
Riana melangkah menuju ruangannya tersenyum manis menatap Erick yang duduk di kursinya.
Riana memasuki ruangannya lalu duduk diruangannya.Riana menelepon sekretarisnya untuk datang ke ruangannya.
"Selamat pagi Bu,ada yang bisa saya bantu?" tanya Devi.
"Beliin aku nasi uduk 2 porsi di seberang jalan sana sekalian gorengannya yah!"Riana menyodorkan 1 lembar uang seratus ribuan kepada Devi.
'Ha ... nasi uduk bukannya ibu Riana anti makanan dipinggir jalan 2 porsi plus gorengannya,bukannya ibu selalu menjaga makanannya kenapa ini?' Batin Devi penuh tanda tanya akan sikap aneh bosnya itu.
"Kenapa masih disitu,cepat pergi aku sudah lapar nanti keburu rapat dimulai!" Pekik Riana menyuruh Devi segera pergi.
"Ba-baik Bu Riana." Devi terbata-bata karena Riana membentaknya.
Setelah 15 menit Devi kembali dengan kresek putih berisi semua pesanan Riana.
"Ini pesanan Bu Riana." Devi menaruh kresek itu diatas meja. Devi segera mengambil piring sendok juga air mineral untuk Riana.
Riana langsung menikmati makanan itu dengan lahap begitu Devi keluar dari ruangannya.Riana menghabiskan 2 porsi nasi uduk sekaligus dengan gorengannya sampai perut Riana terasa begah karena kekenyangan.
"Kenapa aku makan sebanyak ini?" Riana menyadari nafsu makannya begitu banyak diluar kendalinya.Selama ini Riana selalu menjaga porsi makannya tapi entah apa yang terjadi hari ini.
🌹🌹🌹
Seminggu sudah Riana merasakan mual pada perutnya saat di pagi hari membuat Riana semakin berpikir kalau dia hamil.Nafsu makannya juga meningkat serta keinginan nya untuk memakan makanan yang selalu dia hindari selama hidupnya membuatnya semakin yakin.
Sepulang kerja Riana membeli beberapa testpack dengan merk yang berbeda dari mulai yang mahal sampai yang murah.Riana langsung bergegas pulang setelah membeli testpack.
Riana bergegas ke kamar mandi setelah masuk ke kamarnya.
Betapa terkejutnya semua testpack itu menunjukkan garis dua berwarna merah.
"Ah apa ini kenapa semua sama." kesal Riana melempar testpack itu ke sembarang arah.Riana duduk lesu diatas closet menatap perutnya yang masih datar.
"Apa ini, kenapa kamu harus berada di rahimku.Pergi Kamu anak iblis." Kesal Riana terisak-isak sambil memukuli perutnya sendiri berharap janin itu akan menghilang dari rahimnya.
Setelah beberapa saat Riana keluar dari kamar duduk termenung di pinggir ranjang.
'Aku harus melakukan sesuatu,aku nggak mau anak sialan ini lahir dari rahimku.' Batin Riana.
Riana mengambil ponselnya yang berada di tas lalu menghubungi teman dokternya untuk bertemu kebetulan saat itu Kinan teman Riana dalam perjalanan pulang dari rumah sakit.Riana Kemudian bergegas menuju tempat janjian.
__ADS_1
Saat tiba disana Kinan sudah menunggunya.
"Apa kamu menungguku lama?" Riana cipika cipiki dengan Kinan.
"Baru saja kok, bagaimana kabarmu kok sekarang badanmu lebih berisi?" Kinan memegang tubuh Riana yang nampak lebih berisi dari sebelumnya.
"Justru karena itu aku menemuimu." Riana berekspresi datar kemudian duduk berhadapan dengan Kinan.
"Loe mau program diet atau apa nih?" Kinan tersenyum menanggapi ucapan Riana.
"Gara-gara Niko, Gue jadi kayak gini!" Riana kembali berucap datar.
"Apa maksud loe Na, bukannya loe dan Niko sudah putus,maksudnya apa nih Gue semakin nggak ngerti?" Kinan menatap Riana menuntut penjelasan lebih.
"Gue hamil sekarang dan Gue mau gugurin anak ini,apa Loe bisa bantu Gue?" Riana memohon air matanya menitik di pipinya.
"Gila loe gugurin gimana, Gue nggak bisa!" Tolak Kinan.
"Loe kan Dokter dirumah sakit Loe memang nggak ada praktek aborsi?" Tuntut Riana memaksa.
"Na jaman sekarang mana ada praktek aborsi itu kan melanggar hukum." Jelas Kinan.
"Kenapa Loe nggak minta tanggung jawab Niko, Dia ayahnya kan?" Timpal Kinan.
🌹🌹🌹
Riana merebahkan badannya di ranjang saat sudah berada di kamarnya.Hatinya benar-benar frustasi.Harus bagaimana dia mengatakan hal gila ini pada Mami juga Kakaknya apalagi ini anak Niko.
Riana mencoba menghubungi Niko.
"Ngapain Loe nelpon Gue?"~Niko.
"Gue ... gue hamil anak loe!"~Riana.
"Yakin itu anak Gue, bukannya anak orang lain."~Niko.
"Gila loe, Gue cuma berbuat hal itu sama loe jadi Gue minta pertanggungjawaban loe."~Riana.
Tut ... tut ... tut telepon terputus.
Riana berteriak melepas ponselnya ke sembarang arah.Rasanya dunianya menjadi gelap dan runtuh.Masa depannya telah hancur tak ada lagi yang tersisa selain penyesalan yang tak berkesudahan.
__ADS_1
"Tidak ada gunanya lagi aku hidup,aku nggak mau membuat keluargaku malu karena tindakan bodohku.' Batin Riana mengusap air matanya lalu bergegas pergi melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi saat itu jalanan sangat sepi karena sudah tengah malam.Riana terus melaju tak terkendali.
Brraaaakkkk
Mobil hitam itu menabrak pembatas jalan.
Riana langsung keluar dari mobilnya dengan darah mengalir di kepalanya yang membentur setir mobil.Riana yang masih setengah sadar keluar dari mobil lalu pingsan.
Erick yang baru pulang dari rumah orang tuanya melihat mobil yang mengepul asap.
"Apa itu?" Lirih Erick menghentikan mobilnya lalu segera menolong pengemudi yang kecelakaan itu.Erick langsung mengangkat tubuh wanita itu masuk ke dalam mobil dan kembali memastikan apa ada penumpang lain di mobil itu.Ketika Erick sudah tidak menemukan Erick bergegas pergi menuju rumah sakit.
Erick mengangkat tubuh wanita dan menyadari wanita yang diselamatkannya adalah Riana.
Erick mengangkat tubuh Riana keatas brangkar lalu perawat membawanya ke UGD.
Erick mondar-mandir di depan UGD menunggu Dokter keluar.
'Kasian Riana, semoga nyawanya tertolong.'Batin Erick cemas.
Setelah menunggu cukup lama akhirnya Dokter itu keluar.
"Bagaimana keadaan Riana Dok?"Erick bertanya antusias.
"Syukur anda langsung membawanya kesini luka di kepalanya tidak parah hanya saja hampir kehilangan bayi dalam kandungannya." Jelas Dokter lalu meninggalkan Erick.
Erick lalu masuk menemui Riana.Riana pun telah sadar.
"Apa yang terjadi,kenapa selarut ini masih di jalanan?" Erick menatap Riana yang matanya berkaca-kaca.
"Kenapa Kamu harus menyelamatkan Aku,harusnya kamu biarkan aku mati bersama anak sialan ini?"Riana memekik meremas perutnya sendiri.
"Riana hentikan, anak itu punya hak untuk hidup."Erick mencekal tangan Riana menghentikan aksi gilanya.
"Anak ini tidak berhak karena tidak ada yang menginginkan anak ini."Riana berucap sambil terisak-isak.
"Apa salahnya, yang salah kau dan pria yang berbuat itu padamu."
Riana semakin sesak mendapati kenyataan hidupnya telah hancur.Riana mencabut paksa selang infus lalu keluar dari ruangan itu.Dengan langkah sempoyongan Riana terus melangkah kemudian Erick mencekal tangannya menghentikan langkahnya.
"Mau kemana kamu?" tanya Erick.
__ADS_1
"Aku mau mati!" Riana melempar tangan Erick tapi Erick semakin erat mencekal tangan Riana menatapnya tajam.