
"Ada sesuatu yang penting yang ingin aku tanyakan kepadamu."
Kedua alis Sean bergerak menurun, menyipitkan mata menatap Alan yang masih menyedekapkan kedua tangannya di dada.
"Apa yang ingin kau tanyakan?" Sean berucap dengan menampilkan raut muka tidak sukanya kepada Alan, namun lelaki itu seolah tidak peduli.
"Bagaimana kau menandatangani surat kesepakatan dengan pihak rumah sakit untuk menahan istri dan anakmu hingga waktu yang belum bisa ditentukan?"
Glek,, Sean kesulitan menelan ludahnya yang terasa seperti bongkahan es. Alan bisa-bisanya mengatakan secara terang-terangan hal yang Sean rahasiakan kepada Salwa.
"Menahan aku dan Kinan?" Salwa bertanya dengan menatap Sean yang sedang melotot ke arah Alan, menuntut jawaban kepada suaminya itu atas apa yang baru saja diungkapkan oleh Alan.
"Aku tidak melakukannya, percayalah." Sean menjawab dengan lembut, meyakinkan Salwa agar istrinya itu tidak menanyainya lagi.
"Aku sudah membaca surat pernyataanmu, kau menginginkan tetap tinggal di sini sampai istrimu benar-benar sembuh. Padahal dokter sudah mengizinkanmu untuk pulang hari ini. Mengapa kau melakukan itu?"
Salwa hanya menatap Sean penuh pertanyaan, tetapi enggan untuk berkata apa-apa. Ia tidak ingin berdebat dengan suaminya itu di depan orang lain. Baginya harga diri suaminya itu jauh lebih penting, meskipun sebenarnya Sean selalu mengalah kepadanya.
"Aku melakukan itu karena aku ingin Salwa cepat sembuh. Jika memang kondisinya masih kesakitan, bagaimana aku tega memaksanya untuk pulang?"
Dokter memang sudah mengizinkan Salwa dan baby Kinan pulang hari ini, tetapi melihat Salwa masih kesakitan seperti itu membuat Sean tidak yakin dengan keputusan dokter tersebut. Sehingga ia memutuskan untuk tetap tinggal di rumah sakit sampai Salwa benar-benar sembuh dan tidak merasakan sakit di bagian lukanya. Ia menandatangani surat pernyataan , membuat kesepakatan dengan pihak rumah sakit secara paksa atas kemauannya sendiri.
"Sean, baru kali ini aku melihatmu bertindak bodoh dan tidak masuk akal. Sebaik apapun rumah sakit, dan semewah apapun fasilitas yang kau dapatkan di rumah sakit, rumah sakit tetaplah rumah sakit. Tempat di mana virus dan bibit penyakit berkumpul dan berkeliaran yang siap untuk hinggap di tubuh-tubuh manusia, terutama bayi yang baru lahir yang belum memiliki sistem kekebalan tubuh yang sempurna. Oleh sebab itu, jika dokter menyarankan untuk pulang, maka pulanglah." ucap Alan dengan menatap Sean penuh tuntutan.
Alan berjalan maju mendekati box bayi, di mana baby Kinan sedang tertidur lelap. Tangannya tertarik untuk mengelus pipi gembul bayi mungil itu yang memang terlihat lucu. Ketika kulit jemarinya hampir menyentuh permukaan kulit pipi Kinan, tangan Sean segera mencegahnya dengan menampik tangan Alan secara kasar.
"Kau baru saja menyentuh pasien-pasienmu yang berpenyakitan, tetapi sekarang ingin menyentuh putraku? Apa kau ingin menularinya dengan bibit penyakit yang kau bawa dari tubuhmu?" Sean berucap dengan nada kasar kepada Alan, dia masih kesal kepada temannya itu. Sudah mengganggu kemesraannya bersama Salwa, sekarang malah membongkar rahasianya secara terang-terangan di depan istrinya. Melihat bagaimana Salwa menatapnya dengan kecewa, membuat Sean yakin bahwa pastinya setelah ini Salwa akan merajuk kepadanya.
__ADS_1
Alan terkekeh, ia sudah tahu bagaimana watak sahabatnya itu sehingga ia sama sekali tidak terpengaruh ataupun merasa sakit hati.
"Sepertinya bukan perintahmu saja yang mendominasi, bahkan genetikmu juga sangat dominan menurun kepada anakmu. Semoga saja wataknya tidak begitu, akan sangat sial dirinya jika wajah dan sifatnya juga menurun sepertimu." Alan berkata dengan sedikit mengejek, sepertinya memancing amarah Sean yang berusaha ia tahan-tahan akan sangat menyenangkan. Wajah Sean sudah merah padam, tetapi ia masih berusaha menampilkan senyum lembut jika tanpa sengaja bersitatap dengan istrinya.
"Jika kau ke sini hanya untuk menghina sebaiknya kau cepat keluar, aku masih ada urusan dengan istri dan anakku." Sean berucap mengusir dokter Alan dengan jelas. Alan terkadang bersikap menyebalkan jika Sean sedang dalam kondisi tersudut seperti itu, tetapi sama sekali tidak ada niat buruk dalam benaknya.
"Baiklah, aku juga sangat sibuk." Alan kemudian beralih menatap Salwa. "Jika ada yang mengganggumu lagi, beri tahu aku. Aku akan datang membantumu mengusirnya." ucapnya sambil mengedipkan kembali sebelah matanya.
"Kau !" Sean bersiap-siap melepaskan sepatunya, ingin melemparkannya ke arah Alan, tetapi dengan cepat Alan keluar dan bergegas menutup kembali pintu ruang perawatan Salwa.
Kini tinggallah Sean dan Salwa juga baby Kinan yang masih tertidur di dalam box bayinya. Sean terduduk, nampak sedikit kikuk dengan keheningan membentang di antara mereka. Alan sialan itu sudah membuat suasana intim mereka berdua menjadi hening dan mencekam. Bola mata Sean berkeliling, mencari-cari topik pembicaraan agar suasana hening itu segera mencair. Matanya terpaku kepada makanan yang sebelumnya ditawarkan Sean kepada Salwa, yang kemudian ditolak oleh Salwa karena alasan masih kenyang.
"Kau pasti sudah lapar, sekarang makan ya?" Sean beranjak dari duduknya untuk mengambil tempat makan yang dipesannya dari luar dengan menyuruh bodyguardnya. Sebelum tangan Sean menyentuh tempat makanan itu, Salwa membuka suara. "Mas, apakah yang diucapkan dokter Alan itu benar?"
Sean menoleh, menatap Salwa dengan lembut, mencoba memberi pengertian kepada istrinya itu. Ia berbalik arah menuju di mana Salwa duduk, lalu membungkuk , menurunkan tubuhnya sampai kedua lututnya menyentuh lantai untuk digunakan sebagai tumpuhan sambil menggenggam kedua tangan istrinya .
"Aku sudah berbicara dengan dokter anak, dan dia menganjurkan agar ibu dan bayi tidak melakukan perjalanan jauh selama satu bulan pertama. Karena ibu dan bayi membutuhkan lingkungan yang stabil untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan baru." ucap Sean menjelaskan kepada istrinya itu.
"Satu bulan pertama?" Salwa mengangkat kedua alisnya, apakah Sean berencana akan tinggal di rumah sakit ini sampai usia Kinan mencapai satu bulan? Pasti sangat membosankan bukan dikirung di rumah sakit seperti ini sampai waktu satu bulan itu berakhir? Seolah mengerti apa yang dipikirkan Salwa, Sean kembali melanjutkan perkataannya.
"Jika memang diperlukan, kita bisa melakukan penerbangan jika usia Kinan sudah mencapai dua minggu lebih. Dan selama di negara ini, kita akan tinggal di hotel saja."
"Tapi kau bilang bahwa Kinan bisa melakukan penerbangan jika usianya sudah mencapai satu bulan, lalu apa tidak berbahaya bagi Kinan jika kita membawanya di usia yang hanya dua minggu?" Salwa bertanya dengan antusias akan jawaban Sean yang terasa sedikit membingungkan.
"Dengan catatan bayi dilahirkan secara normal dengan berat badan mencukupi dan dalam kondisi sehat, kita bisa melakukan penerbangan di usia dua minggu. Dan Kinan termasuk di dalamnya. Apakah kau sudah sangat merindukan rumah?" tanya Sean kemudian, yang langsung diikuti anggukan oleh istrinya itu.
"Aku ingin bertemu ibu." Salwa menghela napas panjang. "Saat aku menjalani proses melahirkan yang begitu menyakitkan, aku teringat ibu. Aku merasa sudah banyak berbuat salah kepadanya. Melihat bagaimana susah payah dirinya mengandung dan melahirkanku, serta perjuangannya membesarkan dan mendidikku, aku merasa apa yang aku alami tidak sebanding dengan apa yang dialami ibuku. Aku ingin meminta maaf kepadanya, sekaligus menunjukkan Kinan anak kita. Ibuku pasti sangat senang karena ia sudah menjadi seorang nenek." Mata Salwa berkaca-kaca saat mengucapkannya, membuat Sean mengangguk dan mengecup kedua punggung tangan Salwa yang masih berada dalam genggamannya.
__ADS_1
"Aku mengerti, aku juga merasakan hal yang sama. Apakah sebelum pulang kau mau menemaniku ke makan ibuku? Pasti dia akan senang karena dikunjungi menantu dan cucunya."
"Tentu saja, kita akan mengunjungi makam ibu bersama." Salwa menyahut dengan cepat, membuat Sean tersenyum senang. "Tetapi aku pernah mendengar jika bayi naik pesawat akan mengalami nyeri di bagian perutnya dan telinga yang sakit akibat tekanan udara yang begitu cepat berubah, apa Kinan tidak akan mengalami hal itu nantinya?" Salwa bertanya dengan sedikit cemas membayangkan Kinan yang masih sangat kecil itu merasakan kesakitan di bagian perut dan telinganya saat berada di atas ketinggian.
"Aku sudah berkonsultasi masalah itu sebelumnya, Jika kita membiarkan Kinan tertidur sebelum lepas landas maka hal itu tidak akan terjadi. Sebelum naik pesawat, sebaiknya kau menyusuinya terlebih dulu dan pastikan ia bersendawa dengan baik. Sebab ketika di dalam pesawat, tekanan atmosfer yang rendah dapat meningkatkan gas di dalam usus. Karenanya menghisap ****** atau botol susu dapat menambahkan lebih banyak udara pada usus yang sudah membengkak, sehingga menyebabkan nyeri perut."
"Itu artinya aku tidak bisa memberinya makan di kabin pesawat? Bagaimana jika Kinan tiba-tiba menangis mas, aku harus melakukan apa?" Menjadi ibu baru memang butuh banyak belajar, dan hal itu membuat Salwa harus benar-benar tahu apa yang baik dan buruk bagi Kinan.
"Kau bisa menyusuinya dengan porsi yang lebih kecil namun sering, dan pastikan Kinan bersendawa setelah mendapatkan makanan. Kau tenang saja, aku akan membantumu mengurus Kinan. Kau tidak sendiri, aku juga orang tuanya bukan? Kita akan mengurusnya bersama-sama." ucap Sean lembut yang membuat kecemasan langsung sirna di wajah Salwa.
Melihat Salwa sudah tidak murung lagi karena keputusannya yang dilakukan sepihak membuat Sean sedikit lega. Ia tahu Salwa bukanlah tipe gadis pemarah, istrinya itu cukup sabar menghadapinya meskipun terkadang Sean memutuskan sesuatu yang sangat berarti bagi Salwa, seperti memutuskan agar istrinya itu berhenti kuliah yang menjadi impiannya sejak dulu. Egois memang, tapi Sean melakukannya demi kebaikan Salwa dan juga anaknya.
"Kau tahu, aku selalu menurut dengan apa saja yang kau putuskan untukku, karena duniaku adalah dirimu dan Kinan. Tetapi, aku ingin kau memberitahuku terlebih dulu sebelum kau memutuskan sesuatu, meskipun pada akhirnya keputusan tetap berada di tanganmu." Salwa berkata dengan memandang Sean yang saat ini juga menatap matanya.
Salwa hanya ingin di pernikahan mereka yang saat ini telah dikaruniai seorang anak membuat Sean tidak memutuskan segala sesuatunya secara sepihak. Ia ingin ikut andil memberi masukan meskipun memang pada akhirnya Seanlah yang akan jadi pencetus keputusan akhir. Tetapi alangkah baiknya jika sepasang suami istri saling bertukar pikiran untuk memutuskan sesuatu yang memang itu demi kebaikan bersama bukan?
Sean mengangguk, ia cukup mengerti dengan apa yang Salwa maksudkan. "Aku akan memberi tahumu terlebih dulu sebelum mengambil keputusan, apa sekarang kau memaafkanku?"
Salwa mengangguk dengan menampilkan senyum ceriahnya. "Aku tidak pernah bisa marah denganmu mas." ucapnya lembut yang diikuti senyuman di bibir Sean. Sean berdiri dari posisinya, membungkuk menghadiahi kecupan di dahi Salwa lalu berbisik lirih. "Aku sangat beruntung memilikimu. Ehmmm, karena kau sudah tidak marah, apakah kita bisa melanjutkan yang tadi?"
"Hah...." Salwa ternganga mendengar permintaan suaminya yang tiba-tiba itu.
....
Bersambung...
😁 Maaf baru bisa update 🙏🙏, sebagai gantinya hr ini ngebut dua chapter, insya Allah entar sore klo riview cepet langsung bisa dinikmati.
__ADS_1
selamat membaca 😊😊