak lo kemana?"

__ADS_1


"Liburan, ke Belanda."


"Koq lo nggak ikut?"


"Dananya nggak cukup. Tau sendiri lo, utang gue banyak. Gara-gara mantan bini gue gadein sertifikat rumah, buat bakal danain selingkuhannya."


"Iya sih, tapi anak lo tau nggak soal itu?"


"Gue nggak kasih tau dia, gue nggak mau merusak pandangan anak gue soal ibunya. Gitu-gitu, dia tetep ibunya anak gue."


"Parah sih itu, mantan bini lo. Kalau gue jadi elo, udah gue acak-acak kali tuh orang. Udah selingkuh, gadein properti. Nggak mikir otaknya, nggak kasian sama anak."


Deddy menghela nafas.


"Gue sih cuma nggak mau nyari ribut aja, bro. Ntar kalau gue emosi, nggak sengaja mukul, dia lapor polisi. Terus gue kena kasus, anak gue sama siapa?. Gue nggak mau Mario diambil sama dia."


"Iya juga sih."


Mobil yang dikemudikan Deddy pun terus melaju. Sementara di Bandara, hati Mario diliputi kegalauan. Pasalnya ia masih belum bisa membuat hatinya tenang sempurna. Masih saja terbersit ketakutan dalam dirinya mengenai perjalanan ini. Tak lama kemudian, pesawat pun mulai berjalan, menanjak dan terbang.


Beberapa jam berlalu, Mario tiba di Bandara Schipol dan langsung mengabari Deddy. Sementara kini Cavin dan Davin telah memasuki kawasan kota kedua dalam rute perjalanan mereka.


Setelah kota pertama hanya diisi dengan mampir serta numpang menikmati kuliner saja. Mereka tidak menginap di kota pertama karena dinilai kurang seru.


"Kita nginep disini?" tanya Cavin pada Davin, sambil memperhatikan sekeliling kota yang kini mereka masuki.


"Iya, disini tuh pasarnya seru. Lo belum pernah kan?" tanya Davin kemudian. Cavin menggeleng.


Sejujurnya dimasa depan, ia pernah mengunjungi tempat ini. Namun ia berada disini karena paksaan pacarnya. Kala itu, pacarnya mengadakan perjalanan dan memaksa Cavin untuk ikut demi kepentingan uwu-uwu di sosial media. Padahal saat itu dirinya tengah sakit dan sama sekali tak bisa menikmati perjalanan.


Alhasil sepanjang jalan, ia lebih banyak diam dan tertidur. Ia tak bisa menikmati keseruan yang disuguhkan kota ini.


***


Mario sibuk mencari hotel, disekitaran tempat yang ia tetapkan sebagai tempat sentral bagi perjalanan liburannya. Ia memilih kota yang dekat dengan destinasi-destinasi wisata yang ada di negara tersebut.


Deddy sengaja menyuruhnya pergi sendiri tanpa paket dari pihak Tour&Travel manapun. Ia ingin agar Mario bisa berani menjelajahi setiap negara yang ia kunjungi.


Jadilah kini, ia sibuk mencari penginapan. Karena di jaman ini, tak ada aplikasi praktis yang bisa membuat kita memesan penginapan dari mana saja. Seperti yang ada di jamannya.


***


Disuatu tempat, disebuah kota. Ayah kandung Mario tampak tengah mengkoordinir anak-anaknya yang sibuk berjalan kesana kemari.


"Marcell, Mike, bisa tenang dikit nggak?. Dari tadi loh, kalian itu pecicilan."


Marcell dan Michael tampak tak peduli, mereka terus saja berkejaran kesana kemari.


"Biarin aja lah, pa. Jangan nggak boleh semua. Anak-anak nggak harus ngikutin peraturan yang pernah diajarkan orang tua kamu."


"Ma, papa gini tuh biar mereka disiplin."


"Kita nggak lagi disekolah, pa. Biarkan anak-anak happy dengan cara mereka sendiri."


Ayahnya menghela nafas.


"Ya udah, iya." ujarnya kemudian.


"Ma, sini ma."


Marcell berteriak pada ibunya dari kejauhan. Ibunya tersenyum, lalu pada detik berikutnya ia berlarian menyusul Marcell.


"Dad, Mario udah dapet hotelnya."


Mario kembali menghubungi Deddy, ketika ia sudah mendapatkan sebuah penginapan. Persis di tempat yang ia inginkan sebelumnya.


"Mahal nggak?" tanya Deddy.


"Nggak terlalu sih, ya standar jaman ini lah."


Kali ini Deddy tertawa.


"Ya mau jaman mana lagi, orang kamu hidupnya aja di jaman ini."


"Iya sih." Mario tertawa.


Sebenarnya tadi, ia membandingkan harga dengan tahun dimana ia besar. Tapi ya sudahlah, toh Deddy juga tidak mengerti.


"Daddy udah makan?" tanya nya kemudian.


"Udah, tadi. Kamu sendiri?"


"Udah juga."


Deddy tampak terdengar sibuk diseberang sana.


"Daddy lagi ngerjain apaan sih?" tanya Mario lagi.


"Ini tugas kantor."


"Banyak?"


"Lumayan."


"Jangan sampe kecapean loh, dad."


"Iya, kamu nggak jalan apa?"


"Bentar lagi sih, pengen jalan di sekitaran sini dulu."


"Ya udah sana, manfaatin liburannya. Jarang-jarang loh orang bisa kayak kamu."


"Iya sih, dad. Ya udah deh, Mario jalan dulu ya."


"Hati-hati ya." ujar Deddy.


"Iya dad."


"Bye."


"Bye, dad."


Mario menutup sambungan telpon. Beberapa saat kemudian, ia pun turun dari hotel. Ia berjalan-jalan disekitaran lokasi tempat dimana ia menginap tersebut.


Dengan kamera pocket berisi roll film, ia mulai mengambil foto-foto disekitar wilayah itu. Ia terus melangkah, menyusuri jalan demi jalan. Sampai kemudian ia pun tertegun, ketika melihat dua orang saudara yang tampak tengah berlarian.


"Cell, tungguin...!"


Michael berteriak pada Marcell yang tampak berlari mendahuluinya. Sementara di belakang kedua anak itu, terlihat kedua orang tua kandung Mario tengah berjalan. Menuju ke arah Mario yang kini terpaku bisu.

__ADS_1


"Papa, mama..." ujarnya dalam hati.


__ADS_2