
"Apa kamu tidak lapar, sekarang sudah jam 4 sore dan kamu belum makan?" tanya Riko.
"Aku masih mau melihat Nayya, Mas. Dia lucu sekali saat sedang tidur." Melati tersenyum menatap Nayya yang tengah lelap tidur. Pandangannya terus menatap Nayya tanpa mau mengalihkannya .
"Makanlah sebentar, Nayya kan sedang tidur, nanti asimu tidak keluar kalau kamu nggak makan. Aku juga sudah lapar banget," bujuk Riko. Ia langsung menarik tangan Melati. Perutnya sedari tadi sudah keroncongan minta diisi.
Melati pun menurut kata suaminya dan mereka berjalan menyusuri tangga beriringan. Melati pergi ke dapur dan beberapa saat kemudian kembali membawa sepiring makanan komplit beserta lauknya. Dia menaruh piringnya diatas meja. Riko yang menunggu di meja makan bingung, Melati hanya mengambil makanan untuknya saja.
"Mana makananku?"tanya Riko.
Melati mendekat dan duduk disebelah suaminya beserta makanan di piringnya.
"Ini, kita makan sepiring berdua."
Riko melongo lalu tersenyum kerena ternyata istrinya itu cukup romantis seperti judul sebuah lagu.
"Kamu pasti ingin aku menyuapi mu?" terka Riko.
Riko lalu menyendok makanan dan menyuapkan nya ke mulut Melati.
"Mmm, enak." Melati berdecak menikmati makanannya.
Lalu bergantian Riko menyuapkan makanan ke mulutnya sendiri.
Setelah selesai makan Melati mencuci piring yang telah dipakainya makan tadi.
Melati dan Riko pun kembali ke kamar untuk melihat Nayya. Melati masuk ke dalam kamar terlihat ibunya sedang menggendong menenangkan Nayya yang menangis.
"Ibu disini?"
"Tadi Ibu mendengar Nayya menangis jadi ibu datang kesini."
"Sini gendong Mommy, sayang. Sini biar aku susui dia, Bu." Melati mengambil Nayya dari gendongan ibunya. Lalu ibunya melangkah pergi meninggalkan kamar.
Melati pun duduk diikuti suaminya. Kemudian Melati mulai menyusui Nayya.
"Aku tidak ingin lagi berpisah dari Nayya Mas. Aku ingin selalu bersamanya dan memberi dia asiku," ucap Melati sambil mengelus kepala Nayya.
Riko terdiam mendengar ucapan Melati, matanya memperhatikan dua orang yang dicintainya itu. Ada rasa bersalah dalam benaknya karena tidak bisa melakukan sesuatu untuk membuat ibu dan anak itu selalu bersama tanpa ada yang memisahkan.
"Aku ingin keluar dari belenggu ini dan hidup normal. Bisakah kamu menceraikan ku dan kembalilah bersama Mbak Mia," pinta Melati lirih. Ia benar-benar sudah lelah dengan kehidupannya yang menjadi orang ketiga diantara Mia dan Riko.
"Kenapa kamu berkata seperti itu sayang?"
"Aku lelah dengan semua ini, aku lelah harus menunggu kapan Nayya bisa bersamaku dan aku menganggap benar ucapan Mbak Mia," ucap Melati sambil merebahkan Nayya yang tertidur di ranjang.
"Ucapan yang mana?" tanya Riko matanya melirik kearah Melati.
"Kalau aku ini penghianat, aku merebut mu darinya. Aku orang ketiga diantara kalian," tukas Melati.
Dia menundukkan wajahnya dan mengusap kasar wajahnya.
"Sudahlah jangan hiraukan perkataan Mia, dia itu sedang marah jadi bicaranya ngelantur kemana-mana," ucap Riko memeluk tubuh istrinya erat.
Sore hari sekitar pukul 5 sore Riko akan mengembalikan Nayya kepada Mia. Riko mengemudikan mobilnya bersama Melati yang ikut dengannya. Mobil berlalu pergi meninggalkan rumah itu.
__ADS_1
***
Mia tengah duduk di kursi dekat ranjang tidur Nayya. Sedari tadi dia memandanginya tanpa cela. Mia memeluk selimut Nayya dan menciuminya.
'Sayang mama kangen, Nak,' batin Mia.
Mia begitu menyayangi nayya seperti anak kandungnya sendiri. Setelah sekian lama menanti akhirnya dia bisa mencurahkan segala kasih sayangnya kepada seorang anak yang dinanti-nantikan.Tapi sayang rumah tangganya menjadi timbal balik dari kebahagiaannya kini. Mia mengusap air mata yang mengalir dari pelupuk matanya. Dia mengingat kembali pertemuannya dengan Melati dan memohon-mohon kepada Melati agar mau menikah dengan suaminya. Tekadnya sudah bulat karena rasa sakit yang selalu dia rasakan dari keluarga Riko yang terus menghinanya sebagai wanita mandul. Rasa sakit itu pula yang membuatnya memaksa suaminya menikah lagi dan melupakan rasa sakitnya sebagai seorang istri harus berbagi cinta dengan wanita lain.
Dia lupa jika seorang suami diberikan kesempatan bebas dengan wanita lain kelak wanita itu akan merebut suaminya darinya dan kenyataan itulah yang sekarang dialaminya.
"Seharusnya dulu aku tak senekat itu tapi aku bahagia memiliki Nayya," ucapnya lirih.
"Aku akan berusaha membuat papamu kembali padaku dan kita akan hidup bahagia," tambahnya lirih.
"Tok ... tok ... tok ...."
Terdengar suara pintu diketuk dan seseorang membuka pintu.
"Non Mia, ada Den Riko sama Non Melati," ucap pembantunya.
Mia mengusap matanya yang memerah karena menangis dan segera dia berjalan turun kebawah menemui Riko yang tengah duduk di sofa ruang tamu bersama Melati duduk disampingnya.
Batinnya kesal harus memandang pemandangan yang membuatnya muak. Dia berusaha menahan amarahnya agar tidak terjadi lagi keributan di rumahnya. Riko tidak akan pernah membelanya dan akan tetap dirinya yang disalahkan.
Perlahan Mia berjalan mendekati Melati yang menggendong Nayya
"Sayang kamu sudah kembali, Nak." ucap Mia penuh kasih sayang. Ia mengambil Nayya dari gendongan Melati.
Mia menciumi Nayya dengan penuh kasih sayang matanya memancarkan kasih sayang tulus seorang ibu.bMelati yang memperhatikannya menjadi senang dan lega anaknya di asuh oleh seorang perempuan yang lembut dan penuh cinta.
"Mbak Mia, ini asi untuk Nayya. Beberapa hari kemarin aku memompa asiku, karena ******** ku selalu penuh jadi aku memompanya. Aku mohon berikan ini untuk Nayya." Melati meletakan kotak diatas meja.
"Bik, " teriak Mia memanggil membantunya.
"Iya, Non."
"Tolong simpan asi perah ini ke freezer ya!"
"baik Non," sahut ART nya dan membawa kotak itu ke dapur.
Melati terus memperhatikan Mia dengan lembut mengelus kepala Nayya dan mendekap Nayya yang tengah tertidur.
'Mungkin aku salah jika merebut Nayya dari orang yang benar-benar menyayanginya. Aku merasa Mbak Mia lebih pantas menjadi ibunya daripada aku. Mommy lega Nak, kamu bersama orang yang begitu menyayangimu,' batin Melati.
"Mbak Mia, terima kasih sudah mencintai dan menyayangi Nayya," ucap Melati tersenyum tulus.
"Apa maksudmu, Nayya adalah anakku sudah sepantasnya aku mencurahkan segala kasih sayangku padanya!" sewot Mia dengan nada sedikit meninggi.
Melati hanya tersenyum.
"Baiklah aku akan pulang dulu, izinkan aku menggendongnya sekali lagi," pinta Melati mendekati Mia lalu menggendong kembali Nayya.
Melati mencium Nayya beberapa kali.
'Mommy pamit ya Nak, bahagia lah bersama mama dan papamu. Mommy pasti akan merindukanmu,' batin Melati.
__ADS_1
Buliran air mata jatuh membasahi pipinya dan segera dia mengusap air matanya sebelum terlihat Mia dan Riko suaminya. Melati menyerahkan kembali Nayya kembali ke Mia.
"Mas, kamu disini saja, aku akan naik taxi," ucap Melati seraya mengambil tas di sofa.
"Aku akan pulang bersamamu," sahut Riko menarik tangan Melati dan beranjak dari duduknya.
"Kamu disini saja sudah lama kamu tidak tidur disini, Mbak Mia juga istrimu," pinta Melati mendorong suaminya duduk kembali.
Kemudian Melati melangkah pergi meninggalkan rumah mewah itu. Riko hanya terdiam memperhatikan Melati yang melangkah pergi meninggalkannya.
Melati berada di mobil taxi, air matanya tumpah membasahi pipinya. Sekuat tenaga dia menahan air matanya agar tidak tumpah saat dirumah Mia tadi. Matanya menatap jendela dan sesekali dia mengusap air matanya. Sekitar dua puluh menit akhirnya Melati sampai di rumahnya. Dia membuka pintu mobil taxi dan keluar berjalan masuk ke rumahnya.
Terlihat ibunya tengah melihat TV bersama Mawar. Melati langsung memeluk ibunya.
"Ada apa, Nak?" tanya Sari cemas. Mawar juga bingung melihat kakaknya tiba-tiba pulang menangis.
"Bu, ayo kita pergi dari sini, kita akan pindah!" putus Melati.
Sari terperangah mendengar ucapan putrinya.
"Apa maksudmu sayang?" tanya Sari masih bingung.
"Aku akan meninggalkan masa Riko dan membiarkan mereka hidup bahagia tanpaku," ucap Melati tegas.
"Apa kamu yakin?"
"Melati yakin Bu. Mbak Mia begitu menyayangi Nayya. Nayya akan hidup bahagia bersama mama dan papanya aku hanya penghalang kebahagiaan mereka," ucap Melati seraya menghapus air matanya.
"Baiklah kalau itu sudah menjadi pilihanmu Ibu hanya bisa mendukungmu," ucap Sari mengelus punggung anaknya lembut.
Kemudian mereka segera membereskan barang- barang yang akan mereka bawa. Melati mengambil baju-baju di dalam lemari dan memasukannya ke dalam koper kemudian dia melihat kotak-kotak perhiasan yang diberikan Riko sesaat dia tertegun memandanginya dan kembali menutup lemari tanpa membawa satu pun perhiasan itu.
Melati meninggalkan semua barang-barang pemberian Riko dan hanya membawa beberapa helai pakaian. Setelah selesai Melati duduk terdiam memandangi seisi kamar itu membayangkan kebersamaannya bersama Riko.
"Terima kasih telah mencintaiku dan memberiku arti hidup," ucapnya lirih matanya terpaku pada foto pernikahan yang menempel di dinding kamar itu.
"Mbak, ayo cepat Mas Dika sudah menunggu di bawah," teriak Dani sambil mengetuk pintu.
"Iya Mbak sudah selesai," ucap Melati dan berjalan menyeret koper menuruni tangga.
Melati sudah menelepon Andika untuk menjemputnya saat perjalanan pulang dari rumah Mia.
Terlihat semua keluarganya sudah menunggunya. Andika tersenyum saat Melati menatapnya.
"Apa kamu sudah siap?" tanya Andika.
Melati mengangguk.
Kemudian mereka berpamitan kepada bik Minah dan mbak Yanti. Melati menitipkan sepucuk surat kepada bik Minah untuk diberikan kepada suaminya. Lalu mereka berjalan keluar dan memasukan beberapa tas dan koper ke dalam bagasi.
Ibu dan kedua adiknya sudah berada di dalam mobil sementara Melati masih memandangi rumah yang setahun terakhir ditempatinya. Rumah yang memberinya kehidupan dan cinta.
'Selamat tinggal rumahku cintaku,' batin Melati. Matanya menitikkan air mata lalu segera mengusapnya.
Kemudian dia masuk mobil duduk disamping kemudi. Andika melajukan mobilnya meninggalkan rumah mewah itu.
__ADS_1
...----------------...
Jangan lupa vote, like dan komennya ya😊terima kasih🙏