
"Lepaskan! hidupku sudah hancur untuk apa aku hidup daripada aku membuat keluargaku malu lebih baik aku mati!" Pekik Riana terus meronta.
"Laki-laki itu harus mempertanggung jawabkan semuanya!Aku akan menyeretnya kehadapanmu!" Tegas Erick dengan nafas turun naik menahan emosinya.
"Kamu tidak akan pernah bisa karena dia menjebakku dan sengaja melakukan ini untuk membuat aku seperti ini!"Lirih Riana.
"Tidak ada kesalahan yang menjadi benar yang ada hanya kebencian yang amat terlalu!Katakan padaku siapa laki-laki itu?" Erick menatap tajam menunggu jawaban Riana.
Riana tak menjawab malah air mata yang kini mendera di wajahnya.
Erick menatap nanar Riana mengerti akan kesakitan yang dialami Riana.
"Ayo kembalilah ke ranjangmu, Aku akan menghubungi Mami juga Kakakmu!" Erick menuntun Riana tapi Riana tak bergerak masih terpaku di tempatnya.
"Aku mohon rahasiakan masalah ini dari orang tuaku!" Suara lirih dari Riana menghentikan tarikan tangan Erick.
"Aku mohon!" Riana bersimpuh di kaki Erick.
Erick menarik tangan Riana bangkit dari kakinya."Kamu butuh mereka keluargamu untuk bisa melewati semua ini!"
"Aku mohon?" Riana terus memohon dengan derai air mata membuat Erick tidak sanggup lagi menolaknya.
"Baiklah, hentikan air matamu!Air matamu terlalu berharga menangisi pria bejat itu, jangan lagi berpikir hal bodoh itu lagi,Dia akan semakin senang ketika kamu menderita karena itu tujuannya.Tunjukan padanya kamu bisa melewati semuanya!" Ucap Erick berusaha menguatkan Riana.Tangannya memapah Riana kembali ke ranjang pasien.
"Aku ingin pulang!" Ucap Riana saat sudah berada di samping ranjang pasien.Mata Erick membulat sempurna memastikan keadaan Riana.
"Aku nggak pa pa aku baik-baik saja!" Riana meyakinkan Erick dirinya baik-baik saja.
"Tunggulah disini!Aku akan bertanya pada Dokter." Erick melangkah pergi sementara Riana duduk di tepi ranjangnya menunggu Erick kembali.
Setelah beberapa menit kemudian Erick kembali.
"Dokter mengizinkanmu pulang karena lukamu ringan juga kondisimu dalam kondisi baik tapi untuk sementara istirahatlah agar kandunganmu tidak bermasalah kedepannya." Erick menyampaikan pesan Dokter kepada Riana.
"Ayo, Aku akan mengantarmu pulang!" Erick memapah Riana melangkah keluar dari ruangan itu.
"Mobilmu, Aku sudah menghubungi tukang derek, mobilmu berada di bengkel!" Ucap Erick.Langkahnya semakin dekat dengan mobilnya. "Hati-hati." Erick membantu Riana masuk kedalam mobil lalu setelah itu segera masuk ke kursi kemudi.Mobil pun melaju mengantarkan Riana ke rumahnya
__ADS_1
"Dari mana Kamu Riana, kenapa kepalamu diperban?" Nani menatap Riana cemas matanya yang belum sempurna terbuka kini terbelalak melihat putrinya terluka.
Riana termangu tak menjawab pertanyaan Nani.
"Riana kecelakaan,Tante!"Jawab Erick.
"Bukannya Kamu tidur di kamarmu,kenapa Kamu jadi kecelakaan?Sebenarnya-"Nani menghentikan ucapannya melihat luka Riana serta wajahnya yang pucat.
"Bik, antarkan Riana ke kamarnya!"perintah Nani.
"Baik Bu." Ucap Imas yang berdiri di dekat Nani kemudian menuntun Riana menuju kamarnya di lantai 2 meninggalkan Erick dan Nani di ruang tamu.
"Nak Erick, terima kasih ya sudah menolong Riana.Tante tidak akan melupakan kebaikanmu." Ucap Nani tersenyum.
"Sama-sama Tante, Erick hanya melakukan apa yang harus Erick lakukan.Kalau gitu Erick permisi dulu Tante, sudah lewat tengah malam." Erick melirik jam di tangannya.
"Silahkan." Ucap Nani mengantar Erick sampai teras.Erick pun berlalu pergi dengan mobilnya.
🌹🌹🌹
Keesokan paginya.
Nani duduk di tepi ranjang mengelus pipi putrinya." Bangun Sayang,apa Kamu lebih baik sekarang?"
Riana perlahan membuka matanya di tatapnya mata nanar Nani yang begitu mencemaskannya.
"Riana baik-baik aja kok Mi,hanya luka kecil setelah istirahat Riana akan baik-baik saja."
Tegas Riana meyakinkan Nani.
"Apa Kamu ada masalah Sayang,ceritakan sama Mami semalam kamu pergi kemana malam-malam sampai kamu kecelakaan?" Tuntut Maminya meminta penjelasan.
"Riana boleh minta sesuatu sama Mami?" Lirih Riana mengalihkan pembicaraan.
"Mami akan penuhi selama itu baik dan membuat Kamu bahagia Sayang." Ucap Nani penuh kelembutan.
"Riana ingin pergi ke Amerika Mi, Riana ingin melanjutkan study disana."
__ADS_1
Seketika mata Nani terbelalak mendengar ucapan Riana." Kenapa tiba-tiba Kamu ingin pergi kesana?Sejak kapan kamu berpikir akan meninggalkan Mami?" Seketika Nani menitikkan air mata dengan keinginan putrinya itu.
"Mi, Riana hanya ingin belajar mumpung Riana masih muda.Riana ingin suatu saat bisa seperti Kak Riko, Mi." Riana mencoba meyakinkan Maminya netranya menatap Maminya penuh harap.
"Baiklah Mami tidak bisa melarangmu untuk belajar,justru harusnya Mami bangga." Ucap Nani mengelus pipi Riana.
'Seandainya Mami tahu, Riana sudah membuat Mami kecewa.Riana sudah mencoreng nama baik keluarga kita.Biarlah Riana menanggung semua kesalahan Riana di masa lalu.Ini karma untuk Riana karena Riana tidak pernah menuruti kata Mami,Riana durhaka sama Mami." Batin Riana.Air matanya menitik.Netranya menatap Nani penuh rasa bersalah.
"Kenapa malah menangis,Sayang?" Nani mengelus air mata yang menitik di pipi Riana.
"Riana terlalu bahagia Mi,karena Riana akan banyak belajar disana!" Ucap Riana berusaha menutupi rasa sakit juga kecewa pada dirinya sendiri karena semua dilakukannya untuk menutupi bangkai yang kini disembunyikannya.
"Riana sayang Mami." Riana memeluk erat tubuh Nani seakan tidak ingin melepaskannya.
🌹🌹🌹
Sebulan kemudian.
Riana pergi ke bandara diantar Erick karena Riana meminta agar tidak ada yang mengantarnya akan sulit baginya meninggalkan ketika menatap wajah keluarganya.
Riana meminta Erick untuk mengantarnya pergi karena hanya Erick yang mengetahui perihal kehamilannya.
"Apa kamu yakin akan pergi?" Tanya Erick menatap nanar.
"Aku harus pergi,aku tidak mau keluargaku mengetahui perihal kehamilanku jadi aku berharap Kamu akan merahasiakan hal ini dari Mereka!" pinta Riana mencoba tersenyum walaupun sebenarnya berat baginya untuk melangkah pergi walaupun hanya sesaat tapi kenyataannya lebih buruk.Hidup memaksanya untuk terus berjalan entah jalan itu mulus atau bahkan jalan terjal itulah jalan hidup yang harus dilaluinya.
"Aku akan menikahimu dan menganggap anak itu seperti anakku sendiri," ucap Erick.
Riana menghentikan langkahnya."Kenapa Kau yang harus menanggung dosa-dosaku,Kau akan menemukan wanita yang jauh lebih sempurna.Kau pria yang baik sudah sepantasnya mendapat wanita yang baik pula." Riana tersenyum menatap Erick lalu menepuk pundaknya.
"Aku harus pergi." ucap Riana melangkah pergi meninggalkan Erick.
"Aku akan menunggumu!" Pekik Erick.
Riana terus melangkah tanpa menoleh ke belakang.
'Maafkan aku Erick.' Batin Riana lalu mengusap air matanya yang kembali melesat di pipinya.
__ADS_1
Riana berusaha menguatkan kakinya, mengukuhkan dadanya menjalani hidupnya yang baru di Amerika sana tanpa Keluarganya.