
Sepulang dari rumah Melati, Riko langsung bergegas mandi dan berganti pakaian. Mia tengah sibuk memberi susu bayi Nayya.
Riko berjalan perlahan mendekati Mia dan duduk disebelahnya.
"Halo sayangku, anak papa yang cantik udah mandi ya." Riko mencium bayinya.
"Udah dong Papa, aku udah wangi dan cantik," balas Mia seolah Nayya yang menjawab Riko.
"Lagi mimik cucu ya, lapar ya anak papa," ucap Riko gemas.
"Beberapa hari ini kamu nggak kerja Mas, tadi asisten mu kesini minta tanda tangan. Katanya menghubungimu beberapa kali nggak aktif ponselmu." ucap Mia melirik ke arah Riko.
"Aku beberapa hari di rumah sakit menemani Melati, tadi lowbat ponselku."
"Asisten mu pesan katanya suruh telpon balik "
"Nanti aku akan telpon. Sini aku gendong Nayya biar dia sendawa," ucap Riko mengambil Nayya dari pangkuan Mia dan menggendongnya.
Riko menaruh Nayya di dadanya dengan posisi berdiri sambil menepuk-nepuk punggungnya perlahan-lahan. Nayya pun sendawa.
"Pinter anak Papa." Mencium Nayya.
"Kapan kamu akan menceraikan Melati?"
Deg
Riko terperangah dengan pertanyaan Mia.
"Kenapa aku harus menceraikannya, aku mencintainya?" Riko balik bertanya.
"Apa maksudmu, kenapa jadi seperti ini?hidup kita sudah sempurna, kenapa kamu harus merusaknya dengan mencintainya!" Mia berteriak.
Seketika bayi Nayya kaget dan menangis.
"Cup, cup sayang." Riko berdiri mengayun dan menenangkan Nayya.
"Pelan kan suaramu, suaramu membuat Nayya takut dan menangis!" tegas Riko.
"Tinggalkan Melati, kita akan mulai hidup yang baru bersama Nayya anak kita. Aku sudah bersabar selama sembilan bulan ini, aku menekan egoku, membuang perasaan cemburuku dan sekarang setelah semua tercapai kamu mengatakan kamu tidak akan menceraikan Melati, apa maumu?" Mia menitikkan air mata dengan semua perasaan yang selama beberapa bulan ini di tahannya demi bisa menggendong seorang anak.
Riko tak menggubris perkataan Mia, dia terus mengayun hingga Nayya pun tertidur di gendongannya. Riko menidurkan Nayya di box bayi sementara Mia berjalan dengan gusar ke kamarnya.
Riko segera menyusul Mia yang berada di kamarnya.Terlihat Mia menangis sesegukan di atas tempat tidur.
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud membuatmu sedih." Riko mengusap punggung Mia yang memunggunginya.
__ADS_1
"Lalu apa maumu, kenapa kamu menghancurkan semua kebahagiaan yang kini sudah aku dapatkan!" sentak Mia dengan mata yang terus mengeluarkan deraian air mata.
"Kamu yang memberiku kesempatan untuk mencintai dan bersama wanita lain dan kini setelah aku mencintainya kamu memintaku menceraikannya!"
"Aku hanya ingin kamu seutuhnya dan tak ingin lagi membagi mu dengan wanita lain." Mia langsung berdiri memeluk Riko.
Mia berusaha untuk ******* bibir Riko, Riko menahan lalu mendorong Mia membuat Mia terhempas ke tempat tidur.
Mia kembali menangis dan memukul-mukul bantal meluapkan kekesalannya dengan penolakan Riko.
"Maafkan aku Mia, tenangkan dirimu. Kita akan bicara nanti setelah kamu tenang." Riko melangkah pergi meninggalkan mia yang menangis sesenggukan.
Riko pergi ke kamar Nayya memandangi putri kecilnya yang tengah tertidur pulas. Riko mengusap lembut kepala Nayya.
"Maafkan Papa sayang karena ke keegoisan papa kamu harus terpisah dari Mommy mu. Kamu tidak mendapatkan kasih sayang yang seharusnya kamu dapatkan, tidak mendapatkan asi yang seharusnya kamu minum."
Tanpa disadari buliran bening mengalir dari matanya, segera dia mengusapnya.Tanpa berpikir panjang Riko mengambil Nayya dan menggendongnya berjalan cepat menuju mobil meninggalkan rumah berlantai dua itu.
Riko membawa Nayya ke rumah Melati. Sesampainya di rumah Melati, Riko berjalan cepat masuk rumah dan menuju ke kamar Melati.
Riko masuk ke kamar Melati. Terlihat Melati tengah tertidur. Riko menidurkan Nayya disamping Melati.Melati terbangun dan betapa terkejutnya melihat bayi didepan matanya.
"Mas, ini Nayya disini atau aku sedang bermimpi?" ucap Melati sambil mencubit tangannya sendiri.
"Iya ini Nayya, aku membawanya kesini,"ucap riko tersenyum.
Seketika Melati mencium memeluk Nayya dengan erat. Melati mencium nayya beberapa kali sampai Nayya terbangun dan menangis.
"Kamu ini, Nayya jadi bangun. Kan bisa pelan-pelan."
"Aku nggak bisa menahan kebahagiaan ini. Bertemu putriku pertama kali setelah dia lahir." Melati menitikkan air mata.
"Ayo susui Nayya, biar nggak nangis mungkin juga Nayya sudah lapar!" suruh Riko.
Melati menatap suaminya dan mengangguk. Perlahan Melati menyusui Nayya, Nayya pun menghisap asi dengan kuat. Melati menitikkan air mata merasakan kenikmatan menjadi Ibu yang utuh.
"Terima kasih Mas telah membawa Nayya kesini."
Riko tak menyahut hanya tersenyum dan mencium Melati.
"Ini yang seharusnya kau dapatkan dari awal. Maafkan aku yang egois memisahkan kalian." Riko memeluk kedua wanita yang begitu dicintainya.
Ibu Melati yang sedari tadi mengamati dari pintu menitikkan air mata melihat kebahagiaan yang disaksikannya. Perlahan berjalan masuk mendekati mereka.
"Melati, ini cucu Ibu?" mengelus kepala Nayya.
__ADS_1
"Iya Bu, ini Ainayya cucu Ibu."
"Sayang cucu nenek, Nenek senang sekali melihatmu disini. Sini Nenek pengen menggendong mu."
Melati menyudahi asinya dan memberikan Nayya untuk digendong Neneknya.
"Cantik sekali cucu Nenek, Nenek bahagia melihatmu sayang." Mencium Nayya.
Dani dan Mawar pun datang ke kamar Melati, melihat keponakan kecilnya.
"Ini lucu sekali keponakan Tante," ucap Mawar mengelus pipi Nayya.
Keluarga itu sungguh bahagia dengan kedatangan Nayya yang membawa kebahagiaan penuh cinta ke rumah itu
***
Rumah Mia
Mia terbangun dari tidurnya setelah nangis sesegukan. Matanya sembab setelah menangis tanpa henti. Mia terdiam memikirkan pertengkarannya dengan Riko.
"Kenapa ini harus terjadi padaku. Kenapa Tuhan setelah aku mendapatkan keinginanku, engkau memberiku masalah lain. Apa aku tak pantas mendapat kebahagiaan?" gumamnya lirih.
Mia pun tersadar akan sesuatu yang dilupakannya lalu melompat dari tempat tidurnya,vteringat harus memberi susu Nayya. Mia berlari menuju kamar Nayya, terlihat kosong box tempat tidur Nayya.
"Kemana Nayya, kenapa tidak ada?" gumam Mia lirih.
Bik, Bibik!" teriak Mia memanggil pembantunya.
"Iya Non," jawab Bibik dengan nafas terengah-engah.
"Mana Nayya, kenapa kamarnya kosong?"
"Tadi dibawa sama Tuan Riko, non!"
"Kemana?"
"Saya tidak tahu Non, Tuan Riko tidak mengatakan apapun sepertinya terburu-buru"
"Ok.pergilah"
Mia terdiam memikirkan sesuatu
"Apa mungkin dibawa ketempat Melati!" gumamnya lirih.
Mia pun bergegas ke kamar mengambil tas dan beranjak pergi menyusul Nayya.
__ADS_1