
Melati bersama ibu dan kedua adiknya tengah menikmati sarapan.
"Apa suamimu pulang semalam, Melati?" Sari mendengar kabar itu dari Dani.
Melati mengangguk.
"Dimana dia kenapa tidak ikut sarapan?"
"Masih tidur Bu, biarkan saja"
"Bu, kita berangkat dulu nanti raut terlambat." Pamit Dani dan Mawar mencium tangan Ibu juga Kakaknya.Keduanya melangkah pergi.
"Apa mau suamimu Melati, kenapa dia kembali lagi setelah sebulan tak pernah kesini?" telisik Sari.Ia merasa menantunya itu sedang mempermainkan perasaan Melati dan takut jika Melati menyimpan rasa karena semua itu hanya akan menyakitinya.
"Entahlah Bu, Melati juga tidak mengerti," jawab Melati.Memasukan makanan ke mulutnya.
"Ibu melihat ada cinta dimatanya saat memandangmu," ungkap Sari.
Melati terkejut dan hampir tersedak mendengar perkataan Ibunya.
"Pelan-pelan makannya Melati.Ini minum." Menyodorkan segelas air putih.
Melati segera meminum air dan mengatur nafasnya.
Setelah selesai sarapan melati membawa satu tangkup roti dan segelas susu ke kamarnya yang di letakannya di atas nakas.
Riko terbangun mendengar kedatangan Melati.
"Ini sarapanmu,makanlah!" Melati beranjak pergi.
"Tunggu Melati!"
Melati berhenti dan berbalik jalan kearah Riko. "Ada apa?"
"Duduklah!" kata Riko.
Melati duduk tepat di hadapan Riko yang masih berselimut.
"Maafkan aku, semalam aku mabuk jadi ucapanku ngelantur kemana-mana," kata Riko menghela nafas panjang.
Ada rasa sedikit kecewa di hati Melati dan itu lah yang selalu di dapatnya karena membumbui pernikahan kontrak dengan cinta.Bukan salah Riko namun semua kesalahannya sendiri.
"Aku tahu, tapi kenapa kamu pulang?"
"Entahlah aku tidak sadar, kenapa aku malah pulang kesini," kilah Riko.
"Aku sungguh tidak mengerti apa maumu, kenapa kamu lakukan ini kepadaku, tak bisakah kau mengabaikanku dan menganggapku sebagai istri kontrak saja!" cerca Melati menatap tajam ke arah Riko.
Riko hanya terdiam mendengar ucapan Melati.Semua seperti di luar kendalinya ketika pikirannya hanya tertuju kepada Melati tapi ketika bersamanya malah menyakitinya.
'Aku sudah berusaha tapi ini sangat sulit bagiku.Aku sendiri bingung dengan diriku sendiri,' batin Riko.
"Kamu sungguh mencintai istrimu Mia, jadi jangan sakiti dia.Pergilah, jangan menemui aku lagi, aku bisa mengatasi hidupku sendiri!" tegas Melati.Melangkah pergi meninggalkan Riko seorang diri.
Riko masih tertegun mendengar ucapan Melati.Dia tak menyangka ucapan itu bisa keluar dari mulut Melati.
"Melati.Melati!" pekik Riko.
Melati tak menghiraukannya dan terus melangkah.
__ADS_1
"Melati ,aku sakit," pekik Riko.Memegangi kepalanya yang terasa berat.
Melati berhenti, terdiam sejenak.Lalu kembali ke tempat Riko berada.Nalurinya tidak mungkin membiarkan seseorang yang kesakitan mengabaikannya begitu saja. "Mana yang sakit?"
"Kepalaku pusing dan berat, bisakah kamu mengambilkanku obat?"
"Baiklah tunggu sebentar." Melati melangkah pergi, menghilang di balik pintu kamar itu.
Beberapa menit kemudian Melati kembali dengan segelas air dan obat.Lalu segera disodorkannya obat itu kepada Riko untuk segera meminumnya.
***
Hari ini Melati membuat janji bertemu Melani sahabatnya setelah beberapa Minggu lalu Ia pergi begitu saja saat mendapat telepon Ayahnya sakit keras hingga membuat janji temunya batal.
Seorang pelayan restoran menaruh segelas minuman ke meja Melati.Sementara Melati masih terpaku dengan gawai ditangannya.
"Woi!" Tiba-tiba suara seseorang mengagetkannya.
"Melani." Melati kegirangan melihat sahabatnya datang.
Kedua sahabat itu berpelukan menumpahkan semua kerinduan.Sejak Melani kuliah di Singapura, mereka tidak bisa bertemu.Setelah beberapa tahun akhirnya Melani kembali ke Indonesia.
"Aku dengar kamu sudah menikah dan sekarang kamu hamil." Melani tersenyum bahagia sambil mengelus perut Melati yang sedikit membuncit.
Melati mengangguk.
"Siapa orang yang beruntung menikahi sahabatku yang cantik ini?" Melani antusias mendengar kisah cinta sahabatnya itu.
Melati menggelengkan kepala.
"Kenapa sih kamu ini,sakit gigi?sini ponselmu." Melani merebut ponsel Melati yang berada di tangannya.
"Sudahlah Melani, kita ketemu bukan mau bahas suamiku."
"Pokoknya aku harus lihat dan memastikan seperti apa orang yang berhasil menaklukan sahabatku yang cantik ini!" kekeh melani, menjewer pipi Melati gemas.
"Siapa namanya biar aku telepon?" Melani belum menyerah dengan keinginannya.Ia menscrol nama-nama yang ada di kontak ponsel Melati
"Nggak usahlah Melani, dia sibuk," kilah Melati.Ia tidak ingin sahabatnya nitu mengetahui nasib pernikahannya yang hanya sebuah perjanjian.Terlalu malu dirinya karena sama saja menjual diri demi uang.
"Cepat katakan, kalau nggak aku marah!" ancam Melani.
"Riko." Melati akhirnya pasrah dengan ancaman dari sahabatnya itu."Tapi hanya telepon saja jangan menyuruhnya datang!" tegas Melati.
Melani mengangguk dengan seringai liciknya.Suara tidak akan bisa membuatnya menerka seperti apa suaminya sahabatnya itu.
Dua puluh menit kemudian seorang pria datang kearah meja mereka tak lain Riko yang telah datang.
"Kau menyuruhnya datang!" Melati mendelik ke Melani namun Melani hanya nyengir dengan aura kemarahan dari sahabatnya itu.
Pria yang bernama Riko semakin mendekat membuat Melani tertegun dengan ketampanan Riko.Pria dengan tampilan eksekutif muda tampak memukau sangat serasi dengan sahabatnya yang punya kecantikan diatas rata-rata.
"Pantes Melati mau dinikahi, orangnya ganteng kayak gini," celetuk Melani.Melani mengulurkan tangan ke arah Riko yang sudah berada di depannya.
"Melani"
"Riko." Riko menjabat tangan Melani dengan senyum memukaunya.
"Uh." Melani melenguh dengan senyum yang semakin menambah ketampanan pria itu.
__ADS_1
Seketika Melati mencubit perut Melani dengan aksinya.
"Biarkan aku menikmati sedikit ketampanan suamimu," bisik Melani yang langsung ditatap tajam Melati.
Riko duduk bersama dengan Melati dan Melani.Melati masih sedikit angkuh tak menghiraukan Riko yang terus tersenyum menatapnya.
"Melati suamimu datang, masa sedingin ini kalian." Melani tampak merasa aneh dengan pasangan suami-istri yang seperti tidak saling mengenal ini.
"Apa sih kamu Melani, dia kan sibuk kenapa kamu ngotot banget pengen ketemu!" keluh Melati dengan nada kesal.
"Nggak apa-apa kok sayang, aku nggak sibuk jika menyangkut tentang kamu." Riko mencuri kesempatan mencium pipi Melati lalu mengelus serta mencium perut Melati karena saat itu keduanya ditatap Melani membuat Melati pasrah akan perlakuan Riko.
Melani tersenyum bahagia melihat pasangan suami istri itu membuatnya baper ingin segera meresmikan hubungannya dengan sang pacar.
"Mas Riko beruntung banget bisa menikahi sahabatku yang cantik dan baik ini," seru Melani.
Melati semakin kesal mendengar Melani kembali mencubit pinggang Melani kedua kalinya sementara Riko hanya tersenyum.
"Aku mau kalian tetap bahagia,kalau sampai Mas Riko menyakiti sahabatku ini, aku nggak akan tinggal diam!" ancam Melani.
"Pasti aku akan selalu membahagiakannya!" tegas Riko.
Melati yang mendengar ucapan Riko hanya terdiam.
'Entah apa yang sedang mereka bicarakan.kenyataannya toh sebaliknya dia selalu menyakiti aku,'batin Melati.
Cukup lama mereka berbincang.Akhirnya mereka berpamitan dan berpisah.Melani pergi dengan mobilnya sementara Riko mengantar Melati pulang.
Saat berada di mobil Melati hanya terdiam membisu.Sikapnya begitu dingin tidak menghiraukan Riko.Pandangannya terus fokus ke luar jendela mobil.
Riko menggenggam tangan Melati namun Melati terus menepisnya membuat Riko meminggirkan mobilnya.
Melati berusaha menarik tangannya yang berhasil digenggam Riko.Ia masih terlihat sangat kesal dengan memperlihatkan sikap dinginnya.
Riko memeluk paksa tubuh Melati dengan erat.Melati terus memberontak dari pelukan Riko.Bukannya melepas, Riko berusaha mencium bibir Melati.Melati terus memberontak, mendorong tubuh Riko membuatnya sedikit terhempas.
"Apa maumu, kenapa kamu memperlakukan aku sesukamu.Aku bukan boneka yang bisa kau perlakukan semaumu.Aku punya hati dan perasaan!" pekik Melati.Air matanya menitik dengan kesedihan karena merasa sedang dipermainkan suaminya kontraknya itu.
Riko menatap lembut dan dalam kearah Melati, menyiratkan kerinduannya akan sosok di depan matanya.Rasanya ingin diluapkan kerinduan yang tak bisa lagi dibendungnya.Kerinduan itu begitu memenuhi relung-relung hatinya hingga ingin meluapkannya saat itu juga.
"Maafkan aku yang selalu menyakitimu tapi jangan bersikap dingin kepadaku.Sungguh ini membuatku gila." menggenggam tangan Melati dengan tatapan memelasnya.
"Lalu apa maumu, aku hanya istri kontrak.Setelah ini selesai kita akan-"
Belum selesai berbicara Riko ******* bibir Melati yang berbalut lipstik berwarna nude pink.Riko mencium penuh tuntutan menahan tubuh Melati yang terus meronta.
Melati mendorong Riko yang tengah menikmati kelembutan bibirnya.
"Apa semua ini!tolong jangan perlakukan aku seperti ini!" pekik Melati meluapkan kekesalannya.
"Aku tidak mengerti apa ini, tapi aku ingin selalu bersamamu.Aku seperti orang gila tanpamu, aku semakin gila melihatmu bersama pria lain," ungkap Riko.Menatap wajah wanitanya semakin dalam.
"Tapi mbak Mia, kamu mencintai Mbak Mia.Apa kamu lupa tujuan menikahi ku!" tegas Melati.
"Entahlah, aku hanya mengikuti hatiku dan mencurahkan semua yang ada dalam hatiku." Riko terus memandangi dan membelai wajah yang sangat dirindukannya itu.
Rasa cinta di hati Melati akhirnya bisa merobohkan dinding pertahanannya hingga ikut mencurahkan kerinduan yang selama sebulan ini dipendamnya.Kesibukannya mengurus bisnis barunya sedikit mengalihkan rasa sakit karena diabaikan suaminya namun dalam diam Ia tetap menyimpan rasa itu.
Sepasang suami istri itu saling mencurahkan semua perasaan dan kerinduannya bak sepasang kekasih yang dimabuk asmara.
__ADS_1
***