Terjebak Nikah Kontrak

Terjebak Nikah Kontrak
Bab 61 ( Agresif )


__ADS_3

"Apa Mbak Yanti sudah siap?" tanya Riko menatap penampilan Yanti yang sudah rapi.


"Siap Den." jawab Yanti kemudian Melati menggandeng tangan Yanti menuju mobil.


Bik Minah melambaikan tangannya melihat kepergian putrinya ke kantor polisi.


Mobil pun melaju meninggalkan halaman rumah itu.


"Mbak Yanti nggak usah takut katakan semua yang terjadi malam itu." ucap Riko melirik wajah Yanti yang terlihat cemas dari balik spion di mobilnya.


Melati tersenyum membalikkan tubuhnya ke belakang menatap Yanti.


Sekitar 30 menit akhirnya mereka sampai beriringan masuk ke dalam kantor polisi disambut Erick dan pengacara Riko juga telah tiba lebih dulu.


.


.


"Mbak Yanti baik-baik saja?" tanya Melati menatap Yanti melangkah keluar dari kantor polisi.


"Iya bibik nggak pa pa, non." ucap Yanti tersenyum.


"Tunggulah dimobil!" suruh Riko.


"Hmm." Melati dan Yanti berjalan lebih dulu.


Terlihat Riko tengah serius berbicara dengan Erick dan pengacaranya.Beberapa menit kemudian Riko masuk mobil lalu melajukan mobilnya kembali ke kediamannya.


Sesampainya dirumah Riko masuk ke kamarnya lalu memasukkan berkas-berkas ke tasnya."Sayang kamu mau ke kantor?" tanya Melati.


"Iya tetaplah dirumah jangan membuat dirimu kecapekan, aku tidak mau jagoanku kelelahan." ucap Riko mengecup kening Melati lalu turun mengecup perut Melati mengelusnya sekilas.


Riko melangkah pergi meninggalkan Melati yang masih mematung.


"Suamimu kemana, kenapa membawa tas ransel?" tanya Sari melihat menantunya pergi.


"Kerja Bu,isinya berkas ranselnya."


"Owalah ibu kira Suamimu mau pergi kemana."


"Ibu sudah sarapan?" tanya Melati.


"Sudah."


"Temani Melati makan Bu, Melati lapar lagi tapi mau makan apa ya?" ucap Melati sedikit berpikir.Rujak buah yang kini memenuhi isi kepalanya.


"Ayo Bu Melati sudah tahu mau makan apa." ucap Melati merangkul ibunya menuruni tangga.


"Hati-hati Nak." ucap ibunya memperingatkan.

__ADS_1


Melati dan ibunya duduk diruang makan."Mau makan apa?" tanya Ibunya.


"Bik sini!" teriak Melati memanggil.


"Iya Non ada apa?"


"Tolong beliin aku rujak buah dong kayaknya siang-siang seger." pinta Melati.


"Ibu mau?" tanya Melati menoleh kearah ibunya.


"Kamu saja." tolak ibunya.


"Dua porsi ya Bik." ucap Melati merogoh kantongnya mengambil uang lalu memberikan kepada Bik Lina.Ibunya hanya menggelengkan kepala selera makan putrinya begitu besar saat hamil tapi dalam hatinya bahagia melihat putrinya memancarkan aura bahagia.


"Siap non." ucap Lina melangkah pergi.


"Kenapa Ibu terus menatap Melati?" tanya Melati.


"Ibu bahagia melihat pancaran kebahagiaan dari wajahmu nak,Selama ini Ibu benar-benar menghawatirkanmu tapi sekarang ibu lega." tutur Ibunya.


"Ibu maafin Mel selalu menjadi Beban pikiran Ibu." ucap Melati dengan tatapan sendu mengenggam tangan ibunya lalu menciumnya.


Ibunya membelai wajah Melati." Ibu hanya merasa bersalah dengan Almarhum ayahmu sampai kamu tidak bahagia dengan pernikahanmu."


"Ayah pasti senang Bu karena Mel disini bahagia, Mel menemukan laki-laki yang benar-benar mencintai Mel jadi Mel berharap Ibu juga bahagia." ucap Melati memeluk Ibunya.Buliran air mata jatuh membasahi kedua wanita itu.Dari kejauhan Lina yang menyaksikan keharuan anak dan Ibu itu ikut menitikan air mata kemudian dengan segera mengusap air matanya.


"Terima kasih Bik." ucap Melati.


Lina kemudian kembali ke dapur untuk melanjutkan memasak bersama Bik Minah.


***


"Selamat pagi Tuan." sapa Erick begitu Tuannya itu mendudukkan tubuhnya di kursi kebesarannya.


"Apa jadwalku hari ini?" tanya Riko memeriksa berkas di mejanya.


"Satu jam lagi acara peluncuran produk baru di mall xxx lalu setelah itu peninjauan restoran cabang baru." terang Erick.


"Kamu pergilah dengan Riana karena aku hari ini akan sibuk di kantor!" titah Riko.


"Siap tuan." ucap Erick membungkukkan kepalanya lalu Keluar dari ruang bosnya.


Riko lalu menghubungi Riana lewat telepon kantor agar segera bersiap pergi dengan Erick.Riana pun girang mendengar itu.


Riko memang sengaja mengatur jadwalnya pergi digantikan Riana agar adiknya itu bisa dekat dengan Erick.Riko mengenal betul Erick pria yang baik dan pantas mendampingi adiknya.Waktu 10 tahun bukan waktu yang pendek dihabiskannya dengan Erick Bastian pria tampan yang mendampinginya dan setia selama bekerja dengannya.


***


Tok tok tok

__ADS_1


"Masuk."


"Ibu Riana tuan Riko menyuruh Ibu untuk menggantikan-"


"Iya aku tahu, ayo pergi." ucap Riana memotong ucapan Erick.


"Dan jangan panggil aku Ibu, mengerti?" ucap Riana menatap Erick.


"Baik Mbak." ucapnya kemudian.


"Kok Mbak sih." ucap Riana merasa tidak senang.


"Lalu saya harus panggil apa?" tanya Erick jengah menundukkan wajahnya.


"Panggil aku Riana dan tatap wajahku ketika berbicara denganku." ucap Riana memegang dagu Erick membuat wajah tampannya terlihat sempurna di mata Riana.


"Maaf Bu,saya tidak berani langsung memangil nama anda nanti tuan Riko marah." ucap Erick berdiri sedikit menjauhi Riana.


"Urusan Kakakku biar aku yang urus Ok,please jangan panggil aku Ibu atau Mbak kayaknya kita seumuran." ucap Riana dengan nada penuh penekanan.


"Iya Mbak maksud saya Ria- na." ucap Erick canggung.


"Ayo pergi." ucap Riana berjala lebih dulu lalu Erick mengekor dibelakangnya.


"Berjalanlah di sampingku." ucap Riana menarik tangan Erick hingga keduanya berjalan beriringan.Riana tertawa menyeringai Dengan aksinya yang sedikit agresif.


Keduanya pun menjadi pusat perhatian karyawan lain di kantor itu membuat Erick semakin malu menundukkan wajahnya.


.


.


"Terima kasih ya Erick sudah mengantarku." ucap Rina melepas sabuk pengaman dari tubuhnya.


"Iya sama-sama Ria-na." ucap Erick masih terasa kaku di mulutnya menyebut nama Riana.


Riana kemudian memegang lengan Erick sambil tersenyum menampilkan deretan gigi putih.Wajahnya yang ayu seketika membuat hati Erick berdesir hingga tangannya bergetar rasa canggung membuatnya salah tingkah.


"Sampai jumpa besok Erick." ucap Riana turun dari mobil kemudian melambaikan tangannya lalu masuk ke dalam rumahnya.


Erick masih mematung menatap Riana masuk kedalam rumahnya hingga hilang di balik pintu.Jantungnya yang tadi berdetak tak menentu kini mulai stabil dengan kepergian Riana.


"Sadar Erick sadar, kamu itu siapa jangan punya pikiran aneh-aneh apalagi berharap-" ucap Erick memilih tidak meneruskan ucapannya.Dia terus menekankan pada dirinya sendiri siapa dirinya.


Erick melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu dengan perasaan antara senang atau sedih.Disisi lain sebagai pria,Riana begitu menggodanya dan laki-laki manapun pasti akan tergila-gila dengan pesonanya termasuk dirinya tapi disisi lain dia sadar siapa dirinya yang hanya seorang bawahan yang dilihat dari sudut manapun tak pantas berdiri disampingnya apalagi punya pikiran lebih untuk memperistrinya.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Lanjut vote like dan komen agar author makin semangat.Please dukungan kalian adalah motivasi buat author🙏

__ADS_1


__ADS_2