
"Bukanya kamu yang cabul,kenapa jadi aku." kesal Melati memukul dada bidang Riko.
"Auu sakit sayang." rintih Riko kemudian mencekal tangan Melati karena pukulannya sedikit keras dari biasanya.
Bik Lina yang memperhatikan majikannya itu dari dapur hanya terkekeh melihat kemesraan yang ditampilkan majikannya.
"Kenapa kamu memasang cctv dikamar,orang lain biasanya anti memasang begituan apalagi dikamar dan juga aku sama sekali tidak menyadari ada cctv dikamar kita?" tanya Melati berpikir keras akan maksud suaminya yang sedikit aneh.
"Siapapun pasti tidak akan mengira ada cctv dikamar kita termasuk kamu,dulu aku berpikir kamu akan membawa lari Nayya dariku jadi aku bisa gunakan itu sebagai senjataku untuk mengancammu." tutur Riko.
"Nggak waras kamu ini segitunya kamu berfikir untuk mengancamku." gerutu Melati.
"Tapi ada untungnya kan cctv itu akhirnya berguna juga dan semua kenangan kita tentu aku mengabadikannya."
"Cih sebegitunya kamu mencintai aku sampai hal-hal semacam itu terpikir dalam otakmu."
Ting tong ting tong
Bik Lina segera berlari dari dapur lalu membuka pintu.
"Yanti,bik Minah kalian sudah pulang." ucap Lina girang melihat teman seprofesinya.
Melati dan Riko langsung beranjak dari duduknya begitu mendengar nama Yanti dan bik Minah disebut.
"Mbak Yanti sudah pulang kenapa tidak mengabari kan bisa dijemput tadi." ucap Melati berjalan mendekati Yanti kemudian menuntun Yanti untuk duduk disofa.
"Bagaimana keadaanmu mbak Yanti?" tanya Riko.
"Saya sudah lebih baik Den."
"Syukurlah untuk beberapa hari istirahatlah dulu tidak usah Bekerja.Kalau sudah merasa lebih baik ikutlah ke kantor polisi denganku,karena aku butuh kesaksianmu untuk menjebloskan Angel ke penjara." pinta Riko.
"Baik Den, saya mengerti."
"Bik Minah antar Mbak Yanti istirahat ke kamar!." suruh Melati.
Bik Minah mengangguk dan menuntun Yanti ke kamarnya.
"Den Riko perlu sesuatu?" tanya Lina sopan.
"Tolong buatkan aku kopi biar Melati yang membawanya padaku!" suruh Riko melirik ke Melati sekilas lalu beranjak dari duduknya lalu menaiki tangga menuju ke kamarnya.
Beberapa menit kemudian Melati membawa secangkir kopi menuju kamarnya.
"Ini kopimu sayang." ucap Melati menaruh cangkir kopi di meja sementara Riko tengah sibuk di depan laptopnya dengan setumpuk berkas.
"Kamu bekerja atau melihat apa?" tanya Melati melongok laptop suaminya memasang wajah curiga.
"Kau ini pikirannya cabul mulu,aku sedang bekerja." kesal Riko menunjukan laptopnya yang berisi laporan kerja dari sekretarisnya.
__ADS_1
"Hhm kirain kamu masih memeriksa cctv,kalau iya aku pengen lihat." seloroh Melati.
"Hahahaha." seketika Riko tertawa mendengar ucapan Melati.
"Lebih baik kau bantu pekerjaanku." timpal Riko menunjuk setumpuk berkas.
"Ogah lah capek." ucap Melati mengelus perutnya kemudian melangkah pergi meninggalkan Riko dengan setumpuk pekerjaannya.
***
"Dimana Dani?" tanya Riko yang melihat kursi Dani masih kosong sementara semuanya sudah duduk di kursinya masing-masing.
"Biar aku panggil mas Dani dulu." ucap mawar beranjak dari duduknya kemudian menaiki tangga menuju kamar Dani.
"Ibu kan bisa makan dikamar,Mel bisa membawanya kesana." ucap Melati melirik kearah ibunya.
"Ibu baik-baik saja dan ibu bosan makan sendiri jadi ibu ingin makan bersama anak-anak Ibu."
Kemudian Melati mulai mengambil nasi komplit untuk suaminya juga untuk Ibunya.
Dani dan mawar pun telah kembali dan duduk di kursinya.Keluarga itu akhirnya menikmati makan malamnya tidak ada suara yang keluar kecuali dentuman sendok dan garpu yang beradu.
Setelah makan malam selesai Dani dan mawar langsung menuju kamarnya keduanya pamit untuk belajar sementara Melati dan Ibunya juga Riko di ruang keluarga melihat TV.Sikecil Nayya pun ikut bersama mereka.Nayya yang sudah mulai berjalan dan merambat dinding membuat Melati kepayahan apalagi kondisi perutnya yang sudah membesar membuatnya sulit bergerak bebas.Desi harus selalu mengawasi dan mengikuti Nayya merambat kemanapun.
"Cucu Oma." ucap Nani melihat Nayya merangkak kearahnya lalu segera menggendongnya.
"Cucu Oma lagi aktif-aktifnya nih,kayaknya nggak mau diam." ucap Nani memberikan Nayya ke gendongan Riana kemudian berjalan mendekati Riko keruang keluarga.Riana mengekor dibelakangnya sambil menggendong Nayya.
"Mami kesini nggak ngabari Riko?" tanya Riko mencium punggung tangan ibunya juga Melati ikut mencium punggung tangan mertuanya.
"Iya Mami dengar,Ibu Melati disini tapi maaf baru sekarang Mami bisa datang." ucap mami Riko menjabat tangan besannya.
"Sari Bu, ibu Melati." ucap ibu Melati memperkenalkan diri.
"Saya Nani, Mami Riko." ucap Nani
Kemudian keduanya berpelukan.
"Ini Riana adik satu-satunya Riko." ucap Nani memperkenalkan Riana pada besannya.
"Tante." sapa Riana mencium punggung tangan Sari.
Kemudian mereka duduk dan berbincang-bincang.
Riana duduk diantara Kakak dan Kakak iparnya Riana sengaja membuat kakaknya kesal.
"Ihh gerak-gerak lo Kak,nih pegang dedek gerak sayang." seru Riana mengeluskan tangan Nayya ke perut Mommy nya yang kebetulan bayi dalam kandungan Melati mungkin sedang salto seharian ini karena terlalu aktif seharian ini.
Riko yang ingin ikut mengelus perut Melati, Riana sengaja menghadangnya sehingga membuat Riko kesal.Riko menjewer telinga Riana. " Aduh aduh sakit Kak." teriak Riana kesakitan.
__ADS_1
"Berani kamu menggoda kakakmu ini." gerutu Riko.
"Hahaha Riana cuma bercanda Kak,iya nggak sayang." seloroh Riana menatap Nayya yang sedari tadi anteng bermain manik-manik di baju Riana yang menyatu menjadi gambar wajah wanita.
Silahkan minumnya." ucap Lina mempersilahkan setelah minuman dan beberapa piring martabak yang dibawa Nani di hidangkan di atas meja.Nani tahu putranya itu sangat suka martabak jadi setiap berkunjung pasti tidak absen membawa martabak kesukaan putra sulungnya itu.
"Makasih bik Lina." ucap Melati.
Lina membungkukkan tubuhnya kemudian pergi.
Riko langsung berpindah duduk di dekat Melati seraya menyerobot potongan martabak di piring.
"Waoo ini enak sekali toping coklat kacangnya banyak." ucap Riko menikmati setiap gigitan martabak yang meleleh di mulutnya.
"Coba sayang,nanti dedek ngiler." pinta Riko menyuapkan martabak di mulut Melati.
Melati kemudian mengigit martabak itu hingga membuat sudut bibirnya belepotan saus coklat seketika Riko mengelap sudut bibir Melati dengan tangannya membuat Riana memasang muka jeles.
"Hhmmm." Riana berdehem kesal melihat kemesraan Kakaknya.Statusnya yang jones membuatnya menelan salivanya."Kapan aku bisa kayak gitu?" ucap Riana menautkan kedua alisnya.
"Hahahaha." kekeh Riko mendengar kekonyolan adiknya itu.Melati terkekeh mendengar obrolan Adik Kakak itu.
"Kak Erick itu sudah nikah belum sih?" tanya Riana penasaran.
"Napa naksir ya??"
"Tapi dia pendiam Kak,pemalu kayaknya ya?" terka Riana.
Beberapa bulan ini Erick sering membantunya dikantor terlebih Riko yang sering absen membuat kedekatannya dengan Erick semakin intens tapi sifat Erick yang pendiam sulit bagi Riana untuk menebak perasaan Erick padanya.
"Bantuin Riana dong Kak,kan Kakak sudah lama mengenal Erick." rengek Riana mengedipkan mata beberapa kali memohon.
"Iya iya Kakak akan bantu."
"Nah gitu dong." Seru Riana senang.
Nani dan Sari yang tak sengaja mendengar pembicaraan itu terlihat terkekeh.
"Masih muda gitu ya jeng,biarin mereka bersenang-senang dan mencari jati diri." ucap Nani mengomentari anak-anaknya.
"Betul jeng anak zaman sekarang memang begitu." tambah Sari.
"Oh iya dimana adik Melati saya dengar Melati punya 2 adik?" tanya Nani melihat sekeliling rumah.
"Mereka sedang belajar,biar saya panggilkan." ucap ibu Melati beranjak dari duduk kemudian Nani mencekal tangan sari menghentikannya." Biarkan saja kalau sedang belajar nanti lain kali pasti ketemu."
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Lanjut vote like dan komennya ya dan ranting lima,please dukungan kalian sangat berarti untuk author🙏.
__ADS_1