
Keesokan paginya.Melati terbangun karena merasa mual, hidungnya seperti tertusuk bau yang tidak disukainya.Saat ia membuka matanya,betapa terkejutnya, sesosok pria tepat di depan matanya dengan tangan melingkar di pinggangnya.Melati refleks mendorongnya hingga membuat pria yang tadinya berada disampingnya kini terjatuh.
Riko terperanjat kaget. "Kenapa kamu mendorongku, aku masih ngantuk banget," kata Riko sambil mengusap wajahnya berusaha membuka matanya.
"Kamu kok bau banget mas, aku mual." Melati langsung berlari menuju kamar mandi.
Huweekkk
Melati menumpahkan isi perutnya.Beberapa menit kemudian keluar setengah sempoyongan, dengan sigap Riko melompat dari ranjang hendak menumpu tubuh Melati yang hampir limbung.Belum juga memegang, Melati sudah mendorongnya lagi.
"Mas, jangan dekat-dekat.Bau badanmu buatku mual!" pekiknya dengan nada kesal.
"Bau apa?" Riko bingung dan mencoba mencari tahu bau apa yang dimaksud istrinya itu. "Ah, nggak ada bau, cuma bau parfumku seperti biasanya."
"Pokoknya aku nggak suka, jangan dekat-dekat aku!" ancamnya kembali masuk kamar mandi.
Setelah selesai mandi dan melaksanakan solat subuh.Ia segera bersiap-siap.Hari ini ada jadwal bertemu Dokter kandungan.Riko sengaja tidak pergi bekerja untuk mengantar Melati pergi ke Dokter.Mia akan ikut serta karena memang setiap bulan Mia selalu ikut mengantar Melati.
Waktu menunjukan pukul 8 pagi, setelah selesai sarapan Riko dan Melati bergegas pergi menjemput Mia.Setelah setengah jam mereka telah sampai.Terlihat mia menunggu di teras dan segera masuk mobil Riko untuk bersama-sama pergi ke klinik.
Layaknya orang hamil Mia juga memakai bantalan diperutnya agar orang mengetahui kalau dia hamil, padahal Melati lah yang hamil.Sejak awal Melati dinyatakan hamil, Mia meminta tolong Dokter kandungan yang juga sahabatnya Dokter Very untuk melancarkan rencananya.Ia bersepakat dengan Dokter Very, Ia berpura-pura hamil dan melahirkan nantinya saat Melati akan melahirkan.Rencana dibuat sematang mungkin dibuat seakan-akan Melati akan kehilangan bayinya dan dia akan melahirkan dengan selamat.
Setelah beberapa lama akhirnya mereka telah sampai.Mereka beriringan memasuki klinik Dokter Very.Mereka menunggu giliran dipanggil karena memang ada beberapa ibu hamil ditempat itu yang mengantri.
Mereka bertiga menjadi pusat perhatian karena memang Riko diapit dua wanita Melati dan Mia yang keduanya kelihatan membuncit perutnya.
"Mas beruntung banget punya dua istri hamilnya barengan lagi," celoteh seorang ibu yang juga ikut mengantri menunggu giliran.
Riko hanya tersenyum kecut mendengar ocehan ibu-ibu itu tanpa mengatakan apapun.
Mia menggenggam tangan Riko menguatkan suaminya.Melati yang memperhatikannya hanya diam, batinnya cemburu tapi tidak bisa berbuat apa-apa.
"Ibu Melati," panggil seorang Perawat.
"Ya." Melati berdiri, melangkah masuk ke ruangan di ikuti Riko dan Mia yang ikut masuk.
Melati segera merebahkan badannya diatas tempat tidur untuk segera diperiksa sementara Riko dan Mia duduk menunggu.Dokter Very melakukan USG untuk melihat kondisi janin dalam kandungan Melati.Riko dan Mia yang melihat bayi dalam kandungan melati bergerak-gerak di layar tv lcd itu tersenyum bahagia.
"Bagus semua tidak ada masalah, usia kandungan 23 minggu, Janin laki-laki berat normal,kondisi lengkap normal," jelas Dokter Very.
"Terima kasih Ver sejauh ini kau telah membantuku, cuma kamu yang paling tahu kondisiku." Mia benar-benar beruntung memiliki teman Dokter yang bisa membantunya entah bagaimana nasibnya jika tidak dibantu Dokter Very.
"Tidak masalah Mia, selama aku bisa membantumu.Aku turut bahagia melihat kebahagiaan yang terpancar di matamu," sahut Dokter Very.
Setelah beberapa lama akhirnya mereka telah selesai dan pergi meninggalkan klinik itu.
Riko mengantar Melati terlebih dulu dan selanjutnya pulang ke rumah Mia.Hari ini gilirannya tidur di rumah istri pertamanya.
.
.
Waktu menunjukkan pukul sembilan malam.Riko duduk diatas ranjang sementara Mia berbaring di sebelahnya.Riko masih sibuk dengan gawai di tangannya membuat Mia mengamati suaminya itu.
"Mas nggak capek lihat ponsel terus?" tanya Mia.
"Sebentar ini masih ngecek email," sahut Riko.Seharian tidak pergi ke kantor banyak email masuk yang dikirim oleh Asistennya
"Mas gimana perasaanmu sama Melati, setelah sekian lama apa kamu tidak menyukainya?" celetuk Mia.Entaj mengapa pertanyaan itu tiba-tiba terlontar dari mulutnya membuat Riko tertegun mendengarnya
__ADS_1
"Apa sih kamu tanya kok aneh-aneh!" Riko terlihat sedikit kesal dengan pertanyaan dari istrinya itu.
"Masa sih Mas, seorang laki-laki tidak jatuh cinta dengan perempuan yang sering disentuhnya tiap malam." Mia semakin menyudutkan Riko membuat Riko dengan susuh payah menelan salivanya.
"Kita kan sudah sepakat, kenapa mesti dibahas lagi.Kita melakukan semuanya untuk mendapatkan keturunan untuk menyelamatkan pernikahan kita bukan malah menghancurkannya!" tegas Riko dengan suara meninggi.
Mia hanya terdiam mendengar ucapan Riko, melirik ke wajah suaminya yang tiba-tiba memerah karena marah.
"Lalu apa kau akan menceraikannya setelah melahirkan anak kita?" tanyanya lagi.
Sejenak Riko terdiam, berpikir apakah akan melepaskan Melati. "Aku akan ...." bicaranya terputus karena tiba-tiba terdiam. "Jelas aku akan menceraikannya, aku hanya mencintaimu," pungkasnya.
"Tapi Mas, apa kamu nggak kasian sama Melati dia akan kehilangan bayinya dan kamu akan menceraikannya.Aku rela berbagi suami karena begitu juga dia mau merelakan hidupnya untuk menyelamatkan hidupku." Mia merasa prihatin akan nasib Melati jika benar itu terjadi padanya.
"Entahlah." Riko menatap tajam kearah Mia.Pikirannya masih kalut bingung dengan hatinya sendiri.
Malam pun beranjak pergi berganti pagi yang hangat.Setelah selesai sarapan Riko akan pergi ke kantor dan mampir sejenak melihat Melati.
Mobil Mercedes Benz itu melaju dengan kecepatan tinggi dan akhirnya sampai.
Terlihat Melati sedang duduk di teras sambil mengusap perutnya.Riko mendekatinya dan duduk disebelahnya.
"Kamu baik-baik saja, kan?" tanya Riko.
Melati mengangguk.
Auuuu
Melati mengaduh.
"Kenapa apa ada yang sakit?" Riko cemas.
"Anak Daddy baik-baik ya di dalam, jangan nendang Mommy kuat-kuat kasian nanti nangis, "kata Riko sambil terus mengelus perut melati.
"Apa an sih!" Melati menepuk bahu suaminya kesal.
"Udah sana pergi kerja udah siang ini!" usir Melati.
Akhirnya Riko beranjak pergi bekerja karena memang akan ada rapat di kantornya sementara Melati masuk ke dalam rumah.
***
Beberapa hari kemudian Melati merasa bosan dan akhirnya dia berencana untuk sekedar jalan-jalan di mall.Melati berencana menemui sahabatnya Melani untuk makan siang bersama.Melati duduk disebuah restoran di dalam mall itu dan memesan minuman sambil menunggu sahabatnya datang.Tangannya masih sibuk menelepon Melani tapi tidak ada respon.
"Kemana ini Melani," bisiknya kesal.
Tiba-tiba seseorang duduk di depannya dan menyapanya."Melati"
Melati terperanjat karena sedari tadi matanya fokus ke ponselnya hingga tidak melihat kehadiran orang itu.
"Kamu kaget gitu lihat aku, kayak lihat setan aja," seloroh Andika.
"Kamu Dika, aku kira Melani karena aku sedang menunggunya tapi entah kenapa dia tidak menjawab teleponku."
"Kamu masih berhubungan dengan Melani?" tanya Andika.
"Masih lah tapi beberapa bulan ini semenjak dia pulang dari Amerika."
"Ohh, kamu nggak sama suamimu?"
__ADS_1
"Nggak lah dia kan kerja, setiap hari tu dia kerja nggak pernah capek
" Melati menghela nafas panjang dengan ceritanya.
Tiba-tiba handphone Melati yang ditaruh diatas meja berdering.
"Pasti Melani," gumam Melati.Ia segera menjawab telepon yang ternyata bukan dari Melani melainkan Sari Ibunya.
"Halo.Assalamu'alaikum, Bu," jawabnya.
"Melati bisa kamu cepat datang kemari, ayah keadaannya kritis.cepat datanglah sayang!" kata ibunya dengan suara parau dan terdengar sesak.
"Apa Bu, apa yang terjadi dengan ayah bu?" tanya Melati cemas dengan suara terisak matanya meneteskan buliran bening.
"Cepatlah datang, Nak," sahut ibunya lagi.Tiba-tiba sambungan telepon terputus
"Bu, Ibu!" teriak Melati namun tidak ada sahutan karena sambungan telepon terputus "Ada apa Melati, apa yang terjadi kenapa kamu menangis?" tanya Andika cemas.
"Ayahku kritis, Ka.Aku harus segera kesana." Melati menghapus air matanya dan bangkit dari duduknya.Ia mengambil selembar uang dari dompetnya dan menaruh dibawah gelas minumnya.
Melati langsung berjalan pergi meninggalkan restoran itu, Andika menarik tangan melati menghentikannya.
"Biar aku antar ya, kebetulan juga aku mau pulang ke rumah orang tuaku." Andika menawarkan.
Andika adalah tetangga Melati di kampung yang juga teman masa kecil juga teman sekolahnya dulu.
Melati mengangguk dan segera menuju parkiran untuk segera naik mobil melaju menuju kampung dimana ayah ibunya tinggal.Jaraknya sekitar satu jam dari kota mereka tinggal.
Mobil Andika melaju dengan kencang menyusuri jalan-jalan yang sedikit lengang di siang itu.
Melati mencoba menghubungi suaminya untuk memberitahunya.
"Halo mas?"
"Ada apa mel, aku sedang makan siang dengan klien!"
"Mas, aku sekarang ada diperjalanan menuju rumah Ibu.Ibu menelpon, ayah sakit keras dan memintaku segera datang," ucap Melati.
"Apa, ayah sakit? siapa yang mengantarmu, pak Eko?" tanya Riko.
"Aku pergi dengan Andika kebetulan dia bersamaku tadi dan menawarkan untuk mengantarku agar cepat sampai."
"Apa maksudmu bersama Andika, bersama pria lain dan bukan suamimu.Kenapa tidak menungguku untuk pergi bersamamu!" kata Riko dengan suara makin meninggi.
"Sudahlah Mas aku nggak punya waktu banyak.Kita berjumpa dirumah Ibu, cepatlah datang," kata Melati sambil menutup telepon.
Mobil terus melaju dengan kencang menghempas debu-debu jalanan.
Sementara riko telah selesai makan dengan klien.Kliennya pun berpamitan untuk pergi, tanpa membuang waktu riko melaju dengan mobilnya menyusul melati ke rumah ibunya.
***
Sosok Riko menurut author,gimana menurut kalian pantas nggak Kim Hyun Bin jadi sosok riko komen ya?jika kalian punya visual sendiri tentang sosok Riko silahkan banget
Terima kasih yang setia terus membaca Terjebak Nikah Kontrak.
Bantu author ya dengan vote dan like terima kasih🙏
__ADS_1
salam sayang dan cinta yang banyak dari author❤️