
Sekitar pukul 5 pagi Melati sudah sibuk di dapur mempersiapkan makanan untuk sarapan pagi.Ibu dua anak itu sering terjun langsung di dapur daripada menyerahkan pekerjaannya kepada pembantunya.
Setelah semua tertata rapi di meja makan, Melati bergegas menuju kamar Nayya juga Juna.
Dilihatnya keduanya malaikat kecilnya yang masih lelap dalam buaian mimpi.
Melati mencium kening Nayya lalu mengelus keningnya."Sayang,bangun Nak." lirih Melati.
Perlahan Nayya membuka matanya yang masih berat untuk terbuka.
"Mommy." Lirihnya langsung beranjak dari tempat tidurnya ke pangkuan Mommynya sambil mendekapkan tubuhnya memeluk Melati.
Gadis kecil itu malah memejamkan matanya lagi saat berada di dipangkuan Melati.
"Lo kok malah tidur lagi,bangun dong kan mau sekolah!" Lirih Melati menggoyang-goyangkan tubuh Nayya.
Setelah cukup lama berusaha akhirnya mata gadis kecil itu terbuka sempurna.Melati segera menggendongnya ke kamar mandi lalu memandikannya sementara Desi mempersiapkan seragam Nayya untuk sekolah.
Beberapa menit kemudian Melati kembali menggendong Nayya keluar dari kamar mandi dan segera memakaikan seragam untuk Nayya.Mommy dua anak itu cekatan mengurus segala keperluan buah hatinya sendiri walaupun ada Desi tapi Melati berusaha mengurus Nayya juga Juna sendiri dibantu Desi.
"Dah siap ini putri Daddy." Ucap Riko berdiri di depan pintu menatap Nayya yang telah siap.
"Daddy." Teriak Nayya berlari memeluk Daddynya yang sengaja duduk mensejajarkan tingginya dengan Nayya.
"Emuuaccch,wangi betul putri Daddy ini."Riko mencium gemas pipi Nayya.
"Ayo kita sarapan dulu?" Ajak Melati menggandeng tangan Riko.
Kecupan Riko pun mendarat di kening Melati.
"Nay, mau juga?" Pinta Nay ingin dicium layaknya Daddy nya mencium Mommynya.
"Emuacccch." Riko menekankan bibirnya di kening Nayya.
"Puas?" Riko memandang kedua bola mata bening Nayya.
"Nay sayang Daddy." Ucap Nayya melingkarkan tangannya di leher Daddynya memeluk Daddynya dengan erat.
Melati tersenyum melihat kemesraan Daddy dan anak itu.
"Hap,pesawat take off." Riko mendaratkan Nayya di kursinya.
"Yeay pesawatnya sudah turun." Sorak Nayya bertepuk tangan.
Melati melayani suami juga putrinya.
__ADS_1
"Mau makan apa, Sayang?"Melati melirik Riko.
"Nay mau naci goyeng ma telul cepok mi." Sahut Nayya.
"Iya,ini untuk Nay." ucap melati memberikan sepiring kecil nasi goreng plus telor ceplok.
"Mmm enaknya naci goyeng buatan Mommy." puji Nayya.
Makasih,Sayang." ucap Melati ikut duduk dan sarapan.
"Sayang, mau minum kopi?"Tawar Melati saat nasi goreng di piringnya sudah habis dilahapnya begitu juga Riko dan Nayya.
"Nggak usah udah telat nih,kasian Nayya." Tolak Riko beranjak dari duduknya.
"Tunggu Dad." teriak Nayya memakai tasnya dibantu Melati.
Nayya pun langsung berlari mengejar Daddy saat tas ranselnya sudah berada di punggungnya.
"Hati-hati Sayang,jangan lari nanti jatuh!" Pekik Melati menyusul Nayya.
"Nay bangkat duyu ya, Mi." Pamit Nayya mencium punggung tangan Melati.Melati kemudian mencium kedua pipi Nayya.
"Hati-hati ya,Sayang." Ucap Melati mencium punggung tangan Riko kemudian Riko mencium kening Melati.
"Bye, Mommy." Ucap Nayya dari dalam mobil melambaikan tangannya.
🌹🌹🌹
Kediaman Riana.
Riana tengah memberi sufor kepada Steve setelah sedikit rengekan drama akhirnya bocah 2 tahun itu mau minum susu.
"Riana, boleh mami masuk?" Ucap Nani berdiri di depan pintu kamar Riana yang terbuka.
"Masuk Mi." ucap Riana menoleh kearah pintu.
Nani perlahan masuk dan duduk disamping Riana.
"Cucu Oma lagi nen cucu ya?" Nani menepuk halus pantat Steve yang kemudian membuat Steve sedikit merengek.
"Cup cup Sayang,ini kan Oma." Jelas Riana.
Steve pun menatap wajah Omanya yang tersenyum menatapnya.
"Maafin Steve ya mi,mungkin karena belum terbiasa jadi masih agak takut." Jelas Riana.
__ADS_1
"Iya Mami juga tahu kok lagian juga capek habis perjalanan jauh." Nani tersenyum memahami kondisi Steve.
Riana membaringkan Steve yang kembali tertidur.Ciuman lembut mendarat di kening Steve.
Nani tersenyum melihat putrinya kini sudah menjadi seorang Ibu.
"Mami tidak menyangka kini kamu sudah dewasa dan bahkan Kamu seorang Ibu padahal seperti baru kemarin kamu menangis manja dipelukan Mami." Nani berkaca-kaca menatap Riana.
"Tentu saja Riana sudah dewasa Mi,Riana sudah 28 tahun seperti Kak Melati bahkan sudah punya 2 anak!" Kelakar Riana membuat Nani yang tadi berkaca-kaca berubah tersenyum akan celotehannya.
"Kenapa kalian hanya pulang berdua,dimana Daddy Steve?"
Riana menatap Maminya seakan lidahnya kelu tak bisa mengatakan apapun.Pertanyaan Nani mengingatkan kembali sosok pria kejam yang telah menghancurkan masa depannya dan membuatnya harus menanggung beban seumur hidupnya.Kehadiran Steve membuatnya kembali bangkit, mengumpulkan sisa-sisa harapan.Kini ia mampu berdiri tegar menjalani hidupnya lagi.
"Maafin Riana, Mi?" Tangisnya pecah selama 3 tahun ini menahan dan memendamnya sendiri tanpa diketahui siapapun.
"Kenapa kamu harus meminta maaf,Mami tidak menyalahkanmu atas semua keputusanmu menikah tanpa restu dari Mami,karena Mami tahu hidup sendiri diluar sana bukan hal yang mudah." Ucap Nani menyeka air mata Riana.
"Riana bukan seperti Mami kira selama 3 tahun ini Riana menyembunyikan semua dari Mami." Terang Riana membuka rahasianya. Tangisnya kembali pecah.
"Rahasia apa yang kamu sembunyikan dari Mami?" Nani menatap tajam Riana.
"Steve, Riana mengandungnya sebelum pergi ke Amerika.Riana sengaja pergi ke Amerika untuk menyembunyikan kehamilan Riana."Terang Riana dengan mata berkaca-kaca.
"Apa?" Pekik Nani terperangah dengan pengajuan Riana.
"Katakan semua itu tidak benar, ini semua hanya gurauan Kamu saja!" Pekik Nani berusaha menepis ucapan Riana.Air matanya yang mengembun mulai jatuh menjadi rintihan air mata.
Riana langsung memeluk Nani dengan erat.Air mata kedua anak dan ibu itu kini berpadu hanya suara isakan yang kini terdengar di kamar itu.
"Pasti Kamu sangat menderita selama ini Nak,kenapa kamu memilih pergi dari kami dan menanggungnya sendiri, siapa laki-laki yang tega berbuat itu padamu?" Tanya Nani setelah keduanya cukup tenang membendung kesedihan masing-masing.
"Sudahlah Mi, Aku tidak ingin lagi mengingat lagi laki-laki kejam itu.Aku dan Steve sudah menganggapnya mati." Tegas Riana.
"Aku harap Mami merahasiakan semua ini dari Kak Riko,Aku tidak ingin semua orang tahu tentang hidup Riana cukup Mami saja yang mengetahuinya."Timpal Riana.
"Mami mengerti perasaanmu, Mami akan merahasiakan semua dari Kakakmu juga siapapun.Lalu apa rencanamu selanjutnya?" Tanya Nani.
"Riana akan melanjutkan hidup Riana.Sekarang bagi Riana Steve segalanya." Ucap Riana menatap wajah Steve yang tengah tidur terlelap.
"Mami mengerti dan mendukung apapun keputusan kamu, Nak.Mami cuma ingin kebahagiaanmu saja."
"Terima kasih Mi." Riana menggenggam tangan Nani seraya tersenyum.
🌹🌹🌹
__ADS_1
Lanjut Vote,Like nya ya.Author berharap kalian masih tetap setia bersama author sampai selesai.Hanya beribu terima kasih dan doa semoga Allah selalu melindungi kalian semua Aamiin.Salam sayang dan cinta author untuk kalian semua.