Terjebak Nikah Kontrak

Terjebak Nikah Kontrak
Bab 64 ( Makan Malam )


__ADS_3

Sekitar pukul 7 malam,Riana sudah berada dirumah Kakaknya bersama dengan Nani.Balutan dress berwarna hitam selutut dengan kerah v neck membuat penampilannya nampak anggun ditambah make up bold yang diaplikasikan dimatanya menambah kesan glamor.


"Wah...wah cantik sekali Adik Kakak." ucap Riko menatap Riana dari ujung kaki sampai rambut.


Riana kemudian mendekat mencium Kakak iparnya lalu bersalaman dengan Sari juga Dani dan Mawar yang berkumpul di ruang tamu.


"Mana Mami?" tanya Riko.


"Mami tidak enak badan jadi nggak ikut," terang Riana mendudukan tubuhnya di samping Melati.


"Tok...tok...tok." Terdengar suara pintu diketuk dari luar.


Bik Lina segera mengayun langkah menuju daun telinga tapi langkahnya dihentikan. " Biar saya saja Bik," ucap Riana bangun dari duduknya kemudian berjalan ke daun pintu.


Sesosok pria tampan berdiri di depan pintu dengan setelan jas rapi membuat penampilannya nampak resmi.


"Erick," ucap Riana.


Erick tersenyum tipis menampakkan lesung pipit yang membuat semakin manis.


Dek


'Uh...hatiku benar-benar meleleh,' pekik Riana memandang pujaan hatinya.


"Ayo masuk," ucap Riana mempersilahkan.


Erick masuk ke dalam rumah berjalan dibelakang Riana.


"Selamat malam Tuan Riko,Nyonya Melati juga Keluarga," ucap Erick menyapa seluruh orang di ruangan itu.


"Langsung ke meja makan saja," ucap Riko mengajak ke ruang makan.


Beragam jenis masakan telah tertata rapi di meja lalu Mereka mengelilingi meja itu untuk segera menyantap makan itu.


Dentuman sendok dan garpu yang saling beradu saat makan malam itu berlangsung.


Riana duduk tepat di samping Erick senyumnya terus mengembang melayani Erick.


.


.


"Terima kasih Tuan sudah mengundang saya untuk makan malam," ucap Erick sopan.

__ADS_1


"Aku sudah menganggapmu seperti Adikku sendiri jadi jangan terlalu resmi kalau diluar kantor," pinta Riko.


"Baik Tuan," jawab Erick.


"Duduklah!" perintah Riko.


Keduanya duduk dikursi dibawah cahaya bulan dan tabura bintang dilangit yang membuat suasana malam itu begitu indah.


"Bagaimana kelanjutan kasus Angel?" tanya Riko menatap Erick.


"Mbak Angel sudah ditetapkan sebagai tersangka dan sidangnya akan dilakukan Minggu depan," tutur Erick.


Dari kejauhan nampak Riana membawa nampan mendekat. "Silahkan kopinya," ucap Riana meletakkan cangkir ke meja.


"Hhmmm," Riana berdehem menatap Riko dan mengedipkan matanya beberapa kali memberi isyarat.


"Oh iya aku akan lihat Nayya dulu,tetaplah disini nikmati kopimu," ucap Riko membawa cangkir kopinya meninggalkan balkon.


Suasana nampak hening sepeninggal Riko hanya suara jangkrik yang terdengar.


"Mm...kenapa kamu datang sendiri?" tanya Riana memulai percakapan.


"Maksudnya?" Erick balik bertanya.


"Pacar, Aku tidak punya pacar." jawab Erick enteng.


"Masa pria setampan dirimu tidak memiliki pacar," seloroh Riana.


"Betul, Aku memang tidak punya pacar.Pekerjaanku yang selalu sibuk membuatku tidak punya waktu untuk sekedar pacaran," tutur Erick tersenyum tipis lalu menyeruput kopi dari cangkir.


Riana mengembangkan senyumnya mendengar penuturan Erick


"Apa kita bisa berteman?" tawar Riana.


"Uhuk...uhuk." Erick tersedak.


Riana langsung mendekat memukul punggung Erick."Pelan-pelan minumnya."


"Terima kasih," ucap Erick seraya mengatur nafasnya kembali normal.


"Jadi mau berteman denganku tidak?" tanya Riana setelah kembali duduk di kursinya.


"Tentu Ria-na." Jawab Erick terbata-bata.

__ADS_1


"Jadi deal kita temenan," ucap Riana mengulurkan tangannya.


"Temenan," jawab Erick menjabat tangan Riana.Keduanya tersenyum saling menatap.


Sekitar 10 malam Erick berpamitan lalu melangkah keluar dari rumah Riko.Riana beranjak pergi setelah berpamitan lalu berlari keluar mengejar Erick.


"Erick," pekik Riana lalu berlari menuju mobil Erick yang telah berada di dalam mobil dan bersiap pergi.


"Ada apa?" tanya Erick membuka kaca jendela mobilnya.


"Bisa antar aku pulang tadi aku naik taxi kesini,mobilku di bengkel," terang Riana.


"Masuklah!"


Riana membuka pintu mobil lalu masuk kedalam mobil duduk disamping kemudi.


Erick melajukan mobilnya menuju kediaman Riana.


20 menit kemudian mobil Erick berhenti di halaman rumah Riana.


"Apa mau mampir dulu?" tanya Riana.


"Nggak usah lagian sudah malam." Tolak Erick.


Riana menatap Erick menghela nafas panjang. " Erick bisakah kita menjadi teman dekat,jujur aku bukan tipikal orang yang bertele-tele, Aku menyukaimu."


Erick terperangah mendengar kejujuran Riana tentang perasaannya tapi hatinya juga merasakan kegalauan yang tidak mampu diungkapkannya.


"Kenapa,Apa ada orang lain di hatimu?" tanya Riana lirih.


"Bukan seperti itu tapi aku menyadari siapa diriku," terang Erick menatap Riana dengan tatapan bersalah.


Riana langsung keluar dari mobil menutup pintu mobil kasar lalu berlari menuju rumahnya.


Sementara Erick hanya terdiam menatap Riana dengan tatapan sedih hingga hilang di balik pintu.


Riana melempar tasnya kasar ke ranjang seketika berada di dalam kamarnya.


"Kenapa aku begitu konyol, kenapa Aku tidak bisa menahannya." Kesal Riana duduk di tepi ranjang.


'Harusnya aku bisa menahannya, bagaimana aku bertemu dengannya besok?' batin Riana mengigit jarinya sendiri.


***

__ADS_1


__ADS_2