Terjerat Cinta Dunia Mafia 2

Terjerat Cinta Dunia Mafia 2
Marah


__ADS_3

Sudah tiga hari mereka melakukan penyisiran untuk mencari markas Anders yang sangat misterius itu, tetapi sama sekali tidak ada hasil. Seolah ditelan bumi, Anders bahkan tidak tercium oleh kawanan bawah tanah yang diminta Sean untuk ikut melakukan penyisiran. Hal itu membuat Sean semakin cemas dengan situasi yang tidak bisa ia pastikan keamanannya. Anders bisa datang kapan saja dan di mana saja, di saat persiapannya menyerang sudah sampai tahap sempurna.


"Milly sadar, aku harus ke rumah sakit." Abust berkata dengan segera beranjak dari duduknya. Sean tampak menoleh ke arah Salwa, sorot matanya menatap tetapi sebenarnya ia ingin meminta persetujuan istrinya untyk melihat kondisi Milly. Dengan penuh pengertian, Salwa mengangguk lalu menggenggam tangan Sean dengan lembut. "Pergilah, jika mas juga ingin pergi. Aku tidak akan menahanmu!" ucap Salwa dengan nada penuh pengertian yang kemudian membuat Sean mengangguk dan tersenyum lembut.


Sejanak ada keraguan di benak Sean, apakah ia bisa meninggalkan Salwa tanpa pengawalan darinya? Tetapi di sini sudah ada Leon dan Fang Yi, juga Catherine dan banyak bodyguard Abust yang sengaja ditugaskan untuk mengawal ketat di kediamannya karena semua orang-orang penting yang mereka sayangi sedang berada di bawah perlindungan Abust.


Sean menangkup tangan Salwa yang masih menggenngam tangannya, lalu mengangkatnya ke atas dan menghadiahi ciuman di sana. Tatapannya lembut namun penuh waspada, kepalanya membungkuk mendekat ke kening Salwa lalu saling menyentuhkan kening mereka berdua untuk mendekatkan tatapan intens keduanya.


"Aku akan segera kembali, jangan terlalu berpikir yang membuat dirimu semakin cemas. Ingatlah, aku tidak akan pernah membiarkan siapa pun menyakitimu dan Kinan, aku berjanji pada diriku sendiri." Perkataan Sean berhasil menembus ke kedalaman otak Salwa membuat dirinya memejamkan mata lalu mengangguk perlahan. Ditatapnya mata Sean yang penuh cinta yang tulus dan kesungguhan untuk melindunginya, tanpa sadar tangan Salwa bergerak untuk menyapu pipi suaminya itu yang wajahnya begitu dekat dengan wajahnya sendiri.


"Kau juga harus menjaga dirimu mas, aku tidak ingin terjadi sesuatu denganmu. Aku dan Kinan membutuhkanmu, kau sudah berjanji bukan akan menjaga dan merawat Kinan bersama-sama. Untuk itu kau harus menjaga dirimu juga." Salwa berkata untuk memperingatkan Sean, karena Salwa tahu jika Sean hanya mencemaskan Salwa dan anaknya saja tanpa peduli dengan nyawanya sendiri. Salwa tidak akan merasa bahagia jika pada akhirnya Sean meninggalkannya menjadi seorang ibu tunggal bagi Kinan.


Sean menangkap tangan Salwa yang masih menempel di pipinya, meraihnya lalu menghembuskan hawa panas dari napasnya yang kemudian mencium telapak tangan istrinya itu dengan sayang. "Kita akan selamat bersama, dan bahagia bersama. Itu janji seorang suami kepada istri dan seorang ayah kepada anaknya." ucap Sean dengan penuh keseriusan.


"Apakah pertunjukan drama kalian sudah selesai?" Abust yang sedari tadi menunggu Sean sudah tidak sabar melihat Sean dan Salwa melakukan adegan romantis yang tak berkesudahan. "Kita hanya mengunjungi Milly, bukan untuk berperang." ucap Abust lagi karena merasa sikap kakak angkatnya dan juga Salwa sangat berlebihan.


Sean mendesis dengan menatap tajam Abust yang mengganggu waktunya bersama Salwa, tetapi kemudian ia memilih berpamitan kepada istrinya itu daripada menanggapi konfrontasi Abust.


"Aku akan cepat pulang," ucapnya kemudian sambil mengecup kening Salwa. Salwa mengangguk,yang berlanjut meraih tangan Sean untuk dicium punggung tangannya.


Sean beranjak dari duduknya menegakkan tubuh berjalan melewati Abust tanpa menoleh.


"Ayo pergi!" perintah Sean dengan tegas kepada Abust dengan beberapa orang bodyguard yang mengekor di belakangnya. Abust mengikuti langkah Sean yang berjalan cepat menuju mobil yang sudah berjajar di halaman rumahnya.


Tinggallah mereka berempat berada di ruang tamu yaitu Catherine, Salwa, Leon dan Fang Yi. Ashton dan Axton saat ini sudah berada di ruang bermain bersama dua orang pengasuh mereka. Abust memang memperkerjakan beberapa orang pengasuh yang sudah diuji kredibilitasnya. Ia menempatkan pengasuh-pengasuh terbaiknya untuk mengasuh Ashton dan Axton juga dua orang pengasuh lain untuk baby Kinan. Sementara Catherine fokus untuk mengurus bayi besarnya sendiri yang sekarang terasa begitu manja mengalahkan kedua anaknya.


"Aku permisi ingin melihat Kinan dulu," ucap Salwa berpamitan kepada semua orang yang masih mematung duduk dengan canggung karena tidak saling mengenal.


"Aku temani!" Catherine tiba-tiba ikut berdiri menghampiri Salwa yang kemudian mendapat perseutujuan dari Salwa melalui anggukannya.


Mereka berdua berbalik arah ingin segera menaiki tangga karena tempatnya saat ini lebih dekat dengan tangga daripada dengan lift khusus. Ketika kaki Salwa hendak melangkah naik ke atas, tiba-tiba suara seseorang yang sangat familiar terdengar dengan jelas membuat ia menghentikan langkahnya.


"Selamat siang semua." Suara itu tampak lembut dan ramah, dan yang pasti terdengar menjengkelkan.


Semua orang yang sedang berada di ruangan itu menoleh secara bersamaan, mata mereka terpaku pada satu tempat dengan wajah tidak percaya dengan siapa yang tengah mendatangi mereka.


Seorang Lelaki yang baru datang itu tersenyum ramah, menatap seseorang yang kini juga menatapnya. Lelaki itu mengenakan baju santai berupa t-shirt slim fit yang sangat pas di tubuhnya berpadu celana panjang berbahan corduroy kualitas nomor satu. Tangan kirinya ia masukkan ke dalam saku celana sedangkan tangan yang lain membawa bucket bunga besar penuh dengan bunga mawar putih.


"Yang Pou Han." gumam Salwa lirih.


.....

__ADS_1


Suasana di mobil tampak tegang, Sean tak henti-hentinya mengumpat karena mobil bergerak cukup lamban. Padahal di sisi yang berlawanan arah dengan jalan yang di lewatinya tampak lenggang dengan mobil-mobil yang beradu kecepatan seolah sedang mengejek kendaraan yang berjalan lambat di arah yang berlawanan.


"Sial, ponselku tertinggal di kamar." Sean kembali mengeluarkan umpatan yang membuat Abust menggelengkan kepalanya.


"Kau bisa menggunakan ponselku," ucap Abist yang mulai kesal dengan sikap Sean yang tidak bisa tenang sejak tadi. Sean hanya menoleh dan tidak menanggapi, tidak mungkin ia meminjam ponsel Abust karena Sean tidak akan bisa leluasa menggunakannya. Pasti Abust juga akan memakainya dan itu pasti tidak membuat Sean nyaman karena merasa diburu saat menelepon.


"Putar arah!" Sean tiba-tiba memerintah sopirnya untuk berbalik arah yang membuat Abust mengerutkan alisnya.


"Apa maksudmu?" tanya Abust dengan kesal. Mereka baru melakukan perjalanan sekitar dua kilo meter, dan itu membutuhkan waktu yang lama karena lalu lintas begitu padat, dan sekarang Sean malah meminta untuk putar arah yang artinya kembali ke rumah. Apa-apaan ini?


"Aku ingin mengambil ponselku, kita tidak tahu berapa lama kita meninggalkan rumahmu. Dan aku pikir Salwa pasti sedang memikirkanku, aku hanya takut dia merindukanku karena tidak bisa menghubungiku."


Abust ternganga mendengar penuturan konyol kakak angkatnya itu. "Hey, kau baru meninggalkannya lima belas menit yang lalu. Dia tidak akan mati karena menahan rindu kepadamu yang hanya beberapa menit itu!" ucap Abust dengan mengatai Salwa yang langsung mendapat tatapan tajam oleh Sean. Abust menelan ludah saat melihat tatapan Sean yang menghunus ke arahnya dan ia memilih mengalah lalu memerintahkan kembali sopirnya agar berputar arah menuju ke rumahnya.


....


Leon beranjak dari duduknya terlebih dahulu melihat kedatangan Yang Pou Han yang tidak disangka-sangkanya. Sementara Fang Yi tetap bergeming sambil menyandarkan punggungnya di sofa dan bersedekap dada. Ia lebih memilih sebagai pengamat karena setahunya lelaki itu tidak berbahaya, ia adalah lelaki yang membantu Salwa lolos dari cengkraman Albert waktu itu, sehingga tidak perlu ada yang dicemaskan.


"Apa yang kau lakukan? Ada perlu apa kau datang ke tempat ini?" tanya Leon penuh selidik yang membuat Yang Pou Han terkekeh karena lelaki di depannya ini sungguh tegang saat melihatnya.


"Aku hanya ingin bertemu dengannya." Yang mengedikkan dagunya, mengarahkan bola matanya ke arah Salwa. Salwa bingung harus berekspresi apa, ia memang tidak suka jika Yang datang menemuinya, apalagi lelaki itu pernah membohonginya dan memperalatnya sampai seperti itu. Tetapi tidak bisa dipungkiri jika Yang sudah menyelamatkan nyawanya juga bayinya yang mungkin akan tiada jika ia tidak segera lepas dari cengkraman Albert.


"Aku, tapi... untuk apa?" ucap Salwa kemudian sambil melihat tatapan tajam dari Leon yang tertuju kepada dirinya seolah mengintimidasinya jika melakukan sesuatu yang tidak disukai oleh Sean.


"Selamat ya, aku tahu kau melahirkan seorang anak laki-laki dengan selamat. Aku hanya ingin memberikan ini sebagai hadiah untukmu." Yang menyerahkan bucket bunga besar itu kepada Salwa dengan menyodorkan menggunakan kedua tangannya di depan Salwa.


"Aku tahu kau sangat menyukai mawar putih, dan mungkin suamimu tidak pernah tahu atau peduli dengan bunga kesukaanmu." Yang masih menampilkan senyum ramahnya kepada Salwa, tetapi Salwa masih berdiri mematung di depan bunga yang diberikan Yang tanpa berniat mengambilnya.


"Kau salah, aku menyukai semua bunga, dan tidak terpaku dengan satu jenis bunga."ucap Salwa yang merasa tidak suka jika Yang menyudutkan suminya yang seolah kurang perhatian kepadanya.


"Ayolah Miche.... maksudku Salwa. Aku lebih mengenalmu daripada Sean. Sean mungkin sudah hampir tiga tahun menikahimu tetapi ia tidak pernah menanyakan atau memperhatikan apa yang kau suka dan kau tidak suka. Dia terlalu sibuk dengan dunianya , jadi hal seperti itu pasti luput dari perhatiannya."


"Kau tidak perlu takut, Sean tidak akan marah karena aku memberikan bunga untukmu, karena ia sudah memberiku izin untuk datang ke sini."


"Apa? Dia memberimu izin?" Salwa mengulang perkataan Yang dengan tidak percaya, begitu juga dengan orang-orang di tempat itu.


"Iya, dia menghubungiku dan menyuruhku datang."Yang masih menampilkan senyumnya kepada Salwa dan setia dengan tangan menggantung membawa bucket bunga.


Baiklah, hanya bunga. Mungkin Sean tidak akan marah kepadanya. Lagi pula Yang sudah menyelamatkan nyawanya dan Salwa belum sempat mengucapkan terima kasih kepadanya, jadi tidak ada salahnya jika Salwa menerima pemberian Yang untuknya bukan?


Dengan ragu Salwa memajukan tangannya untuk menyentuh bucket bunga cantik itu, lalu dalam sekejab bucket bunga itu berpindah ke tangannya.

__ADS_1


"Terima kasih." ucap Salwa tulus dengan mengulas senyumnya. Ia menatap bunga cantik itu yang sudah berada dalam genggamannya lalu menghirup aroma wanginya sambil sedikit memejamkan mata. Hidungnya seolah berpesta pora dengan aroma pekat yang menyegarkan indra penciumnya itu.


"Cantik," bisik Yang dalam hati saat melihat Salwa menyukai hadiah yang ia berikan. Senyuman tulus perempuan itu selalu berhasil membuat hatinya nyaman.


Yang Pou Han hanya bisa melihat tanpa bisa memiliki dan ia harus cukup berpuas hati untuk hal itu.


"Kau, apa yang kau lakukan?" suara Sean yang tiba-tiba menggelegar di penjuru ruangan membuat semua orang mengalihkan perhatian ke arahnya. Salwa yang kedapatan menerima hadiah dari Yang merasa gemetar melihat tatapan Sean yang begitu tajam mengarah kepadanya.


"Mas...," gumam Salwa lirih sambil menelan ludah. Tubuhnya menegang dan mematung di tempat tidak tahu harus berbuat apa.


Sean berjalan dengan cepat menuju di mana Salwa berada yaitu di anak tangga pertama menuju lantai dua. Sorot mata Sean lurus ke depan tanpa berniat mengalihkan pandangannya dari bucket bunga di tangan Salwa. Karena begitu gugup tanpa sengaja Salwa menjatuhkan bunga cantik itu ke lantai.


"Kau, apa yang kau lakukan di sini. Mendekati istriku?" bentak Sean kepada Yang Pou Han lalu membungkuk mengambil bucket bunga yang jatuh di lantai.


"Ambil ini, Salwa tidak membutuhkannya." Sean melempar bucket bunga itu kepada Yang Pou Han, dengan sigap lelaki itu menangkapnya sebelum mengenai wajahnya. Dia terkekeh melihat Sean murka, lalu tersenyum miring seolah berniat memancing kemarahan Sean.


"Hey, bagaimana kau bisa sekasar itu menghadapi istrimu? Aku memberinya bunga hanya untuk memberi selamat dan karena aku tahu dia menyukai bunga, kau pasti tidak pernah memberinya bunga kan?" ucap Yang Pou Han berusaha memprovoskasi. Wajah Sean memerah menahan marah bercampur kesal kepada lelaki di depannya ini.


"A....aku tidak menyukai bunga, sungguh!" Salwa yang mendengar perkataan Yang mencoba menengahi, dia merasa bersalah karena mau menerima bunga dari lelaki lain , apalagi saat Sean tidak ada bersamanya.


"Kau dengar, Salwa tidak menyukai bunga. Apalagi itu adalah pemberianmu. Jadi bawa saja hadiahmu itu kembali!" Sean menaikkan intonasi bicaranya. Entahlah, Sean seolah menjadi anak kecil yang sedang mempertahankan barang miliknya supaya tidak dimiliki atau dilirik oleh orang lain. Ada rasa posesif yang kental saat melihat Salwa berinteraksi dengan lelaki lain yang juga menginginkannya. Apalagi Sean tahu Yang Pou Han sampai saat ini masih mencari kesempatan untuk dekat dengan Salwa.


"Sean, begitukah caramu memperlakukan istrimu? Kau membuatnya ketakutan dan tidak nyaman. Jika kau melihat bagaimana reaksinya saat menerima bunga dariku, kau pasti menyadari bahwa Salwa sangat menyukai hadiah dariku. Dia bahkan mencium bunga yang aku berikan sambil tersenyum kepadaku." Yang kembali bersikap memprovokasi.


Sean menatap tajam ke arah Salwa mencoba mencari jawaban dari sorot matanya, tetapi yang Sean lihat adalah tatapan rasa bersalah Salwa kepadanya yang membuat Sean mengerti bahwa perkataan Yang benar adanya.


Salwa menyukai pemberian Yang untuknya.


Melihat bagaimana lelaki lain berusaha mendekati istrinya membuat rasa arogan Sean yang merasa memiliki dan berhak sepenuhnya atas diri Salwa menguar ke permukaan. Ia mengepalkan tangannya menahan rasa cemburu yang hampir meluap dalam dirinya.


"Mas...," Salwa berusaha mengiba agar Sean tidak melanjutkan perdebatan sepele itu.


"Masuk!" Sean menunjukkan tangannya ke arah atas di mana kamarnya berada dengan tetap menatap Salwa. Perempuan itu menangis dan membungkam mulutnya mendengar Sean membentaknya lagi. Ada rasa pedih menyahat hati Sean saat melihat Salwa menangis karena dirinya. Tetapi perasaan dan mulutnya seolah tidak sejalan, Sean justru kembali membentaknya. "Aku bilang masuk!"


Salwa menurut, ia menaiki tangga dengan setengah berlari lalu menghilang dari pandangan orang-orang yang sedang menatapnya.


"Kau tidak perlu membentaknya seperti itu Sean. Jika saja dia bersamaku, aku akan memperlakukannya dengan begitu lembut dan tidak akan pernah membiarkannya menangis. Kalau kau hanya bisa berbuat kasar kepadanya, lebih baik berikan saja dia kepadaku!"


"Hanya dalam mimpimu Yang!" bentak Sean geram.


Sean mendekat ke arah Yang Pou Han lalu menarik t-shirt yang dikenakannya hingga membuatnya merasa tercekik. Yang masih berusaha tersenyum menjengkelkan lalu menunjukkan kedua telapak tangannya ke depan sebagai isyarat menyerah.

__ADS_1


"Aku datang bukan untuk bertengkar. Aku menemukan sebuah markas yang sama sekali tidak kita duga sebelumnya tentang keberadaannya."


__ADS_2