
"Mario, Bulan seneng deh di ajak kesini sama Mario. Sering-sering ya ajak Bulan. Soalnya Bulan kesepian kalau di rumah."
Bulan berkata setelah beberapa saat mereka berada di tempat tersebut.
"Boleh." jawab Mario sambil tersenyum.
"Oh ya, Mario kalau ketempat kayak gini biasanya sama siapa aja?" tanya Bulan.
"Gua jarang sih ketempat kayak gini. Kalaupun ada sesekali, pasti ya sama siapa lagi kalau bukan Cavin dan Brian. Dua orang itu yang ngintilin gue kemana-mana."
"Oh." jawab Bulan sambil tersenyum.
Gadis remaja itu lalu menyeruput minumannya dan memakan roti yang ada di piring.
"Rotinya enak, cobain deh."
Bulan mencubit roti tersebut dan memberikan potongannya kepada Mario. Mario diam sejenak menatap Bulan, lalu ia pun menerima suapan tersebut.
"Enak kan?" tanya Bulan lagi.
Mario mengangguk. Kemudian ada seorang masuk ke dalam kafe dan tampak mengalungkan kamera tustel di lehernya.
"Sayang ya kita nggak bawa kamera, jadi nggak bisa foto deh." ujar Bulan seraya memperhatikan orang tersebut, lalu kembali menatap Mario.
Mario sendiri tersenyum sambil mengangguk.
"Iya." jawabnya kemudian.
"Andai handphone kita ini dilengkapi kamera."
"Degh."
Mario kini menatap Bulan. Ia ingin sekali mengatakan jika beberapa tahun ke depan, harapan gadis itu akan terpenuhi. Akan ada kamera di belakang handphone tersebut, dan akan ada fitur-fitur lain yang semakin merubah jaman. Sosial media contohnya.
"Suatu saat mungkin ilmuwan bakal menciptakan handphone yang seperti itu." ujar Mario pada Bulan. Maka gadis itu pun tersenyum dengan manis.
"Bulan percaya koq, bahwa manusia itu akan berkembang seiring dengan berjalannya waktu." jawabnya kemudian.
"Dulu aja nggak ada handphone, sekarang ada. Nggak ada pesawat, sekarang ada." lanjutnya lagi.
Mereka terus mengobrol, sampai kemudian tiba-tiba saja Mario terdiam. Pasalnya ia melihat sosok Galih yang tengah berjalan dengan Lia disisi kafe. Dan di seberang jalan sana terlihat sosok Ratna, yang melihat ke arah sang kekasih.
Setahu Mario, Ratna dan Galih sudah jadian. Karena mendengar desas-desus yang beredar di sekolah. Tapi kini Galih malah terlihat jalan bersama Lia.
Bulan sendiri melihat semua itu. Ia memperhatikan cara Mario menatap Galih dan Lia. Lalu membandingkannya dengan cara Mario menatap Ratna.
Bulan menyimpulkan dalam benaknya jika Mario memiliki rasa terhadap Ratna. Sebelum mereka dekat, Bulan memang kerapkali melihat Ratna berboncengan dengan Mario dan mereka terlihat cukup akrab di beberapa momen.
Saat itu Bulan mengira jika Mario dan Ratna murni hanya berteman saja. Tapi kini ia mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi.
"Mario, Bulan boleh tanya sesuatu nggak."
__ADS_1
Bulan berusaha mengalihkan perhatian Mario. Sebab ia tak suka cara Mario menatap Ratna.
"Kenapa?" tanya Mario seraya menatap Bulan, namun sesekali mencuri pandang menatap ke arah Ratna.
"Mario kalau malam sebelum tidur sukanya ngapain?" tanya nya kemudian.
"Mmm, ngapain?" Mario balik bertanya karena bingung. Ratna kemudian berlalu dan tak terlihat lagi.
"Iya, kalau Bulan sukanya ngisi teka-teki silang."
"Oh."
Mario masih melirik ke arah kaca jendela kafe, dan menemukan Galih serta Lia yang juga telah menghilang. Ia penasaran pada apa yang terjadi di luar sana.
"Iya, Bulan sukanya gitu." Bulan masih berusaha keras agar Mario fokus kepadanya.
"Kalau gue sih, sukanya diem di kamar sambil dengerin musik." jawab Mario.
"Oh ya, Mario suka musik apa emangnya?" tanya bulan antusias.
"Ya, apa aja." jawab Mario sambil berusaha tersenyum. Hatinya kini masih terpikir akan Ratna. Bagaimana sakit dan sedihnya perempuan itu saat ini.
"Bulan juga suka musik, berarti hobi kita sama dong?" tanya Bulan.
"Iya." jawab Mario kemudian.
***
Saat memutuskan untuk pulang, Mario dan Bulan tanpa sengaja berpapasan dengan Ratna. Kala itu mereka sempat terdiam sejenak dan saling menatap.
Dan ketika Mario akhirnya meneruskan perjalanan dengan Bulan, Ratna pun menoleh untuk melihat keduanya.
***
"Nin, tolong sebelah sini dong. Tadi kopi saya kesenggol dan jatuh."
Davin meminta tolong pada Anindya untuk membersihkan bagian lantai dekat meja kerja, yang kotor oleh tumpahan kopi. Anindya lalu membersihkannya tanpa banyak bertanya.
Sementara Davin sedikit mondar mandir, sebab ia sangat sibuk dengan pekerjaannya hari itu. Ia keluar dan masuk ruangan sambil membawa beberapa file.
Usah membersihkan bekas kopi, kini saatnya Anindya akan mengepel tempat itu. Ia pun mengambil pelan dan ember yang tersedia lalu mengepel tempat tersebut.
Tak lama Davin yang masih terlihat terburu-buru itu pun masuk. Ia melangkah cepat ke arah meja dan tak menyadari lantai yang licin.
"Hah."
Davin oleng, kemudian terjatuh ke arah Anindya yang terkejut melihatnya.
"Buuuk."
Tubuh atletis pria itu menimpa tubuh Anindya. Dengan posisi Anindya terlentang. Lama keduanya bersitatap, sampai kemudian mereka pun sama-sama bangun.
__ADS_1
"Maaf." ujar Davin kemudian.
"Saya yang minta maaf, pak. Lupa kasih pembatas untuk lantai yang basah." ucap Anindya.
"It's ok."
Davin tersenyum, Anindya kini jadi salah tingkah dan pipinya memerah.
"Saya permisi dulu pak." ujar Anindya.
"Ok, makasih ya." ujar Davin.
Anindya mengangguk lalu berlalu meninggalkan tempat tersebut.
***
"Beneran Nin, lo ditimpa pak Davin?"
Salah satu office girl bertanya dengan penuh semangat pada Anindya. Ketika akhirnya Anindya tak tahan dan menceritakan semua itu pada mereka.
"Iya." jawabnya sambil tersipu malu.
"Ih, gemes ya pasti." beberapa office girl tampak antusias dan merasa jika ini merupakan kejadian yang begitu romantis.
"Terus pak Davin sama lo kayak yang di sinetron-sinetron itu nggak?" tanya yang lainnya lagi.
"Iya Nin, yang tatap-tatapan gitu selama beberapa saat." celetuk salah satu dari mereka.
"Iya dong." jawab Anindya.
"Serius?"
"Serius."
"Ih romantis banget."
Mereka berkata dengan nada cukup besar hingga memaksa Anindya untuk menempelkan jari telunjuk di bibirnya.
"Ssssttt, pelan-pelan. Jangan kencang-kencang, ntar ada yang dengar nggak enak." ujarnya kemudian.
Teman-temannya lalu tertawa dan mengecilkan volume suara.
"Badan pak Davin gimana Nin?" tanya salah satu dari mereka.
"Wangi banget." ujar Anindya.
Mereka pun bersorak-sorai sambil tertawa-tawa. Sementara dari tempat agak jauh, dua orang office girl lainnya tampak berbincang dengan serius sambil memperhatikan Anindya.
"Antusias banget, ketimbang ketimpa karena kepleset doang."
Salah satu dari mereka berujar dengan nada mencibir.
__ADS_1
"Iya, biasalah khayalan babu. Dikira pak Davin jatuh cinta kali ya sama dia. Kayak cerita telenovela, bos jatuh cinta sama gadis miskin." jawab yang satunya lagi.
Lalu keduanya tertawa-tawa.