
Seminggu kemudian
Melati sibuk mengurus usaha makanannya. Dia wara-wiri mengurus bisnisnya yang kini telah membuka beberapa cabang lagi di beberapa tempat.
Sepulang dari cabang di luar kota Melati pulang bersama Andika. Andika fokus mengendarai mobilnya sementara Melati pandangannya fokus ke jendela.
"Apa kamu lapar?"
"Sedikit." Melirik ke arah Andika.
"Kamu ingin makan dulu atau mau langsung pulang?"
"Aku ikut kamu kemanapun kamu mau."
Sontak Andika terperangah mendengar ucapan Melati, matanya melirik ke arah Melati.
"Maksudku, aku ikut maumu mau pulang atau malam dulu," ralat Melati.
"Oh." Andika manggut-manggut dengan ucapan Melati yang sesaat membuat terbang namun kembali jatuh.
Setelah beberapa menit mobil Andika berhenti di sebuah restoran yang cukup ramai.vAndika dan Melati masuk dan memesan makanan. Setelah menunggu cukup lama akhirnya makanan mereka datang dibawa oleh pelayan.
"Mas istrinya hamil, bentar lagi kayaknya mau lahiran ya?" ucap Pelayan restoran fokus melihat perut Melati yang membesar.
Andika hanya tersenyum tak menyahut.
"Silahkan dinikmati Mas, Mbak," ucap Pelayan itu lalu melangkah pergi.
"Kamu nggak risih pergi kemana-mana sama bumil kayak aku, dikira kamu bapaknya."
"Nggak pa pa, aku malah seneng," ucap Andika tersenyum.
"Kok kamu malah seneng, dikiranya kamu dah nikah jadi cewek-cewek takut mau dekat sama kamu."
"Cewek mana yang kamu maksud,baku nggak punya cewek. Udah makan dulu keburu dingin makanannya."
"Hm, enak banget. Kamu tahu aja aku lagi pengen makan baso." Melati memasukan baso ke mulutnya.
Andika tersenyum bahagia melihat Melati begitu menikmati makanannya. Dia teringat masa-masa dulu dimana waktu sekolah sering banget jajanin Melati baso di kantin sekolah.
"Kamu tidak pernah berubah." Andika menatap melati.
"Kamu mengatakan sesuatu?"
Andika menggelengkan kepala lalu tersenyum dengan pikirannya sendiri.
Setelah selesai mereka berlanjut pergi meneruskan perjalanan pulang.
__ADS_1
"Dika boleh aku tanya sesuatu?"
"Mm, tanya apa, boleh. Tanya apapun, aku akan jawab," ucap andika fokus menyetir. Sesekali melirik ke arah Melati.
"Kenapa kamu begitu baik sama aku?"
"Apa maksudmu, kita kan sahabat juga tetangga di desa sejak dulu."
"Apa tidak ada hal lain yang kamu sembunyikan dariku?"
Andika menepi dan menghentikan mobilnya.
"Apa maksud dari pertanyaanmu, aku tidak menyembunyikan apapun darimu," ucap andika menatap penasaran ke arah Melati karena pertanyaannya.
"Beberapa minggu lalu aku pulang ke kampung, aku bertemu dengan Riski sahabatmu, dia mengatakan sesuatu tentang kamu. Sebenarnya aku tidak ingin menanyakan ini tapi ini sungguh menganggu pikiranku, jadi aku memberanikan diri untuk bertanya langsung padamu."
Sontak muka Andika berubah memucat, jantungnya berdegup kencang dan nafasnya tak beraturan. Andika menghela nafas panjang berusaha menenangkan diri dan mulai berbicara.
"Baiklah aku mengerti, kini kamu sudah mengetahui semuanya. Lalu apa maumu sekarang?"
"Kenapa kamu tidak pernah mengatakannya padaku, kenapa kamu menyimpannya selama ini.nLupakan aku, kamu pantas mendapat wanita yang lebih daripada aku!" tegas Melati .
"Aku hanya mencintai kamu. Kamu cinta pertamaku. Bagaimana aku bisa melupakanmu dan mencintai wanita lain." Andika berucap dengan nada lemah seakan menyiratkan kerapuhan yang selama ini dia rasakan.
"Dika aku sudah menikah dan sekarang aku tengah mengandung anak suamiku."
Melati menutup mulutnya yang menganga karena terkejut Andika telah mengetahui semua rahasianya.
"Aku akan menunggumu, setelah kamu menyelesaikan semuanya. Entah kamu menerimaku atau tidak, aku akan tetap menunggumu," ucap andika penuh keyakinan.
"Aku bukan wanita yang tepat untukmu. Kamu bisa mendapatkan wanita manapun yang kamu mau!"
"Wanita yang aku mau cuma kamu. Biarkan aku menunggumu, aku menantikan saat-saat ini sudah lama. Biarkan aku mencintaimu dengan caraku."
Melati terdiam menatap Andika, mereka saling menatap. Andika mendekat, berusaha mencium bibir Melati namun dengan cepat tangan Melati menghempas Andika.
"Maafkan aku Melati, harusnya aku bisa menahan diri."
Andika kembali melanjutkan perjalanannya. Mereka berdua saling terdiam dengan pikiran masing-masing. Akhirnya mereka telah sampai di depan rumah Melati.
Melati dikejutkan, sosok pria
tinggi kekar berdiri di teras menunggu kedatangannya dan Andika. Melati turun dari mobil dengan perasaan was-was di susul Andika mengikutinya. Perlahan Melati melangkah mendekati pria yang tak lain Riko.
"Mas kamu nunggu aku, kok disini nggak masuk?" tanya Melati basa-basi padahal saat ini jantungnya berdegup kencang ketakutan
Riko tak menyahut pandangannya fokus menatap Andika yang berdiri di belakang Melati.
__ADS_1
"Masuklah, aku ingin bicara dengan Andika!" ucap Riko tegas.
Melati menuruti perintah suaminya, dia berjalan masuk ke rumah. Sedikit ada kecemasan dihatinya melihat suaminya begitu terlihat marah saat tahu dia pulang bersama Andika. Melati berjalan menaiki tangga dan masuk ke dalam kamarnya dengan perasaan tak menentu.
Sementara Riko dan Andika duduk di teras saling berhadapan dan menatap sengit.
"Apa kamu tidak sadar siapa Melati, kenapa masih saja kamu pergi dengannya!" ucap riko dengan nada sedikit meninggi matanya menatap tajam.
"Melati istri kontrak kamu, kenapa kamu begitu peduli dengan siapa dia pergi!" Andika membalas ucapan Riko dengan nada yang sama.
Riko terperangah mendengar ucapan Dika.
"Apapun statusnya Melati tetaplah istriku. Aku tidak suka jika dia dekat dengan pria lain termasuk kamu!" tegas riko menunjuk kearah Andika sebagai ancaman.
"Sebentar lagi semuanya berakhir. Aku berharap kamu melepaskan Melati dari segala rasa sakit dan penderitaan yang kamu berikan padanya. Aku tidak akan membiarkan dia tersakiti lagi olehmu!" ucap andika tegas seraya pergi melangkah meninggalkan Riko.
Riko mengepalkan tangannya menatap Andika yang berlalu pergi dengan mobilnya. Di selanjutnya Riko masuk ke dalam rumah langsung menuju ke kamar. Terlihat Melati keluar dari kamar mandi terlihat Ia selesai mandi det rambut bawahnya.
Dengan perasaan yang masih bercampur marah Riko duduk di sofa, melepaskan setelan jas juga mengendorkan dasinya yang serasa menyesakan lehernya. Ia duduk dengan gusar.
Melati hanya diam tak berani melihat atau menyapanya. Dia tahu suaminya sedang marah.
Riko menghela nafas panjang mencoba menenangkan diri. Setelah cukup tenang ia mulai bicara.
"Kenapa kamu masih saja pergi dengan pria itu tanpa seizinku?"tanya Riko dengan raut muka menahan marah.
"Aku hanya pergi bekerja dengannya, tidak ada hal lain."
"Apa harus kamu bekerja, kamu ingin apapun aku bisa memenuhinya. Semua yang kamu mau dalam sekejap aku bisa mendatangkannya di depan matamu."
"Maafkan aku, aku hanya ingin mandiri apalagi setelah kita bercerai."
Perkataan Melati seketika membuat dada Riko semakin sesak. Ia berjalan ke arah Melati, menarik tangan Melati memaksanya untuk menatapnya.
"Kita tidak akan pernah bercerai. Kenapa kamu begitu keras kepala!"ucap Riko dengan nada sedikit meninggi.
"Kenapa kamu mempersulit hidup dua wanita, kamu serakah ingin memiliki keduanya!"
"Jangan menginginkan sesuatu tapi kamu menuduh orang lain sebagai pembenaran atas dirimu. Aku tahu kenapa kamu begitu kekeh ingin bercerai dariku, kamu ingin bersama Andika sampai-sampai kamu mengatakan semua tentang kita. Apa itu caramu untuk menarik simpati orang?"
Melati terperangah dengan tuduhan suaminya apalagi sampai Ia mengatakan hal-hal yang yang menyinggung harga dirinya.
"Aku tidak tahu kenapa Dika bisa mengetahui semua. Aku tidak pernah mengatakan apapun tentang masalah kita."
"Aku tidak peduli, aku tidak akan pernah melepaskanmu camkan itu!" tegas Riko. Ia melangkah pergi meninggalkan Melati yang masih terpaku di tempatnya.
"Kenapa semuanya menjadi seperti ini?" ucap melati lirih meneteskan buliran-buliran bening dari matanya. Dia melemparkan tubuhnya perlahan ke atas ranjang dan menangis terisak-isak.
__ADS_1