
Riko yang baru pulang kerja langsung beranjak ke kamarnya untuk segera mandi.Dia mencari keberadaan Mia tapi sedari tadi tidak mendapati istrinya di rumah itu.
Riko menemukan sepucuk kertas diatas nakas dan membacanya.Sepucuk surat dari Mia.Lalu perlahan dia membaca surat itu.
Maafkan aku mas karena pergi dari rumah tanpa memberitahumu untuk sementara waktu aku ingin menenangkan diri dulu.Tolong jangan mencari ku atau menjemput ku,aku butuh sendiri untuk sementara waktu.
Riko lalu meremas kertas itu setelah membacanya.
'Apa ini,'gumamnya lirih.Mengambil ponsel di saku bajunya dan berusaha menelpon Mia tapi teleponnya tak tersambung.Riko pun beranjak pergi menuju rumah Melati.
Sampai dirumah Melati, Riko menceritakan semua masalah Mia kepada Melati.
"Apa yang terjadi Mas, kenapa Mbak Mia bisa pergi dari rumah tanpa memberitahumu?"
"Entahlah aku juga tidak mengerti." Riko memejamkan matanya dengan kekacauan rumah tangganya.
"Beberapa hari lalu Mia merasa sedih karena dia merasa telah membohongi semua orang.Mommy sangat bahagia karena kehamilannya tapi ya kamu tahu sendiri dia nggak hamil jadi itulah yang membuatnya merasa bersalah," cerita Riko.
"Kita bisa membohongi semua orang tapi kita tidak akan pernah bisa membohongi hati nurani kita, mungkin itu yang dirasakan Mbak Mia."
"Iya kamu benar " Riko manggut-manggut.
"Lalu apa rencanamu selanjutnya?dua bulan lagi aku akan melahirkan."
"Ya seperti rencana kita semula.Aku yakin Mia akan segera kembali, dia hanya butuh menenangkan diri."
"Lalu bagaimana denganku?" Melati menatap suaminya menunggu jawaban pria itu.
"Tunggulah aku sebentar, setelah anak kita lahir aku akan menikahi mu secara resmi."
"Apa itu tidak akan menganggu karirmu, seorang Riko Wijaya pebisnis terkenal mempunyai dua orang istri tentu itu bukan kabar yang baik.Tak bisakah kamu memilih diantara kami berdua?"
Ucapan Melati begitu menusuk hati Riko, bisakah dia memilih diantara mereka berdua.
'Aku bukan lelaki yang bisa membagi hati tapi nyatanya aku tak bisa melupakan Mia cinta pertamaku dan Melati Ibu dari darah dagingku.Apa aku begitu egois ingin memiliki keduanya?' batin riko.
"Aku ....Aku mencintai kalian berdua." ucap Riko setengah ragu namun Ia akhirnya mengatakan perasaannya.
Melati tertunduk mendengar ucapan suaminya.Bukan kata-kata itu yang ingin dia dengar tapi dia sudah bisa menebak jawaban suaminya akan seperti itu.
"Aku tidak ingin kehilangan kalian berdua," imbuh Riko.
"Tapi, kamu akan menyakiti kami.Tidak ada wanita di dunia ini yang ingin dibagi cintanya!" Melati berucap dengan nada meninggi.
"Tapi selama ini kalian baik-baik saja."
"Pernahkah selama ini Mas Riko bertanya pada kami, apakah semua ini membuat kami bahagia?"
Riko terbelalak mendengar ucapan Melati.Ucapan Melati seperti tamparan keras baginya.
Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk.
"Melati," panggil Sari dari luar pintu kamar.
"Ya, Bu," jawab Melati setengah berteriak.
__ADS_1
"Ada Andika mencari mu," terang Sari.
"Ya Bu, suruh tunggu."
Suara langkah pergi terdengar menandakan Sari telah pergi.
"Mas, aku mau menemui Andika dulu." Melati melangkah pergi.
Riko menarik tangan Melati, menghentikannya.
"Ada apa?"
"Kenapa Andika masih sering menemui mu?" Riko bertanya penuh intimidasi dengan nada sedikit marah matanya menyiratkan kecemburuan.
"Aku punya urusan bisnis sama Andika."
"Bisnis apa, itu hanya alasan baginya untuk bisa dekat-dekat dengan kamu!" tukas Riko.
"Apa maksudmu?kenapa kamu berpikir seperti itu, selama ini Andika selalu membantuku!" Melati kesal, menepis tangan Riko yang masih menggenggam tangannya.Melati melangkah pergi tak menghiraukan suaminya yang sedang marah itu.
Riko pun semakin kesal, masuk kamar mandi seraya membanting pintu kamar mandi dengan keras.
Melati tengah berbincang-bincang dengan Andika terkadang terdengar suara ketawa yang cukup keras dari perbincangan itu.
Riko yang selesai mandi mendengar suara itu menjadi penasaran dan ingin melihat.Riko melangkah keluar kamar dan berdiri di balkon.Dia mengamati Melati dan Andika yang tengah asyik berbincang.
Terdengar langkah kaki yang semakin mendekat ke arahnya.
"Mas Riko, sedang apa?" tanya Dani.Menepuk bahu Kakak iparnya.
Seketika Riko terperanjat dengan kedatangan Dani yang membuyarkan fokusnya mendengar obrolan Melati dan Andika.
"Dan, memangnya Andika itu siapa?kenapa begitu dekat dengan Kakakmu?"
"Mas Dika itu tetangga kita di desa juga teman sekolah Mbak Melati.Dari dulu mereka dekat.Beberapa bulan ini Mbak Melati ada bisnis makanan dengan Mas Dika, mereka sering bertemu dan pergi bersama," ungkap Dani.
Dani melangkah menuruni tangga meninggalkan Riko dengan tangan terkepal menatap istrinya juga Andika.
Riko terus mengamati mereka dari balkon.
'Melati begitu bahagia tertawa lepas ketika bersama Dika, berbeda saat bersamaku dia selalu menangis dan sedih dengan semua masalah-masalahku,' batin Riko semakin kesal dan marah.Riko lalu berjalan masuk kamarnya menutup pintu dengar kasar.
Sementara Melati, Dani dan Andika masih asyik mengobrol.
"Mas Dika punya teman cewek nggak yang cantik, kenalin ke aku dong Mas."
Mendengar ucapan Adiknya yang lancang membuat Melati kesal dan mencubit pipi Dika gemas.
"Ih, apa sih Mbak ini, sakit tahu!"
Dika hanya tersenyum melihat Melati gemas mencubit pipi Dani.
"Kamu ini masih sekolah malah mikirin cewek terus.sekolah yang bener biar jadi orang sukses pasti semua perempuan bakal nempel sama kamu, tanya tu sama mas Dika!" bentak Melati sambil melirik Dika.
"Apa sih kamu, melati.Bisa aja kalau ngomong, nyatanya kamu tidak pernah melirikku." Kata-kata terakhir diucapkan Dika dalam hati.
__ADS_1
"Masa Mas Dika yang seganteng dan sekeren ini nggak punya pacar." Pujian juga cercaan dilontarkan Dani bersamaan.
"Mas nggak punya pacar, Dan.Mas Dika terlalu sibuk bekerja dan ngurusi jualan," jelas Dika.
"Aku tahu, kenapa Mas masih jomblo."
Dika sedikit terkejut mendengar ucapan Dani.
'Akankah dani tahu semua,' batin Dika.
"Memangnya kenapa, sok tahu anak kecil." Melati semakin gemas, mencubit pipi Dani kedua kalinya.
"Aw sakit Mbak!" pekik Dani.
Dani pun pergi meninggalkan Dika dan Kakaknya karena jika tidak ia akan menjadi sasaran cubitan Kakaknya.
Dika menghela nafas lega karena Dani tidak mengatakan apapun.
Setelah cukup lama Dika akhirnya pamit pulang karena hari sudah semakin gelap menjelang Adzan magrib.
Melati kembali ke kamarnya karena suaminya mungkin masih kesal karena tidak keluar kamar sedari tadi.
Melati lalu mengambil air wudhu dan melaksanakan solat magrib.
Setelah itu dia duduk disamping suaminya yang menutup seluruh badan dan wajahnya dengan selimut.
"Mas, kamu tidur?udah solat magrib belum?" tanya Melati sambil menggoyang-goyang tubuh suaminya pelan.
"Sudah!" jawab Riko ketus.
"Masih marah?"
"Siapa yang marah?" Riko belik bertanya.
"Kamu lah"
"Menurutmu bagaimana?"
Riko semakin kesal dan marah lalu dia duduk dengan gusar.
"Pikirkan, seorang istri mengobrol dengan pria lain bercanda tertawa-tawa tak menghiraukan suaminya!" Riko meluapkan kemarahan yang sedari tadi ditahannya.Suaranya meninggi, matanya menatap tajam ke arah Melati.
"Apa maksudmu, aku sama Dika tidak ada hubungan lain selain teman," jelas Melati kesal karena terus di tuduh.
"Apa kamu tidak melihat saat dika menatapmu dengan penuh cinta!" kekeh Riko dengan tuduhannya.
"Kenapa kamu ini terus menuduhku tanpa alasan yang jelas!" Melati kesal, membuang muka membelakangi suaminya.
Riko menghela nafas panjang mengatur nafasnya berusaha meredam kemarahannya.
Riko menarik tubuh Melati untuk kembali menghadap kearahnya.
"Maafkan aku sayang "Riko memeluk tubuh Melati.
Melati menangis di pelukan suaminya.
__ADS_1
"Jangan menangis, maafkan Mas yang selalu memberimu rasa sakit.Harusnya Mas lebih mengerti kondisimu yang sedang hamil.Mas hanya cemburu melihatmu bersama pria lain," ungkap Riko dibalik sikap arogannya.
"Aku hanya mencintai kamu bukan pria lain!" tegas Melati menatap lekat wajah suaminya.Keduanya kembali berpelukan.