
2 hari kemudian
Pukul 7 pagi Erick terlihat sudah berada di mejanya.Setelah pulang dari Jepang Riko memberinya cuti agar bisa beristirahat setelah perjalanannya yang melelahkan.
"Ini laporan perjalanan bisnis dari Jepang Pak Erick periksa dulu sebelum sampai ke tangan Pak Riko." Renita Memberikan stopmap biru kepada Erick.
"Terima kasih Bu Renita," ucap Erick.
Erick memeriksa laporan itu karena setelah pak Riko datang akan segera melaporkannya.
Dari kejauhan nampak Riana melangkah dengan gontai menenteng tasnya dan membuang muka saat lewat di depan Erick.Erick memahami kalau Riana pasti masih marah padanya.
Erick kembali memeriksa laporan kerja di tangannya tanpa menghiraukan sikap Riana padanya karena saat d kantor dia seorang asisten sementara Riana adalah atasannya.Perihal hubungannya yang tidak harmonis Erick akan menyelesaikannya diluar kantor.Erick berusaha profesional dengan tugas dan pekerjaannya karena tidak ingin nantinya Pak Riko akan kecewa dengan hasil kinerja.
.
.
Sekitar pukul 4 sore Riana meninggalkan ruangannya sementara Riko sudah lebih dulu pulang.Riana melewati begitu saja Erick yang tengah menatapnya kemudian Erick mengikuti Riana dari belakang.Saat sampai diparkiran Erick mencekal tangan Riana dan menghentikan langkahnya.
"Apa kamu masih marah?" tanya Erick.Matanya menatap gadis cantik di depannya namun Riana memalingkan pandangannya saat Erick berbicara padanya.
"Profesional lah saat bekerja jangan mencampur adukan urusan kantor dengan urusan pribadi.Aku tahu Kamu adik dari pemilik perusahaan ini pasti bagimu tidak masalah bersenang-senang sambil bekerja tapi aku ... aku hanyalah Asisten Bos yang tidak ingin melanggar kepercayaan Tuan Riko." Erick berteriak dengan nafas turun naik meluapkan kemarahannya karena Riana bersikap kekanak-kanakan.
Riana sama sekali tidak mengerti posisinya dan hanya memikirkan urusannya sendiri.
"Sudah cukup ceramahnya, aku memang seperti ini kalau kamu tidak menyukaiku lupakan saja aku.Kita putus!"Riana melempar cekalan Erick kemudian masuk ke dalam mobilnya.
"Riana tunggu, aku belum selesai bicara." Erick menggedor-gedor pintu mobil Riana tapi Riana tidak menghiraukannya melaju dengan mobilnya meninggalkan Erick.
Riana menitikkan air mata sambil terus fokus mengemudi.
"Sedikitpun dia tidak mengerti perasaanku,apa aku tidak berarti baginya?" Lirih Riana mengingat kembali kejadian di Jepang.Erick begitu mengabaikannya bahkan karena sesuatu hal Erick membentaknya hingga membuatnya menangis sejadi-jadinya tapi Erick tetap saja tidak menyadari dan malah menuduhnya tidak profesional.
__ADS_1
'Seharusnya aku tidak pergi ke Jepang bersamanya kalau akhirnya akan sesakit ini diabaikan orang yang kita cinta, dituduh tidak profesional,'batin Riana.
Riana mengusap air matanya yang terus menitik di wajah cantiknya.Mobil Riana terus berputar mengelilingi kota itu.Riana tidak ingin pulang dan melihat kesedihannya diketahui Maminya.
Sekitar pukul 7 malam mobil Riana berhenti disebuah Bar yang cukup ramai.Riana memasuki Bar itu dengan langkah pasti.Terakhir kali Riana mengunjungi tempat ini setahun silam saat hubungannya dengan Niko mantan pacarnya kandas.Sakit dikhianati membuatnya ingin mati saja.
Hampir setiap hari Riana mengunjungi tempat ini tapi setelah Riko menjemputnya paksa, Riana berangsur berubah dan tidak lagi mabuk-mabukan.Riko membuatnya sadar Niko hanya memanfaatkannya secara materi.Riana memang mempunyai masa lalu yang kelam.Pergaulan bebas mabuk-mabukan adalah hal yang wajar baginya.Materi yang begitu berlimpah membuatnya tenggelam dalam dunia yang gelap ditambah Niko yang memberinya pengaruh buruk ikut andil merusak Riana di masa lalu.
Riana duduk di sebuah kursi yang langsung menghadap bartender kemudian meminta minuman beralkohol.Beberapa gelas minuman telah masuk ke tenggorokannya membuatnya kini mabuk berat hingga kepalanya terkulai di meja itu.
Seorang pria yang sejak tadi menatapnya dari kejauhan mendatanginya.
"Riana bangun ini aku Niko." Niko mengangkat kepala Riana kemudian Riana tersadar.
"Dasar kau laki-laki tidak tahu diri.Aku sudah memberimu hati malah kau membuatku tidak berharga,kau akan menerima akibatnya!" Riana merancau menunjuk wajah Niko meluapkan kemarahannya pada Niko yang dilihatnya sebagai Erick.
"Apa maksudmu?" Niko membawa Riana dengan memapah tubuh Riana kedalam mobilnya.
Saat di mobil Riana terus meracau mengatakan hal-hal buruk.Hatinya begitu frustrasi saat ini hingga membuat dirinya mabuk agar tidak mengingat Erick.
Setelah sampai dikamar hotel Niko melempar tubuh Riana ke ranjang hingga memperlihatkan kakinya yang putih.Niko menelan salivanya melihat pemandangan di depan matanya.Niko kemudian menggagahi tubuh Riana memagut bibir Riana.
"Um, lembut sekali.Sudah lama aku tidak merasakannya." Niko menikmati kelembutan bibir Riana setelah satu tahun putus dari Riana.
"Aku ingin melakukannya lagi sudah sekian lama aku puasa menikmati tubuhmu kini kamu sendiri mengantarnya padaku." Niko tersenyum menyeringai lalu kembali memagut bibir Riana lebih lama membuat inti tubuhnya bangkit.
Niko menyusuri tiap inci tubuh Riana membuatnya semakin bergetar.
"Uhh." Riana melenguh menikmati perlakuan kurang ajar Niko.
"Aku tahu kamu mencintaiku jadi buatlah aku melayang malam ini, kamu mengerti!" Riana terus meracau menjambak rambut Niko yang dalam penglihatannya Erick yang mengungkungnya.
Niko pun tersenyum senang perlakuannya di amini Riana membuat semakin bersemangat.Niko kembali memagut bibir Riana sambil memainkan bukit sintal Riana membuat Riana terus melenguh.
__ADS_1
Pergulatan panas itu benar-benar membuat keduanya melayang.Entah berapa kali mereka berdua melakukannya.Tubuh Niko tumbang sesaat setelah cairan kental meluncur bebas ke rahim Riana.
.
.
Riana terbangun merasakan kepalanya pusing yang begitu menusuk.Riana memegang kepalanya tapi rasa lain kini muncul inti tubuhnya merasa perih.Perlahan Riana membuka matanya melihat langit-langit tempatnya terbaring.
"Dimana aku?" Riana melihat sekeliling kemudian terkejut melihat dirinya polos hanya selimut yang menutupi tubuhnya kini.
"Hai Sayang, kau sudah bangun?" Niko keluar dari kamar mandi dengan memakai boxer sementara bagian atas tubuhnya polos memperlihatkan dada bidangnya.
"Kamu ngapain disini?" pekik Riana.Matanya terbelalak menyadari kemungkinan yang terjadi antara Dia dan Niko.
Niko berjalan mendekati Riana kemudian duduk di tepi ranjang.
"Kenapa Kamu jadi kasar begini tidak seperti semalam begitu lembut menggodaku." Niko mengelus rambut Riana tapi Riana segera melempar tangan Niko.
Riana beranjak dari ranjang menutupi tubuhnya dengan selimut kemudian memungut pakaiannya yang berserakan di lantai menuju kamar mandi.
"Kenapa kamu harus memakai pakaianmu dikamar mandi setelah semalam memamerkannya di depanku." ucap Niko.
Riana semakin kesal menutup pintu kamar mandi kasar.Riana membasuh wajahnya dan melihat pantulan dirinya di cermin.Riana mencoba mengingat kembali kejadian semalaman dan menyadari kebodohannya yang menganggap Niko sebagai Erick.
"Sial," umpat Riana.
Beberapa menit kemudian Riana keluar dari kamar mandi lalu mengambil tas nya diatas nakas kemudian melangkah pergi.
"Tunggu!" Niko mencekal tangan Riana.
"Kenapa Kamu begitu membenciku,aku ingin seperti dulu dan kembali bersamamu." Niko menatap Riana dengan sorot mata penuh harap.
"Cukup hubungan kita sudah berakhir.Sudah cukup Kamu memanfaatkanku dan mengkhianatiku." Riana berteriak melempar tangan Niko kasar lalu melangkah pergi meninggalkannya.
__ADS_1
"Sekarang kamu boleh sombong menolakku.Kita tunggu permainan selanjutnya.Aku yakin kamu akan memohon untuk bersamaku," ucap Niko lirih.Netranya menatap Riana sambil tersenyum menyeringai.