Terjerat Cinta Dunia Mafia 2

Terjerat Cinta Dunia Mafia 2
Keputusasaan Angela


__ADS_3

"Nanti mas pulang terlambat, kamu baik-baik di rumah ya?" Sean menangkup kepala Salwa dengan meletakkan kedua tangannya di kanan dan kiri pipi Salwa lalu mencium kening istrinya itu sebelum ia berangkat kerja.


"Apa mas akan lembur setiap hari?" Ucap Salwa sambil membantu Sean memakai dasinya.


"Iya, sayang sekali padahal aku ingin menemanimu, tetapi banyak sekali pekerjaan. Apalagi aku belum menemukan kandidat yang sesuai untuk mengambil posisi sebagai asisten pribadi yang menghandle pekerjaanku di kantor."


"Asisten pribadi? Apa aku boleh mencobanya?" Salwa mengerutkan bibirnya, seolah menyesal mengatakan hal itu, tetapi kemudian ia bersikap biasa saja, lagipula sudah terucap juga.


"Tidak bisa," Sean menggelengkan kepalanya tidak setuju dengan ide Salwa.


"Maaf, aku hanya bercanda. Yang menjadi asisten pribadimu pastilah harus pintar dan berpendidikan tinggi bukan, dan aku tidak termasuk dalam kriteria itu," ucap Salwa kemudian dengan menampilkan wajah sedihnya.


Sean mengusap-usap pucuk kepala istrinya itu dengan gemas,"Bukan itu, kau tidak bisa bekerja menjadi asisten pribadiku di kantor, karena kau akan terlalu lelah nantinya jika melayaniku di malam hari."


Salwa terkekeh mendengar jawaban suaminya itu, ia memukul pelan lengan Sean dengan wajahnya yang terlihat memerah karena malu. Sean mendekatkan wajahnya lalu bergerak menyamping,"Tersenyumlah selalu, itu akan menghilangkan rasa lelahku," Sean berbisik pelan di telinga Salwa sambil menggesekkan bibirnya di leher istrinya itu yang membuat Salwa berdiri mematung seperti tersengat aliran listrik ribuan volt. Gerakan seringan bulu yang dilakukan Sean dengan bibirnya sukses membuat rambut halus Salwa berdiri, tetapi sayang sekali Sean enggan melanjutkannya karena ia harus berangkat kerja.


Sean mengambil tas kerjanya lalu berjalan ke arah pintu untuk melangakah keluar dari kamarnya. Tetapi suara Salwa yang memanggilnya menghentikan langkahnya.


"Mas....., apakah aku boleh memelukmu sebentar."


Sean membalikkan badannya, lalu kedua tangannya ia rentangkan menunggu istrinya itu berhambur memeluknya.


"Tentu saja, kemarilah," ucapnya kemudian.


Dengan sedikit malu, Salwa melangkahkan kakinya menuju pelukan suaminya lalu melingkarkan tangannya ke punggung Sean dan memeluknya dengan erat.


"Kau bisa memelukku sebanyak yang kau mau, tanpa meminta izin terlebih dahulu."


Salwa mengangguk dengan menempelkan wajahnya di dada suaminya." Terimakasih, entahlah, aku merasa ingin didekatmu dan terus merindukanmu."


Salwa menggela napasnya, lalu mengendorkan pelukannya," berangkatlah, aku tidak akan menahanmu lagi."


Senyuman merekah terlihat dari bibir Sean, mungkin pengaruh dari kehamilannya membuat Salwa ingin selalu dimanja olehnya. Itu tidak jadi soal, Sean justru menyukainya. Tetapi ia juga mempunyai kewajiban yang lain yang tidak bisa ditinggalkan membuatnya harus berangkat lebih awal dan pulang lebih larut, sehingga mereka berdua hanya bisa bertemu saat tidur saja dengan tubuh yang sama-sama lelahnya. Bukan karena Sean tidak mau berlama-lama dengan istri, tetapi semua yang ia lakukan demi istri dan anak-anaknya kelak, agar mereka selalu hidup dalam kecukupan dan tidak merasa kekurangan sedikitpun.


Sean tidak bisa menahan diri untuk tidak mencium bibir istrinya itu dengan rakus, menunjukkan betapa besar cinta dan kasihnya Sean kepada perempuan kesayangannya itu. Tidak dapat dipungkiri, Sean juga sangat merindukan Salwa, untuk itu ia harus bekerja keras untuk mengambil lembur agar akhir pekan bisa ia gunakan untuk berlibur dan melakukan quality time bersama istrinya.


"Sabar ya," ucap Sean kemudian setelah melepaskan ciuman hangat mereka. Salwa tersenyum dan mengangguk, lalu mengepalkan tangannya yang lengannya ia tekuk ke dalam.


"Semangat, jangan lupa makan ya."


"Terimakasih, sayangku."


.....


Angela tersenyum senang saat mendapat pesan masuk, ia hampir tak percaya siapa yang telah menghubunginya terlebih dahulu.


Sean Paderson memintanya untuk datang di taman sepagi ini, apakah lelaki itu sudah tidak bisa bersabar menunggunya sampai siang, bahkan sekarang waktu belum menunjukkan pukul enam pagi.


Angela mandi cepat-cepat dengan berdandan ekspres, tetapi tetap terlihat cantik. Perempuan itu tertawa riang dengan begitu bahagia. Akhirnya tanpa umpan, ikan mendatangi kailnya sendiri. Ia yakin Sean sudah menyadari bahwa dirinya adalah cinta sejatinya, dan saat ini Angela sedang berpikir untuk menyusun skenario yang apik untuk bertemu pujaan hatinya.


"Sean Paderson, aku datang."


Angela berteriak lantang dan kegirangan, ia tidak sabar ingin bertemu dengan wajah tampan itu lagi. Wajah yang beberapa malam ini selalu menghiasi mimpinya, emm.. apakah benar ia sudah jatuh hati dengan sosok lelaki itu. Entahlah, yang jelas saat ini Angela hatinya sedang berbunga-bunga.

__ADS_1


Sean melirik jam tangannya, hampir pukul enam pagi, tetapi Angela tidak kunjung datang. Mungkin perempuan itu masih takut kepadanya sehingga memutuskan untuk tidak menemuinya. Sayang sekali Sean sudah menyediakan waktu sempitnya hanya untuk menemui perempuan itu, tetapi ia tidak datang. Baiklah, Sean merasa waktu menunggunya telah habis. Ia masih banyak pekerjaan agar pulang nanti tidak terlalu malam, kasihan dengan Salwa yang selalu menunggunya hingga larut.


Namun, sebelum Sean beranjak dari tempat duduknya, ada sepasang tangan yang memeluknya dari belakang. Tubuh Sean menegang, siapa kiranya yang berani memeluknya seperti itu.


"Apakah kau sudah lama menungguku."


Angela dengan tidak tahu malu memeluk Sean dengan erat seperti sepasang kekasih yang saling merindukan. Dengan wajah dingin, Sean membuka pelukan Angela dan menghempaskan tangan perempuan itu dengan kasar.


"Apakah kau selalu melakukan hal ini kepada laki-laki yang sudah beristri?" Sean menyipitkan matanya dengan sorot mata tidak bersahabat yang ia tunjukkan kepada Angela yang saat ini memasang wajah kesakitan karena tangannya dihempas dengan kasar oleh Sean.


"Tidak, tentu saja tidak,"


"Hanya kepadamu saja aku seperti ini, tetapi kenapa kau selalu kasar terhadapku." Angela berpura-pura menangis untuk mencari simpati, menjadi wanita lemah tentu merupakan kelemahan bagi setiap pria kan? Apalagi perempuan itu sangat cantik seperti dirinya.


"Karena aku sudah menikah, dan aku tidak menyukai jika ada seseorang yang mendekatiku dan menyentuhku, apalagi bertujuan untuk merusak rumah tanggaku, siapapun itu."


"Apakah kau begitu mencintainya, tetapi kenapa kau tidak bisa mencintaiku."


"Kenapa harus Salwa, kenapa? Apa istimewanya perempuan itu. Kenapa setiap laki-laki selalu lebih memilihnya daripada aku, kenapa?" Angela menunduk dengan menyandarkan tubuhnya di bawah pohon cemara. Air matanya pun mulai menetes beriringan dengan suara isak tangisnya, membuat perempuan itu terlihat menyedihkan.


Sean mendekat, melangkah ke arah Angela yang masih menunduk itu. Dengan satu jarinya ia membuat wajah Angela menengadah menatapnya. Ia sedikit memiringkan wajanya dan lebih mendekat ke wajah Angela. Jantung Angela terasa berdetak tak karuan saat hembusan napas Sean terasa hangat menerpa wajahnya. Ia menelan ludahnya berkali-kali, karena ia yakin setelah ini lelaki di depannya ini pasti akan mencium bibirnya. Angela bersiap dengan memejamkan matanya, bibirnya pun sengaja ia buka sedikit karena ia tahu bahwa seorang pria seperti Sean pastilah sangat ahli dalam berciuman, sehingga Angela sudah mempersiapkan dirinya untuk melakukan itu.


Wajah Sean semakin mendekat sehingga hanya berjarak satu jengkal saja dengan wajah Angela. Rasanya jantung Angela mau melompat keluar karena begitu girangnya dengan kedekatan mereka saat ini. Ternyata acting sedihnya berhasil dan membuat lelaki di hadapannya itu iba dan simpati kepadanya. Jika tahu segampang ini, kenapa tidak dari dulu ia lakukan.


"Jangan pernah mengganggu istriku lagi, menjauhlah dari kehidupan kami. Jika kau tetap keras kepala dan bersikap bodoh memperjuangkan egomu itu, bukan hanya perusahaan papamu yang akan lenyap, tetapi kau, kau akan lenyap tanpa jejak sehingga tidak satu orangpun yang yang bisa menemukan jasadmu."


Sean segera berlalu setelah mengatakan ancaman itu kepada Angela, meninggalkan gadis itu yang masih berdiri menegang dan tak bisa berkutik. Tubuhnya kaku mendengar perkataan Sean yang begitu mengerikan. Ia baru menyadari siapa lelaki yang tengah dihadapinya.


Badan Angela terasa gemetar, bahkan hanya dengan perkataan saja bisa membuat Angela melemas, tidak sanggup menopang berat tubuhnya. Semakin lama tubuhnya merosot ke tanah dengan air mata yang menetes bersamaan dengan hati yang tersakiti, setelah berharap terlalu jauh ternyata ia justru mendapat ancaman mengerikan seperti itu. Apakah ini saatnya ia menyerah, karena berjuang lebih keras hanya akan memperburuk keadaannya sendiri.


....


Chaterine yang sedang sibuk merapikan pakaian kedua anaknya terlihat cantik dan dewasa. Sifat keibuannya yang begitu menyayangi anak-anaknya membuat Abust terkagum-kagum. Mungkin karena Abust kehilangan ibunya saat masih kecil sehingga melihat Chaterine yang merawat kedua anaknya dengan rasa sayang membuat hati Abust menghangat.


"Aku tunggu di bawah, kita sarapan bersama."


Chaterine tersenyum dan mengangguk, ia buru-buru menyelesaikan pekerjaannya dengan menyisir kedua rambut putranya yang tampan. Abust sengaja memesankan set pakaian untuk mereka bertiga menggunakan jasa personal shoper, sehingga ia tidak perlu repot-repot keluar hotel.


Chaterine terlihat cantik dengan gaun berwarna biru muda selutut dengan riasan yang tipis menghiasi wajahnya. Ia merasa tidak enak dengan Abust dengan pemberiannya, tetapi tidak ada pilihan lain selain menerima. Pakaian yang mereka pakai tadi malam pastilah sudah kotor dengan bau yang tidak enak, sehingga mereka harus mengenakan pakaian lain yang bersih.


Chaterime menggandeng kedua anaknya lalu mengajak mereka keluar menemui Abust yang sudah menunggu di restoran yang ada di dekat lobby hotel.


Abust mempersilahkan Chaterine dengan menarik kursi yang ada di depan meja makan yang kemudian digunakan Chatetine untuk duduk dan tentunya Chaterine sudah mengatur posisi duduk kedua anak-anaknya.


Waiters datang dengan membawa menu makanan yang kemudian diberikan kepada Abust dan juga Chaterine. Dengan sikap sopan waiters tersebut menyebutkan berbagai menu unggulan di restoran tersebut dengan jelas dan profesional, bahkan Chaterine pun sampai terbengong melihatnya.


Tidak terpengaruh dengan teknik marketing si waiters, Chaterine menyebutkan beberapa makanan khas Inggris yang sudah sangat familiar di lidahnya.


"Pie daging dan bir paterseli, emm.. untuk anak-anak Lancashire Hotpot, dan muffin, mungkin itu saja."


Abust mengulang pesanan Chaterine dan ditambah lagi dengan pesanannya sendiri untuk dicatat di note waiters tersebut, dan kemudian segera berlalu setelah selesai proses taking order agar segera disiapkan kokinya.


"Mengapa kau memilih menu itu, padahal banyak menu lain yang lebih istimewa," ucap Abust membuka percakapan yang hanya ingin berbasa-basi agar suasana hening itu mencair.

__ADS_1


"Pie daging dan bir paterseli," ucap Chaterine menyahut kedua makanan yang ia pesan tadi.


"Yang aku tahu disini daging yang digunakan untuk pie adalah daging pilihan yang masih fresh dan diolah oleh koki terbaik yang menjadikan rasanya lezat dengan tekstur daging yang lembut, aku sudah mencoba banyak pie daging jadi aku ingin merasakan juga pie daging yang ada disini, dan bir paterseli minuman non alkohol yang paling cocok untuk mendampingi saat menyantap pie daging."


Abust hanya tersenyum menanggapi perkataan Chaterine sambil menyangga dagunya dengan tangan kirinya, "Lalu ?"


"Untuk Ashton dan Axton, aku memilih Lancashire Hotpot karena mereka membutuhkan cukup protein , vitamin dan karbohidrat dari daging , sayuran dan kentangnya. Kau tahu kan mereka masih anak-anak, dan agar mereka mau menghabiskan makanannya aku beri mereka muffin sebagai hadiahnya," ucap Chaterine sambil mengusap-usap pucuk kepala Axton yang tidak mengerti dengan pembicaraan kedua orang dewasa tersebut.


Sekitar lima belas menit mereka menunggu, akhirnya makanan yang dipesan datang juga. Abust dan chaterine beserta kedua anaknya menyantap hidangan dengan lahap, mereka saling bercengkrama dan bercanda bersama layaknya sebuah keluarga yang saling mengasihi dan menyayangi. Abust pun tidak segan mengacak-acak rambut Ashton maupun Axton seperti seorang ayah yang sedang bergurau dengan anak-anaknya. Dari balik dinding kaca yang ada di luar restoran tersebut, ada sepasang mata yang memperhatikan mereka dengan penuh kebencian, tangannya mengepal erat dengan sorot mata yang mengerikan.


.....


"Tetaplah disini, sampai aku pulang. Aku akan mencarikan tempat tinggal untuk kalian yang lebih aman," ucap Abust saat telah mengajak Chaterine dan kedua anaknya kembali ke kamarnya.


Chaterine mengangguk, menyetujui perkataan Abust, tiada pilihan lain selain menerima bantuan dari lelaki itu. Ia juga tidak menginginkan kedua anaknya luntang-lantung menjadi gelandangan karena tidak ada tempat untuk tinggal.


"Terimakasih, Abust,"ucap Chaterine tulus.


Abust tersenyum dan mengangguk, tanpa ia sadari, Abust mendaratkan bibirnya di bibir Chaterine dengan sangat cepat yang membuat perempuan itu terpaku , mematung ,tidak bergerak. Seolah ciuman kilat dari Abust berhasil membuat dirinya terhipnotis sesaat.


"Sampai jumpa," ujar Abust kemudian lalu berlalu pergi meninggalkan Chaterine yang masih berdiri di ambang pintu kamarnya.


Saat Chaterine tersadar, Abust sudah menghilang dari pandangannya, ia menarik kedua sudut bibirnya yang makin lama makin melengkung membentuk sebuah senyuman. Chaterine menggeleng menertawai dirinya sendiri yang seperti gadis remaja yang sedang kasmaran.


Pintu ia tutup, lalu menguncinya. Sesuai pesan Abust, ia akan menunggui lelaki itu hingga pulang, untuk mencari tempat tinggal yang baru.


Tok-tok-tok


Suara ketukan pintu itu menarik perhatian Chaterine, mungkinkah itu Abust? Apakah ada barangnya yang tertinggal sehingga membuat lelaki itu kembali untuk mengambilnya. Tanpa berpikir panjang Chaterine langsung membuka pintu itu lebar-lebar.


"Kau..." Chaterine terkejut saat mendapati seorang laki-laki dengan seringai mengerikan menemuinya.


"Iya aku, sayang", lelaki itu mengulas senyum lebar yang membuat Chaterine ketakutan, ia segera menutup kembali pintu itu, tetapi sayangnya gerakan lelaki itu lebih cepat sehingga sebelum Chaterine berhasil menutup pintu, pria itu langsung mendorong pintu tersebut hingga terbuka.


"Pergi, jangan ganggu kami," Chaterine berteriak lantang, mengusir lelaki itu yang ternyata adalah Albert mantan suaminya. Tangannya mendorong dengan kuat lelaki itu, tetapi justru Chaterine yang terpelanting sehingga tubuhnya terjatuh di atas ranjang Abust. Ashton dan Axton yang melihat ibunya diserang berteriak histeris.


"Mama...,"Ashton dan Axton berlari menghampiri ibunya berniat menolong, tetapi Albert mendorong kedua anak itu hingga terjatuh dan mengenai vas bunga yang ada di samping meja.


"Jangan sakiti anakku," Chaterine ingin melindungi kedua buah hatinya itu, tetapi pergerakan Albert lebih gesit, sehingga tubuh Chaterine dijatuhkannya dengan posisi tengkurap dengan tangan dikunci ke belakang.


"Kau pikir bisa lari dariku dengan lelaki lain, kau salah besar jal***. Aku tidak akan pernah melepaskanmu," Albert berteriak pas di telinga Chaterine yang masih meronta.


\=》Bersambung..


Hehee.. diselipin cerita Abust ya, karena kalau menjelang tamat dan masih ada yg jomblo di setiap pemerannya pasti pada protes.. ya kan.. πŸ™ˆπŸ™ˆ


Terimakasih udah mau tengokin novel Author, jangan bosen ya, mau diupdate kemarin ternyata udah ngetik 2200 kata lebih , karena suatu kesalahan pada hilang tulisannya, padahal udah nyuri-nyuri waktu buat ngetiknya.. 😭😭😭


Jadi harus ngetik ulang, semoga gak banyak typo.. Terimakasih yang udah support dengan ninggalin jejak, like, komentar , vote dan rate bintang 5 🀭🀭🀭


Selamat membaca... Kalian luar biasa 😘😘


Semoga cepet lolos ya, karena ada visualnya.

__ADS_1


Abust dan Chaterine Wilson



__ADS_2