Terjebak Nikah Kontrak

Terjebak Nikah Kontrak
Bab 62 ( Keluarga Wijaya )


__ADS_3

Riana langsung pergi ke kamarnya merebahkan dirinya di ranjang.


Senyumnya terus mengembang sejak keluar dari mobil Erick.Jantungnya pun mulai perlahan stabil dari degupan kencang saat bersama Erick.


"Gila kamu Riana seagresif itu sama cowok," umpatnya mengatai dirinya sendiri.


"Tapi kalau dia tetap tidak mengerti, ishh nyebelin banget!" umpat Riana.Ekspresinya berubah membayangkan apa yang dilakukannya tadi tidak membuahkan hasil.


'Aku akan terus membuatnya bertekuk lutut dihadapan ku hingga dia tidak akan memalingkan wajahnya dari ku,' batin Riana.


Tiba-tiba ponselnya berdering dengan segera dia merogoh tas nya mengambil ponselnya menjawab telepon masuk.


"Halo Kak."~ Riana.


"Apa kamu sudah pulang, bagaimana apa semuanya lancar?"~Riko.


"Mm semuanya lancar, terima kasih ya Kakak memberi kesempatan Riana untuk pergi dengan Erick."~Riana.


"Tidak masalah selama kau senang lalu apa kamu sudah mendapat keinginanmu?"~Riko.


"Ya kan Riana baru mulai Kak, Kakak pasti tahu jawabannya."~Riana.


"Apa perlu Kakak membantumu bicara dengannya?"~Riko.


"Jangan Kak tidak perlu, Riana akan perlahan membuatnya jatuh cinta pada Riana kalau sampai Kakak langsung bilang padanya Riana malu juga bisa-bisa dia kabur."~Riana.


"Berusahalah Kakak mendukungmu.Jikakamu butuh bantuan Kakak jangan segan-segan bilang Kakak."~Riko.


"Mm thank you Brother."~Riana.


Telepon diakhiri.


Riana menghela nafas panjang beberapa kali dan berjanji pada dirinya akan terus bersemangat demi pujaan hati di seberang sana.


***


"Telepon siapa?" tanya Melati duduk disamping suaminya yang baru saja mengakhiri percakapannya ditelepon.


"Riana." ucap Riko memperlihatkan layar ponselnya yang bertuliskan adik kepada Melati.


"Kenapa kamu memperlihatkan padaku?" tanya Melati mengernyitkan dahi.


"Aku tidak ingin kamu jadi salah paham nantinya," terang Riko.


"Aku tidak mengatakan apapun."


"Justru diam mu itu akan menjadi boomerang untukku nanti," ucap Riko lembut tapi penuh penekanan.Matanya tidak lepas dari tatapan dalam ke wajah wanita disampingnya itu.

__ADS_1


"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Melati merasa risih suaminya terus menatapnya.


"Entah kenapa aku merasa kamu semakin cantik, auramu begitu terpancar.Aku yakin anak kita yang membuatmu terlihat begitu, jelas dia akan mewarisi ketampanan Daddynya." Riko membanggakan ketampanan wajahnya yang memang membuat semua wanita diluaran sana berteriak memujanya.


Seketika Melati memasang muka jeles nya sambil memonyongkan bibirnya.


"Kamu tidak mengakui suamimu ini tampan?" tanya Riko semakin menggoda Melati.


"Nggak!" jawab Melati sinis.


"Kamu ini satu satunya wanita yang tidak mengakui ketampanan seorang Riko Wijaya tapi mau dinikahi?" Riko menggelengkan kepalanya tidak percaya.


"'Ketampananmu membuatku meleleh saat bersamamu tapi ketampananmu juga menjadi nilai negatifmu, karena aku harus terus menjagamu dari setiap wanita diluaran sana yang ingin berusaha merebutmu dariku,' batin Melati.


"Apa aku harus mengatakannya, apa dua anakmu belum cukup menjawab semua pertanyaanmu." ucapnya sambil mengelus perutnya.


"Hahaha." Riko terkekeh mendengar ucapan Melati sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.Dia baru sadar akan tingkahnya yang sedikit kekanak-kanakan tadi.


"Auuu." Melati mengaduh,mengelus perutnya lembut.


"Ada apa sayang?" tanya Riko cemas.


"Auuuuu," pekiknya lagi, meringis menahan sakit diperutnya.


Riko lalu mengelus bagian perut yang di elus Melati dan merasakan tendangan dari arah dalam.Ia menempelkan mulutnya mendekat ke perut Melati.


"Sayang pelan-pelan Nak, jangan buat Mommymu kesakitan," ucap Riko lirih.Ia kembali mengelus dan menciumi perut Melati seketika bayi dalam kandungan Melati menjadi tenang karena hanya pergerakan halus yang terasa.


"Hmm, aku baik-baik saja."


Riko Kemudian memposisikan tubuhnya kembali ke posisi semula menyender ke sofa.


"Aku yakin anakmu kesal karena akan menjadi sainganmu kelak." Melati terkekeh.


"Tidak mungkin karena aku sudah mewariskan semuanya padanya.Kau lihat ketampananku jauh berkurang."


"Kamu tetap tampan di mata Melati Indah Sari." Melati tersenyum merangkul bahu suaminya.


"Kamu baru mengakuinya sekarang, tadi-"


Melati memotong pembicaraan Riko karena kini bibirnya membekap bibir suaminya membuat keduanya berpagutan mesra.


"Kenapa kamu jadi seagresif ini?" tanya Riko saat keduanya mengakhiri pagutannya.


Melati tersenyum menggigit bibir bawahnya membuat Riko kembali menyambar bibir Melati keduanya berpagutan mesra.


***

__ADS_1


"Siap," seru Riana meletakkan kembali lipstiknya di meja rias.Ia menatap bayangan dirinya di pantulan cermin memperhatikan cela di wajahnya.


"Kamu cantik Riana semangat." ucap Riana lirih menyemangati dirinya sendiri.


Tok tok tok


"Masuk" ucap Riana setengah berteriak mempersilahkan masuk.


Seorang wanita paruh baya yang masih cantik memasuki kamar Riana dengan langkah kaki yang berirama.


"Sayang,kamu sudah siap berangkat kerja?" tanya Nani melihat dari ujung kaki sampai ujung rambut.


"Iya Mi, Riana mau berangkat sekarang."


"Sarapan dulu, Nak," pinta Nani.


"Nggak lah Riana bisa terlambat nanti Riana bisa sarapan di kantor lagian Riana jarang sarapan." tolak Riana.


"Sayang nanti kamu sakit hilangkan kebiasaanmu.Jangan terlalu ekstrim dietnya badanmu sudah kurus begini." ucap Nani sedikit memarahi putrinya itu.


"Ihh Mami lihat nih Riana gendut, Riana harus nurunin beberapa kilo lagi." ucap Riana mencubit pipinya sendiri yang dirasa mulai membulat.


"Baiklah tapi ingat jangan terlalu memaksa ok."


"Siap Mam." ucap Riana mencium kedua pipi Nani lalu melangkah pergi meninggalkannya dengan langkah anggun warisannya.


Riana Wijaya kecantikannya yang paripurna diwarisi dari Maminya.Diumurnya yang lebih dari setengah abad nampak masih cantik.Kulit dan wajahnya yang terawat membuatnya terlihat 10 tahun lebih muda.


Sejak suaminya Denny Wijaya meninggal 10 tahun silam, Nani tidak berpikir untuk menikah lagi padahal banyak laki-laki yang ingin memperistrinya tapi tekad Nani untuk membesarkan anaknya-anaknya lebih kuat daripada mengurusi suami baru.Nani juga trauma banyak teman sebayanya yang menikah lagi setelah bercerai atau ditinggalkan suaminya yang berakhir gagal.


Rasa cintanya yang begitu besar kepada Almarhum suaminya membuatnya cintanya tetap hidup walaupun suaminya sudah meninggal.


***


Riana menuruni mobil menuju kantornya yang masih sepi.Dia sengaja datang lebih pagi dari biasanya karena sejak mempunyai rasa terhadap Asisten Kakaknya menjadikannya bersemangat pergi ke kantor bahkan saat malam dia berharap pagi cepat datang agar segera dapat melihat pujaan hatinya.


Riana berjalan anggun memasuki lobi membuat karyawan laki-laki di kantor itu memuja kecantikannya dan selalu memperhatikannya saat keluar masuk kantor.


Riana memencet lift dan menunggu lift terbuka saat menunggu seseorang laki-laki berdiri disampingnya.


"Selamat pagi Ibu maksud saya Ria-na." sapa laki-laki itu sedikit terbata-bata membungkukkan tubuhnya memberi hormat.


Riana langsung mengembangkan senyumnya begitu melihat laki-laki disampingnya.


"Erick."


Pintu lift terbuka lalu Riana menjejakkan kaki memasuki lift itu sementara Erick terpaku di tempatnya."Ayo masuk." ucap Riana menyuruh Erick masuk lift.

__ADS_1


"Kamu duluan saja." tolak Erick jengah.


Riana langsung menarik tangan Erick memasuki lift kemudian lift tertutup menaiki lantai yang mereka tuju.


__ADS_2