
Erick nampak canggung jantungnya berdegub kencang berada di lift bersama Riana sementara Riana terus menempel di lengan Erick.
"Maaf Erick." ucap Riana melepas tangan Erick.
Erick kemudian melangkah sedikit menjauhi Riana membuat Riana mengigit bibir bawahnya.
Lift pun terbuka Riana keluar lebih dulu meninggalkan Erick yang mematung di sudut lift.
Riana melangkahkan kakinya menuju ruangannya kemudian meletakkan tas ke mejanya kasar.
"Kenapa sih dia begitu menutup diri sepertinya dia tidak tertarik padaku." umpat Riana memicingkan matanya menghela nafas panjang.
Riko yang berdiri dibelakangnya mendengar umpatan adiknya."Kenapa sih pagi-pagi sudah kesal?"
Riana terperanjat mendengar suara tiba-tiba hingga membuatnya sedikit tersentak.
"Ishh Kakak bisa nggak ketok pintu dulu." gerutu Riana.
"Aku sudah mengetuk tadi tapi sepertinya kamu tidak dengar dan malah mengumpat sendiri jadi Kakak langsung masuk." terang Riko.
Riana lalu duduk di kursinya dengan ekspresi wajah kesalnya.
"Ada apa,kenapa wajahmu seperti itu?" tanya Riko terkekeh menatap wajah Riana.
"Jelek sekali." timpal Riko membuat Riana semakin kesal lalu membuang muka.
"Lebih baik Kakak pergi saja daripada membuatku semakin kesal."
"Baiklah Kakak akan pergi." ucap Riko beranjak dari duduknya.
"Tunggu Kak."
"Apalagi bukannya kamu mengusirku tadi?" tanya Riko menaikan sebelah alisnya lalu kembali duduk.
"Kak sepertinya Erick tidak tertarik sama Riana." ucap Riana lirih dan hampir tidak terdengar Riko.
"Apa,aku tidak mendengarmu?"
"Erick tidak menyukaiku." teriak Riana kesal hingga membuat Erick di luar ruangan itu menatap kearah ruangan Riana mendengar namanya disebut.
"Upss maaf kelepasan." ucap Riana menutup mulutnya sendiri.Lalu menekan remote control menutup ruangannya dengan korden dan mengendapkan suara di ruangan itu hingga tadinya Erick dapat melihatnya dengan jelas kini tertutup.
"Apa Erick mengatakannya?" tanya Riko setelah ruangan itu benar-benar aman.Riana menggelengkan kepalanya.
"Lalu?" tanya Riko.
"Riana terus berusaha memberi Erick sinyal tapi Erick malah semakin gencar menjauhiku.Apa aku ini kurang menarik menurutnya?" ucap Riana menyibakkan rambutnya memperlihatkan kecantikannya lada Kakaknya.
"Kamu ini ngomong apa,kamu ini gadis tercantik menurut Kakak." ucap Riko mengedipkan sebelah matanya.
"Gombal tercantik setelah Kak Melati maksud Kakak?"
"Hahahaha." pekik Riko menertawakan ucapan Riana.
"Kakak ini jangan bercanda terus,cepat lakukan sesuatu cari tahu dia menyukai Riana atau tidak?" rengek Riana memohon.
__ADS_1
"Kalau kamu mau Kakak langsung lamar dia buat kamu,gimana?" tawar Riko.
"Gila Kakak,emang Riana wanita apaan.Kakak cuma perlu cari tahu apa mungkin dia punya pacar!"suruh Riana.
"Kamu ini main suruh-suruh Kakakmu."
"Lah kan Kakak bosnya dan dia asisten Kakak jadi lebih mudah buat Kakak mencari tahu soal dia."
"Siap siap tuan putri." ucap Riko beranjak dari duduknya lalu melangkah pergi.
"Jangan lupa Kak dan Riana mau hasilnya secepatnya." teriak Riana.
Riko melengos tak menggubris Riana.Adiknya itu terlalu banyak maunnya hingga membuatnya mau nggak mau harus jadi makcomblang.
Riko memasuki ruangannya kemudian duduk di kursi kebesarannya.
"Selamat pagi tuan Riko." sapa Erick membungkukkan tubuhnya.
"Mmm duduklah." titah Riko.
"Apa hari ini jadwalku?" tanya Riko.
"Hari ini jadwal anda kosong tuan." jawab Erick.
"Baiklah aku akan pulang saja.Mmm bisakah malam ini kamu kerumahku untuk makan!" titah Riko.
"Dalam rangka apa tuan mengundang saya untuk makan malam?"tanya Erick.
"Mm cuma makan malam biasa,selama ini kamu sudah melaksanakan tugasmu dengan baik jadi malam ini aku ingin menjamu mu makan malam.Bawa sekalian pacarmu!" terang Riko.
"Benarkah pria setampan dirimu tidak punya pacar,maaf bukannya aku ikut campur tapi sepertinya mustahil!" ucap Riko setengah tidak percaya.
"Saya memang tidak punya pacar tuan, kesibukan saya membuat saya tidak memiliki waktu untuk itu." ucap Erick lembut tapi penuh penekanan.
"Baiklah jangan lupa datang." ucap Riko beranjak dari duduknya lalu melangkah pergi meninggalkan Erick sementara Erick membungkukkan tubuhnya menatap kepergiannya bosnya itu.
Riko kemudian menuju mobilnya di parkiran lalu melajukan mobilnya membelah jalanan di kota itu.
Riko menelepon Riana untuk memberitahunya karena tadi dia langsung pergi tidak mampir ke ruangan Riana.
"Ada apa Kak,kok telepon lewat ponsel bukan telepon kantor?" ~Riana.
"Kakak pulang karena jadwal Kakak kosong dikantor."~Riko.
"Kakak menelepon hanya untuk mengatakan itu?"~Riana.
"Tentu tidak, Kakak sudah mendapat jawaban pertanyaanmu tadi!"~Riko.
"Benarkah,apa benar Erick sudah punya pacar?"~Riana.
"Dugaanmu salah, Erick belum punya pacar."~Riko.
"Yeayy."~Riana.
"Satu lagi aku mengundang Erick nanti malam untuk makan malam dirumah kamu datanglah bersama Mami."~Riko.
__ADS_1
"Makan malam mengundang Erick,benarkah?Riana yang akan belanja Kak, Riana akan kerumah Kakak sekarang."~Riana.
Riana memutuskan sambungan teleponnya lalu bergegas meninggalkan ruangannya.
***
Riko memasuki rumahnya lalu bergegas menaiki tangga menuju kamarnya.Terlihat Melati tengah rebahan santai dengan Nayya serta Desi yang terus mengawasi Nayya.
"Kamu sudah pulang sayang?" tanya Melati melihat kedatangan suaminya.Riko kemudian mendekat mengecup kening Melati lalu mengusap lembut pipi Melati.Desi yang merasa risih kemudian mengajak Nayya untuk meninggalkan ruangan itu.
"Bu saya akan mengajak Nayya main dikamarnya." ucap Desi sopan.
"Pergilah."jawab Melati.
Desi meninggalkan kamar majikannya kemudian menutup pintunya agar tidak ada yang menganggu majikannya itu.Desi tahu betul kemesraan selalu ditampilkan nyonya dan tuannya di depannya membuatnya merasa iri sebagai jones.
.
"Apa yang membuatmu pulang lebih cepat?"tanya Melati menyenderkan tubuhnya menempel ditubuh suaminya.
"Jadwalku kosong hari ini jadi aku memutuskan untuk pulang.Nanti malam aku mengundang Erick untuk makan malam dirumah kita." tutur Riko.
"Kenapa kamu mengundangnya ke maksudku dalam rangka apa?" tanya Melati mendongakkan kepala menatap suaminya.
"Dalam rangka membuat adik iparmu dekat-dekat dengan Erick." terang Riko.
"Riana benar-benar menginginkan Erick?"
Riko menundukkan kepalanya.
"Aku setuju Erick pria yang baik dan tentu kamu lebih mengenalnya daripada aku." ucap Melati.
Tok tok tok
"Masuk."
"Maaf menganggu Kak Melati." ucap Riana berdiri di depan pintu kamar.
"Masuklah Riana." ucap Melati.
Riana kemudian melangkah masuk dan duduk di tepi ranjang." Benar Kakak mengundang Erick kesini?" tanya Riana antusias.
"Iya bener lah."
"Mau masak apa kira-kira?" tanya Riana berpikir keras.
"Sana rundingkan sama Bik Minah dan Bik Lina,jangan membuat Kakak iparku berpikir dan kelelahan."
"Iya Kakak yang perhatian sama istri, Riana akan bicara sama Bik Minah dan Bik Lina dulu." ucap Riana beranjak pergi meninggalkan ruangan itu.
"Kenapa sebegitunya mencemaskanku,aku baik-baik saja kok." ucap Melati menatap suaminya.
"Aku hanya tidak ingin terjadi apa-apa denganmu dan bayiku.Jangan sampai kamu kelelahan dan stres." ucap Riko mengelus serta menciumi perut Melati.
Sikap Riko memang sedikit berlebihan ketika Melati hamil anak kedua apalagi sempat kondisi Melati dan bayinya dalam bahaya karena Angel.Sikapnya bertambah over protective ketika tahu si jagoan yang akan dilahirkan Melati nantinya.
__ADS_1