
"Sudah Bu, Mel udah kenyang," tolak Melati.
"Kamu harus makan yang banyak sayang,apalagi kamu menyusui nanti asimu nggak banyak," pinta Sari
Riko duduk santai di sofa.Sejak pagi mertuanya sudah datang membuat Riko bersantai sejenak karena Melati diurus Ibunya.
"Kenapa Ibu nggak bawa Nayya kesini?" tanya Melati.
"Hari ini kamu pulang jadi kenapa harus dibawa kesini!"Terang Sari
Tok tok tok!
Seseorang mengetuk pintu dan masuk.
"Pagi Sayang," sapa Nani.
Kemudian memeluk dan mencium Melati.
"Bagaimana keadaanmu sayang?" Tanya Nani.
"Melati baik-baik saja Mi,dimana Riana Mi?" ucap Melati tersenyum.
"Riana melihat bayimu di ruang bayi,nanti juga kesini."
"Hai hai hai Kakak, Aku disini." teriak Riana masuk ke ruangan itu.
Memeluk dan mencium Melati."Nggak sabar aku pengen gendong Baby R," ucap Riana antusias.
"Kok Baby R sih?" tanya Riko.
"Iyalah Baby R, Baby Riko lalu aku panggil siap dong Kakak saja belum memberi nama jadi Aku panggil Baby R aja dulu." terang Riana.
"Memangnya akan kamu namai siapa bayimu Ko?" tanya Nani melirik ke arah Riko yang duduk sofa.
"Mm Riko masih bingung Mi."
"Kak aku punya usul bagaimana kalau namanya-."
"Sudah sana pergi ke kantor keburu siang." Riko memotong ucapan Riana.
Riana mencebikkan bibirnya kesal karena tidak diberi kesempatan berbicara dan malah menyuruh pergi.
"Sepertinya disini kehadiranku tak diharapkan,ya sudahlah aku ke kantor saja pasti Ayang Bebku nungguin," ucap Riana pasrah.
Semua orang di ruangan itu pun mengulum senyum mendengar ucapan Riana.
"Kak aku pergi dulu ya nanti malam aku akan kerumah Kakak,nanti Kakak pulang kan?"
Riana memeluk Melati.
"Iya nanti pulang,nunggu Dokter dulu," jawab Melati.
Riana beranjak pergi meninggalkan ruangan itu melewati koridor-koridor rumah sakit.Suster juga Dokter berlalu lalang melewati tempat itu.
Dari arah sebaliknya seorang wanita dengan pakaian Dokter menatapnya tajam berhenti tepat di depannya.
"Agnes...maksudku Dokter Agnes iya kan?" ucap Riana ramah.
Agnes tak bergeming dan malah terus menatap Riana dengan tatapan tajam.
__ADS_1
"Aku sudah memperingatkanmu untuk menjauhi Erick tapi kamu masih-".
"Riana."
Agnes menghentikan bicaranya karena seseorang memanggil nama Riana.
"Ya Kak ada apa?" tanya Riana membalik badannya menghadap Kakaknya.
Agnes melangkah pergi meninggalkan Riana begitu Riko berjalan mendekati Riana.
"Siapa Riana,kamu mengenal Dokter itu?".
"Oh itu Aku nggak kenal Kak,tadi Dia pikir Aku temannya karena katanya wajahku mirip temannya."
"Tapi aku merasa tadi Dia sangat marah sekali ekspresi wajahnya."
"Mungkin kelelahan kali Kak jadi wajahnya tampak seperti orang marah.Oiya ada apa Kakak memanggilku?"
"Minggu depan Kakak ada perjalanan bisnis ke Jepang tapi Kakak tidak bisa meninggalkan Kakak Melati,Apa kamu bisa menggantikan Kakak?" tanya Riko penuh harap Riana akan menyetujuinya.
"Tapi Kak Riana masih awam mana mengerti masalah begituan."
Riana menolak karena merasa belum mampu menangani kerja sama bisnis apalagi skala internasional.Baru setahun belakangan ini Riana masuk ke perusahaan Kakaknya dan baginya itu belum cukup menjadi bekalnya mewakili perusahaannya.
"Erick akan pergi bersamamu, Dia yang akan menghandel semuanya,kamu cuma perlu membantunya." Jelas Riko.
Riana malah tersenyum menyeringai seakan Kakaknya memang menginginkan dirinya lebih dekat dengan Erick.
"Apa Kakak sengaja menyuruhku pergi dengan Erick,baik betul sih Kakak ini."
Riana langsung memeluk Kakaknya saking senangnya.
"Siap Kakak, Riana tidak akan mengecewakan Kakak.Nanti Riana akan membicarakan masalah ini dengan Erick."
"Hm." jawab Riko bergumam.
"Riana ke kantor sekarang," ucap Riana melangkah pergi sementara Riko juga kembali ke ruang perawatan Melati.
Riko berpapasan dengan Dokter Very saat masuk ke kamar perawatan Melati.
"Dokter Very terima kasih sudah membantu persalinan istri saya kemarin Dok."
"Sama-sama Pak Riko sudah menjadi tugas saya membantu pasien Saya.Selamat ya Pak Riko atas kelahiran anak kedua Pak Riko."
"Terima kasih Dokter Very."
Dokter Very mengangguk kemudian melangkah pergi diikuti seorang Suster.
Riko kemudian masuk ke ruangan Melati terlihat Mami juga mertuanya bersiap pulang membereskan barang-barang.
Sementara Melati tengah menyusui bayinya.
"Ko cepat selesaikan administrasinya, Dokter baru saja dari sini katanya Melati sudah boleh pulang melihat kondisinya sehat," perintah Nani.
"Iya Mi," jawab Riko.
Riko menatap bayinya dalam dekapan Melati.
"Baru lahir udah pinter gini Anak Daddy," puji Riko menatap bayinya sudah pinter menyusu.
__ADS_1
"Tunggu disini sayang,Mas akan selesaikan administrasinya dulu." ucap Arsha mencium kening Melati juga bayi dalam pangkuan Melati kemudian melangkah pergi.
Sekitar 10 menit Riko kembali degan membawa kursi roda.Mereka akhirnya meninggal rumah sakit di pagi menjelang siang itu.
Sesampainya dirumah mereka disambut art mereka juga Nayya yang begitu merindukan mommy nya.
"Mi ," ucap Nayya terbata-bata lari ke pelukan Melati.
Riko kemudian menggendong Nayya mensejajarkan tingginya setinggi Mommynya.
Melati memeluk dan mencium Nayya meluapkan kerinduannya setelah 2 hari 1 malam tidak melihat putri kecilnya itu.
"Selamat ya Non Melati juga Den Riko atas kelahiran putranya," ucap Minah dan Yanti.
"Terima kasih ya Bik Minah juga Mbak Yanti." Balas Melati tersenyum.
Mereka kemudian menuju lift naik ke lantai 2.Nani menidurkan Baby R di kamar yang sama dengan Nayya diikuti Desi juga Sari yang mengekor dibelakangnya.
"Hati-hati Sayang."
Riko membantu Melati membaringkan tubuhnya di ranjang diikuti Nayya yang ikut berbaring di samping Melati.Nayya terus menempel Mommy nya hingga membuatnya tak ingin jauh.
"Apa Nay kangen Mommy, Sayang?" tanya Melati tersenyum menatap netra bening putrinya.
"Nay tanen Mi," ucap Nayya mencium pipi Melati.
"Sama Daddy nggak kangen?" sahut Riko.
"Dak."Jawab Nayya polos.
Riko gemas lalu mengacak rambut Nayya sekilas.
Tok tok tok!
Desi mengetuk pintu yang terbuka lalu masuk.
"Nay ikut Mbak yuk,biar Mommy istirahat sayang," ucap Desi masuk ke kamar itu.
Nayya menggelengkan kepalanya menolak ajakan Desi.
"Mau lihat dedek bayi nggak,sana." Desi terus membujuk.
"Au bak, Nay iat."
Desi menggendong Nayya meninggalkan kamar majikannya itu.
"Terima kasih sayang, Aku benar-benar merasa bahagia.Aku sekarang punya 2 anak yang lucu-lucu dan menggemaskan ditambah istriku yang cantik,penuh sekali rasanya kebahagiaanku."
Riko mengenggam tangan Melati, senyumnya terus mengembang mengikuti hatinya yang begitu bahagia.
"Iya Sayang,Aku tahu.Aku juga merasakan hal yang sama denganmu tidak ada yang lebih membahagiakan daripada memilikimu dan dua anak Kita."
"Kemarin aku benar-benar takut kejadian setahun yang lalu akan terulang lagi, Aku takut Kamu akan koma lagi seperti saat melahirkan Nayya." Tutur Riko menceritakan kegelisahannya kemarin.
"Tidak Sayang,aku disini bersamamu sekarang," ucap Melati mengelus wajah lelah suaminya.
"Istirahatlah Sayang," pinta Melati menarik tangan Riko mengajaknya tidur disampingnya.
***
__ADS_1