
Sean melihat dengan mata kepalanya sendiri, ledakan yang berasal dari atas permukaan tanah itu menjebol atap ruang bawah tanah dan meluluh lantakkan sebagian bangunan bawah tanah itu menjadi puing-puing tak.beraturan. Beruntung ia memikirkannya dengan tepat, ledakan sebesar itu tidak terlalu mempengaruhi kondisi laboratorium itu, hanya saja benda-benda yang terletak di atas berjatuhan, berserakan di lantai.
Mungkin frekuensi dari getaran yang ditimbulkan oleh ledakan itu tidak sama atau bukan kelipatan dari frekuensi kaca yang mengelilingi laboratorium itu sehingga tidak menimbulkan resonansi yang bisa menghancurkan dinding kaca tersebut.
Sean melirik ke arah Yang Pou Han yang terlihat lebih baik dari kondisi sebelumnya. Lelaki itu masih menggunakan masker oksigennya duduk bersila sambil memperhatikan sekelilingnya yang sudah hancur lebur.
Sebuah tangga darurat yang berupa tali dijulurkan dari atas ke lubang besar yang sudah diikat kuat menggunakan alat berat menurun hingga lantai dasar ruang bawah tanah itu.
"Apa kau sanggup berjalan? Atau kau mau melanjutkan rencana matimu?" ucap Sean dengan menggunakan istilah sedikit kejam kepada Yang Pou Han. Lelaki itu menghembuskan napasnya dengan cepat lalu bergegas membuang masker oksigen itu untuk kemudian ia mengikuti Sean di belakang yang tangannya masih mempertahankan pintu kaca laboratorium itu agar tetap terbuka.
Sean membantu Yang berjalan suapaya cepat sampai di tangga darurat yang menjuntai di depannya. Dengan tertatih-tatih akhirnya mereka bisa mencapai di ujung tangga darurat itu. Sean membantu Yang sekali lagi untuk menaiki tangga darurat tersebut, hal itu mengingatkan mereka berdua bahwa sebelum keduanya bermusuhan mereka adalah kawan baik.
"Jangan membantuku, kau membuatku terlihat lemah. Dan kuperingatkan sekali lagi, bahwa aku tidak menyukaimu dan membencimu." Yang masih saja mengoceh sendiri saat Sean membantunya menaiki tangga darurat itu. Sean enggan menanggapi perkataan Yang karena saat ini pikirannya hanya tertuju kepada dua orang yang begitu berharga baginya yaitu Salwa dan juga baby Kinan.
๐น๐น๐น๐น
Leon mengejar lelaki yang ternyata bukanlah bodyguard Abust sesungguhnya. Langkahnya melebar dengan berusaha secepatnya menggapai tubuh pria tersebut yang hampir terjangkau oleh tangannya. Sepertinya pria itu lebih licin daripada dugaannya. Ia selalu menghindar dengan cepat, melempar benda-benda di depannya ke arah Leon yang mengejarnya, tak lupa juga beberapa kali ia menembak dan beruntung Leon bisa menghindari setiap peluru yang hampir mengenai tubuhnya.
Lelaki itu hampir tertangkap karena hanya ada pagar tinggi yang berada di depannya, sementara pistol yang ia gunakan sepertinya kehabisan peluru sehingga dengan terpaksa ia buang begitu saja. Karena semakin terdesak, lelaki itu nekat naik ke pohon besar lalu melompati pagar yang tingginya hampir dua kali tinggi badannya. Tetapi di saat ia mendaratkan tubuhnya ke luar pagar tiba-tiba terdengar suara mobil berdecit seolah berhenti mendadak dengan menginjak penuh remnya.
Ciiiiiitttt... BRAAAKKK..
Leon menghentikan langkahnya dengan napas tersenggal-senggal. Ia menatap pagar yang telah diloncati oleh bodyguard gadungan itu. Sementara scurity membukakan pintu gerbang untuk Leon agar bisa keluar melihat apa yang telah terjadi. Leon akhirnya keluar melewati pintu gerbang utama yang saat ini sudah terbuka lebar.
"Abust?" Leon melihat Abust tergopoh menolong seseorang yang ditabrak olehnya.
"Bantu aku mengangkatnya dan membawanya ke rumah sakit!" Abust berteriak kepada Leon karena tidak kuat mengangkat lelaki yang tanpa sengaja ditabrak olehnya. Catherine turun dari mobil sambil menggandeng kedua anaknya untuk ia sembunyikan agar tidak melihat wajah orang yang sedang meregang nyawa.
"Apa dia masih hidup?" tanya Leon kemudian sambil mendekat ke arah Abust. Dilihatnya Abust tampak kesulitan mengangkat korban yang tidak sengaja di tabaraknya. Leon berjongkok yang kemudian memeriksa denyut nadinya.
"Denyut nadinya lemah, tetapi masih hidup. Kita bawa ke rumah sakit, aku membutuhkannya untuk mencari Anders," ucap Leon kemudian sambil membantu Abust mengangkat lelaki yang tertabrak itu yang ternyata adalah bodyguard yang melarikan diri dari kejaran Leon dan Fang Yi.
Fang Yi dengan langkah tergopoh menghampiri Leon dan Abust. Napasnya tersenggal dengan raut wajah pucat pasi.
"Salwa dalam bahaya." ucapnya kemudian.
๐น๐น๐น
__ADS_1
"Semua laki-laki pasti minum, tetapi aku pastikan tidak dalam kondisi mabuk," ucap Sean dengan sedikit geram, karena wanita di depannya ini sepertinya mengulur-ngulur waktu. Tangannya memeluk Salwa dengan begitu erat seolah enggan untuk melepaskan dan menuntut untuk segera dilayani.
"Kau sudah berjanji tidak meminum alkohol lagi, kenapa kau ingkar mas?" Wajah Salwa merah padam, ia marah kepada Sean karena seolah meremehkan perjanjiannya yang akan berubah tidak menyentuh minuman haram itu lagi. Terakhir Sean mengkonsumsi minuman beralkohol telah membuat Salwa tak sadarkan diri di rumah sakit. Dan itu membuat Sean berjanji tidak akan menyentuh bahkan mengkonsumsi minuman seperti itu lagi.
Lelaki itu mencengkram dagu Salwa membuat Salwa meringis kesakitan karena cengkraman tangannya begitu kuat dan kasar.
"Kau terlalu banyak bicara perempuan, sebaiknya kau diam sebelum aku memukulmu," bentak lelaki itu dengan geram membuat Salwa sangat terkejut. Sean tidak pernah berlaku kasar kepadanya, apalagi sebelum lelaki itu pergi tidak ada masalah di antara mereka.
"Mas, ada apa denganmu." Salwa berucap dengan sedikit bergetar, air matanya tiba-tiba mengalir di pelipisnya.
"Jangan banyak bicara, sekarang layani aku." Sean kian merapatkan pelukannya dengan paksa kepada Salwa, tetapi Salwa berusaha melepaskannya dengan mendorong tubuh pria di depannya itu. Melihat penolakan Salwa kepadanya, pria itu tanpa belas kasihan menampar pipi Salwa dengan keras.
PLAAK
Salwa terjatuh di atas ranjang tidurnya dengan mengusap pipinya yang terasa panas. Ia tidak menyangka Sean berubah kasar dalam sekejab, hatinya sakit mendapatkan perlakuan buruk seperti itu.
Sean melepaskan kancing kemejanya lalu membuang kemeja lengan panjangnya dengan serampangan seolah tidak sanggup menahan hasrat yang menggebu-gebu terhadap Salwa.
Ia melompat ke atas ranjang di mana Salwa sudah berada di sana seolah menanti ingin dinikmatinya. Salwa melebarkan matanya melihat lelaki itu ingin mendekat, barulah ia menyadari ada yang janggal dengan suaminya. Sean memiliki tato di lengan dan bagian dadanya tetapi lelaki di depannya ini nyaris tidak ada noda sedikit pun di tubuhnya.
Salwa mendorong lelaki itu dengan kedua kakinya, ia tahu bahwa lelaki itu bukanlah suaminya.
"Pergi! Kau bukan suamiku! Toloong- toloong!" Salwa berteriak kencang , hal itu membuat baby Kinan terbangun dan menangis keras.
"Bayi kurang ajar, akan ku bunuh dia!" Lelaki itu turun dari ranjang hendak mengambil baby Kinan yang sedang menangis. Namun dengan cepat Salwa mengambil vas bunga yang berada di atas nakas untuk ia pukulkan ke tengkuk lelaki itu.
"Aaahh... perempuan sialan." Lelaki itu mengumpat dengan memegangi kepalanya yang berdarah. Melihat ada kesempatan, dengan menangis dan tangan yang gemetar Salwa mengambil selimut lalu ia mendorong lelaki itu yang kemudian membawa baby Kinan dalam gendongannya.
"Hahaha, kau tidak akan bisa lari perempuan bodoh." Lelaki itu tertawa sambil menunjukkan kunci kamar yang ia pegang di tangan kirinya.
Salwa menghela napas, ia melihat baby Kinan yang masih menangis dalam gendongannya. Tangan Salwa gemetar, ia bingung harus berbuat apa, Mengapa tidak ada seorang pun yang datang untuk menolongnya? Kemana semua orang itu?
Kamar mandi, iya kamar mandi. Salwa bisa bersembunyi di kamar mandi dan membawa baby Kinan bersamanya. Dengan langkah yang cepat Salwa menuju kamar mandi tetapi laki-laki itu seolah mengerti pergerakan Salwa, ia menarik pakaian Salwa tetapi Salwa berusaha berontak hingga pakaian yang dipakainya robek di bagian belakang. Tanpa pikir panjang dirinya masuk ke kamar mandi dan segera mengunci diri di dalamnya.
Lelaki itu berusaha mendobrak pintu yang terbuat dari bahan kaca itu. Salwa memejamkan mata Sambil menangkup baby Kinan dalam gendongannya, berusaha menenangkan tangis bayi itu meskipun ia tak sanggup melakukannya. Tubuhnya bergetar hebat dengan rasa trauma muncul kembali dalam dirinya. Ingatan Salwa seolah memutar ulang kejadian waktu dulu saat dirinya hampir diperkosa oleh dua orang dalam kondisi hamil tua dan tidak berdaya untuk melawan. Salwa menangis dengan isakan-isakan yang ditahan karena tidak ingin anaknya semakin ketakutan.
Lelaki itu masih berusaha mendobrak pintu kamar mandi itu menggunakan tubuhnya dan juga kakinya. Tubuh Salwa berkali-kali terhentak karena tendangan keras yang dilakukan oleh Sean palsu. Tetapi ia harus bertahan, bertahan sampai ia benar-benar tidak sanggup lagi.
__ADS_1
Karena dorongan yang berkali-kali dilakukan, akhirnya engsel pintu kamar mandi yang memang di design tidak terlalu kuat terlepas membuat Salwa harus lebih mendorongkan tubuhnya ke belakang agar lelaki itu tidak bisa masuk ke dalam. Lelaki itu tetap saja mendorong dengan kuat sehingga membuat selah kecil yang kemudian memasukkan tangannya untuk menggapai Salwa yang sedang menindih pintu kamar mandi itu dengan punggungnya.
Tangan besar itu berhasil menarik lengan Salwa yang digunakan untuk menopang kepala baby Kinan. Jiwa bertahan Salwa memberontak, dalam kondisi gemetar seperti itu ia bergerak menunduk lalu menggigit tangan lelaki itu dengan kuat.
"Aaaaah... perempuan bodoh!" umpatnya dengan keras sambil melepas cengkramannya dari tangan Salwa. Tangisan baby Kinan semakin keras membuat Salwa semakin frustrasi. Ia merasa tidak sanggup lagi, tangannya semakin gemetar dan seolah kekuatannya terkuras habis dengan hati yang mulai melemah berharap Tuhan berbaik hati mengirimkan penolong untuknya.
DOOOORRR
Suara tembakan beruntun terdengar dari luar untuk merusak pengaman pintu yang kemudian terlepas dari daun pintu itu sendiri. Dengan beberapa dobrakan yang dilakukan oleh beberapa orang yang hampir bersamaan akhirnya pintu itu terbuka dengan sendirinya.
Leon, Fang Yi dan juga Abust sudah berada di ruangan itu yang saat ini terlihat kacau berantakan. Mereka bisa menduga apa yang terjadi sebelumnya tanpa meminta penjelasan.
"Jangan mendekat!" Lelaki itu mengeluarkan sebuah pistol dari balik saku celananya lalu mendorong dengan kuat pintu kamar mandi itu hingga terbuka sedikit. Ia memasukkan pistol itu ke dalam menggunakan tangan kirinya.
"Jika kalian tidak ingin membuat perempuan dan bayi di dalam kamar mandi ini meregang nyawa." Lelaki itu menyeringai seolah kemenangan ada di depan mata.
"Anders, apa yang kau inginkan!" Abust berteriak dengan sorot mata menajam, apalagi saat ini suara tangisan baby Kinan semakin keras terdengar membuat mereka bertiga cemas dan tidak bisa berkonsentrasi.
"Hahaha, apa yang kuingin kan?" Lelaki itu tertawa dengan lantang hingga menggema di penjuru ruangan.
"Aku ingin Sean dan anak keturunannya mati. Dia merebut apa yang seharusnya menjadi milikku. Dia terlalu lama menjadi orang terpandang dan banyak dihormati. Dan saat ini aku akan mengambil semuanya yang seharusnya menjadi milikku."
Abust ingin mendekat tetapi ia tertahan karena pergerakannya terbaca oleh Anders. Salwa dan bayinya akan celaka jika ia bertindak gegabah.
"Kau terlalu percaya diri menganggap apa yang dimiliki Sean adalah milikmu, padahal sejatinya sejak awal kau sama sekali tidak memiliki apa-apa." teriak Abust dengan mengejek Anders yang terlalu pongah dengan statusnya.
"Terserah, kau terlalu banyak bicara. Sekarang beri aku jalan, jika tidak peluru ini akan menancap di kepala bayi malang itu!"
DOOORRR
Hening sesaat, semua orang saling beradu pandang sementara Anders menjerit.
Tembakan yang tiba-tiba itu mengenai lengan Anders yang akhirnya membuat Anders menjatuhkan pistolnya ke dalam kamar mandi dan tangannya secara otomatis tertarik keluar karena merasa kesakitan dengan darah mengucur keluar.
Seseorang masuk ke ruangan itu dengan wajah merah padam, tangannya terkepal erat dengan langkah tegak diliputi aura membunuh. Anders sedikit beringsut melihat kegelapan di depannya. Tidak, ia belum kalah, dirinya masih mempunyai satu senjata dan itu akan sangat berguna untuk saat ini.
"Sean?" gumam Anders dengan menahan rasa sakit akibat tembakan di lengannya.
__ADS_1
\=ใBersambung...