Terjebak Nikah Kontrak

Terjebak Nikah Kontrak
Bab 13(Ditinggal Pergi)


__ADS_3

Pagi ini Melati akan mengantar kedua adiknya Dani dan Mawar mendaftar sekolah.Rencananya mereka akan sekolah di sekolah yang sama.Dani akan sekolah di SMA HARAPAN sementara mawar di SMP HARAPAN.Dani kelas 1 SMA sementara mawar kelas 2 SMP.


Melati sedang bersiap-siap begitu juga Dani dan Mawar.


"Dani, Mawar, buruan nanti kesiangan!" teriak Melati memanggil kedua adiknya di depan kamar mereka.


"Iya Mbak," sahut Mawar dari dalam kamar.Beberapa menit kemudian keluarlah Mawar dari kamar begitu juga Dani.


"Sudah dibawa semua kan syarat-syarat buat mendaftar?"tanya Melati sambil berjalan menuruni tangga diikuti kedua Adiknya.


"Sudah Kak," jawab kedua Adiknya.


Mereka duduk dimeja makan untuk mengisi perut yang kosong sebelum pergi.Setelah selesai makan mereka pamit kepada Sari untuk pergi.


***


Beberapa hari kemudian Sari memberanikan diri untuk berbicara dengan menantunya itu.Riko yang sedang duduk di teras depan rumah menikmati suasana pagi, kebetulan hari ini hari libur membuatnya santai.


"Nak Riko," sapa Sari.Ikut duduk bersamanya.


"Iya, Bu,"jawab Riko dengan sopan.


"Ibu mau bicara soal Melati"


"Ada apa dengannya Bu, apa Melati sakit?"


Sari menggelengkan kepala dan mulai berbicara.


"Melati sudah menceritakan semua masalah kalian.Apa mau mu, Nak? Ibu tidak mau kamu menyakiti hatinya."


"Apa maksud Ibu aku menyakitinya?kami sudah sepakat sebelumnya.Dia akan memberiku keturunan sebagai gantinya aku akan memberinya kekayaan ku!" tegas Riko penuh dengan keyakinan.


"Apapun kesepakatan kalian pernikahan tetaplah pernikahan, jangan kamu mempermainkannya apalagi membelinya dengan uang.Melati terlalu polos, dia hanya ingin menyelamatkan Ayahnya yang waktu itu sakit dan butuh biaya sehingga dia tidak berpikir panjang ke depannya.Dia akan menjadi janda muda nantinya, apakah itu maumu?" kata Sari tanpa sadar menitikkan air mata.


"Lalu apa mau Ibu?"


"Tidak kah kamu mencintai Melati walau hanya sedikit.Nikahilah dia dan jadikanlah dia istrimu secara resmi." Sari berharap dengan tatapan penuh harap


Riko hanya terdiam tak mengatakan apapun disisi lain dia tak mau menyakiti hati Mia tapi disisi lain dia juga tak mau menyakiti hati Melati.


Sari meninggalkan Riko yang masih termangu.Di detik kemudian Riko pergi ke kamarnya untuk menemui Melati.Riko memasuki kamar itu dan terlihat Melati sedang membereskan baju- baju yang berantakan di dalam lemari.


"Mel, aku ingin mengatakan sesuatu." Riko menarik tangan Melati, mendudukkannya diatas tempat tidur.


Melati memandangi riko dengan pandangan penuh tanya.


"Ada apa, Mas?"


"Untuk sementara aku akan tinggal di rumah Mia, disini ada Ibu yang merawatmu.Aku tidak ingin terjadi kesalahpahaman yang jauh diantara kita.Aku Riko Wijaya hanya mencintai satu wanita yaitu Mia!" pungkas Riko tegas.


Sungguh rasanya seperti ditusuk ribuan duri hati Melati mendengar semua perkataan orang yang dicintainya.


'Harus bagaimana ini, hati ini sudah terlanjur mencintainya.Cintaku hanya sebuah perjanjian kontrak dan hatiku tidak boleh menginginkan lebih dari itu.Aku harus kuat aku Melati, aku pasti bisa melewati ini," batin Melati sambil menepuk dadanya menguatkan.

__ADS_1


Melati menghela nafas panjang dan berusaha terlihat kuat di depan Riko.


"Baiklah, kalau itu mau kamu.Pergilah kemanapun kamu suka dan kehendaki!" tegas Melati.Ia segera memasukan baju-baju Riko ke sebuah koper dan diberikannya koper itu kepada Riko.


"Baiklah aku pamit.izinkan aku untuk mencium dan mengelus perutmu sebentar." Riko menunjuk ke perut Melati.


Melati mengangguk mengiyakan keinginan Riko.Riko mengelus dan mencium perut melati dengan lembut.Bayi dalam kandungan Melati pun merespon dengan tendangan halus.


"Jaga mommy ya, Nak." Mengecup perut Melati beberapa kali.


Riko pun pergi membawa koper meninggalkan Melati seorang diri sementara Melati masih duduk termangu di atas tempat tidur dengan pandangan kosong.


'Kamu pergi begitu saja, tidakkah kamu mengerti perasaanku sedikit saja.Pergilah membawa luka ini bersamamu tapi kamu malah meninggalkan luka ini bersamaku,' batin Melati.Ia menangis sambil memukul ranjangnya, seakan ingin berteriak sekuat-kuatnya memberitahu dunia akan kesedihannya saat ini namun biarlah perasaan sedih ini terkurung dalam hatinya.


Bayi dalam kandungannya pun bergerak-gerak dan menendang halus perutnya seakan menguatkan Ibunya yang begitu rapuh.Melati mengelus perutnya dan berkata lirih.


"Mommy baik-baik aja sayang, mommy pasti kuat demi kamu, Nak."


Di detik kemudian, Melati pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya dan matanya yang sedikit sembab karena menangis.


Tok ... tok.Terdengar suara pintu kamar Melati diketuk.


"iya, masuk," sahut Melati dari dalam kamarnya.


"Mbak, masih apa sibuk?" Mawar mendekati Kakaknya yang masih berdiri di depan pintu kamar mandi.


"Mbak, nggak sibuk kok.ada apa?"


"Kemana?"


"Kemana aja penting keluar rumah."


"Baiklah, bersiap-siaplah ajak Ibu juga Dani sekalian!"


"Siap, Mbak," Seru mawar kegirangan sembari pergi ke luar kamar itu untuk bersiap-siap.


Beberapa menit kemudian mereka telah siap dan telah berada di mobil.Sopir pun mengantar keluarga itu ke sebuah tempat.Mawar mengajak untuk pergi ke CFD karena memang mawar sudah janjian dengan teman sekolahnya di tempat itu.


Ramai sekali ditempat itu.Banyak orang berlalu lalang berjalan kesana kemari hanya sekedar menikmati suasana pagi.Ada juga yang hanya ingin jajan karena memang banyak penjual di tempat itu serta ada yang bersepeda santai sembari berolahraga.


Melati, Mawar dan Sari masih santai berjalan-jalan.


"Mbak, aku mau itu dong," kata Mawar menunjuk ke makanan yang sedang viral ala-ala Korea, Corn Dog.


"Baiklah, ayo kesana." Melati menggandeng Sari juga Mawar mendekati penjual yang memang ramai sekali pembeli sampai antri berjejal.


"Dah sana antri beli.Mbak sama Ibu. tunggu disini!" suruh Melati sambil memberi Mawar selembar uang seratus ribu.


Sementara Melati dan Sari duduk di sebuah bangku yang tak jauh dari Mawar membeli jajan.


"Riko tadi pergi kemana Melati, kenapa membawa koper segala?" telisik Sari.


"Biarkan Bu, biar dia melakukan apapun yang dia suka.Toh anak orang kaya gitu uang bisa membeli segalanya termasuk kebahagiaan," kata Melati dengan nada kesal.

__ADS_1


Sari hanya tersenyum melihat ekspresi anaknya yang sedikit kesal.Diusapnya punggung Melati mencoba menguatkan hati putrinya itu.


"Aku seneng banget Ibu ada bersamaku karena Ibu lah sumber kekuatanku.Kalau pun gunung menimpaku, laut menenggelamkan ku, pasti aku bisa karena ada Ibu.Mungkin ayah mengirim ibu kesini untuk menjaga dan menjadi sumber kekuatanku." Melati tersenyum kecil menggenggam erat tangan Sari.Ia tidak bisa membayangkan jika saat ini Ibunya tidak berada di sampingnya, entah apa yang terjadi padanya.Keluarganya adalah kekuatan terbesarnya.


Akhirnya Mawar kembali dengan tiga box makanan beserta seorang Pria berjalan di belakangnya tak lain Andika.


"Dika kamu disini juga," tanya Melati.


"Mbak ternyata Mas Dika yang jualan Corn dog." Mawar memberi 1 box Corn dog ke Kakaknya.


"Bu, jalan kesana yuk." Mawar menarik tangan Ibunya pergi sementara Melati duduk di kursi bersama Andika.


"Mana suamimu?"


"Jangan bahas dia lagi, muak aku!" Melati terlihat kesal sembari menggigit corn dog ditangannya.


Dika tersenyum kecil melihat Melati yang kesal sembari menggigit makanan seolah dia sedang menggigit-gigit orang yang membuatnya kesal.


"Enak nggak?"


" Enak banget, kejunya lumer di mulut aku."


Dika mengusap mulut Melati yang belepotan keju.


"Dika, kau." Melati terkejut dengan sikap Dika yang menjilat bekas makanan dari mulutnya.Pria itu hanya tersenyum tanpa merespon lebih.


"Kamu jualan disini tiap hari Minggu?" tanya Melati mengalihkan topik pembicaraan setelah keduanya terlihat canggung tadi.


"Nggak selalu hanya kalau aku ada waktu senggang.Di hari kerja aku harus ngantor," jelas Dika Menatap intens wajah cantik Melati.


"Oh ya, senengnya bisa sibuk terus sembari menghasilkan banyak uang."


"Aku ini anak orang nggak punya Melati kalau aku nggak kerja mau makan apa," sahut Dika menghela nafas panjang.


" Sama lah aku juga orang nggak punya."


"Tapi suamimu kaya sementara aku." Dika membandingkan keadaannya dengan suami Melati.


"Suamiku yang kaya bukan aku.Aku sebenarnya pengen kerja tapi dengan kondisi ku seperti ini mau kerja apa." Melati sadar suatu saat Ia akan meninggalkan kemewahan yang di berikan suaminya hingga berpikir untuk mengumpulkan uang.


"Apa kamu mau gabung denganku, buka cabang jajanan viral kayak gini.Keuntungannya lumayan dan rame terus.Banyak banget yang meminta aku membuka cabang di beberapa kota lain, kita bisa bagi hasil,"tawar Dika.


"Mau.Mau banget malahan daripada aku nggak ada kerjaan," sahut Melati sumringah.


"Kamu nggak harus jualan kok kita cuma perlu modal untuk menjalankan bisnis ini."


"Siap," jawab Melati.


***



sosok visual Andika menurut author.

__ADS_1


__ADS_2