
Mia tiba dirumah Melati, dia berjalan dengan langkah seribu. Mia mengetuk pintu setengah menggedor pintu dengan kasar.
Bik Minah membuka pintu.
"Cari siapa, Bu?"
Mia langsung menerobos masuk melewati Bik Minah.
"Melati. Melati!" teriak Mia.
Melati yang bersama dengan Riko, Ibu serta dua adiknya di kamar terkejut mendengar teriakan itu.
"Mbak Mia, Mas. Itu suaranya kan?" Melati melirik suaminya.
Riko mengangguk.
"Kenapa dia berteriak-teriak, Mas?"tanya Melati cemas.
"Mungkin dia marah, aku membawa Nayya tanpa izin tadi," terang Riko seraya berjalan melangkah pergi dan berhenti di depan Mia.
"Kenapa kamu berteriak-teriak di rumah orang gini, dimana sopan santun mu?"
"Maaf Den Riko, Bibik sudah melarangnya tapi Ibu ini ngotot dan terus teriak-teriak panggil Non Melati," ucap Bik Minah.
"Nggak pa pa Bik. Bik Minah boleh pergi."
Bik Minah mengangguk dan melangkah pergi.
"Kenapa kamu membawa Nayya tanpa seizinku, mana Nayya?" tanya Mia setengah berteriak.
"Nayya sedang bersama Melati."
Melati menuruni tangga bersama Ibunya, perlahan menghampiri Riko dan Mia yang tengah berbicara.
"Bagus, kamu membawanya kesini." Mia merebut paksa Nayya dalam gendongan Melati.
"Sampai kapanpun aku tak akan menyerahkan anak ini atau membaginya denganmu!" Ketus Mia.
Melati menitikkan air mata mendengar ucapan Mia.
"Jaga mulutmu Mia, Melati lebih berhak atas Nayya, dia Ibunya yang mengandung dan melahirkannya kenapa kamu begitu egois!" ucap Riko dengan nada meninggi, matanya menatap tajam Mia.
"Tidak ada yang lebih berhak atas Nayya selain aku! Aku sudah membagi semua milikku kepadamu bahkan suamiku sendiri dan kini tidak ada yang boleh merenggut Nayya dariku!" ancam Mia dengan suara lantang. Ia melangkah pergi meninggalkan rumah itu bersama Nayya di gendongannya.
Melati hanya terdiam terpaku menatap kepergiaan Mia yang membawa Nayya. Air matanya mengalir deras. Sari yang memperhatikannya langsung memeluk Melati.
"Sudah sayang jangan sedih lagi." Sari menyeka air mata Melati. Sari pun menuntun Melati menaiki tangga menuju kamarnya. Riko hanya menatap Melati sedih. Ia mengepalkan tangannya dengan perbuatan Mia yang sudah keterlaluan.
***
__ADS_1
Beberapa hari kemudian Melati masih mengurung diri di kamar. Setelah pertemuannya dengan Nayya dan akhirnya Nayya di bawa pergi hatinya sungguh sedih. Matanya terlihat sembab karena terus menangis setiap teringat Nayya anaknya.
Sari mengetuk pintu dan masuk ke kamar Melati, terlihat Melati duduk di sofa murung.
"Sayang, ada Dika mencari mu."
"Aku tidak ingin bertemu dengan siapapun Bu. Melati hanya ingin sendiri di kamar," ucap Melati tak bergerak dari duduknya.
"Temui dia sebentar sayang, kasian sudah kesini jauh-jauh," pinta Sari memohon.
Melati mengangguk seraya berjalan perlahan menuju ruang tamu.
Melati terlihat pucat dan lemah tidak ada rona kebahagiaan di wajahnya hanya kesedihan yang nampak menghiasi wajahnya.
Dika menatap Melati dengan tatapan penuh kesedihan.
"Apa kamu baik-baik saja, kamu terlihat pucat?" tanya Dika cemas.
Melati tak menjawab hanya mengangguk.Tatapan matanya kosong dan seperti linglung.
Andika menghela nafas panjang.
Bersiap-siap lah, ikutlah denganku."
"Kemana?"
"Ke tempat yang membuatmu senang," ucap Dika tersenyum.
"Bu, aku pergi sebentar dengan Dika," pamit Melati.
"Pergilah, Nak."
Melati mencium tangan Ibunya begitu juga dengan Dika.
Mobil pun melaju dengan perlahan meninggalkan rumah itu.
Di dalam mobil Melati hanya terdiam pandangannya ke arah jendela. Sepanjang perjalanan Melati diam dan sesekali memejamkan matanya.
Setelah perjalanan sekitar satu jam mereka pun sampai disebuah pantai yang sepi hanya beberapa orang yang terlihat menikmati ombak yang bersautan dan memecah di tepi pantai.
Melati berjalan mendekati ombak dan ombak pun menyapu kakinya hingga basah. Desiran angin menerbangkan rambutnya yang panjang. Andika nampak mengamati wajah yang sedikit terlihat bahagia. Wajah yang polos tanpa make up memancarkan kecantikan alami.
Melati memejamkan matanya menikmati angin dan suara-suara ombak yang menerpa wajahnya. Mereka duduk diatas pasir memandangi pantai di sore itu.
"Aku tidak ingin melihatmu bersedih, akhiri semua yang membuat luka di hatimu." Dika menoleh kearah Melati yang sedang duduk menatap ke arah hamparan pantai itu.
"Apa yang harus ku akhiri, aku punya Nayya yang mengikatku dan tak akan pernah putus ikatan ini. Biarlah aku jalani hidupku seperti ini."
"Semua hanya akan membuatmu menderita. Nayya akan hidup bahagia bersama Mia yang begitu menyayanginya."
__ADS_1
"Lalu aku, aku Ibunya, aku mengandung selama 9 bulan di perutku dan melahirkannya. Aku rela kehilangan semua tapi tidak dengan Nayya, aku tidak bisa hidup tanpa Nayya," ucap Melati. Butiran-butiran bening mengalir dari matanya.
"Kamu sendiri yang berjanji untuk memberikan Nayya dan kini kamu mengingkari janjimu."
"Aku tidak mengerti sebelumnya, setelah Nayya lahir baru aku mengerti betapa aku mencintai Nayya dan tak bisa hidup tanpa Nayya bahkan aku bisa menyerahkan nyawaku sendiri demi Nayya."
Andika terdiam mendengar ucapan Melati, dia menyadari kini Melati telah menjadi seorang Ibu. Terasa sesak bagi seorang Ibu untuk jauh dan meninggalkan anaknya walau sesaat.
"Sudahlah, bersenang-senanglah lupakan sejenak kesedihanmu jangan membahas ini lagi," ucap andika tersenyum.
'Aku ingin pergi dan mengakhiri semua ini tapi aku tak mampu. Nayya, Mommy sangat merindukanmu Nak. Mommy ingin melihat wajahmu walaupun hanya sesaat,' batin Melati.
Matanya memandangi lautan sampai batas cakrawala dan melihat sesaat bayangan wajah Nayya di langit.
***
Sekitar pukul 8 malam, Melati sampai di rumah. Melati bergegas mandi dan berganti pakaian dan menjalankan solat isya. Setelah selesai solat hatinya merasa tenang dan menyerahkan semua hidupnya kepada Tuhan pemilik segalanya.
"Apa kamu sudah makan?" tanya Riko yang berbaring ditempat tidur.
Melati menggelengkan kepalanya.
"Duduklah, aku akan mengambil makanan untukmu," ucap Riko beranjak dari tempat tidur dan mendudukkan Melati di sofa.
Riko melangkah pergi dan beberapa saat kemudian kembali membawa nampan yang berisi makanan dan segelas air putih.
"Aku akan menyuapimu."
Riko menyendok nasi beserta sayur dan ayam goreng menyuapkannya ke mulut Melati.
"Makanlah yang banyak, akhir-akhir ini kamu banyak melamun, makan tidak teratur. Lihatlah badanmu jadi sekurus ini."
Riko terus menyuapi istrinya sampai suapan terakhir dan memberinya minum.
"Terima kasih, Mas."
"Untuk apa berterima kasih?"
"Untuk semua yang kamu lakukan"
Riko membelai wajah Melati dan mengusapnya lembut.
"Aku yang seharusnya berterima kasih, kamu masih sabar walaupun hanya penderitaan yang aku berikan padamu.Terima kasih kamu masih tetap bersamaku," ucap Riko memeluk Melati erat.
"Kita akan melaluinya, aku berjanji akan membawa Nayya kesini tapi kamu harus berjanji tetap harus kuat. Kamu bisa berjanji padaku?"
"Iya aku janji." Melati mengangguk dan sedikit tersenyum.
Mereka saling berpandangan dan menatap satu sama lain.
__ADS_1
Riko pun mendaratkan ciumannya ke bibir melati. Mereka pun menghabiskan malam panjang itu dengan kehangatan dan cinta.