Terjebak Nikah Kontrak

Terjebak Nikah Kontrak
Bab 7 ( Benih Cinta Mulai Bersemi)


__ADS_3

Dua bulan berlalu dengan cepat.Riko bolak-balik ke rumah Mia istri pertama dan Melati istri kedua.Pria itu berusaha seadil-adilnya agar keduanya tak saling cemburu.


Melati yang sedari pagi belum keluar kamar merasakan perutnya begitu mual, rasanya ingin menumpahkan semua isi perutnya.Setelah memuntahkan semua isi perutnya dia kembali terbaring lemas diatas kasur.Wajahnya begitu pucat masam.


Bik minah yang sedari pagi tidak melihat batang hidung Nona mudanya itu merasa cemas.Bik Minah menyuruh anaknya Yanti untuk melihat keadaan Nona mudanya itu karena memang biasanya selalu membantunya memasak di dapur.


Tok ... tok ....


Terdengar suara pintu diketuk.


"Masuk Bik, nggak dikunci," jawab Melati pelan dengan nada yang lemah.


Yanti masuk dan mendapati Nonanya masih berbaring diatas ranjang. "Non kenapa, sakit?" tanya Yanti cemas.


"Nggak tahu Mbak Yanti, sedari pagi mual terus perutku, kepala juga pusing mungkin masuk angin kali ya," jawab Melati.


"Sudah telepon tuan, Non?" tanya Yanti.


"Belum Mbak Yanti, biarkan saja nanti juga sembuh sendiri.aku cuma perlu beristirahat," jawab Melati sambil menghirup aroma minyak kayu putih ditangannya.


"Ya sudah Non, Mbak Yanti tinggal ya biar Non bisa istirahat.Nanti saya bawakan susu dan roti buat Non sarapan," kata Yanti.Melangkah pergi meninggalkan kamar itu.


Yanti menemui Minah dan menceritakan keadaan Melati.Bik Minah langsung menuju ruang tamu untuk menelpon majikannya karena berpesan kalau ada sesuatu untuk segera menghubunginya.


Riko yang masih dirumah Mia langsung bergegas pergi menuju rumah Melati.


Sekitar 20 menit akhirnya Riko sampai.Langkahnya langsung tertuju kamar Melati di lantai 2.


Riko mendekati Melati begitu masuk kamar Melati.Terlihat istrinya terbaring lemah.Riko langsung memegang kening istrinya untuk memastikan apa badannya panas dan ternyata Melati tidak panas.


Melati terbangun, tangan seseorang menempel di keningnya dan langsung memegangi tangan itu."Kamu Mas kok disini, kapan datang?" tanya Melati.

__ADS_1


"Barusan, kenapa tidak menelpon?" tanya Riko cemas.


"Aku baik-baik aja Mas, nanti juga sembuh." Melati menjawab dengan yakin.


"Kamu butuh Dokter.Tadi sebelum aku kesini, aku sudah menghubungi Dokter sebentar lagi pasti sampai," kata Riko sembari duduk ditepi ranjang.


Tok ... tok ....


"Ya masuk," pekik Riko.


Terlihat Yanti masuk ke kamar itu. "Ada Dokter Herman dibawah," ucap Yanti.


"Suruh kesini Mbak Yanti!" kata Riko jelas.Yanti langsung pergi mempersilahkan Dokter Herman untuk naik ke lantai dua.Mbak yanti mengantar Dokter Herman menuju kamar Melati dan membukakan pintu mempersilahkan Dokter itu masuk.


"Silahkan Dokter, periksa istri saya dari pagi katanya mual dan muntah-muntah terus," kata riko sembari mempersilahkan Dokter itu.


Setelah beberapa menit memeriksa dokter tersenyum kecil.Riko yang mengamati raut muka Dokter menjadi bingung. "Kenapa Dok, apa ada yang lucu?" tanya Riko heran.


"Selamat Pak Riko, Anda akan segera menjadi Ayah," kata Dokter sambil menjabat tangan Riko.


Inilah kabar yang selama 3 tahun dinantinya dan akhirnya sebentar lagi dia akan menjadi seorang Ayah.


"Benar Pak Riko, usia kandungannya sekitar 5 minggu.Tolong dijaga istrinya, jangan sampai kecapaian dan stres karena saat ini kandungannya masih rentan dan bisa terjadi keguguran!" tegas Dokter berpesan.


"Pasti Dok, saya akan menjaga istri saya." Riko menjawab dengan yakin.


Setelah semua selesai Dokter pun segera pamit untuk kembali ke klinik.Riko mengantar dokter herman ke depan dan langsung kembali ke kamar Melati.


Riko begitu bahagia dan masih sedikit tak percaya, dirabanya perut Melati yang masih rata dan menciumnya.Melati merasa risih dan geli membuat menggeliat kegelian.


"Apa an sih kamu Mas, geli tahu!" Melati mendorong Riko menjauh.

__ADS_1


Riko menggenggam tangan Melati dan memandang wajahnya.Matanya bersinar, menyiratkan betapa penuh hatinya akan kebahagiaan yang akan hadir.


"Kamu membuat aku bahagia dan belum pernah aku sebahagia ini!" kata Riko sambil menciumi tangan melati.


Melati menitikkan air mata dan tersenyum penuh haru melihat kebahagiaan terpancar di mata suaminya itu.Wajahnya yang sedari tadi pucat basi berubah sumringah.


Tok ...tok ...


suara pintu diketuk dari luar.


"Ya bik masuk," kata Riko.


Bik Minah membawakan segelas susu dan roti berlapis selai coklat. "Non ini sarapannya," kata Bik Minah sambil menaruh makanan di nakas.


"Non Melati, sakit apa Tuan?" tanya Bik Minah yang masih berdiri mematung.


"Nggak sakit Bik, tapi hamil," jawab Riko sambil tersenyum .


"Alhamdulilah akhirnya Non hamil, Bibik ikut bahagia," sahut Minah ikut gembira.


Melati yang mendengar percakapan Bik Minah dan Riko juga ikut tersenyum.Bik Minah segera pergi ke dapur melanjutkan pekerjaannya.


Riko menyuapi istrinya makan, dia terus memaksa Melati menghabiskan semua makanannya karena Riko tidak ingin bayinya kelaparan.Melati hanya bisa menurut karena tidak ingin suaminya marah.


"Mulai sekarang kamu harus menjaga dirimu, jangan sampai kecapekan apalagi kelaparan, ingat ada kehidupan di rahimmu!" tegas Riko memperingatkan sambil menunjuk arah perut Melati.Melati hanya mengangguk.


"Beristirahat lah!Mas mau balik ke kantor, nanti sekalian pulang kerja Mas mampir apotek menebus vitamin yang diresepkan Dokter," kata Riko sambil menyelimuti Melati yang tengah berbaring di ranjang.


Riko beranjak pergi meninggalkan melati menuju ke kantor dengan mobilnya.Sementara Melati masih asyik mengusap-usap perutnya seakan tidak percaya ada kehidupan di dalam rahimnya.


'Baru kemarin rasanya aku menikah dan kini aku tengah hamil,apa aku harus bahagia atau sedih.nyatanya anak ini bukan milikku meski aku yang mengandungnya," batin melati.

__ADS_1


Hatinya masih bergulat antara bahagia dan sedih karena mengandung buah cintanya bersama riko namun disisi lain bayi dikandungnya bukan miliknya.Melati tidak menampik kalau hari demi hari benih-benih cinta itu tumbuh subur di sanubarinya.Tapi dia juga telah sepakat dengan Riko, akan menyerahkan anak ini sebagai anak mereka.Melati sadar dia hanyalah Ibu sewaan.


"Harusnya aku tidak menanam benih cinta ini di hatiku ... kenapa ... kenapa?aku terjebak dalam perangkap ku sendiri,"katanya lirih menepuk-nepuk dadanya sendiri.Air mata membasahi pipinya, Melati langsung menyeka air matanya dan berusaha kuat. "Aku tidak boleh lemah, aku Melati yang kuat dan hebat," ingatnya berusaha menguatkan dirinya sendiri.


__ADS_2