
***
Sudah beberapa hari kamu disini,kamu nggak pulang suamimu pasti cemas?"
"Mia masih pengen disini bude,mia masih pengen menenangkan diri"ucap mia sambil menyeruput teh.
"Bude tahu semuanya membuat kamu merasa bersalah,tapi yakinlah semua demi kebahagiaan rumah tanggamu" kata bude menyodorkan pisang goreng yang baru diangkat dari penggorengan.
"Aku begitu takut dengan semua kebahagiaan yang terpancar dari keluarga suamiku bude,aku takut mereka akan mengetahuinya.Apa sebaiknya aku mengatakan semuanya sebelum terlambat!"
"Tenanglah dan yakinlah semua akan baik-baik saja jangan berpikir yang tidak-tidak.Riko pasti sedih melihatmu putus asa seperti ini" kata bude mengelus punggung mia.
"Aku merasa aku tidak pantas bersanding dengan mas riko yang sempurna punya segalanya sedangkan aku perempuan yang tidak akan pernah bisa memberinya keturunan" kata mia menitikan air mata terlihat semburat kesedihan di wajahnya.
"Tenang, tenangkan dirimu mia" ucap budenya memeluknya.
"Ayo dimakan pisangnya mumpung masih panas"
Mia pun mengambil sepotong pisang goreng dan memakannya.
"Hhmmm ini enak bude,pisang goreng bude memang juara" ucap mia mengacungkan jempol kearah budenya.
Bude tersenyum bahagia melihat mia sejenak melupakan kesedihannya.
***
Seminggu kemudian.
Mia telah kembali dari rumah budenya.Mia berusaha keras untuk bisa menata hatinya,berusaha untuk menerima semua dan melanjutkan hidupnya.
Riko yang mengetahui istrinya telah kembali segera pergi menemui istrinya.
Riko memeluk tubuh mia dengan erat dan meluapkan kerinduan yang di pendamnya selama seminggu ini.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya riko mengelus pipi mia.
Mia mengangguk dan kembali memeluk suaminya dengan erat.
"Maafkan aku mas telah meninggalkanmu begitu saja"
"Sudahlah,aku tahu kamu butuh waktu sendiri tapi aku yakin sekarang kamu bisa mengatasi semuanya"
"Aku tak yakin kalau aku bisa melanjutkan semua ini"
Riko terbelalak dan mematung mendengar ucapan mia.
"Apa maksud kamu mia?"
"Aku sadar aku bukan istri yang pantas untuk menjadi istrimu, seorang Riko Wijaya seharusnya memiliki istri yang sempurna dan bisa memberimu keturunan.Aku rela jika kamu menceraikan aku" ucap mia duduk di tepi ranjang lesu.
"Kenapa kamu berkata seperti itu ketika mimpi kita sudah di depan mata?"
"Aku lelah,lelah dengan semuanya.Lelah berpura-pura menjadi istrimu yang sempurna!" terang mia mengeluarkan air mata.
Riko duduk disamping mia dan berusaha menenangkan istrinya.
"Bersabarlah ini tidak akan lama lagi" riko tersenyum dan memegang tangan mia.
"Kenapa kamu tidak membiarkan aku pergi,kamu punya melati istrimu yang sempurna untuk mendampingimu"
"Kenapa kamu bicara seperti itu?" tanya riko melirik kearah mia.
"Aku tahu kamu mulai mencintai melati,sebulan yang lalu saat kamu memutuskan untuk tidak melihatnya apa yang terjadi padamu?Aku melihatmu begitu tidak bersemangat,frustasi sampai-sampai kamu menyewa mata-mata hanya untuk mengawasi melati" ucap mia menatap tajam kearah riko.
Riko terdiam sambil menelan ludahnya sendiri menundukkan wajahnya.
"Kenapa mas kamu jadi diam tak menjawabku?apa begitu sulit mengatakan semua padaku.Aku memang bukan istri sempurna tapi aku bukan wanita bodoh yang bisa kamu bohongi!" mia beranjak dari duduknya dan berdiri menghadap jendela.
__ADS_1
"Maafkan aku mia,bukan maksudku membohongimu aku hanya tidak ingin terjadi pertengkaran diantara kita"ucap riko memegang pundak mia.
"Kata maaf mu terlambat karena aku sudah terlanjur sakit" mia melangkah menjauhi riko air matanya kembali tumpah.
"Maafkan aku mia,aku tidak ingin tapi hatiku mengatakan iya dan aku tidak bisa membohongi perasaanku kalau aku jatuh cinta pada melati" ucap riko mendekati mia.
"Tok..tok.."
Tiba-tiba terdengar pintu diketuk.
"Mia" panggil seseorang dari luar kamar.
"Ya mi" sahut mia menghapus air mata di pipinya.
"Boleh mami masuk?"
"Masuk mi"
Kreek pintu pun terbuka.
Terlihat mami riko melangkah mendekati mia dan riko.
"Darimana kamu mia kenapa pergi tanpa memberitahu mami?"
"Aku...aku"
Mia berhenti dan tak bisa berkata-kata.
"Mia kangen sama ibunya,jadi dia langsung kesana,mami tahu sendiri kan kalau orang hamil pengen sesuatu kayak orang nyidam" sahut riko.
Mia mengangguk dan sedikit tersenyum.
"Kalau kamu butuh sesuatu atau ada apapun cari mami ya mia jangan dipendam sendiri,ibumu kan jauh di luar kota" kata mami mertuanya mengelus pipi mia seraya berjalan pergi keluar kamar meninggalkan riko dan mia.
Suasana masih begitu hening semenjak mami riko meninggalkan kamar.
***
'Ayah aku sangat merindukanmu,kenapa begitu cepat ayah meninggalkanku.lihatlah aku sekarang sedang hamil cucu ayah yang sebentar lagi akan lahir.dia tidak akan pernah bisa melihat kakeknya.Semoga Allah menempatkan ayah di tempat terbaik di sisinya Aamiin' gumam melati dalam hati seraya mengelus nisan ayahnya.
Air matanya menetes tak berhenti mengingat ayahnya ketika masih hidup,kasih sayang yang begitu besar kepadanya menjadi sosok putri yang dekat dengan ayahnya.
Melati,ibu dan kedua adiknya duduk khusyuk mengirim doa untuk almarhum ayahnya.
Lalu menabur bunga ke makam ayahnya.
Setelah selesai ibunya mengajak mampir ketempat saudaranya tepatnya bibi melati, dani dan mawar.
Dani mengetuk pintu dan mengucapkan salam.
Lalu pintu terbuka seorang anak laki-laki membuka pintu.
"Bude..."
"Zaki,mana ibumu nak?"
"Ayo masuk bude,ibu ada di dapur sedang masak"
Ibu, melati,juga kedua adiknya masuk ke dalam rumah sementara zaki ke dapur memanggil ibunya.
"Mbak Sari"
"Dewi.."
Kedua kakak beradik itu lalu berpelukan melepas rindu.Melati,dani dan mawar mencium tangan budenya.
"Melati kamu sudah hamil nak" mengelus perut melati.
__ADS_1
"Iya bi"
"Mana suamimu nggak ikut?"
"Nggak bi,suamiku sibuk bekerja"jawab melati tersenyum.
"Lha ini kan hari minggu,apa nggak libur?"
"Suaminya selalu sibuk bekerja wi" sahut ibu melati.
"Ohhh"
"Ayo ikut ke dapur,aku lagi masak mbak nanti kita makan sama-sama" ajak bibi dewi.
"Bu aku jalan-jalan sebentar ya keluar?" tanya melati sambil menunjuk kearah luar.
"Pergilah"
"Aku ikut mbak" sahut dani.
Lalu melati dan dani pergi keluar untuk berjalan-jalan.
"Mbak, aku mau ketempat temanku sebentar ya" kata dani sambil berjalan setengah berlari meninggalkan melati.
Melati terus berjalan menyusuri jalan-jalan di desa itu.
"Melati"
"Riski" teriak melati menengok kearah belakang.
"Kamu disini,kapan kamu datang?"tanya riski berjalan mendekati melati.
"Aku pergi ke makam ayahku dan mampir ketempat bibi dewi"
"Ohh,kamu sedang hamil sekarang?"
"Iya"
"Aku turut bahagia atas pernikahanmu juga kehamilanmu pasti kamu bahagia"
"Terima kasih ki"
"Tapi ada seseorang yang mungkin menyesali atas pernikahanmu"
Melati berhenti dan menarik tangan riski.
"Apa maksudmu ki,aku tidak mengerti?"
"Apa kamu pura-pura tidak tahu!"
"Apa maksudmu,aku benar-benar tidak mengerti semua ucapanmu?" melati menatap tajam kearah riski.
"Apa dika tidak pernah mengatakan apapun padamu?"
"Mengatakan apa,kenapa kamu membuat aku semakin bingung" ucap melati sedikit kesal.
"Dika mencintai kamu mel"
Sontak melati terkejut mendengar ucapan riski.
"Dika mencintai aku,sejak kapan?"
"Sejak dulu,dia berusaha keras kuliah dan setelah kuliah dia mendapat kerja lalu pulang kesini untuk melamarmu tapi harapannya sia-sia mengetahui kamu sudah menikah degan pria lain"
Setelah pembicaraan nya dengan riski melati terus terngiang-ngiang akan ucapan riski.Dia tidak menyangka selama ini andika memendam cinta bertahun-tahun kepada nya dan bodohnya dia sama sekali tidak menyadari.
Sore hari melati dan keluarganya kembali ke kota.
__ADS_1
***