
Sekitar pukul 7 pagi Andika bergegas menuju kerumah Mia setelah mendapat telepon dari Ayahnya.Mobilnya masuk ke halaman rumah Mia yang tengah terbuka pintu pagarnya.Andika turun dari mobil dan dilihatnya Mia tengah berada dalam mobilnya.Mia pun turun dari mobil melihat kedatangan Dika.
"Dika" sapa Mia mendekati Dika.
"Mia,bisakah kita bicara sebentar aku sangat butuh bantuanmu," ucap Dika memelas.
"Ayolah, masuk dulu!".
Mia masuk ke dalam rumah diikuti Dika dan keduanya duduk di sofa ruang tamu.
"Ada apa,kamu perlu bantuan apa?".
Dika menghela nafas panjang dan mulai bicara.
"Bisakah kamu ikut denganku sekarang?" tanya Dika penuh harap.
"Kemana?".
"Menemui ibuku,ibuku sakit karena terus memikirkan aku."
"Kenapa kamu harus mengajakku?" tanya Mia merasa aneh.
"Ceritanya panjang kamu akan mengerti begitu bertemu dengan ibuku.Aku akan sangat berterima kasih dan tak akan melupakan jasamu."
"Baiklah,aku akan membantumu."
"Ayo," ucap Dika beranjak dari duduknya diikuti Mia.
Mereka naik mobil dan melaju menuju kampung dimana orang tua Dika tinggal.
Mia tampak menikmati perjalanannya matanya terus menatap jendela dimanjakan hamparan sawah yang menghijau.
"Wah ini indah sekali sejuk," ucapnya begitu menikmati perjalanannya.
"Ini kampungku,indah kan?".
"Sangat indah,oiya aku dengar kamu dan melati tinggal di kampung yang sama?" tanya Mia melirik kearah Dika.
"Iya kami tinggal di kampung yang sama tumbuh bersama dan akhirnya kita punya jalan yang berbeda," ucap Dika dengan nada semakin melemah.
"Maafkan aku ka,aku tidak bermaksud untuk mengingatkanmu kembali Melati."
"Nggak pa pa kok aku dan melati berteman baik dan sampai sekarang pun tak pernah berubah walaupun kami tidak bisa menjadi teman hidup karena hidupnya sudah bahagia." jawab Dika fokus mengendarai mobilnya.
"Aku setuju karena mau seberapa kita menahannya tetaplah perasaan mereka tidak berubah.Kita sama-sama merasakannya.
__ADS_1
Mobil pun terparkir di halaman yang cukup luas rumah yang nampak sederhana tapi cukup paling mewah diantara rumah yang lainnya.Dika turun dari mobil kemudian dengan segera membuka pintu mobil untuk Mia.
Mereka pun disambut seorang laki-laki setengah baya.
"Andika akhirnya kamu pulang nak kasian ibumu terus menanyakanmu," ucap ayah Dika kemudian memeluk putra semata wayangnya itu.
Kemudian matanya tertuju gadis ayu berjilbab merah muda.
"Ini calon kamu Ka" bisik ayah Dika ditelinga Dika.
Dika tersenyum dan menganggukkan kepala.
Ayahnya kemudian mengangkat jempolnya menyukai gadis pilihan Dika.
"Mia kenalkan ini ayahku," ucap Dika memperkenalkan ayahnya.
"Saya Mia, Om" ucap Mia memperkenalkan diri.
Mereka kemudian beriringan masuk ke dalam rumah.
"Ayo sama temui Ibumu dikamarnya!" suruh ayahnya.
Dika dan Mia bergegas menuju kamar ibunya dilihatnya tubuh lemah terbaring diatas ranjang.
"Bu,Dika disini," ucap Dika mencium tangan ibunya.
"Sini nak," ucap ibu Dika melambaikan tangan ke Mia.
Mia pun mendekat.
"Siapa namamu nak?"
"Saya Mia Bu," ucap Mia setengah ragu dan masih bingung drama apa yang sedang dimainkannya,dia mencoba untuk tetap tenang mengingat melihat kondisi ibu Dika yang tengah sakit.
"Cepatlah ka nikahi dia dan beri ibu cucu sebelum ibu meninggal," ucap ibu Dika memohon.
"Jangan berkata begitu Bu,ibu harus kuat dan panjang umur untuk cucu ibu," ucap Dika memeluk ibunya.
"Jangan menunda lagi,"
"Iya Bu pasti,ibu istirahatlah Mia pasti juga lelah karena perjalanan jauh biarkan dia minum dulu," ucap Dika menyelimuti ibunya.Kemudian perlahan keluar meninggalkan ibunya untuk istirahat diikuti Mia dibelakangnya.
Mereka kemudian duduk dan minum teh yang telah disajikan diruang tamu.Mia nampak menatap Dika penuh tanda tanya, akhirnya sedikit demi sedikit dia mengerti kenapa Dika bersikeras mengajaknya kesini tapi Mia berusaha menahan amarahnya di depan keluarga Dika.
"Ka bisakah kita lihat persawahan di depan sana aku merasa kepanasan,"
__ADS_1
"Ka antarkan calon istrimu!" suruh ayah Dika.
Dika mengangguk kemudian beranjak dari duduknya diikuti kemudian perlahan meninggalkan rumahnya menyusuri jalanan sepi di desa itu.
"Apa ini maksudmu mengajak aku kesini!" ucap Mia menatap tajam Dika.
"Maafkan aku Mia,aku terpaksa melakukannya karena aku tidak ingin membuat ibuku semakin parah sakitnya."
"Tapi yang kamu lakukan hanya semakin menyakiti dan membebani pikirannya dengan membohonginya."
"Lalu apa yang harus aku lakukan membiarkan ibuku mati begitu saja?" kesal Dika.
"Bukan seperti itu,aku bukan wanita yang bisa memberimu keturunan kenapa kamu terus memaksaku?".
"Kamu masih bisa punya keturunan,"
Penuturan Dika membuat Mia merasa sedang dipermainkan dan menjadi bahan leluconnya.
"Cukup ka,semua bukan lelucon yang bisa membuatmu bahagia," ucap Mia membelakangi Dika.
"Aku sudah mencari semua kebenaran darimu dari dokter yang menanganimu!"
"Kamu,darimana kamu tahu semua tentang itu?" tanya Mia penasaran matanya menatap penuh tanda tanya.
"Aku bertanya pada melati dan meminta kejelasan pada Riko.Aku mencari tahu tentang sakitmu sampai dokter yang menanganimu!".
"Dokter Arya dokter yang mengoperasi mu tidak pernah mengangkat rahimmu.Tumor yang ada pada rahimmu adalah tumor jinak.Dokter mengurungkan tindakan itu karena melihat kondisimu yang kuat dan mampu melawan sel tumor.kamu hanya mendapat kemoterapi yang berakibat sulitnya kamu hamil tapi tidak menutup kemungkinan saat kondisimu membaik dan stabil akan bisa hamil dan melahirkan."
Seketika Mia jatuh di tanah lesu mendengar kabar bahagia itu antara percaya dan tidak.Air matanya mengalir menerima kabar bahagia itu.
"Apa Riko mengetahuinya?".
"Tidak,Dokter belum sempat menjelaskannya katanya kalian pulang dari rumah sakit tanpa seizin dokter."
"Iya aku memaksa untuk segera pulang karena aku tidak ingin keluarga mas Riko mengetahui keadaanku karena keadaanku hanya aku dan Riko yang tahu.Aku menyembunyikannya dari keluarga Riko bahkan orang tuaku sendiri," ucap Mia mengingat momen 4 tahun silam,momen pahit yang sedikitpun tidak ingin ia ingat.
"Aku tidak pernah mengerti kondisimu sendiri dan tidak ingin tahu kondisiku karena aku takut menghadapi diriku sendiri."ucap Mia penuh deraian air mata.
"Ayo bangunlah,jika orang lain melihatmu akan berpikir aku menyakitimu," ucap Dika membantu Mia bangun dan berdiri.
"Setelah kita kembali ke kota kamu bisa menemui dokter dan kamu akan percaya apa yang aku katakan semua adalah kebenaran yang tertunda,"ucap Dika melirik Mia.
"Tapi semua sudah berakhir,rumah tangga ku sudah kandas karena keegoisanku.Aku terlalu takut menghadapi diriku sendiri seandainya aku lebih sabar dan menurut apa kata dokter mungkin aku sudah memiliki anak dan bahagia bersama Ri-."
"Sudahlah tidak ada yang perlu disesali,Allah punya rencana yang lebih indah untukmu.Yakinlah jalan itu sedang kamu tuju untukmu meraih kebahagiaan," ucap Dika memotong pembicaraan Mia.
__ADS_1
Mereka pun berjalan menuju kembali kerumah Dika.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*