
Riko pulang ke rumah untuk mengambil bayi Nayya uy dipertemukan dengan Melati. Terlebih dahulu Riko meminta izin kepada Mia.
"Aku ingin membawa bayi Nayya untuk bertemu Melati," izin Riko
"Untuk apa Mas, dia masih begitu kecil tak mengerti apa-apa. Kenapa mau dibawa ke rumah sakit?"
"Aku berharap Melati akan sadar dari komanya setelah bertemu dengan Nayya. Mereka ibu dan anak pasti punya ikatan batin yang kuat."
"Baiklah bawa dia tapi aku ikut denganmu," terang Mia melirik kearah Riko.
Dirumah sakit
Riko meminta izin kepada perawat untuk masuk ke ruang ICU bersama bayinya. Awalnya perawat melarang karena bayi Nayya masih sangat kecil tapi Riko terus memohon dan akhirnya perawat memperbolehkan dengan syarat tidak lebih dari 10 menit.
Tidak membuang waktu lama Riko segera masuk ke ruang ICU bersama bayi Nayya sementara Mia menunggu diluar dan melihat dari balik jendela kaca.
Riko mendekati Melati, menidurkan bayi Nayya di dekatnya dan memegangkan tangan Melati ke kepala bayi Nayya.
"Sayang lihatlah siapa yang datang, apa kamu bisa merasakannya, Ainayya anak kita datang untuk menemuimu. Kamu tahu aku menamainya sesuai keinginanmu Ainayya Hikari, katamu ingin menamai bayi ini dengan nama itu. Nayya sangat membutuhkanmu jadi cepatlah bangun. Dia tak bisa berlama-lama disini jadi temui lah dia dirumah. Nayya menunggumu," ucap Riko lirih ditelinga Melati.
Riko menciumkan bayi Nayya ke pipi Melati lalu membawanya keluar karena perawat sudah memanggilnya untuk keluar.
Riko memberikan Nayya kepada Mia untuk segera membawanya pulang. Lalu dia kembali masuk ke dalam ruang ICU.
"Apa kamu senang sekarang, aku sudah memenuhi janjiku tapi aku mohon tepati lah janjimu untuk bangun," ucap Riko memegang erat tangan Melati.
Melati menitikkan air mata, perlahan membuka matanya. Segera Riko berteriak memanggil Dokter. Dokter datang segera memeriksa Melati.
"Gimana keadaan istri saya Dokter?"
"Ini sebuah keajaiban payk kondisi Ibu Melati sangat baik, nanti kita akan pindahkan ke ruang perawatan VVIP," ucap Dokter lalu pergi meninggalkan ruangan itu.
Beberapa perawat memindahkan Melati ke ruang perawatan perawatan.
Riko sangat bahagia dia memeluk dan mencium Melati meluapkan kerinduan yang seminggu ini dipendamnya.
"Terima kasih sayang kamu menepati janjimu bahkan lebih cepat daripada dugaanku," ucap Riko dengan muka sumringah.
Melati masih tampak lemah dan pucat terbaring diatas tempat tidur.
"Terima kasih sudah membawa Nayya kesini," ucap Melati pelan suaranya hampir tak terdengar Riko.
"Apa kamu bisa merasakan kehadirannya?"
Melati mengangguk
__ADS_1
"Bagus cepat sembuh kita akan pulang menemui Nayya," ucap Riko tersenyum.
Tok ... tok ... tok.
Terdengar pintu diketuk.
Sari, Dani dan Mawar masuk ke ruangan dan langsung memeluk erat Melati. Ibunya meneteskan air mata.
"Kenapa Ibu malah nangis, Melati sudah ada disini Bu." Melati menghapus air mata Ibunya.
"Ibu bahagia sangat bahagia, ini air mata bahagia. Terima kasih nyak sudah berusaha kuat, Ibu sangat takut kehilanganmu." Sari kembali memeluk Melati, meluapkan segala kerisauan yang dipendam nya selama seminggu ini.
"Sudah bu jangan risau lagi Melati sudah kembali ke pelukan Ibu." Melati tersenyum dan seluruh orang di ruangan itu ikut tersenyum bahagia.
3 hari kemudian
Keadaan Melati sudah membaik dan diperbolehkan pulang.
Melati berbaring di kamarnya dibantu riyko.
"Kamu nggak kerja Mas, beberapa hari ini kamu terus menemani aku di rumah sakit?"
"Semua sudah diurus sama Asistenku, jadi tenang saja sebulan nggak kerja juga nggak papa," ucap Riko enteng.
"Kamu kok gitu sih!" ucap Melati sedikit kesal.
"Aku akan mengambil makanan untukmu,"ucap riko melangkah pergi mengambil makanan untuk Melati.
Beberapa menit kemudian Riko kembali dengan membawa nampan berisi makanan dan minum Melati.
"Ayo cepat makan, aku akan menyuapimu?"
Riko menyendok makanan dan menyuapkannya ke mulut melati. Riko dengan telaten menyuapi melati sambil terus memandangi wajah Melati, Riko terus tersenyum.
"Kenapa dari tadi kamu senyum terus, apa ada yang aneh di wajahku?" Melati mengusap wajahnya kasar.
"Tidak ada yang aneh." Riko menarik tangan Melati yang mengusap-usap wajahnya.
"Lalu kenapa kamu terus tersenyum?"
"Aku hanya bahagia melihat wajahmu, aku bahagia bersamamu, semakin hari aku semakin jatuh cinta dan tergila-gila padamu. Rasanya aku mau mati ketika kamu koma kemarin.bJangan pernah lagi kamu meninggalkanku!" tegas Riko.
Melati hanya tersenyum tidak mengatakan apapun.
Selesai makan Riko membantu Melati meminum obat.
__ADS_1
"Mana janjimu akan membawa Nayya kesini, aku ingin sekali melihat dan menggendongnya," pinta Melati sedikit merengek.
"Kamu ini udah emak 1 anak tapi tingkahmu masih kayak bocah." Riko menarik hidung Melati gemas.
"Apa dia cantik, seperti apa dia?Aku ingin sekali melihatnya, apa kamu punya fotonya?"
"Dia cantik seperti mommy nya dan kalian punya mata yang sama yang membuat aku jatuh cinta." Riko menyodorkan ponselnya pada Melati memperlihatkan foto bayi mereka.
"Nayya cantik sekali pasti dia mirip Daddy nya. Melihat fotonya saja sudah membuatku gemas apalagi kalau aku menggendongnya,"melirik kearah Riko.
"Kamu begitu gemas lihat Nayya, kenapa kita tidak membuatnya lagi satu yang seperti Nayya?" ucap Riko menatap Melati dengan genit.
"Kamu mulai lagi, ih!" ucap Melati kesal memukul-mukul tubuh riko.
Riko cekikikan bahagia karena berhasil membuat istrinya kesal.
"Baju kamu kok basah sayang?" tanya Riko menunjuk ke dada Melati.
"Iya asiku keluar terus, apa boleh aku memberi asi untuk Nayya, Mas?"
"Kenapa kamu bertanya seperti itu, Nayya adalah putrimu."
"Aku merasa tidak berhak memiliki Nayya, karena ada seorang Ibu yang menantikannya bertahun-tahun." Melati menghela nafas panjang.
"Tidak ada yang lebih berhak memiliki anaknya kecuali Ibu kandungnya yang selama sembilan bulan mengandung dan mempertaruhkan nyawanya untuk membuat bayinya melihat dunia."
"Kenapa kamu berkata seperti itu Mas, apa kamu ingin mengakhiri drama ini. Kamu akan menyakiti Mbak Mia juga keluargamu."
"Tapi jika diteruskan akan menyakitimu, aku sudah berjanji tidak akan menyakitimu lagi," ucap Riko menatap mata Melati.
"Aku baik-baik saja Mas, lebih baik kamu melepaskan aku. Aku relakan Nayya untukmu dan Mbak Mia.bMulailah hidup bahagia bersama Mbak Mia."
"Apa kamu sama sekali tidak mencintaiku lalu ingin meninggalkanku, kau ingin bersama Andika?" Riko meneteskan air mata.
"Bukan seperti itu Mas, aku hanya ingin semua berjalan semestinya aku tidak ingin melukai Mbak Mia dan keluargamu." Melati memeluk Riko.
"Tapi kamu akan menyakitiku, aku mencintaimu dan hanya mencintaimu."
Melati terperangah mendengar ucapan Riko dan melepaskan pelukannya.
"Apa maksudmu kamu sudah tidak mencintai Mbak Mia?"
"Aku tadinya tidak yakin tapi setelah kamu koma aku sadar kamu lah yang aku cintai. Aku dan Mia hanya terikat pernikahan. Perlahan rasa cinta itu terkikis dan kini hilang."
__ADS_1
Melati terdiam mendengar ini hatinya bimbang antara harus bahagia atau sedih.