
Hari-hari kembali berlalu.
Mario tengah sibuk membahas soal-soal. Ketika Cavin dan juga Brian memperhatikan sambil membicarakannya dari jauh.
"Gimana caranya coba, ngomong sama dia."
tanya Cavin pada Brian sambil melirik sekilas ke arah Mario.
"Gue juga bingung ngomongnya gimana, tuh anak semangat 45 gitu. Nggak mungkin dong, kita patahin semangat dia. Secara dia pengen banget mematahkan omongan Michael di masa depan, yang bilang kalau dia itu bodoh."
"Iya, tapi ini bukan dunia kita, ini dunianya Adril. Kita balik ke masa depan, perkara kita kelar. Sementara Adril, kalau misalkan masa lalunya ini berantakan. Bisa jadi masa depannya juga berantakan, bro."
"Iya juga sih, gimana caranya ya. Ngomong ke Mario, tapi dia nggak marah gitu."
"Nah itu dia, lo tau sendiri kan Mario kalau mencak-mencak kayak apa. Michael seserem itu aja di lawan sama dia dimasa depan, apalagi lu sama gue." ujar Cavin.
"Kalian ngomongin apaan sih?. Heru yang baru tiba bertanya pada Cavin dan juga Brian.
"Ngomongin soal Adril." ujar Cavin.
"Kenapa Adril?" tanya Heru bingung.
"Ya soal yang dia pengen ikut olimpiade. Gue kan udah dikasih tau sama Ratna, kalau Adril tuh sebenernya pengen ikut olimpiade. Tapi kesalip sama Mario, nah gue lagi mikir gimana caranya ngomong ke Mario soal ini."
"Supaya dia batalin dan ngalah buat Adril gitu?" tanya Heru lagi.
"Iya, terus gimana caranya ngomong ke guru juga. Biar guru mau, posisinya si Mario digantiin sama Adril." ujar Cavin kemudian.
"Braaak."
Tiba-tiba Michael sudah ada didepan Mario sambil membawa sepiring nasi serta semangkuk soto ayam. Hal yang jarang sekali terlihat, mengingat Michael adalah orang yang selalu membawa makanan dari rumah. Mario awalnya cuek saja, namun ia sadar jika di kantin ini banyak bangku yang masih kosong.
"Lo ngapain sih Mike, makan disini?. Nggak liat apa, gue lagi belajar." ujarnya masih mencoba memecahkan soal.
"Sluuuurp."
"Sluuuurp."
Michael cuek saja sambil menyeruput soto ayamnya. Mario kini menelan ludah, tampaknya soto ayam tersebut enak sekali. Ditambah aromanya yang sangat kuat menusuk hidung.
"Sluuurp, sluuurp."
Michael makan seperti orang yang sangat menikmati. Persis YouTuber yang sering mereview makanan dan dijadikan konten di masa depan. Tak lama, Mario pun akhirnya takluk pada godaan tersebut. Ia lalu berteriak pada Ibu kantin.
"Bu, saya nasi sama soto ayam satu." ujarnya kemudian.
__ADS_1
Tak lama pesanannya datang, Mario menyingkirkan segala buku-buku yang memenuhi meja. Untuk pertama kalinya sejak kompetisi dimulai, Mario terlihat duduk makan tanpa buku. Dari kejauhan Brian dan Cavin agak tertawa melihatnya, sementara Heru hanya tersenyum tipis.
"Tumben nggak makan pake buku." ujar Brian kemudian.
Cavin makin terkekeh, sementara Heru masih betah dengan senyumannya. Mario sendiri tidak tau jika ia tengah dipergunjingkan oleh sahabatnya.
***
Siang itu, Mario tengah memilah-milah buku yang hendak ia beli disebuah toko. Ketika ia mendapati Ratna tengah melintas dengan seseorang di jalan depan toko tersebut.
"Galih?" gumam Mario seraya menatap Galih yang berjalan disisi Ratna.
Entah kenapa tiba-tiba saja ia merasa terganggu dan tidak suka dengan pemandangan itu.
"Ngapain sih si Ratna ganjen banget. Masih aja jalan sama Galih, udah tau tuh anak pacar orang." gerutunya dalam hati.
Jujur, Mario tak ada masalah pribadi dengan Galih. Hubungan antara dirinya dan pemuda itu telah membaik, pasca pertandingan Kendo waktu itu. Dan lagi Galih pernah menolongnya dari serangan orang suruhan Martin, sebelum pertandingan Kendo itu dimulai.
Namun hatinya sedikit terusik, pasalnya kini Galih berjalan bersama Ratna. Dan entah mengapa seperti muncul kecemburuan di hati Mario.
Sementara Ratna kini tampak begitu bahagia, hal seperti inilah yang dinantikannya sejak lama. Dulu rasa sukanya selalu terhalang oleh Lia, tapi kini Lia sudah lulus dan masuk SMA.
"Galih."
"Ya."
"Sama, aku juga." ujar Galih. Remaja itu tak kalah mesem-mesemnya dengan Ratna.
"Apaan sih Ratna, dasar bocil." ujar Mario dengan mimik wajah yang super sewot.
Ia kini telah ada di dekat Galih dan Ratna. Ia menguntit pasangan remaja itu sambil bersembunyi dibalik pertokoan sesekali, karena takut ketahuan.
"Kita makan, yuk...!" ajak Galih kemudian.
Ratna pun mengangguk dengan penuh semangat.
"Mmm, ayok. Mau makan dimana?" tanya Ratna.
"Kesitu aja, mau nggak?" Galih menunjuk ke sebuah restoran cepat saji dan Ratna pun mengiyakan.
Galih lalu mengajak Ratna ke tempat itu, tanpa mereka ketahui jika Mario pun kini berada ditempat yang sama. Usai galih dan Ratna memesan makanan. Mario menyelinap diantara antrian dan memesan dua ayam beserta nasi plus segelas pepsi.
"Anjay, pepsi masih ada nih di jaman ini." ujar Mario dengan suara yang lumayan besar, hingga mengundang perhatian sekitar. Namun dengan cepat ia bersembunyi dibalik meja, agar tak ketahuan Galih dan Ratna.
Setelah memastikan Galih dan Ratna kembali fokus pada makanan mereka, Mario pun kini mulai mengintai. Sambil makan tentunya.
__ADS_1
"Galih."
"Iya."
"Kamu kalau senyum manis deh." Ratna berujar
"Sa ae nyi pelet." Mario nyeletuk.
Namun ia buru-buru menutup mulutnya dan menyembunyikan wajahnya dibalik nampan. Kebetulan ia sudah mengeluarkan makanannya dari nampan sejak tadi. Sementara Galih dan Ratna menoleh sejenak ke arahnya.
"Anjrit, kenapa sih mulut gue." Gerutu Mario kemudian.
"Tadi kamu bilang apa?" tanya Galih memastikan.
"Senyum kamu, aku suka ngeliat kamu begitu."
Galih menjadi sedikit salah tingkah. Ia tersenyum dan berusaha memakan kembali makanannya.
"Kenapa emangnya kalau aku senyum?"
"Ya manis."
"Modus." teriak Mario.
Lagi-lagi ia mengundang perhatian sekitar. Dan lagi-lagi Ratna serta Galih menoleh ke arahnya. Mario terpaksa menutup kembali wajahnya dengan nampan, sambil memberi pukulan pada mulutnya.
"Mulut, gede banget sih." Ia mengocehi mulutnya sendiri.
Tak lama kemudian Galih dan Ratna kembali berbincang, Mario berusaha keras untuk tidak nyeletuk. Meskipun obrolan kedua anak itu diisi oleh rayuan Ratna, yang amat sangat membuat Mario ingin muntah.
Ia tak ada masalah secara personal dengan Galih, ia hanya tak suka Galih dan Ratna berdekatan. Apalagi Ratna sampai bertingkah layaknya cabe-cabean tersebut.
"Kamu sama kak Lia, masih sering ketemu?" tanya Ratna kemudian.
"Mmm, akhir-akhir ini udah nggak sih. Kayaknya, dia punya pacar baru deh."
"Oh gitu. Kalau gitu nggak ada yang marah dong, kita jalan bareng begini?"
"Sigoblooook hooooooo, si goblooook." Mario bernyanyi dengan suara yang begitu kecil, namun dengan kekesalan level dewa.
"Cewek super bucin kalau di kasih kesempatan begitu tuh, jatohin aja Rat harga diri lo." gerutu Mario kesal, namun dengan suara yang sangat-sangat ia tahan volumenya.
Tak lama kemudian, suara Galih dan Ratna pun menghilang. Mario membuka nampan yang menutupi wajahnya, ternyata kedua anak itu telah pergi.
"Buset, kapan kelarnya tuh anak dua." gumamnya kemudian.
__ADS_1
"Cepet amat makan, dah kayak paskibra yang dilatih tentara." lanjutnya lagi.
Ia pun lalu melanjutkan makan, karena sayang dengan makanan dan minuman yang ada dihadapannya. Sejujurnya ia ingin menguntit mereka berdua lebih lama lagi. Tapi karena minuman yang ia pesan sudah tak ada lagi di jamannya, ia pun jadi merasa berat untuk melewatkan itu semua.