Terjerat Cinta Dunia Mafia 2

Terjerat Cinta Dunia Mafia 2
Marah


__ADS_3

Salwa terlihat menunduk di sofa empuk yang berada di ruang tamu. Ia tampak berpikir setelah perbincangannya dengan seseorang yang telah membawanya kembali pulang ke rumahnya. Keningnya pun sudah diobati dengan memberikan salep dingin penghilang memar.


Sean datang dengan tergopoh ingin segera mengetahui keadaan istrinya, meski sebelumnya ia sudah mendengar suara Salwa dari panggilan suara yang ia terima.


Salwa menoleh ke arah pintu masuk saat suara langkah tapak sepatu terdengar jelas . Matanya terpaku melihat seseorang yang datang mendekat ke arahnya.


"Mas.." Salwa beranjak dari duduknya lalu berhambur memeluk suaminya itu. Sean yang sedari tadi sudah sangat gelisah dan begitu mencemaskannya pun memeluk Salwa dengan sangat erat. Diciuminya wajah istrinya beberapa kali seolah mereka sudah lama tidak bertemu lalu kembali memeluk tubuh Salwa dan membenamkan wajah cantik itu ke dadanya. Sean meletakkan dagunya di atas pucuk kepala Salwa sambil memejamkan matanya merasakan perempuan itu yang kini sudah berada dalam dekapannya kembali.


"Sean.." Suara seorang laki-laki yang terdengar asing di telinga Sean mengalihkan perhatiannya. Sorot matanya kembali menajam dan aura dingin yang terpanjar dari wajahnya sungguh terlihat tak bersahabat.


"Siapa kau, apa yang kau lakukan di rumahku." Sean melepaskan pelukannya, lalu berjalan menghampiri pria asing itu.


"Maafkan aku, aku tidak bermaksud membuat keributan, aku terpaksa melakukan semua ini karena aku hanya ingin menemuimu."


BUUGGHH..


Sean menghantam wajah pria yang terlihat sedikit lebih tua darinya membuat pria itu jatuh terhuyung menabrak vas bunga yang berada di samping meja.


"Berani sekali kau membuat gara-gara denganku!" Sekali lagi Sean melayangkan pukulan-pukulannya ke tubuh dan wajah pria itu, tetapi tak sedikitpun pria itu membalasnya.


Wajah pria itu sudah berlumaran darah, tetapi tetap saja Sean masih ingin menghajarnya sampai Salwa ikut menahan pukulan Sean dengan menghadangnya.


"Hentikan mas, cukup. Jangan memukulinya lagi!" Salwa tidak tahan melihat Sean menjadi semengerikan itu, ia sungguh tidak ingin suaminya menjadi seorang iblis yang mampu menyiksa seseorang yang sudah tidak berdaya.

__ADS_1


Sean menghentikan pergerakan tangannya sebelum terkena tubuh Salwa yang tiba-tiba menghadangnya. Ia tidak menyangka bahwa istrinya itu berpihak kepada laki-laki yang telah menculiknya. Apa maksud semua ini, mengapa Sean merasa bahwa dirinyalah yang bersalah, bahkan istrinya pun tidak berpihak padanya.


"Apa maksudmu, dia yang telah menculikmu tetapi sekarang kau membelanya." Sean mengerutkan keningnya, ia tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Salwa.


"Tidak, bukan itu maksudku. Setidaknya dengarkan dulu penjelasannya." Salwa masih memasang badan menghalangi Sean yang masih ingin memukuli pria itu.


"Apa... mendengarkan penjelasan seseorang yang sudah berbuat jahat terhadapmu. Bagaimana jika dia mencelakaimu, apa aku harus menerima penjelasan darinya juga?"


Sean menatap wajah istrinya itu semakin dalam, ia menyibakkan kerudung yang menutupi dahinya. Sorot mata Sean terlihat menusuk membuat Salwa memundurkan langkahnya, takut. Ibu jarinya mengusap perlahan luka memar di kening Salwa. Seketika Salwa mengernyitkan dahinya seolah merasakan sakit akibat usapan yang dilakukan oleh Sean terhadapnya.


"Siapa yang melakukan ini?" Sean menoleh ke arah laki-laki yang masih tersungkur itu. Tangannya menunjuk ke arah pria tersebut.


"Apakah dia?"


Salwa menggeleng, bukan karena ia ingin melindungi laki-laki itu tetapi memang bukan laki-laki itu yang melakukannya.


"Bohong, apa kau mau melindungi pria itu? Sebenarnya ada hubungan apa kalian?" Sean menyimpulkan sendiri tanpa berpikir ulang, entah kenapa istrinya itu begitu takut Sean melukai pria yang telah mencelakainya.


Salwa menggeleng kuat-kuat, hatinya terasa sakit saat Sean menuduhnya dengan hal yang tidak ia lakukan, apalagi Sean meragukan kesetiaannya dengan mempertanyakan hubungannya dengan pria yang sama sekali tidak ia kenal.


"Tidak mas, tidak seperti itu.. tapi..."


"Masuk!" Sean berkata dengan intonasi tinggi membuat Salwa terkejut karenanya. Kembali Salwa masih menggeleng tidak mau menuruti perkataan Sean.

__ADS_1


"Aku bilang masuk," bentak Sean lagi. Salwa menitikkan air matanya, ia tidak menyangka bahwa Sean bisa berkata kasar kepadanya. Ia berlari menaiki tangga lalu masuk ke dalam kamarnya.


Sebenarnya Sean merasa tidak tega telah menyakiti hati Salwa, namun saat ini pikirannya terlalu murka melihat bagaimana Salwa menentangnya dan justru melindungi laki-laki lain di depan mata kepalanya sendiri.


"Cukup Sean, kau tidak perlu memarahi istrimu sampai seperti itu."


Laki-laki itu mencoba berdiri, dan berjalan sedikut terseok-seok mendekati Sean.


"Aku tidak ada urusan dengan istrimu, aku hanya ingin menemuimu dan bicara padamu saja."


Sean masih menatap pria itu dengan aura gelapnya, tangan kanannya mencengkram kerah baju pria itu dengan kuat.


"Kau meninggalkan luka di kening istriku hanya karena ingin bicara denganku, caramu sungguh memalukan." Sean menghempaskan pria itu dengan satu tangannya.


Pria itu terlihat kembali menegakkan tubuhnya sambil mengusap darah yang telah mengalir dari hidungnya.


"Maaf, anak buahku melakukan kesalahan dengan bertindak kasar, aku mengakui kesalahanku, tetapi dengarkan dulu penjelasanku," pria itu terus mencoba berbicara pada Sean, meskipun Sean enggan mendengarkannya.


"Kau tidak perlu mengatakan apa-apa padaku, sekarang pergi dari rumahku sebelum aku berubah pikiran, pergi!" Sean menarik tubuh laki-laki itu dan ia seret tubuhnya untuk keluar dari rumahnya.


"Tidak Sean, dengarkan aku.,"pria itu terus meronta, tetapi Sean sama sekali tidak peduli. Ia ingin segera menemui Salwa karena tidak tega melihat istrinya menangis karena perbuatannya. Sean terus mendorong pria itu hingga mencapai pintu keluar.


"Sean ayah mu, ayah kandungmu masih hidup," teriak pria itu saat Sean hampir menutup pintu rumahnya.

__ADS_1


Deg....


》bersambung dulu.. 😊😊 🤭🤭


__ADS_2