
PLAAK
"Kau menamparku?" Teriak Varo sambil menyentuh permukaan pipinya yang memanas akibat tamparan Salwa.
"Iya, kau sudah kurang ajar. Kau pantas mendapatkannya." Salwa berucap tegas, wajahnya terlihat geram melihat perlakuan Varo yang kurang ajar kepadanya.
Varo terkekeh, ia kemudian mendekati Salwa. Ia mendorong tubuh Salwa hingga terhentak ke dinding. Ia merangkap tubuh Salwa dengan kedua tangannya yang ia letakkan di sisi kiri dan kanan Salwa. Salwa kembali berontak mencoba melarikan diri, ia mendorong Varo sekuat tenaga tetapi gerakan tangan Salwa langsung ditangkis Varo dengan menangkap ke dua tangan gadis itu.
Varo meletakkan kedua tangan Salwa ke belakang, lalu menyatukan pergelangan tangannya dengan satu cengkraman. Varo mendekatkan wajahnya ke depan wajah Salwa, Salwa segera berpaling. Ia tidak sudih melihat lelaki yang sudah kurang ajar terhadapnya.
"Kau bilang aku kurang ajar, lalu kau sebut apa lelaki yang telah menidurimu dan menghamilimu?" Varo membentak Salwa tepat di depan wajahnya.
"Aku sudah menikah Varo, kau tak pantas melakukan ini, lepaskan aku!" Salwa menatap tajam ke arah Varo sambil sesekali mencoba membuka cengkraman tangan Varo pada kedua pergelangan tangannya.
"Hahaha.. menikah, kau hanya menjual tubuhmu kepada lelaki tua bukan. Jika kau butuh uang, kenapa kau tidak datang kepadaku. Aku bisa memberimu lebih banyak asalkan kau mau bersamaku. Kau sangat menjijikkan Salwa. Tetapi aku..., kenapa aku bisa jatuh cinta kepada perempuan kotor sepertimu?" Varo tertawa miris, ia merutuki kebodohannya bisa mencintai wanita seperti Salwa. Wanita miskin, kotor dan sudah tidak punya harga diri lagi. Apa yang bisa dibanggakan dari perempuan seperti Salwa? Jawabannya adalah tidak ada. Tetapi kenapa Varo tidak bisa menghilangkan perasaannya. Semakin ia mencoba membenci Salwa, hatinya semakin sakit dan rasa cintanya semakin dalam.
"Apa, kau mencintaiku?" Tanya Salwa dengan raut muka tak percaya. Lelaki yang biasa dekat dengan Angela itu mencintainya. Lalu kenapa saat dulu Varo justru menjauhinya.
Pandangan Varo meredup, ada perasaan yang sulit diterjemahkan dalam dirinya. Ia menyatukan keningnya dengan kening Salwa, napas hangatnya menerpa permukaan wajah Salwa.
"Iya, aku mencintaimu Salwa, aku mencintaimu. Kau mendengarku, aku mencintaimu."
Salwa menangis, ia dulu menginginkan Varo mengatakan ini disaat ia memendam perasaannya dalam-dalam. Tetapi kenapa Varo mengatakan hal ini disaat yang tidak tepat.
" Varo, semua sudah terlambat. Aku sudah menjadi milik orang lain. Lupakan aku, sekarang lepaskan aku. Kau jangan menyiksaku seperti ini!" Salwa meyakinkan hatinya bahwa ia sudah tidak pantas untuk membuka hati lagi. Ia sudah memiliki Sean, suaminya yang sangat mencintainya. Salwa pun juga mencintai suaminya itu. Ia tidak menginginkan yang lain, bahkan Varo sekalipun.
Salwa terus mengguncang tubuhnya agar Varo segera melepaskannya. Tetapi bukannya melepaskan Salwa, Varo justru menahan kepala Salwa dengan menekan dagu Salwa menggunakan tangannya yang masih bebas.
__ADS_1
"Aku datang bukan untuk mendengar perkataanmu atau menyiksamu Salwa, aku ingin membantumu. Kau akan terbebas dari tuduhan-tuduhan mereka, dan namamu akan bersih jika kau mau menurutiku. Gugurkan kandunganmu!"
Salwa langsung menoleh ke arah Varo, ingin sekali ia menampar dan memukul lelaki di depannya ini, tetapi tidak bisa ia lakukan karena kedua tangannya masih menyatu dengan cengkraman tangan Varo. Salwa menyesal sempat menyukai laki-laki seperti Varo. Laki-laki itu berubah menjadi pria yang tak bermoral dan keji.
"Lepaskan aku baji***an, aku tidak sudih kau sentuh!"
"Hahaha.. Kau sebut aku baji****, lalu apa bedanya dengan ayah dari anakmu itu. Dia adalah pedofil yang menyetubuhi gadis di bawah umur. Aku hanya melakukan ini padamu tidak lebih."
"Kau bisa beladiri bukan, sekarang kenapa kau diam saja, lawan aku, serang aku, ayo lawan- lawan!" Salwa ingin sekali memukul lelaki itu, tetapi ia tidak mungkin berkelahi disaat hamil muda seperti ini. Apalagi Varo tentu lebih tangguh darinya, ia takut terjatuh dan kehilangan calon buah hatinya lagi.
"Kenapa kau diam saja, apakah kau mengakui bahwa kau juga menyukaiku, atau kau takut keguguran jika melawanku? Itu lebih baik karena kau tidak perlu repot-repot menggugurkan kandunganmu."
Varo terus saja menelusuri wajah Salwa dengan bibirnya, Salwa hanya bisa menangis sambil memberontak dengan mengguncang-guncangkan tubuh dan tangannya.
BUGGH..
Lelaki itu mencengkram batang leher Varo, sehingga mau tidak mau Varo berdiri dengan susah payah.
"Kau, berani sekali kau menyentuhnya!" Lelaki itu kembali melayangkan pukulannya kepada Varo. Lalu kembali ia tarik tangan Varo agar berdiri kembali.
Lelaki itu mengambil papan kayu yang ia patahkan begitu saja menggunakan kakinya. Varo yang melihat dirinya dalam bahaya segera melayangkan jurus pukulannya kepada pria itu dari belakang.
"Tidaak, awas!" Salwa berteriak memperingatkan lelaki itu yang ternyata adalah Sean suaminya, dengan cepat Sean melayangkan papan kayu itu mengenai tubuh Varo. Sean mencengkram lengan Varo dengan kuat. Wajah Varo sudah babak belur dengan berlumuran darah.
"Kau tahu siapa perempuan yang sudah kau lecehkan itu?"
"Kau tahu, darah daging siapa yang ingin kau gugurkan itu?"
__ADS_1
Sean mendekatkan wajahnya dengan sorot mata yang berkilat tajam. Ingin menelan pria di depannya hidup-hidup. Ia tidak akan membiarkan lelaki yang sudah menyentuh istrinya itu hidup.
"Dia adalah istriku."
BRAAKK, satu pukulan papan di wajah Varo membuat Varo jatuh tersungkur.
"Janin itu adalah anakku."
BUGG, pukulan lagi dan lagi. Sean seperti hilang kendali. Lelaki itu terus saja memukuli Varo meskipun Varo sudah tak berdaya dengan tubuh penuh luka.
Sean masih belum puas melihat Varo tergeletak tak sanggup membuka mata, ia melihat batu berukuran besar. Dengan segala kekuatan ia kerahkan, ia mengangkat batu besar itu. Ia akan menimpahkan batu besar itu ke kepala Varo.
"Yaaaakkk....." Sean mengangkat batu itu dan ...
"Tidaaaakk!" Salwa berteriak histeris. Ia tidak ingin Sean membunuh, mungkin jika dulu Sean lebih mudah menyembunyikan kekejiannya dari hukum. Tetapi saat ini, Sean bukanlah Sean yang dulu. Ia hanya seorang pengusaha. Bukan seorang mafia yang mempunyai kekuatan dan pengaruh besar sehingga dengan mudah mengalihkan perhatian dari pihak berwajib dengan menghilangkan segala bukti-bukti yang mencurigakan yang menunjuk kepadanya.
Salwa tidak ingin Sean masuk penjara, Salwa juga tidak ingin Varo meninggal. Sudah cukup Salwa tidak memilihnya, ia ingin Varo juga bahagia dengan pilihan yang lain. Ia ingin semuanya bahagia dan tidak ada dendam apapun diantara mereka.
"Mas, jangan lakukan itu. Ku mohon, lepaskan dia!" Ucap Salwa sambil menangis dengan mendekap tubuh Sean yang sedang mengangkat batu besar itu. Sean mengatur napasnya yang memburu karena amarahnya meledak-ledak. Melihat tubuh Salwa yang gemetar ketakutan memeluknya membuat amarah Sean sedikit mereda. Ia segera membuang batu besar itu jauh-jauh lalu mendekap Salwa dengan erat. Ia mencium wajah istrinya itu berkali-kali sambil mengatakan maaf.
Sean tahu bahwa Salwa trauma melihat luka dan darah dari tubuh seseorang akibat perkelahian. Apalagi Varo adalah lelaki yang Salwa kenal, pastilah Salwa akan mengingat wajah menyedihkan lelaki itu saat meregang nyawa karena pukulan-pukulan Sean. Tidak, Sean tidak ingin Salwa ketakutan lagi kepadanya. Salwa pernah menjauhinya karena Sean tidak bisa mengendalikan amarahnya hingga membunuh seorang wanita di depan Salwa. Sean tidak akan mengulanginya lagi.
"Urus laki-laki itu!" Ucap Sean memerintah kepada pengawalnya yang sedari tadi bersiaga di belakang Sean menyaksikan perkelahian majikannya itu.
:》 Besok libur ya ðŸ¤ðŸ¤
Selamat membaca 😊😊
__ADS_1