
Gerimis pagi.
Menitikkan bulir-bulir air yang berkilau memanjakan mata, menyejukkan bumi dengan siramannya , menyuburkan benih-benih yang mulai tumbuh di permukaan tanah.
Salwa berlari kegirangan dengan wajah sumringah yang tak bisa disembunyikan. Kakinya melangkah menerobos kerumunan calon mahasiswa yang sedang berebut melihat hasil pengumuman mencari nama masing-masing yang tertulis di deretan kertas putih yang berjajar itu.
"Alhamdulillah," ia menangkupkan kedua tangannya untuk mengusap wajah cantiknya itu, mengucap syukur berkali-kali setelah melihat namanya tertera di urutan ke lima dari ratusan nama peserta lain.
Salwa Humaira, perempuan itu biasa dipanggil dengan nama Salwa adalah seorang putri sulung dari keluarga miskin dan memiliki tiga orang adik. Ia berjumpa dengan kekasih hatinya yang kini sudah resmi menjadi suaminya saat ia mengadu nasib di negeri orang. Kehidupan keluarganya yang sebelumnya penuh kekurangan sekarang sudah berangsur membaik karena bantuan suaminya.
Salwa membalikkan badan, bola matanya mencari-cari seseorang yang sedang menunggunya sedari tadi. Ia melambaikan tangan saat menemukan wajah tampan yang sedang tersenyum dengannya.
Di bawah gerimis kecil dengan senandung kicauan burung gereja Salwa berjalan setengah berlari untuk berlindung dari rintik-rintik hujan. Ia berjalan ke arah seseorang yang masih menantinya dengan menopangkan dagu. Roknya berkibar seirama dengan langkah kakinya menyesuaikan dengan arah angin.
Di bawah pohon yang rindang, seorang pria mengenakan hoodie merah yang menutupi kepalanya sedang tersenyum simpul menatap istrinya yang berjalan ke arahnya.
"Mas... aku diterima." Salwa mengulurkan tangannya mencium punggung tangan suaminya itu setelah mengatakan hasil pengumuman yang ia lihat.
Sean Arthur , laki-laki berdarah Canada itu yang kini berubah nama menjadi Sean Paderson mengikuti nama belakang sang ibu merangkul kepala istrinya lalu memberikan hadiah kecupan hangat di kening Salwa yang tertutup dengan kerudungnya.
"Mas sudah tahu sebelum pengumuman itu diumumkan."
"Benarkah? Bagaimana bisa?" Salwa mendongakkan wajahnya dengan alis yang sedikit berkedut, ia merasa curiga dengan Sean yang sudah mengetahui tentang pengumuman yang baru saja ia lihat. Jangan-jangan ia berhasil masuk ke perguruan tinggi ini bukan karena hasil kerja kerasnya sendiri melainkan ada campur tangan suaminya lewat jalur dalam.
Sean yang ditatap seperti itu pun tampak santai, ia tahu apa yang dipikirkan istrinya saat ini.
"Karena ...." Sean menjeda perkataannya, lalu mencium pipi Salwa "Tahu saja"
Sean berjalan mendahului Salwa, sementara Salwa masih mematung setelah mendapatkan ciuman dadakan dari suaminya itu.
__ADS_1
"Ihh.. mas kasih tahu." Salwa berteriak sambil berlari menyusul Sean yang sudah jauh di depannya. Ia mendapati suaminya setelah berlari dengan napas sedikit tersenggal.
"Minum dulu yuk!" Sean mengajak Salwa duduk di salah satu food court yang terletak di ujung jalan sana. Ia mencari lokasi yang paling nyaman untuk bersantai sambil berduaan 'jika memungkinkan'.
"Aku saja yang pesan." Salwa beranjak setelah menentukan pilihan menu yang akan mereka pesan. Ia tidak mau ambil resiko jika Sean yang memesan, bisa-bisa suaminya itu menyita banyak perhatian nantinya dan tentu saja itu membuat Salwa tidak rela.
Suasana foodcourt tampaknya tidak terlalu ramai, mungkin karena hari masih pagi dan belum pada lapar sehingga Salwa tidak perlu repot lama-lama antri untuk sekedar memesan makanan. Ia menunjuk beberapa menu yang ada di salah satu tenan dan beralih ke tenan lain untuk memesan minuman.
Setelah memesan makanan dan minuman yang diinginkan Salwa segera kembali ke tempat duduknya, tanpa disengaja kakinya tersandung sepatu orang yang menghalangi jalannya. Beruntung ia bisa menguasai keseimbangannya sehingga tidak sampai terjatuh.
"Maaf," ucapnya setelah menoleh ke arah si empunya kaki.
Laki-laki bertubuh tinggi dengan mengenakan jaket jeans itu beranjak dari duduknya lalu berdiri mendekati Salwa. Ia mengamati penampilan perempuan itu dari bawah hingga atas.
"Kau menginjak kakiku tadi," pria itu melangkah semakin mendekat. Tangannya mencengkram lengan Salwa agar perempuan itu tidak kabur darinya.
"Apa kau pikir minta maaf saja cukup?"
Salwa mencoba melepaskan genggaman tangan pria itu, namun cengkramannya sangat kuat. Pria itu terkekeh melihat perempuan di depannya tampak masih berusaha kabur darinya.
"Kau anak baru, jadi kau harus tahu peraturan di sini!" pria itu berucap pongah dengan tetap mempertahankan cengkramannya yang semakin erat di lengan Salwa.
Salwa sedikit membungkuk, dengan cepat ia menggigit tangan pria itu sekuat tenaga.
"Aaahhh... perempuan gila!" Cengkraman di lengan Salwa seketika terlepas sehingga Salwa bisa kabur dari pria itu. Namun lagi-lagi pria itu membuat ulah dengan menarik kerudung Salwa dari belakang.
BUUGGGHHH
Sean yang sedari tadi hanya menatap layar ponselnya agak sedikit terganggu dengan keributan yang terjadi. Ia menoleh ke arah kerumunan beberapa orang dan tentu saja ia sangat marah melihat ada yang berani kurang ajar terhadap istrinya. Sean segera mendatangi laki-laki yang mencengkram lengan Salwa. Dan saat laki-laki itu tengah lancang menarik kerudung istrinya. Tangannya mengepal erat lalu meninju dengan keras pelipis laki-laki itu sehingga terjatuh dan terbentur pinggiran meja.
__ADS_1
Masih merasa tidak puas, ia kembali menghajar laki-laki itu dengan pukulan-pukulan kerasnya. Suasana semakin gaduh ketika segerombolan orang mendatangi Sean dan berniat mengeroyoknya.
"Mas, ayoo sudah. Ayo kita pergi!" Salwa tidak ingin membuat keributan mengingat dirinya masih baru di tempat itu. Ia mencoba menahan Sean yang akan memukul lagi pria yang kurang ajar ke padanya tadi.
Sean mengatur napasnya, ia menatap seluruh orang yang tampak menonton perkelahiannya tadi. Tatapan Sean yang tajam seperti hendak menguliti mereka hidup-hidup membuat semua orang nyalinya menciut. Sean melepaskan hoodie merahnya lalu memamakaikannya kepada Salwa. Otot-otot kekar dibalik tato yang terlihat menyeramkan itu membuat kesan menakutkan bagi siapapun yang melihatnya.
"Ayo pulang!" Sean merangkul pundak Salwa, mengajak istrinya itu pergi.
"Pesanannya?" Tentu saja Salwa tidak lupa dengan pesanannya apalagi ia belum membayarnya. Ia tidak ingin mendholimi pedagang dengan kabur bergitu saja setelah memesan makanan.
Sean mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu lalu ia berikan kepada kasir.
"Tuan, kebanyakan," kasir perempuan itu berteriak kepada Sean yang sudah membelakanginya. Sean menoleh, menyunggingkan sedikit senyum untuk kasir perempuan itu.
"For you." ucapnya lalu berbalik dengan menggandeng lengan Salwa agar segera meninggalkan tempat tersebut.
Kasir perempuan itu terpukau hingga mulutnya ternganga melihat wajah menawan di balik kegarangan yang barusan ditunjukkan oleh Sean.
"Wah... sudah cakep, baiiik lagi... beruntung banget pacarnya itu."Kasir perempuan itu berbicara sendiri sambil menciumi uang ratusan ribu pemberian Sean.
"Iyaa... aku juga mau loh, moga mereka cepet putus," timpa teman di belakangnya.
"Memang kalo bang bule tadi putus sama pacarnya mau sama kamu," sindir temannya yang lain.
"Yaaa... namanya juga usaha perbaikan keturunan."
ใbelum ada konflik berarti ya.. slow aja..
๐๐๐
__ADS_1