Terjerat Cinta Dunia Mafia 2

Terjerat Cinta Dunia Mafia 2
Ekstra Chapter 1 (Reuni Akbar part 1)


__ADS_3

Angela mematut dirinya di cermin, ia sudah berjam-jam belum juga keluar dari kamarnya sambil memilah-milah baju yang ada di dua lemari pakaiannya.


"Ckk Semua sudah kuno dan ketinggalan zaman," cebiknya kesal sambil menatap pakaian-pakaiannya yang berhambur di atas kasur.


Ia sudah memoles wajahnya sejak tadi tetapi rasanya masih ada yang kurang. Matanya kembali melirik ke arah benda pipih berwarna hijau muda dengan aksen bunga sebagai hiasannya. Sebuah undangan reuni akbar yang diselenggarakan oleh SMA-nya dulu, sebagai seorang anak kepala sekolah tentunya Angela harus menghadiri acara itu, apalagi ayahnya mengatakan akan ada sponsor besar yang mendanai acara reuni itu.


Sebuah perusahaan multi nasional akan memberikan beasiswa untuk siswa berprestasi kepada lulusan terbaik di sekolah itu untuk melanjutkan pendidikannya di jenjang yang lebih tinggi. Tidak hanya itu, perusahaan tersebut juga menawarkan pekerjaan bagi alumni SMA tersebut untuk menduduki posisi-posisi tertentu sesuai jenjang pendidikan yang dikenyamnya.


Angela merasa itu kesempatan emas baginya. Ia baru saja diwisuda dan tentunya mendapatkan pekerjaan dengan cepat dan menempati posisi terbaik yang ia bisa di perusahaan multi-nasional menjadi hal yang diinginkannya. Ia sudah tidak sekaya dulu sehingga ia harus segera mencari pekerjaan agar gaya hidupnya yang hedonis kembali bisa ia nikmati.


Angela menatap baju-bajunya yang berserakan, rasa frutrasinya kembali muncul membuatnya harus memikirkan cara lain supaya penampilannya tetap menjadi sorotan dan mendapatkan banyak perhatian dari semua tamu undangan terutama pemilik perusahaan itu.


Sementara di tempat lain ada orang tua muda yang sedang berbahagia masih belajar mengurus anak mereka. Sepasang suami istri yang selalu tertawa setiap ada kesalahan yang tidak disengaja saat merawat anak pertamanya.


"Mas, pegangin Kinan! Aku maubersihkan popoknya," Salwa membawa popok kain yang bisa dicuci ulang yang penuh dengan kotoran bayi untuk segera ia bersihkan ke kamar mandi.


Sean mengangguk sambil berjalan ke arah bayi montok dan tampan itu yang kini sudah berusia enam bulan. Baby Kinan tertawa saat Sean menghampirinya, dengan hati-hati lelaki itu menggendong baby Kinan sambil memberikan sedikit gerakan mengayun yang membuat bayi itu tertawa riang. Dengan suara celotehan khas bayi membuat bayi berambut pirang itu semakin terlihat lucu dan menggemaskan. Ia bermata biru sama persis dengan milik Sean , bahkan hidung, bibir juga dagu.


Sean merasa bersalah kepada Salwa, karena istrinya itu yang telah bersusah payah mengandung dan melahirkan tetapi justru anaknya sangat mirip dengan Sean bukan dengan Salwa. Sean masih berpikir bahwa kemiripan anaknya itu terjadi karena Salwa terlalu mencintai dan merindukannya sehingga setiap waktu istrinya itu tiada henti untuk memikirkannya.


Sean menarik sudut bibirnya melengkung setelah memikirkan hal itu, tetapi tiba-tiba suara dari lubang pembuangan baby Kinan terdengar keras. Lambat-lambat mengalir cairan kuning sedikit berampas melewati popok bayi itu merambat ke lengan Sean yang berbalut jas, tetapi Sean tidak menyadarinya. Bayi tampan itu tiba-tiba menangis keras membuat Sean terperanjat panik karena terkejut.


"Sayang, sudah belum. Kinan menangis, dia lapar mungkin," Sean memangil Salwa dengan berteriak karena tangis Kinan tak kunjung berhenti.


"Sebentar ya, hampir selesai. Kamu gendong dulu aja sambil diayun-ayunin."


Sean mencoba mengayun-ayunkan Kinan seperti ucapan Salwa tetapi bukannya berhenti tangis bayi itu justru semakin keras.

__ADS_1


"Sayang, buruan. Kinan nangis terus!" teriak Sean sambil masih mengayunkan baby Kinan.


Salwa dengan tergopoh keluar dari kamar mandi dengan rambut basah kuyup sambil mengenakan jubah handuknya, sepertinya perempuan itu membersihkan popok sekaligus membersihkan diri karena mereka akan menghadiri acara reuni akbar yang diselenggarakan oleh sekolah Salwa dulu. Tanpa sempat mengeringkan rambutnya Salwa segera mengambil alih baby Kinan dari tangan Sean.


Pengasuh Kinan hari ini sedang meminta izin pulang kampung karena orang tuanya sedang sakit sehingga Sean dan Salwa mengasuh Kinan sendiri.


"Mas, dia pup lagi. Makanya menangis, mungkin yang tadi belum selesai," ucap Salwa sambil membaringkan baby Kinan di box bayinya.


"Iya kah?" bola mata Sean mengarah ke box bayi itu saat melihat Salwa melepas kembali popok baby Kinan yang sudah terkena kotoran bayi.


Salwa segera mengganti popoknya yang kemudian kembali lagi ke kamar mandi untuk membersihkan popok tersebut.


Tidak butuh waktu lama perempuan itu sudah keluar dari kamar mandi untuk menggendong baby Kinan yang masih menangis walaupun tangisnya tidak begitu keras seperti sebelumnya.


"Mas, kenapa masih bau ya?" Salwa mengendus aroma tidak sedap itu dari putranya, tetapi tidak ada bau seperti itu. Barulah ia menyadari saat melihat lengan jas suaminya itu berubah warna karena terkena kotoran baby Kinan. Salwa terkekeh lalu menutup mulutnya dengan telapak tangan kirinya agar tawanya tidak meledak begitu saja.


"Mas kamu mandi gih, tuh sekalian ganti baju," ucap Salwa sambil menunjukkan cairan berwarna kuning cerah yang berada di lengan jas yang dipakai oleh Sean.


"Ganti baju saja, bukannya undangannya pukul sembilan?" ucap Sean kemudian mengingatkan Salwa tentang undangan reuni akbar yang akan dimulai tiga puluh menit lagi.


"Baiklah, tapi cuci lenganmu dulu yang terkena kotoran. Akan kusiapkan pakaiannya."


Sean mengangguk patuh, lelaki itu segera menuju kamar mandi untuk membersihkan lengannya yang kotor sekaligus melepas pakainnya.


Salwa membaringkan baby Kinan di ranjang setelah dirasa baby boy itu sudah terlelap dalam buaiannya. Ia mengambilkan pakaian berupa kemeja putih lengan panjang beserta jas dan dasinya yang kemudian ia berjalan ke arah kamar mandi untuk mengantar pakaian suaminya itu.


Salwa mengetuk perlahan pintu kamar mandi takut jika suara ketukan itu membangunkan baby Kinan yang baru saja tertidur.

__ADS_1


Hanya dalam satu ketukan pintu terbuka dengan sendirinya dan sebuah tangan kekar menyambar lengan Salwa hingga perempuan itu terpaksa ikut masuk ke dalam kamar mandi.


Sean sudah menunggunya di dalam dengan bersiap menangkap tubuh istrinya itu yang hampir terjatuh akibat tarikan tangannya yang sedikit kasar. Salwa mendengus karena wajahnya menabrak dada Sean yang sudah tidak terbungkus pakaian. Sean sudah melepaskan jas dan kemejanya yang bau itu dan meletakkannya begitu saja di lantai, sementara celana panjangnya masih ia pergunakan.


Sean mengambil pakaian ganti yang dibawakan oleh Salwa dengan tangan kanannya untuk ia letakkan di atas rak kaca yang menempel di dinding keramik kamar mandi tanpa berniat melepaskan pelukan yang menggunakan tangan kirinya dari tubuh Salwa.


"Masih ada tiga puluh menit bukan? Tidak mengapa kita terlambat barang lima menit saja." Sean berbisik lembut di telinga Salwa dengan nada sensualnya yang membuat bulu halus Salwa berdiri. Tiupan hawa panas yang ia rasakan di telinganya membuat ia mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh suaminya itu.


(Sssstttt... jangan dibaca lewatin saja 😄🙈🙈 agar tidak menyesal 🤭😄)


Salwa menengadah menatap Sean dengan alis yang sedikit berkedut dan hampir menyatu.


"Tapi kau bilang tidak akan sempat jika harus mandi lagi, lalu ....,"


Tanpa bisa melanjutkan perkataannya, Sean sudah membenamkan bibirnya ke bibir ranum Salwa yang masih tampak segar dan lembab. Tetes-tetes air dari ujung rambutnya yang masih basah terasa di tangan Sean yang sudah merambat naik ke tengkuk leher Salwa untuk memperdalam ciuman mereka.


Tiada penolakan bagi Salwa jika Sean sudah memperlakukannya dengan liar namun lembut seperti itu. Tangannya yang semula menahan di dada Sean saat ingin memrotes keinginan Sean yang tak kenal waktu itu sekarang justru terkulai lemah tanpa bisa melawan. Ya, Salwa selalu pasrah dan terbuai dengan perlakuan lembut suaminya hingga kini jubah handuk yang ia kenakan entah sudah terlempar kemana.


Sean menelusuri tetes air yang membasahi leher Salwa akibat anak-anak rambut Salwa yang lancang menempel di leher jenjang itu menggunakan bibirnya yang kemudian membuat Salwa memejamkan mata merasakan kecupan-kecupan lembut di lehernya. Tak henti-hentinya Sean menggodanya dengan mempererat tubuhnya mengelus punggung Salwa yang tak terlindung apapun dengan pergerakan naik turun.


Sean tersenyum simpul melihat Salwa mulai tergoda dengan sentuhan-sentuhannya, ia tidak mungkin melepaskan kesempatan emas itu untuk melanjutkannya lebih dari itu. Kembali ia benamkan wajahnya di leher Salwa lalu bergerak naik ke telinga, mengecup cuping Salwa dengan sedikit gigitan-gigitan kecil lalu beranjak ke area bibirnya dan memberikan sapuan lembut dan hangat di bibir bawah serta atas. Lidahnya mengetuk bibir itu untuk membuat Salwa sedikit membuat celah yang dengan mudahnya Sean melesatkan lidahnya bergerak ke dalam menelusuri rongga mulut Salwa.


Sorot mata Sean sudah tampak berkabut dengan gairah yang menguar dalam dirinya menuntut untuk dilampiaskan dengan segera. Dengan kasar ia melepaskan celananya untuk kemudian ia lempar ke sembarang tempat dengan tanpa berniat melepaskan pelukannya dari tubuh Salwa yang menempel erat dengannya beserta bibir yang masih saling tertanam.


Sean kembali merabakan tangannya menelusuri pinggang dan naik ke punggung lalu menyamping menekan di dua benda yang sekarang tampak lebih besar dan padat itu. Ia melihat ke bawah di mana benda itu berada membuatnya ingin segera melahapnya. Namun di detik Sean menundukkan wajahnya dengan bibir sudah menempel di permukaan dada Salwa bersamaan jemari Salwa meremas kuat rambutnya suara tangis baby Kinan menghentikan semuanya.


Sean menelan ludah sementara Salwa buru-buru mengembalikan kesadarannya, dengan mata melihat ke sana kemari mencari di mana handuknya berada. Salwa buru-buru melepas pelukannya dari Sean lalu mengambil jubah handuknya dengan membungkuk dan memakainya dengan cepat, tanpa menoleh ke arah Sean, Salwa segera keluar untuk memeriksa putranya yang sedang menangis. Sean yang melihat punggung Salwa menghilang bersamaan dengan menutupnya pintu kamar mandi terduduk dengan lemas. Ia bersandar di dinding keramik kamar mandi dengan wajah memelas sambil menatap langit-langit kamar mandi yang tampak sedang mengejeknya.

__ADS_1


(😄 Sudah dibilangin gak usah dibaca, jadi kesel sendiri kan 😁)


Kasih komen dan like dulu sebelum lanjut ke extra chapter selanjutnya 🤭😊


__ADS_2