
Setelah kurang lebih satu jam berkendara akhirnya Melati dan Andika telah sampai di sebuah desa.Di pelataran rumah yang cukup luas Andika memarkirkan mobilnya.
Terlihat orang datang dan pergi.Bendera kuning terpasang di depan rumah itu.Melati yang turun dari mobil dan menyaksikan itu merasakan firasat yang tidak enak.
"Ada apa ini?" katanya dengan suara lemah.
Andika yang melihat Melati langsung mendekat menuju ke tempat Melati berdiri.
"Tenang Melati," kata Andika.Menuntun Melati memasuki rumah itu.
Kaki Melati seakan bergetar, badannya seakan melemah dan tidak pernah selemah ini sebelumnya.Selangkah demi selangkah kakinya berjalan.Betapa terkejutnya melihat jenazah telah terbujur kaku ditutup kain panjang dan orang-orang melingkari jenazah itu membacakan surat Yasin.
Deg
Hati Melati seakan dipukul sekuat-kuatnya oleh sesuatu yang menyakitkan, ditimpa sesuatu yang berat membuat dadanya sesak.Melati yang tidak bisa menahan berat tubuhnya akhirnya terjatuh namun dengan sigap andika menahan tubuh Melati sebelum jatuh ke lantai.Andika membopong tubuh Melati.Sari Ibu Melati langsung berlari kearah Andika, menyuruh Andika membawa Melati ke kamar untuk dibaringkan.
"Melati.Melati, sadar sayang," panggil Sari.
Riko yang melihat dari kejauhan langsung berlari masuk dan segera melihat Melati yang dibaringkan di kamar.
"Nak Dika, ambil minyak kayu putih itu di meja!" Sari menyuruh Dika sambil menunjuk ke meja.
Andika mengambil dan memberikannya kepada Sari.Riko yang telah berdiri disamping Ibu mertuanya, matanya menatap tajam ke arah Andika yang masih berada di ruangan itu padahal sudah ada dirinya yang jelas statusnya suami dari Melati.
Sari menggosokkan minyak kayu putih ke kaki juga hidung Melati.
"Riko, Ibu titip Melati ya jaga dia.Ibu akan keluar."
Sari keluar keluar di ikuti Andika.Riko menganggukkan kepalanya dengan pesan Ibu mertuanya.
Sepeninggalan Ibu mertuanya, Riko mengusap dan mencium kening Melati dengan lembut.
"Sadarlah sayang," katanya lirih sambil memegang dan mencium tangan Melati.
Akhirnya setelah beberapa lama Melati siuman.
"Mas apa yang terjadi?" tanya Melati.Berusaha duduk.
Riko membantunya karena Melati terlihat sangat lemah dengan wajah pusatnya.
"Sabar dan kuat ya, Ayah telah meninggal dunia," kata Riko.Memeluk tubuh Melati mengusap punggungnya menguatkan wanitanya.Tumpah lah air mata Melati membasahi pipinya.Mulutnya ditutup dengan tangannya, menahan tangis yang begitu sesak di dadanya.
Riko terus menenangkannya."Menangis lah,keluarkan yang ingin kau keluarkan jangan ditahan."
Melati menangis terisak-isak sudah tidak bisa membendung kesedihannya.Dunia seakan menjadi gelap.Langit seakan runtuh.Betapa dia sangat terpukul dan merasa kehilangan sosok Ayah yang begitu dia cintai.
Masih segar dalam benaknya sosok Ayahnya begitu kental di ingatannya.Sosok Ayah yang begitu dia cintai sekarang sudah meninggalkannya untuk selamanya.
__ADS_1
'Untuk Ayah lah aku mengorbankan hidupku.Aku dinikahi pria untuk memberinya keturunan dan pria itu memberiku banyak uang untuk menyelamatkan hidup Ayah dan keluargaku dan kini hanya untaian doa yang Ayah butuhkan.Terima kasih Ayah telah menjadi sosok yang begitu sempurna di hidupku.Kau membuatku hidup dan menjadi Melati yang begitu kuat seperti ini.Aku harus kuat demi Ibu dan adik-adik,' kata Melati dalam hati sambil terus terisak- Isak .
Melati menghapus air matanya yang terus saja keluar tanpa henti dan berusaha kuat demi Ibu dan adik-adiknya.Melati lalu keluar menemani Ibunya.
Akhirnya jenazah Ayahnya telah selesai dimakamkan.Melati masih saja menitikkan air mata yang semenjak tadi tidak berhenti keluar dari matanya.Ibu melati merangkulnya dan menguatkannya.Sari menyodorkan sebuah keranjang berisi bunga.
Melati menaburkan bunga-bunga diatas pusara Ayahnya.Kedua Adiknya dan Sari ikut menabur bunga-bunga diatas makam itu.
'Beristirahatlah dengan tenang Ayah.Melati janji akan menjaga Ibu dan adik-adik,' kata Melati dalam hati sambil mengusap dan mencium nisan ayahnya.
Melati dan keluarganya akhirnya pulang.
Malam hari di kediaman Sari, banyak sanak saudara tetangga berdatangan untuk melaksanakan Yasin dan Tahlil yang biasanya akan dilaksanakan selama tujuh hari berturut-turut.
***
Tujuh hari berlalu.
Udara pagi yang masih begitu segar membuat Melati ingin sejenak berjalan-jalan.Waktu menunjukan pukul enam pagi dan jalan pun masih lengang karena memang keadaaan di desa sepi tidak seperti di kota.
Melati berjalan menyusuri jalanan yang kanan kiri dihimpit persawahan yang hijau dan luas.sawah-sawah itu ditanami padi yang tumbuh subur menghijau, sungguh pemandangan yang memikat mata siapapun.
Terlihat sosok pria dari kejauhan yang semakin mendekat dan sosok itu adalah Andika.
"Melati."
Andika mengangguk dan tersenyum kecil.Mereka berjalan bersama menyusuri jalan di desa itu sambil terus berbincang-bincang.
"Bagaimana keadaanmu, kamu baik-baik saja?" tanya Andika.
"Ya aku baik-baik aja kok, aku tidak ingin Ibu mencemaskan aku.Apalagi dengan kondisiku yang saat ini sedang hamil" sahut Melati sambil mengelus perutnya yang mulai membesar.
"Aku nggak menyangka kamu sudah menikah Melati?" tanya andika dengan nada sedikit kecewa.
"Ini terjadi begitu mendadak, Ka.Aku nggak punya pilihan lain," jelas Melati.
"Apa maksudmu, apa pria itu memaksamu menikahinya?" tanya Andika semakin penasaran.
"Sudahlah, Ka.Biarlah ini menjadi takdir yang harus aku jalani.Terkadang hidup berjalan tidak sesuai keinginan kita."
"Lalu apa rencanamu sekarang?"
"Hari ini aku akan balik ke kota bersama Ibu dan adik-adikku.Aku akan memindahkan sekolah mereka ke SMA dan SMP disana," jawab Melati.
"Baik lah, hubungi aku jika kamu membutuhkan bantuanku."
"Terima kasih, Ka.Kamu selalu membantuku," kata Melati seraya masuk ke sebuah pelataran rumahnya.
__ADS_1
Mereka pun berpisah.Andika melanjutkan berjalan untuk pulang sementara Melati berjalan menuju pintu rumahnya.Ketika akan masuk seorang pria menghadangnya masuk dan menariknya keluar ke teras.
"Apa sih Mas, main tarik-tarik aja," ucap Melati kesal.
"Kamu dari mana saja, pacaran sama si Dika itu?" tukas Riko dengan nada kesal.
"Pacaran apa maksud kamu?" sahut Melati ikut emosi dengan tuduhan tidak jelas dari suaminya.
"Lalu apa, maksudmu pagi-pagi sudah berjalan bersama?" cerca Riko semakin emosi.
"Ah, sudah lah aku capek sama kamu," pasrah Melati.Berjalan masuk rumah.
"Mel.Melati!" teriak Riko.
Melati tak menghiraukannya dan terus masuk.Terlihat Sari sedang memasak di dapur bersama Mawar adik Melati yang beranjak remaja.
"Ibu masak apa, harum banget baunya.Cacing dalam perut Melati jadi berteriak minta makan," kata Melati sambil mengaduk tumis sayur kangkung.
"Mbak ini aneh, masa adik bayi dibilang cacing," sahut Mawar tersenyum lebar.
Mendengar Mawar semua jadi ikut tertawa.
"Hah, Mbak lupa kalau sedang hamil." Melati menepuk keningnya sendiri.
"Ibu sama Mawar siap-siap nanti setelah Melati selesai mengurus surat pindah Mawar sama Dani, kita akan pindah ke rumah Mbak," jelas Melati memberitahu.
Setelah itu Melati bersiap-siap untuk pergi ke sekolah dua adiknya untuk mengurus surat pindah.Setelah mandi Melati berganti pakaian dan merias wajahnya tipis sementara Riko masih duduk santai diatas kasur memainkan gawai nya.
"Mas buruan mandi, kamu mau antar aku nggak sih?" kata Melati kesal
"Males lah pergi sendiri aja," sahut Riko dengan muka masih sebal.
"Baiklah aku telepon Dika, biar dia yang mengantarku," balas melati dengan nada sama ketusnya dengan Riko.
Riko melompat dari tempat tidurnya menghentikan Melati yang sudah memegang ponselnya hendak menghubungi Andika.
"Iya.Iya jangan marah, Mas cuma bercanda." Riko sambil menyambar handuk di kepala Melati berlalu pergi dari kamar itu menuju mandi di belakang.
Setelah semua selesai dan telah selesai sarapan Riko dan Melati bersama dua adiknya pergi ke sekolah untuk mengurus surat pindah kedua adiknya.
.
Akhirnya setelah semua selesai mereka kembali ke rumah dan langsung bersiap untuk pergi karena memang waktu sudah senja.Sekitar pukul tiga sore, Riko mengendarai mobil bersama Melati dan Ibu mertua serta kedua adiknya.
Mobil berlalu pergi meninggalkan rumah masa kecil Melati yang penuh banyak kenangan di sana.Melati yang berada di mobil menengok ke rumah itu.
'Selamat tinggal Ayah,' batinnya berkata.Buliran-buliran kembali menetes tanpa aba-aba.Riko yang tidak sengaja memperhatikan Melati lalu menggenggam tangannya menguatkan.Melati segera menghapus air matanya sebelum Ibunya menyadari, dia tidak ingin membuat ibunya sedih lagi saat melihatnya menangis.
__ADS_1